Jumat, Mei 28, 2010

Puisi Soe Hok Gie


>>>
Sebuah Tanya
“akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa.
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku.”

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih,
lembah mendala wangi kau dan aku tegak berdiri,
melihat hutan-hutan yang menjadi suram,
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu,
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”

(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi,
kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya.
kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara,
ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu.
kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta?”

(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram.
Wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti.
seperti kabut pagi itu)

“manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan
dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru”


>>>

ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah.
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza.
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku.

bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu.
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi.
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang.
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra.

tapi aku ingin mati di sisimu sayangku.
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya.
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu.

mari, sini sayangku.
kalian yang pernah mesra,
yang pernah baik dan simpati padaku.
tegakklah ke langit atau awan mendung.
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”

 

>>>

Nasib terbaik ialah tidak pernah dilahirkan.
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda.
Dan yang tersial adalah berumur tua.
Berbahagialah mereka yang mati muda.
Makhluk kecil kembalilah dari tiada ketiada.
Berbahagialah dalam ketiadaaanmu.


>>>
Mandalawangi-Pangrango
by : Soe Hok Gie

Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang-jurang mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

"hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya "tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar  terimalah dan hadapilah

dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas-batas  hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu

aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup

Jakarta 19-7-1966

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komen o yo rek,, *suwun