Kamis, September 30, 2010

Kebiasaan/perilaku balita

Tugas Observasi
MK : Pengembangan Peserta Didik
University State of malang

PERILAKU BALITA
            Balita memiliki kebiasaan-kebiasaan yang unik sehingga menarik untuk diamati. Berikut akan dijelaskan kebiasaan-kebiasaan balita dalam hal (1) Pemenuhan kebutuhan pribadi balita; (2) Pemenuhan kebutuhan sosial balita; dan (3) Pola dalam belajar sesuatu.
1.      Pemenuhan Kebutuhan Pribadi Balita
Dalam memenuhi kebutuhan pribadinya seorang balita belum bisa secara mandiri memilih dan menentukan apa-apa yang diperlukannya, mereka juga belum bisa sepenuhnya protes atas perlakuan orang yang ada disekitarnya. Sehingga orang tua/pengasuh harus mengetahui kebutuhan balita pada setiap tahap perkembangannya agar kebutuhan balita bisa terpenuhi secara baik. Kebutuhan balita diantaranya adalah:
1)      Kasih sayang dan perhatian. Setiap balita membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari keluarga, sehingga sebagai orang tua terutama ibu harus selalu meluangkan waktunya untuk bersama anaknya. Jika anak kurang kasih sayang perkembangan jiwanya akan menjadi kurang baik, pertumbuhan fisiknya juga akan kurang optimal jika orang tua kurang memperhatikan kebutuhan fisik balita.
2)      Perlengkapan balita. Perlengkapan sehari-hari seperti pakaian, sepatu, handuk, dll. Perlengkapan balita sebaiknya dibelikan dalam jumlah yang sewajarnya. Ini karena pertumbuhan balita lebih cepat, jangan sampai pakaian yang belum pernah dipakai menjadi tidak muat saat ingin memakaikannya.
3)      Aneka permainan. Balita memerlukan beragam permainan terutama adalah permainan yang bisa menunjang perkembangan motorik dan perkembangan otak. Misalnya mainan dengan bunyi-bunyian/musik, mainan huruf abjad, balok-balok susun, potongan gambar sederhana (puzzle), kertas lipat, bola, holahop, boneka, mobil-mobilan, rumah-rumahan, buku anak-anak dengan huruf yang besar serta gambar yang jelas, dll
4)      Makan dan minum. Balita memerlukan makanan dan minuman yang sehat dan bergizi untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan balita tersebut. Pertumbuhan yang cepat pada usia balita memerlukan penambahan konsumsi zat pembangun (bahan makanan mengandung protein) dan pengatur (bahan makanan mengandung vitamin dan mineral). Bertambahnya aktivitas memerlukan penambahan bahan sumber tenaga (bahan makanan mengandung karbohidrat dan lemak). Pertumbuhan mental memerlukan lebih banyak zat pembangun, terutama untuk pertumbuhan sel-sel otak yang sangat cepat.
5)      Pujian. Berikan pujian yang tidak berlebihan pada balita pada setiap ada kemajuan dalam perkembangannya atau saat anak melakukan perbuatan yang baik/terpuji. Hal itu akan menambah rasa percaya diri pada anak.
6)       Keamanan/keselamatan. Utamakan keselamatan balita, hindarkan sedapat  mungkin dari kecelakaan yang terjadi di rumah. Hati-hati meletakkan barang pecah belah dan benda yang tajam agar tidak mencederai anak. Peralatan memasak diatur sedemikian rupa agar tidak mudah dijangkau oleh anak. Semua obat dan bahan kimia harus disimpan di tempat yang berada di luar jangkauan anak.
7)      Kesehatan. Orang tua harus selalu memperhatikan kesehatan balita agar tumbuh kembang anak dapat optimal. Untuk itu orang tua harus selalu melakukan kunjungan dan konsultasi kesehatan ke dokter atau datang ke posyandu (Pos Pelayanan Terpadu).
2.      Pemenuhan Kebutuhan Sosial Balita
Hubungan sosial balita terbatas pada orang yang sering ditemui saja. Untuk memenuhi kebutuhan sosial ini orang tua bisa mengajak anak bermain ke rumah sanak-saudara, tetangga, teman sebaya atau mengajak mereka bertandang ke rumah. Selain itu untuk membina sosialisasi anak, orang tua juga bisa mengikutkan anaknya pada  kegiatan prasekolah yang diadakan oleh pemerintah ataupun instansi lain yaitu play group (kelompok bermain). Kelompok bermain ini bisa menjadi ajang bersosialisasi bagi balita. Disini balita juga dapat melakukan aktivitas yang sangat bervariasi yang dapat menunjang perkembangan motorik dan otak anak. Misalnya kegiatan menggunting, menempel dan mewarnai, bermain dalam kelompok-kelompok kecil, juga senam yang dipadu dengan cerita yang disuguhkan oleh guru yang profesional.
Kegiatan-kegiatan yang ada di kelompok bermain ini  secara umum positif untuk mengasah kemampuan anak-anak bersosialisasi dengan teman sebayanya. Disini juga bisa melatih kemandirian balita dimana mereka sejenak akan asyik bermain dengan teman-temannya tanpa didampingi secara dekat dengan ibu mereka.
Dengan bersosialisasi, balita mulai bergaul dengan orang lain di luar diri mereka. Hal ini menyebabkan anak mulai segan bermain sendiri, dia menyadari bahwa bermain bersama beberapa teman ternyata lebih menyenangkan. Jika anak senang bersosialisasi maka ia bisa mengenal banyak orang berikut sifat, karakter, kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Ia bisa cepat bergaul dengan berbagai tipe orang.
Sosialisasi juga dapat membawa anak pada konflik/pertengkaran, terutama dengan teman sebaya. Tentu saja bantuan orang tua ataupun guru saat di kelompok bermain masih sangat diperlukan untuk membantu memecahkan konflik tersebut. Pada saat anak bertengkar dengan temannya, segera cegah mereka dan arahkan anak agar berbaikan lagi dengan temannya. Jika anak sudah memahami konsep ini, diharapkan ia akan mudah menyelesaikan konfliknya sendiri. Konflik yang terjadi di usia balita ini bersifat spontan. Tak ada rasa dendam dalam diri anak setelah konflik terjadi.
3.      Pola Dalam Belajar Sesuatu
Balita sangat cepat dalam belajar sesuatu, ini karena perkembangan sel-sel saraf otak dimasa balita lebih cepat dibanding usia diatasnya. Pola belajar balita seperti kamera film yang melihat, mendengar dan merekam perilaku orang yang disekitarnya. Kemudian mereka menirukan apa yang dilihat dan didengar tersebut. Sehingga sebagai orang tua harus selalu memberikan contoh yang baik kepada putra-putri mereka, agar balita mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang baik, misalnya dengan mengajak anak shalat (bagi orang islam), walaupun mereka belum tahu tapi mulai dari kecil sebaiknya ditanamkan nilai-nilai agama; kebiasaan mencuci tangan sebelum makan, membuang sampah pada tempatnya, kebiasaan buang air kecil atau besar di toilet, menyapa teman/tetangga saat brrjumpa, dan kebiasaan baik lainnya.
Contoh balita dalam belajar diantaranya adalah:
1)      Berbicara. Balita mulai belajar bicara dengan mendengarkan suara, kemudian balita menirukan suara tersebut. Dengan sering mengajaknya berbicara, balita akan makin banyak mengenal kata dan memahami kata, juga warna (timbre), nada, dan lagu/intonasi verbal. Semua ini akan sangat membantu perkembangan berbicaranya. Sejalan dengan perkembangan kognitifnya yang selalu ingin tahu tentang segala hal maka balita akan selalu cenderung bertanya, ini menyebabkan koleksi kosa katanya semakin banyak. Kadang-kadang kata-kata yang diucapkan masih terdengar lucu/tidak pas, namun seiring perkembangan bahasanya maka akan semakin baik dalam pengucapannya. Terkadang anak juga sering bicara sendiri karena imajinasi mereka saat memainkan sesuatu permainan yang dimilikinya.
2)      Berjalan. Balita mulai belajar berjalan dengan melihat cara berjalan orang dewasa, kemudian balita menirukan cara berjalan tersebut. Tentunya dengan bimbingan orang tua, yaitu biasanya dengan memegang tangan balita untuk melatih keseimbangan sehingga tidak jatuh. Setelah balita tersebut mengumpulkan keberanian untuk mencoba berjalan sendiri dengan berpegangan pada dinding atau benda lain. Walaupun berkali-kali jatuh balita akan tetap mencoba, sampai akhirnya dapat berjalan tanpa bantuan orang lain.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komen o yo rek,, *suwun