Kamis, November 25, 2010

PENGGUNAAN ATAU PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN


PENGGUNAAN ATAU PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN

A.     Pemanfaatan Media Pembelajaran di Sekolah
           Arif S. Sadiman (1990:189) membagi pemanfaatan media pembelajaran menjadi dua pola, yaitu pemanfaatan media dalam  situasi belajar mengajar di dalam kelas atau ruang dan pemanfaatan media di luar kelas. Dalam pemanfaatannya di dalam kelas, kehadirannya dimaksudkan untuk menentukan tercapainya tujuan tertentu. Oleh karna itu, guru hendaknya memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan media ke dalam rencana pembelajaran meliputi tujan, materi, strstegi, dan juga waktu yang tersedia. Ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam pemnfaatan media pembelajaran di kelas ini, yaitu:
1.      Persiapan guru
           Pada langkah ini guru menetapkan tujuan yang akan dicapai melalui media pembelajaran sehubungan dengan pelajaran yang akan dijelaskan berikut dengan strategi-strategi penyampaiannya.
2.      Persiapan kelas
      Pada langkah ini bukan hanya menyiapkan perlengkapan, tetapi  juga mempersiapkan siswa dari sisi tugas.
3.      Peyajian
      Penyajian media pembelajaran sesuai dengan karakteristiknya.
4.      Langkah lanjutan dan aplikasi
      Sesudah penyajian perlu ada kegiatan belajar sebagai tindak lanjutnya.

           Pola pemanfaatan kedua, adalah pemanfaatan media pembelajaran di luar kelas. Posisi kedua ini memperkuat posisi media sebagai sumber belajar. Pola pemanfaatan media di luar kelas dapat dibedakan ke dalam  tiga kelompok, yakni:
1.      Pemanfaaan media secara terkontrol
      Yakni media itu digunakan dalam suatu rangkaian kegiatan yang diatur secara sistematik untuk mencapai tujuan tertentu. Hasil belajar melalui pemanfaatan media secara terkontrol ini biasanya dievaluasi secara teratur dengan alat evaluasi yang terukur.
2.      Pemanfaatan media secara bebas (tidak terkontrol)
      Yakni pemanfaatannya tanpa ada kontrol atau pengawasan, seperti media-media yang dimanfaatkan masyarakat secara luas dengan cara membeli. Masyarakat itu sendirilah yang menentukan tujuan pemanfaatannya, yakni dengan menyesuaikan dengan kebutuhannya masing-masing.
3.      Pemanfaatan media dilihat dari jumlah penggunanya, yakni secara perorangan, kelompok, dan masal.
a.      Pemanfaatan media secara perseorangan
            Pemanfaatan media secara perseorangan biasanya dilengkapi dengan petunjuk penggunaannya, sehingga pengguna dapat memanfaatkannya secara mandiri.
b.      Pemanfaatan media secara kelompok
Pemanaatan media seacara berkelompok baik kelompok kecil (2 s/d 8 orang)  maupun kelompok besar (9 s/d 40 orang). Media untuk kelompok ini biasanya dilengkapi buku petunjuk bagi pimpinan kelompoknya. Setelah atau sebelum memanfaatkan media, kelompok dapat melakukan diskusi. Terakhir, media yang dimanfaatkan secara masal (mulai puluhan, ratusan, hingga ribuan orang). Media untuk masal ini biasanya disalurkan melalui pemancar, seperti radio dan televisi.

B.      Pemanfaatan Perpustakaan Sebagai Sumber  Belajar
           Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, pustaka artinya kitab, buku. Dalam bahasa Inggris, perpustakaan disebut Library. Istilah ini berasal dari kata Latin, liber atau libri artinya buku.  Dari kata Latin tersebut, terbentuklah librarus yang artinya tentang buku. Dalam bahasa asing lainnya seperti Belanda perpustakaan disebut juga sebagai bibliotheek, Jerman: bibliotheek, Perancis: bibliotheque, Spanyol: bibliothea, dan Portugis: bibliothea. Semua istilah itu berasal dari satu kata yang sama yakni biblia dari bahasa Yunani, artinya tentang buku, kitab. Istilah tersebut bahkan dapakai sebagai sebutan kitab suci, Bible. Oleh karena itu, dalam bahasa Indonesia Bible diterjemahkan menjadi Alkitab. Dengan demikian, tidaklah aneh bila senua bahasa, istilah-istilah untuk perpustakaan selalu dikaitkan dengan buku atau kitab.
Perpustakaan pada masa keemasan islam telah benar-benar berfungsi sebagai pusat sumber belajar, karena banyak aktivitas belajar di dalamnya, seperti membaca. Menulis, meyalin, pertemuan sastra, pertunjukan music. Namun kemudian, pada abad-abad berikutnya, suasana perpustakaan berubah, yakni menjadi sunyi senyap walaupun di dalamnya penuh dengan pengunjung. Keadaan ini disinyalir terjadi pada pasca lahirnya mesin cetak yang tercipta dari tangan terampil Johannes Guttenberg pada 1440-an. Karena setelah mesin cetak digunakan secara luas maka orang-orang menjadi melek huruf. Hal ini berdampak pada beralihnya cara-cara transformasi informasi dan pengertahuan, dari melalui lisan menjadi melalui membaca. Epos, mitos, dongeng dan lain-lain yang awalnya disampaikan dengan kekayaan suara yang begitu dramatis dan emosional yang memberikan kesan dalam kenangan, berubah menjadi kumpulan ribuan huruf. Perubahan ini artinya perubahan tradisi belajar dari belajar dinamis menjadi belajar statis. Dengan melakukan pengembangan dan produksi berbagai macam media pembelajaran, maka di perpustakaan-perpustakaan modern ini tidak hanya menyediakan koleksi buku saja, melainkan juga mencakup film, slide, rekaman phonographs, kaset, piringan hitam dan lain-lain. Perpustakaan yang demikian ini adalah perpustakaan yang kaya akan sumber belajar.

C.      Pusat Sumber Belajar (PSB) dan Program Pendidikan Jarak Jauh
Sumber-sumber belajar dapat berasal dari berbagai bentuk. Misalnya orang juga dapat menjadi sumber belajar, yakni ketika staf pengajar tersebut menyediakan diri sebagai manusia sumber yang dapat tersedia setiap saat sehingga dapat memecahkan berbagai kesulitan seecara individual. Begitu juga tempat tertentu dapat dijadikan sumber belajar contohnya adalah laboratorium yang bisa digunakan setiap saat seperti yang diuraikan sebelumnya. Akhirnya, berbagai bentuk instruksional dapat diartikan sebagai sumber belajar, misalnya buku, kaset video, computer dan lain-lain. Media instruksional dalam berbagai formatnya merupakan tipe sumber belajar yang paling umum, dan media ini sering disimpan menjadi satu di pusat sumber belajar dalam suatu tatanan khusus.
Secara historis menurut Mudhoffir (1992), pertumbuhan pusat sumber belajar merupakan suatu kemajuan bertahap dimulai dari perpustakaan yang hanya terdiri dari media cetak. Dalam melaksanakan kegiatannya perpustakaan menanggapi permintaan-permintaan dan memberikan pelayanan kepada para konsumen yang bervariasi secara luas. Dengan semakin meluasnya kemajuan dalam bidang teknologi komunikasi dan informasi, dinamika proses belajar dan sumber belajar yang bervariasi semakin diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan penekanan pada bahan pengajaran yang baru melalui produksi audiovisual digabung dengan perpustakaan yang melayani media cetak, maka timbul pusat multi media. Timbulnya pusat sumber belajar dimungkingkan pula oleh pertumbuhan berikutnya yang berupa pengakuan akan semakin dibutuhkannya pelayanan dan kegiatan belajar nontradisional yang membutuhkan ruangan belajar tertentu sesuai dengan kbutuhan.
            Tujuan umum Pusat Sumber Belajar adalah meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan PBM melalui pengembangan sisitem instruksional. Segala sumber dan bahan, segala macam peralatan audiovisual, segala jenis personel yang ada di dalam pusat sumber belajar dimaksudkan untuk membantu meningkatkan efektivitas dan efisiensi interaksi siswa dan pengajar dalam proses pembelajaran. Tujuan khususnya:
1.      Menyediakan pilihan komunikasi pembelajaran.
2.      Memberikan penggunaan cara-cara belajar baru.
3.      Memberikan pelayanan dalam perencanaan, produksi, operasional, dan tindakan lanjutan.
4.      Penelitian tentang pemanfaatan media pembelajaran.
5.      Menyebarkan informasi tentang berbagai sumber belajar.
6.      Memberikan konsultasi untuk modifikasi dan desain produksi sumber belajar.
7.      Layanan pemeliharaan atas berbagai peralatan.
8.      Menyediakan pelayanan evaluasi.


            Pusat sumber belajar dapat mempunyai peranan yang sangat penting dalam menyediakan sumber belajar untuk para siswa dalam berbagai bentuk dan jenisnya, lengkap dengan perangkat kerasnya yang sesuai yang diperlukan untuk penggunaan sumber belajar tersebut. Dengan system belajar yang begitu luwes para siswa sering memperoleh kesempatan untuk memanfaatkan sumber belajar secara bebas dan mudah yang ada pada Pusat sumber belajar di lembaga pendidikan induk. Mereka diizinkan untuk hadir pada wakru kapan saja yang sesuai dengan kesempatan waktu mereka. Bahkan, saat ini keberadaan Pusat Sumber Belajar telah dijadikan syarat bagi perguruan tinggi yang ingin menjadi penyelenggara Program Pendidikan Jarak Jauh.

D.     Langkah-Langkah dalam Pemanfaatan Media Pembelajaran
Ada beberapa langkah yang perlu dipertimbangkan dalam memanfaatkan media
pembelajaran
a. Merumuskan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan dengan memanfaatkan
media.
b. Memilih dan memanfaatkan media yang akan gunakan agar pencapaian tujuan
pembelajaran lebih mudah.
c. Siswa atau kelas mempunyai kesiapan dalam menerima pelajaran dengan
menggunakan media tertentu (yang dipilihnya).
d. Penyajian bahan pelajaran dengan memanfaatkan media pembelajaran yang telah
dipersiapkan.
e. Siswa belajar dengan memanfaatkan media pembelajaran.
f. Lakukan evaluasi sampai sejauh mana tujuan pengajaran tercapai, yang sekaligus
dapat dinilai sejauh mana pengaruh media sebagai alat bantu dapat menunjang keberhasilan proses belajar siswa.

E.      Keuntungan Penggunaan dan Pemanfaatan Media Pembelajaran
Heinich, Malenda, Russel (1982) dalam Ilda Prayitno (1989) (dalam Hamdani 2005: 9) mengemukakan keuntungan penggunaan media dalam pembelajaran adalah:
1)   Membangkitakan ide-ide atau gagasan-gagasan yang bersifat konseptual,       sehingga mengurang kesalahpahaman siswa dalam mempelajarinya.
2)   Meningkatkan minat siswa untuk materi pelajaran
.
3)   Memberikan pengalaman-pengalaman nyata yang merangsang aktivitas diri sendiri untuk belajar.
4)   Dapat mengembangkan jalan pikiran yang berkelanjutan.
5)   Menyediakan pengalaman-pengalaman yang tidak mudah didapat melalui materi-materi yang lain dan menjadikan proses belajar mendalam dan beragam.

Sejalan dengan pendapat di atas, Ely (dalam Danim, 1994:13) menyebutkan manfaat media dalam pengajaran adalah sebagai berikut:
a. Meningkatkan mutu pendidikan dengan cara meningkatkan kecepatan belajar (rate of learning), membantu guru untuk menggunakan waktu belajar siswa secara baik, mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi dan membuat aktivitas guru lebih terarah untuk meningkatkan semangat belajar
b. Memberi kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual dengan jalan memperkecil atau mengurangi kontrol guru yang tradisional dan kaku, memberi kesempatan luas kepada anak untuk berkembang menurut kemampuannya serta memungkinkan mereka belajar menurut cara yang dikehendakinya.
c. Memberi dasar pengajaran yang lebih ilmiah dengan jalan menyajikan/merencanakan program pengajaran yang logis dan sistematis, mengembangkan kegiatan pengajaran melalui penelitian, baik sebagai pelengkap maupun sebagai terapan.
d. Pengajaran dapat dilakukan secara mantap karena meningkatnya kemampuan manusia untuk memanfaatkan media komunikasi, informasi dan data secara lebih konkrit dan rasional.
e. Meningkatkan terwujudnya kedekatan belajar (immediacy learning) karena media pengajaran dapat menghilangkan atau mengurangi jurang pemisah antara kenyataan di luar kelas dan di dalam kelas serta memberikan pengetahuan langsung.
f. Memberikan penyajian pendidikan lebih luas, terutama melalui media massa, dengan jalan memanfaatkan secara bersama dan lebih luas peristiwa-peristiwa langka dan menyajikan informasi yang tidak terlalu menekankan batas ruang dan waktu.

F.    Berbagai Pertimbangan Pokok dalam Penggunaan Media Pendidikan
1.   Tugas dan Peranan Guru
Kalau ditilik dari sejarah perkembangan profesi guru, maka tugas mengajar adalah pelimpahan dari tugas orang tua yang tidak mampu lagi memberikan sesuatau pengetahuan dan keterampilan dengan memberikan contoh-contoh konkrit. Dengan berkembangnya kebudayaan yang meliputi pula perkembangan ilmu pengetahuan, perkembangan teknologi, perkembangan jumlah anak yang memerlukan pendidikan disertai dengan keinginan manusia untuk serba cepat, membawa pengaruh pula atas tugas dan peranan guru.
Dengan makin bertambahnya isi pengetahuan yang harus diberikan guru, ditambah lagi dengan bertambahnya jumlah murid, bertambahnya tugas guru baik karena alasan sosial dan ekonomi, maka harus ada jalan keluar. Salah satu jalan keluar itu adalah penggunaan media pendidikan dalam proses pengajaran.
Penggunaan media pendidikan ini janganlah sekedar dianggap sebagai upaya membantu guru yang bersifat pasif, artinya yang penggunaannya semata-semata ditentukan oleh guru. Melainkan merupakan upaya membantu anak-anak untuk belajar, kalau perlu dengan cara individual (berinteraksi secara individual dengan media) dan secara berkelompok kecil dengan sesama teman kelas.
2.   Tuntutan Kurikulum
Penggunaan media  pendidikan juga harus didasarkan pada analisa atas kurikulum. Analisa atas kurikulum itu sendiri dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu berdasarkan kegiatan apa yang perlu dilakukan oleh murid dan kedua atas dasar sifat subjek yang perlu dipelajari.
Di samping itu dalam kurikulum juga ditentukan macam kegiatan yaitu apakah anak perlu melakukan percobaan sendiri dan mengambil kesimpulan serta pelajaran, apakah cukup dengan diberikan demonstrasi oleh beberapa teman sekelas, apakah dengan penjelasan yang dilakukan oleh guru ataupun dengan melihat kenyataan yang sebenarnya yang terjadi di luar kelas, ataupun cukup dengan subtitusi dari kenyataan saja.
Setelah kurikulum dianalisis diidentifikasi beberapa media alternatif. Alternatif-alternatif ini perlu dicobakan dengan dalil umum alternative yang paling sederhana didahulukan. Bilamana hasilnya memang mengajukan pe ningkatan hasil belajar barulah media itu dibakukan, yaitu dimantabkan penggunaannya sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran. Tentu saja dalam percobaan itu mungkin terjadi penyempurnaan, perubahan, bahkan penolakan.
3.   Prinsip Umum Penggunaan Media
Prinsip-prinsip umum itu dapat dikemukakan sebagai berikut
a)   Tidak ada satu metode dan media yang harus dipakai dengan meniadakan yang lain. Jadi misalnya tidak harus dipakai kertas dan pensil untuk menulis dengan meniadakan batu tulis dan anak batu tulis.
b)   Media tertentu cenderung untuk lebih tepat dipakai dalam menyajikan suatu unit pelajaran daripada media lain. Oleh karena itu kita harus mengenal karakteristik dan kemampuan masing-masing media sebelum kita memiliki dan menetapkan pada suatu media yang kita ketahui saja.
c)   Tidak ada suatu mediapun yang dapat sesuai untuk segala macam kegiatan belajar. Seperti halnya tidak ada obat yang dapat mengobati segala macam penyakit, maka tidak ada media yang cocok untuk semua keperluan.
d)   Penggunaan media yang terlalu banyak secara sekaligus justru akan membingungkan dan tidak memperjelas pelajaran. Pendekatan multimedia tidaklah sama sekali berarti bahwa dalam sekali penampilan perlu dipakai beberapa acam media secara serentak.
e)   Harus senantiasa dilakukan persiapan yang cukup untuk menggunakan media pendidikan. Kesalahan yang sering terjadi ialah timbulnya anggapan bahwa dengan menggunakan media pendidikan guru tidak perlu membuat periapan mengajar terlebih dulu.
f)    Media harus merupakan bagian integral dari pelajaran. Media pendidikan bukan merupakan hiasan, sehingga kalau kita ingin mengisi dinding kelas dengan media grafika misalnya, tidak dapat kita ambil begitu saja gambar yang menarik sebagai hiasan.
g)   Anak-anak harus mempersiapkan dan diperlakukan sebagai peserta yang aktif.
h)   Murid harus ikut serta bertanggungjawab untuk apa yang terjadi selama pelajaran.
i)     Secara umum perlu diusahakan penampilan yang positif daripada yang negatif
j)     Hendaknya tidak menggunakan media pendidikan sekedar sebagai selingan atau hiburan, pengiasi waktu, kecuali memang tujuan pengajarannya memang demikian.
k)   Pergunakan kesempatan menggunakan media yang dapat ditanggapi untuk melatih perkembangan bahasa, baik lisan maupun tertulis.
4.   Prinsip Pemilihan dan Pembuatan Media
Langkah kritis pertama yang perlu dilakukan guru dalam penggunaan media secara efektif adalah mencari, menemukan, dan memilih media yang memenuhi kebutuhan belajar anak, menarik minat anak, sesuai dengan perkembangan kematangan dan pengalaman dan dengan sendirinya yang sesuai dengan subjek yang dipelajari. Prinsip utama pemilihan oleh karena itu adalah:harus didasarkan pada tujuan belajar yang ditentukan dengan miengingat karakteristik khusus yang ada dalam kelompok belajar.
Tujuan belajar yang baik harus memenuhi beberapa criteria yang terpenting dianataranya adalah:
1)   Harus dinyatakan dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati.
2)   Harus dapat diketahui atau dinilai tingkat-tingkat pencapaiannya.

Karakteristik dari kelompok belajar yang perlu dipertimbangkan adalah:
1)   Pematangan anak dan latar belakang dan pengalamannya.
2)   Kondisi mental yang berhubungan dengan usia perkembangan.

G.     Keterampilan Menggunakan Media Pembelajaran yang Harus Dimiliki Guru
a.   Keterampilan memilih media yang sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar
b.   Keterampilan memilih media yang sesuai dengan karakteristik siswa
Siswa memiliki dua karakteristik, yaitu umum (tidak terkait dengan materi pembelajaran, seperti:umur, jenis kelamin, jenjang kelas, dll) dan khusus (pengetahuan, kemampuan, serta sikap mengenai materi akan disajikan dalam pembelajaran).
c.    Keterampilan memvariasikan media dan memberdayakan media pembelajaran untuk mendukung tercapainya kompetensi
Seorang guru/calon guru harus dapat memvariasikan beragam medida dan menjadikan media menjadi wahana yang benar-benar dapat mendukung tercapainya kompetensi pembelajaran dan sekaligus meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran.
d.   Keterampilan mengoperasikan media
Sumber: Materi kuliah “media pembelajaran berbasis TIK”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komen o yo rek,, *suwun