Sabtu, Mei 22, 2010

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan


PEDOMAN UMUM EJAAN BAHASA INDONESIA YANG DISEMPURNAKAN

A. Pemakaian Huruf

  1. Huruf Abjad
Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas:
Aa, Bb, Cc, Dd, Ee, Ff, Gg, Hh, Ii, Jj, Kk, Ll, Mm, Nn, Oo, Pp, Qq, Rr, Ss, Tt, Uu, Vv, Ww, Xx, Yy, dan Zz.
  1. Huruf Vokal
Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas:
a, e, i, o, dan u.
  1. Huruf Konsonan
Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia atas:
b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t,  v, w, x, y, dan z.
  1. Huruf Diftong
Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au,dan oi.
  1. Gabungan Huruf Konsonan
Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan konsonan, yaitu kh, ng, ny, dan sy.
  1. Pemenggalan Kata
1.   Pemenggalan kata pada kata dasar
    1. Jika di tengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan itudilakukan di
antara kedua vokal itu.
Contoh: bu-ah
Huruf diftong ai, au, dan ou tidak pernah diceraikan sehingga
Pemenggalan
kata tidak dilakukan di antara kedua huruf itu.
Contoh: sau-da-ra       bukan  sa-u-da-ra
    1. Jika di tengah kata ada huruf konsonan, termasuk gabungan-huruf konsonan, di antara dua buah huruf vokal, pemenggalan dilakukan sebelum huruf konsonan.
Contoh: de-ngan
    1. Jika di tengah kata ada huruf konsonan yang berurutan, pemenggalan dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu. Gabungan huruf konsonan tidak pernah diceraikan.
Contoh: swas-ta
    1. Jika di tengah kata ada huruf konsonan atau lebih, pemenggalan dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua.
Contoh: bang-krut
2.      Imbuhan akhiran dan imbuhan awalan termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk serta partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian baris.
     Contoh: me-rasa-kan
3.      Jika suatu kata terdiri atas lebih dari satu unsur dan salah satu unsur itu dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalan dapat dilakukan di antara unsur-unsur itu atau pada unsur gabungan itu sesuai dengan kaidah 1a, 1b, 1c, dan 1d di atas.
Contoh: pasca-panen, pas-ca-pa-nen


B. PEMAKAIAN HURUF KAPITAL DAN HURUF MIRING

1. Huruf Kapital atau Huruf Besar
1.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
Contoh: Adik membeli baju baru.
2.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Contoh: Ibu berkata, “Adik akan berangkat besok.”
3.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk orang.
Contoh: Allah, Islam.
4.      Huruf capital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Contoh: Sultan Agung, Nabi Muhammad
5.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatandan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai nama orang tertentu, nama instansi atau nama tempat.
Contoh: Gubernur Jawa Timur
Huruf Kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, atau nama tempat.
Contoh: Minggu depan kita akan memilih gubernur
6.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.
Contoh: Esti Dwi
Huruf Kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.
Contoh: 7 ampere
7.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
Contoh: bahasa Indonesia
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.
Contoh: keinggris-inggrisan
8.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.
Contoh: bulan Januari
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama.
Contoh: Semoga perang dunia tidak terjadi lagi.
9.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
Contoh: Eropa Barat
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri.
Contoh: bermain di pantai.
Huruf kapital  tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang digunakan sebagai nama jenis.
Contoh: pisang ambon
10.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintah,dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi, kecuali kata seperti dan.
Contoh: Dewan Perwakilan Rakyat
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.
Contoh: beberapa badan hukum
11.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsure bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.
Contoh: Undang-Undang Dasar 1945
12.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata seperti dari, ke, di, dan, yang, dan untuk yang terletak pada posisi awal.
Contoh: Dia telah membaca buku Bahasa dan Sastra Indonesia.
13.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.
Contoh: S.E          sarjana ekonomi
14.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, kakak, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan.
Contoh: “Apakah Bapak bisa datang?” tanya Hayu.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam penyapaan.
Contoh: Cinta pergi meninggalkan ibunya.
15.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
Contoh: Apakah Anda akan pergi?

2. Huruf Miring
  1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Contoh: novel Laskar Pelangi
  1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.
Contoh: Huruf terkhir kata damai adalah i.
  1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.
Contoh: Nama latin buah pisang adalah Musa Pradisiaca
C. PENULISAN KATA

1. Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Contoh: Buku itu sangat tipis.
2. Kata Turunan
  1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Contoh: dikelola
  1. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
Contoh: bergaris bawah
  1. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu di tulis serangkai.
Contoh: melipatgandakan
  1. Jika salah satu unsur gabungan kata yang dipakai dalam kombinasi, gabungan kata  itu ditulis serangkai.
Contoh: biokimia
3. Bentuk Ulang
Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.
Contoh: sayur-mayur
4. Gabungan Kata
  1. Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.
Contoh: simpang empat
  1. Gabungan kata, termasuk istilah khusus,yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara unsur yang bersangkutan.
Contoh: buku sejarah-lama
  1. Gabungan kata yang ditulis serangkai.
Contoh: sukarela, sukacita, darmawisata
5. Kata Ganti -ku, kau-, -mu, dan –nya
Kata ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. -ku, -mu, dan -nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Contoh: Uangku, uangmu dan uangnya akan disumbangkan.
6. Kata Depan di, ke, dan dari
Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.
Contoh: Saya akan pulang ke Surabaya.
7. Kata si dan sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Contoh: Dia akan berburu sang Harimau.
 8. Partikel
  1. Partikel -lah, -kah, dan –tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Contoh: Sudahkah Anda belajar?
  1. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. Kecuali kata yang dianggap padu, misalnya adapun, walaupun, dan kalaupun.
Contoh: Hendak pergi pun sudah tak ada uang.
  1. Partikel per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’, dan ‘tiap’ ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.
Contoh: Paman mendapat gaji per hari.
9. Singkatan dan Akronim
  1. Singkatan adalah bentuk yang dipendekkan yang terdiri dari satu huruf atau lebih.
    1. Singkatan nama orang dan gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
Contoh: S.E                Sarjana ekonomi
    1. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau nama organisasi,dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf  kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.
Contoh: PT                  perseroan terbatas
    1. Singkatan umum yang terdiri dari tiga huruf diikuti satu tanda titik.
Contoh: Yth.               Yang terhormat
    1. Lambang kimia, singkatan satu ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.
Contoh: kg                  kilogram
  1. Akronim adalah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diberlakukan sebagai kata.
    1. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.
Contoh: LAN              Lembaga Administrasi Negara
    1. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf dan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.
Contoh: Kowani         Kongres Wanita Indonesia
    1. Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata,ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.
Contoh: tilang             bukti pelanggaran
10. Angka dan Lambang Bilangan
1.      Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka arab atau angka romawi
Angka Arab          : 0, 1, 2, 3, 4, 5
Angka Romawi     :I, II, III, IV, VI
2.      Angka digunakan untuk menyatakan ukuran panjang, berat, luas, dan isi, satuan waktu, nilai uang, dan kuantitas.
Contoh: 1 jam 30 menit
3.      Angkai dipakai untuk melambanngkan nomor jalan rumah, apartemen, atau kamar pada alamat.
Contoh: Hotel Wina, Kamar 13
4.      Angka digunakan untuk menomori bagian karangan atau bagian kitab suci.
Contoh: Surat Albaqarah: 23
5.      Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.
a.       Bilangan utuh
Contoh: tiga belas             13
b.      Bilangan Pecahan
Contoh: satu pertiga          ⅓
6.      Penulisan lambang bilangan dapat dilakukan dengan cara berikut.
Contoh: Paku Buwono X
              Paku Buwono ke-10
7.      Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran –an mengikuti cara yang berikut.
Contoh: tahun 2000-an                 atau                 tahun dua ribuan
8.      Lambang bilangan yang dinyatakan dengan suatu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian dan pemaparan.
Contoh: 10 apel, 20 jeruk, dan 35 jambu.
9.      Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf.
Contoh: Lima orang meninggal pada kecelakaan itu.
10.  Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca.
Contoh: Perusahaan itu memperoleh laba 500 juta rupiah.
11.  Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekalligus dalam teks kecuali di dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.
Contoh: Di lemari itu tersimpan 1200 buku.
12.  Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.
Contoh: Saya lampirkan tanda terima sebesar Rp 885,75 (delapan ratus
        delapan puluh lima dan tujuh puluh lima perseratus) rupiah.


D. PENULISAN UNSUR SERAPAN

Berdasarkan taraf integrasinya unsur pinjaman dalam bahasa Indonesia dapat di bagi atas dua golongan besar.
Pertama, unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti shuttle cock, reshuffle. Unsur-unsur ini dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing.
Kedua, unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal  ini diusahakan agar ejaannya hanya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan entuk asalnya.
Contoh: haemoglobin                         hemoglobin
              central                                   sentral



E. PEMAKAIAN TANDA BACA

1. Tanda Titik (.)
1.      Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Contoh: Kami cinta bahasa Indonesia.
2.      Tanda titik dipakai dibelakang angka atau huruf dalam satu bagan, ikhtisar, atau daftar.
Contoh:
1. Pemakaian Huruf
1.1   Huruf Abjad
1.2   Huruf vocal
1.3   Huruf Konsonan
3.      memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.
Contoh: pukul 2.23.30 (pukul 2 lewat 23 menit 30 detik)
4.      Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu.
Contoh: 0.0.49 jam (49 detik)
5.      Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka.
Contoh: Frensidy, Budi. 2006. Matematika Keuangan. Jakarta: Salemba
        Empat
6.      Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya .
Contoh: Gedung itu berisi 20.000 orang.
Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya
yang tidak menunjukkan jumlah.
Contoh: Beliau meninggal pada tahun 1946 di Aceh.
7.      Tanda titik tidak dipakai untuk pada akhir judul yang merupakan karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.
Contoh: Dunia Dalam Cerita
8.      Tanda titik tidak dipakai di belakang alamat pengirim dan tanggal surat atau nama dan alamat penerima surat.
Contoh:     Yth. Ahmad Doby
Jalan Bandung 99
Malang
2. Tanda Koma (,)
1.      Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam satu perincian atau pembilangan.
Contoh: Saya membeli baju, sepatu, dan tas.
2.      Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimt setara yang satu dengan kalimat setara yang berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan.
Contoh: Dia kaya uang, tetapi miskin ilmu.
3.      Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
Contoh: Karena lapar, Ia segera beli makan.
Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.
Contoh: Saya akan beli makan kalau sudah lapar.
4.      Tanda koma dipakai dibelakang kata atau ungkapan penghubung antar kalimat yang terdapat pada awal kalimat
Contoh: ….Jadi, kita tidak bisa memutuskan secepat itu .
5.      Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata lain yang terdapat didalam kalimat.
Contoh: Wah, indah sekali!
6.      Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Contoh: “Saya senang sekali,” kata Dian, “Karena tugasku selesai.”
7.      Tanda koma dipakai diantara nama dan alamat, bagian-bagian alamat, tempat dan tanggal, dan nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Contoh: Jakarta, Indonesia
8.      Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
Contoh: Frensidy, Budi. 2006. Matematika Keuangan. Jakarta: Salemba
        Empat.
9.      Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.
Contoh: Budy Frensidy, Matematika Keuangan (Jakarta: Salemba
        Empat.2006),hlm.5
10.  Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakan singkatan dengan nama diri , kaluarga, atau marga.
Contoh: Ny. Aisyah, S.E.
11.  Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan atau diantara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.
Contoh: 13,5m
12.  Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.
Contoh: Teman saya, Diana, pandai sekali.
13.  Tanda koma dipakai untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang terdapat  pada awal kalimat.
Contoh: Atas bantuan Diana, Bella mengucapkan terimakasih.
14.  Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan lanngsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda Tanya atau tanda seru.
Contoh: “Cepat pergi!” perintahnya.
3. Tanda Titik Koma (;)
  1. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Contoh: Siang makin panas;pekerjaan belum selesai juga.
  1. Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untu memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.
Contoh: Adik asyik bermain boneka;Ibu sibuk memasak di dapur.


4. Tanda Titik Dua (:)
  1. Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian.
Contoh: Dia hanya punya dua pilihan: hidup atau mati
Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
Contoh: Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.
  1. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
Contoh: Ketua                        : Diana Ayu
              Sekretaris      : Esti Rahayu
              Bendahara     : Kirana Sari
5. Tanda Hubung (-)
  1. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pengganti baris.
Cotoh:


Aku ingim sekali pergi berkelana mengeli-
lingi dunia.
C


  1. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangmya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris.
Contoh:


Kita harus turut serta mempertahan-
kan kemerdekaan bangsa kita.



  1. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.
Contoh: ibu-ibu
  1. Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.
Contoh: i-n-d-o-n-e-s-i-a
  1. Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan, dan penghilangan bagian kelompok kata.
Contoh: ber-evolusi                 bandingkan dengan                 be-revolusi
  1. Tanda hubung di pakai untuk merangkaikan se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, ke- dengan agka, angka dengan -an, dan singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan nama jabatan rangkap.
Contoh: se-Asia Tenggara
  1. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
Contoh: di-smash
6. Tanda Pisah (-)
  1. Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat.
Contoh: Kemedekaan bangsa itu-saya yakin akan tercapai-diperjuangkan oleh
  bangsa itu sendiri
  1. Tanda pisah menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi jelas.
Contoh: Rangkaian temuan ini-evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan
  atom-telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.
  1. Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau tunggal dengan arti ‘sampai’.
Contoh: Palembang-Surabaya
7. Tanda Elipsis (...)
  1. Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.
Contoh: Kalau begitu...ya, mari kita berangkat.
  1. Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.
Contoh: Penyebab kenaikan...akan diproses lebih lanjut.
8. Tanda Tanya (?)
  1. Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.
Contoh: Bagaimana kabarnya?
  1. Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
Contoh: Beliau lahir pada tahun 1945 (?)
9. Tanda Seru (!)
Tanda saru dipakai sesudah ungkapan yang  berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau rasa emosi yang kuat.
Contoh: Pergi dari sini sekarang juga!
10. Tanda Kurung ( (...) )
  1. Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
Contoh: Pengendara wajib memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi).
  1. Tanda kurung mengapit penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.
Contoh: Ketengan itu (lihat Tabel 13) menunjukan perkembangan pasar uang.
  1. Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.
Contoh: Orang itu berasal dari (kota) Bandung.
  1. Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.
Contoh: Kita membutuhkan (a) buku, (b) pensil, (c) penggaris.
11. Tanda Kurung Siku ( [...] )
  1. Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain.
Contoh: Dokter men[g]obati  orang sakit.
  1. Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.
Contoh: Persamaan kedua proses ini (perbedaannya [lihat halaman 13-31] tidak
  dibicarakan) perlu dibentangkan disini.
12. Tanda Petik (“...”)
  1. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.
Contoh: ”Saya akan pulang sekarang,” kata Cinta.
  1. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
Contoh: Sajak ”Dunia Mimpi” terdapat pada halaman 31.
  1. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
Contoh: Tugas itu dilaksanakan dengan cara ”coba dan ralat” saja.
  1. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
Contoh: Kata Ibu, ” Lekas pulang Nak!”
  1. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan dibelakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.
Contoh: Karena Ani suka makan gula, Ia dijuluki ”Si Manis”.
13. Tanda Petik Tunggal ( ’...’ )
  1. Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
Contoh: Bona bertanya, ”Kau dengar bunyi ’ting tong’tadi?”
  1. Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata ungkapan asing.
Contoh: feed-back ’balikan’
14. Tanda Garis Miring
  1. Tanda garis miring dipakai di dalam nilai surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun takwim.
Contoh: Jalan Anggrek IV/51
  1. Tanda garis miring dipakai pengganti kata dan, atau, atau tiap.
Contoh: siswa/siswi
15. Tanda Penyingkat atau Apostrof ( ’ )
Tanda penyingkat atau apostrof menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.
Contoh: Malam ’lah berlalu.         (’lah=telah)





Nama         : Eko Putri Setiani
NIM          : 109421417959
Prodi         : Pendidikan Akuntansi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komen o yo rek,, *suwun