Rabu, Februari 09, 2011

Inovasi Pembelajaran Kuantum


INOVASI PEMBELAJARAN KUANTUM
A.     Pendahuluan
           Pembelajaran kuantum dikembangkan oleh Bobby Deporter (1992) yang beranggapan bahwa metode belajar ini sesuai dengan cara kerja otak manusia dan cara balajar manusia pada umumnya. Dengan model SuperCamp yang dikembangkan bersama kawan-kawannya pada awal tahun 1980-an, prinsip-prinsip dan model pembelajaran kuantum menentukan bentuknya. Dalam SuperCamp tersebut, kurikulum dikembangkan secara harmonis dan berisi kombinasi dari tiga unsur yaitu: keterampilan akademis (academic skills), prestasi atau tantangan fisik (physical challenge), dan keterampilan dalam hidup (life skills). Pembelajaran berdasarkan pada landasan konteks yang menyenangkan dan situsi penuh kegembiraan. Model pembelajaran kuantum dicetuskan oleh seorang pendidik berkebangsaan Bulgaria Georgi Lozanov yang melakuakn uji coba tentang sugesti dan pengaruhnya terhadap faktor belajar, teorinya yang terkenal disebut suggestology. Menurut Lozanov, pada prinsipnya sugesti itu mempengaruhi hasil belajar. Teknik yang digunakan untuk memberikan sugest positif dalam belajar diantaranya yaitu mendudukkan siswa secara nyaman, memasang musik di dalam kelas atau lapangan, meningkatkan partisipasi siswa, menggunakan poster-poster dalam menyampaikan suatu informasi, dan menyediakan guru-guru yang berdedikasi tinggi.
           Pembelajaran kuantum sebagai salah satu model, strategi dan pendekatan pembelajaran khususnya menyangkut keterampilan guru dalam merancang, mengembangkan dan mengelola sistem pembelajaran sehingga guru mampu menciptakan suasana pembelajaran yang efektif, menggairahkan, dan memiliki keterampilan hidup (Kaifa, 1999). Dengan demikian model pembelajaran kuantum ini merupakan bentuk inovasi penggubahan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar.
           Pembelajaran kuantum sebagai salah satu alternatif pembaharuan pembelajaran, menyajikan petunjuk praktis dan spesifik untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, bagaimana merancang pembelajaran, menyampaikan bahan pembelajaran, dan bagaimana menyederhanakan proses belajar sehingga memudahkan belajar siswa. Pemelajaran kuantum merupakan sebuah model yang menyajikan bentuk pembelajaran sebagai suatu “orkestrasi” yang jika dipilih dari dua unsur pokok yaitu: konteks dan isi. Konteks secara umum akan menjelaskan tentang lingkup lingkungan belajar baik lingkungan fisik maupun lingkuangan psikhis. Sedangkan konten/isi berkenaan dengan bagaimana isi pembelajaran dikemas untuk disampaikan kepada siswa.
           Pembelajaran kuantum mengkonsep tentang “menata pentas lingkungan belajar yang tepat”, maksudnya bagaimana upaya penataan situasi lingkungan belajar yang optimal baik secara fisik maupun mental. Dengan mengatur lingkungan belajar sedemikian rupa, para pelajar diharapkan mendapat langkah utama yang efektif untuk mengatur pegalaman belajar. Lingkungan belajar terdiri dari lingkungan mikro dan lingkungan makro. Lingkungan mikro adalah tempat siswa melakukan proses belajar, bekerja dan berkreasi. Bagaimana desain ruangan, penataan cahaya, musik pengiring yang kesemuanya ini mempengaruhi siswa dalam menyerap, menerima dan mengolah informasi. Lebih khusus lagi perhatian terhadap penataan lingkungan formal, seperti meja, kursi, tempat khusus, dan tempat belajar yang teratur.
           Lingkungan makro adalah dunia luas, artinya siswa diminta untuk menciptakan kondisi ruang belajar dimasyarakat. Mereka diminta untuk memperluas lingkup pengaruh dan kekuatan pribadi, berinteraksi sosial di lingkungan masyarakat yang diminatinya. Semakin siswa berinteraksi dengan lingkungan semakin mahir mengatasi situasi-situasi yang menantang dan semakin mudah mempelajari informasi baru. Setiap siswa diminta berhubungan secara aktif dan mendapat rangsangan masyarakat agar mereka kelak mendapat pengalaman membangun pengetahuan pribadi (Bobby Deporter, 2002).
B.      Landasan Pembelajaran Kuantum
           Istilah “Quantum” dipinjam dari dunia fisika yaitu interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Maksudnya dalam pembelajaran kuantum, pengubahan bermacam-macam interaksi dalam kegiatan belajar. Interaksi-interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah guru dan siswa menjadi cahaya yang bermanfaat bagi kemajuan mereka dalam belajar secara aktif dan efisien. Selain itu, adanya proses pengubahan belajar yang meriah dengan segala nuansanya, penyertaan segala yang berkaitan, interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan moment belajar, fokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas, seluruhnya adalah hal-hal yang melandasi pembelajaran kuantum.
           Ada dua konsep utama yang digunakan dalam pembelajaran kuantum dalam rangka mewujudkan energi guru dan siswa menjadi cahaya belajar yaitu percepatan belajar melalui usaha sengaja untuk mengikis hambatan-hambatan belajar tradisional dan fasilitas belajar yang berarti mempermdah belajar. Percepatan belajar dan fasilitasi belajar akan mendukung asas utama yang digunakan dalam pembelajaran kuantum yaitu: “Bawalah dunia mereka ke dunia kita dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”. Asas utama pembelajaran kuantum tersebut mengisyaratkan pentingnya seorang guru memasuki dunia atau kehidupan anak sebagai langkah awal dalam melaksanakan sebuah pembelajaran. Memahami kehidupan dan dunia anak, merupakan lisensi bagi para guru untuk memimpin, menuntu, dan memudahkan perjalanan siswa dalam meraih hasil belajar yang optimal. Salah satu cara yang bisa digunakan dalam hal ini misalnya mengaitkan apa yang akan diajarkan dengan peristiwa-peristiwa, pikiran atau perasaan, tindakan yang diperolah siswa dalam kehidupan baik di rumah, di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Setelah kaitan itu terbentuk, maka guru dapat memberikan pemahaman tentang materi pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan, perkembangan, dan minat bakat siswa.
           Pemahaman terhadap “hakikat” siswa menjadi lebih penting sebagai “jembatan” untuk menghubungkan dan  memasukan “dunia kita” kepada dunia mereka. Apabila seorang guru telah memahami dunia siswa, maka siswa telah merasa diperlakukan sesuai dengan tingkat perkembangan mereka, sehinggga pembelajaran akan menjadi harmonis seperti sebuah “orkestrasi” yang saling bertautan dan saling mengisi. Sebuah pepatah mengatakan, ajarilah, tuntun, fasilitasi, dan bimbinglah anak didik kalian, sesuai dengan kebutuhan dan daya pikirnya.
1.      Prinsip dan Strategi Pembelajaran Kuantum
           Selain asas utama seperti dipaparkan di atas tadi, pembelajaran kuantum memiliki lima prinsip (Bobby DePorter, 1992) sebagai berikut.
a.      Segalanya berbicara, maksudnya adalah seluruh lingkungan kelas hendaknya dirancang untuk dapat membawa pesan belajar yang dapat diterima oleh siswa, ini berarti rancangan kurikulum dan rancangan pembelajaran guru, informasi, dan bahasa tubuh, kata-kata, tindakan, gerakan, dan seluruh kondisi lingkungan haruslah dapat berbicara membawa pesan-pesan belajar bagi siswa.
b.      Segalanya bertujuan, maksudnya semua penggubahan pembelajaran tanpa terkecuali harus mempunyai tujuan-tujuan yang jelas dan terkontrol. Sumber dan fasilitas yang terlibat dalam setiap pembelajaran pada prinsipnya untuk membantu perubahan perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor.
c.       Pengalaman sebelum pemberian nama, maksudnya sebelum siswa belajar memberi nama (mendefinisikan, mengkonseptualisasi, membedakan, mengkategorikan,) hendaknya telah memiliki pengalaman informasi yang terkait dengan upaya pemberian nama tersebut.
d.      Mengakui setiap usaha, maksudnya semua usaha belajar yang telah dilakukan siswa harus memperoleh pengakuan guru dan siswa lainnya, pengakuan ini penting agar siswa selalu berani melangkah ke bagian berikutanya dalam pembelajaran.
e.      Merayakan keberhasilan, maksudnya setiap usaha dan hasil yang diperoleh dalam pembelajaran pantas dirayakan. Perayaan ini diharapkan memberi umpan balik dan motivasi untuk kemajuan dan peningkatan hasil belajar berikutnya.
     Selanjutanya Bobby DePorter (1992), mengembangkan strategi pembelajaran kuantum melalui istilah TANDUR, yaitu:
a.      Tumbuhkan, yaitu dengan memberikan apresiasi yang cukup sehingga sejak awal kegiatan siswa telah termotivasi untuk belajar dan memahami Apa Manfaatnya Bagiku (AMBAK).
b.      Alami, berikan pengalaman nyata kepada setiap siswa untuk mencoba.
c.       Namai, sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi dan metode lainnya.
d.      Demonstrasikan, sediakan kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan kemampuannya.
e.      Ualangi, beri kesempatan untuk mengulangi apa yang telah dipelajarinya, sehingga setiap siswa merasakan langsung dimana kesulitan akhirnya datang kesuksesan, kami bisa bahwa kami memang bisa.
f.        Rayakan, dimaksudkan sebagai respon pengakuan yang proporsional.
2.      Model Pembelajaran Kuantum
           Model pembelajaran kuantum identik denngan sebuah simponi dan pertunjukan musik. Maksudnya pembelajaran kuantum, memberdayakan sebuah potensi dan lingkungan belajar yang ada, sehingga proses belajar menjadi suatu yang menyenangkan dan bukan sebagai sesuatu yang memberatkan. Untuk dapat mengarah yang dimaksud, ada beberapa langkah yang harus dilakukan, yaitu: 1) optimalkan minat pada diri, 2) bertanggung jawab pada diri, sehingga anda akan mulai mengupayakan segalanya terlaksana, dan 3) hargailah segala tugas yang telah selesai (Howard Gardner, dalam DePorter, 2002).
           Tujuan pokok pembelajaran kuantum yaitu meningkatkan partisipasi siswa, melalui penggubahan keadaan, meningkatkan motivasi dan minat belajar, meningkatkan daya ingat dan rasa kebersamaan, meningkatkan daya dengar, dan meningkatkan kehalusan perilaku. Berdasarkan prinsip dan asas landasan pembelajaran kuantum, guru harus mampu mengorkestrasi kesuksesan belajar siswa. Dalam pembelajaran kuantum, guru itu tidak semata-mata menerjemahkan kurikulum ke dalam strategi, metode, teknik dan langkah-langkah pembelajaran, melainkan termasuk juga menterjemahkan kebutuhan nyata siswa. Untuk hal itu, dalam pembelajaran kuantum, guru harus memiliki kemampuan untuk mengorkestrasi konteks dan kontens. Konteks berkaitan dengan lingkungan pembelajaran, sedangkan konten berkaitan dengan isi pembelajaran.
3.      Mengorkestrasi kesuksesan belajar melalui lingkungan pembelajaran (konteks)
           Dimensi konteks dalam pembelajaran kuntum dapat dikelompokkan menjadi empat bagian, yaitu: suasana belajar yang menggairahkan, landasan yang kukuh, lingkungan yang mendukung, dan rencana belajar yang dinamis. Keempat bagian ini harus merupakan satu interaksi kekuatan yang mendukung percepatan belajar, dan juga merupakan kondisi yang diperlukan untuk mencapai kesuksesan belajar yang optimal.
a.      Suasana yang menggairahkan
           Guru harus mampu menciptakan suasana pembelajaran yang memberdayakan siswa. Untuk menciptakan suasana yang dinamis dan menggairahkan dalam belajar, guru atau fasilitator perlu memahami dan perlu menerapkan aspek-aspek pembelajaran kuantum sebagai berikut.
-          Kekuatan niat dan berpandangan positif
-          Menjalin rasa simpati dan saling pengertian
-          Keriangan dan ketakjuban
-          Meu mengambil risiko
-          Menumbuhkan rasa saling memiliki
-          Menunjukan keteladanan
           Penelitian menunjukan, bahwa suasana kelas pembantu psikologis utama yang mempengaruhi kegiatan belajar. Pada dasarnya kelas adalah arena belajar yang dipengaruhi oleh emosi, itu sebabnya disarankan agar guru berupaya menciptakan suasana melalui keenam aspek di atas.  Niat kuat seorang guru dalam menngajar ditentukan oleh pandangan positif guru dan citranya tentang kemapuan siswa. Keyakinan guru tentang potensi dan kemampuan semua siswa untuk belajar dan berprestasi akan menentukan keberhasilan siswa itu sendiri. Kerena itu, aspek keteladanan mental guru berdampak besar terhadap iklim belajar dan pemikiran belajar, karena siswa memiliki perasaan dan sikap yang turut mempengaruhi proses belajar. Selai itu, guru juga dituntut untuk mengetahui karakteristik emosional siswa, karena dengan mengetahui karakteristik  emosional siswa dapat membantu mereka mempercapat hasil belajar. Guru juga harus memiliki kemampuan untuk memotivasi siswa, dan melakukan penghargaan terhadap setiap upaya yang telah dilakuakan oleh siswa. Penghargaan tesebut bukan hanya sekedar material, tetapi dalam bentuk lain seperti pujian, menepuk pundak dsb. Guru perlu memperlakukan siswa sebagai manusia sederajat, mengetahui pikiran, perasaan dan kesukaannya mengenai hal-hal yan terjadi dalam kehidupan siswa, mengetahui apa yang menghambat mereka memperoleh hal-hal yang mereka inginkan, berbicara dengan jujur dan menikmati kesenangan bersama mereka.
b.      Landasan yang kukuh
           Setelah menciptakan suasana yang dapat mendorong siswa untuk belajar, langkah selanjutnya yang mesti dilakukan adalah menciptakan landasan yang kukuh. Menegakkan landasan yang kukuh dalam pembelajaran kuantum dengan cara: mengkomunikasikan tujuan pembelajaran, mengukuhkan prinsip-prinsip keunggulan, meyakini kemampuan diri dan kemampuan siswa, kesepakatan, kebijakan, prosedur dan peraturan, serta menjaga komunitas belajar tetap tumbuh dan belajar.
           Penetapan landasan dapat dimulai dari penetapan tujuan. Hendaknya dalam komunitas belajar antar pengajar dan pembelajar memiliki tujuan yang sama. Tujuan dari siswa adalah mengembangkan kecakapan dalam mata pelajaran, menjadi pelajar yang lebih baik dan berinteraksi sebagai anggota komunitas dari masyarakat belajar, dan mengembangkan kemampuan lain yang dianggap penting. Sebaliknya tujuan dari pengajar adalah menciptakan agar siswa belajar yang cakap dalam mata pelajaran yang disampaikan, lebih baik dan mampu berinteraksi dalam masyarakat belajar. Dengan adanya kesamaan tujuan, maka upaya yang dilakukan akan memiliki kesamaan, sehingga ada kesesuaian antara apa yang harus dilakukan siswa dengan apa yang diinginkan guru. Kedua hal ini akan menjadi prinsip yang dikembangkan dalam komunitas belajar. Pembelajaran kuantum memiliki delapan kunci sukses yang dikembangkan, yaitu integritas, kegagalan sebagai awal kesuksesan, bicara dengan niat yang baik, hidup saat ini, komitmen, tanggung jawab, sikap luwes dan keseimbangan (DePorter, 1999).
           Landasan lain yang perlu dijelaskan adalah keyakinan terhadap kemampuan diri dan kemampuan siswa. Keyakinan atas kemampuan mengajar dan kemampuan siswa balajar akan menimbulkan hal-hal yang menakjubkan. Setiap kesepakatan, kebijakan, prosedur dan peraturan harus dilaksanakan bersama untuk memenuhi kebutuhan otak tentang struktur positif yang terarah. Berdasarkan landasan di atas setiap guru diharapkan dapat menjaga komunitas belajar dan membantu siswa mengkaitkan pelajaran dengan gambaran masa depan mereka.
c.       Lingkungan yang mendukung
           Lingkungan kelas akan berpengaruh terhadap kemampuan siswa dalam memusatkan perhatian dan menyerap informasi sebanyak-banyaknya. Dengan demikian dalam pembelajaran kuantum guru memiliki kewajiban menata lingkungan yang dapat mendukung situasi belajar dengan cara: mengorganisasilkan dan memanfaatkan lingkungan sekitar, menggunakan alat bantu yang mewakili satu gagasan, pengaturan formasi siswa, pemutaran musik yang sesuai dengan kondisi belajar.
           Penggunaan foster dalam  lingkungan dalam lingkungan kelas dapat menampilkan pelajaran secara visual. Poster avirmasi dapat menguatkan dialog internal siswa. Alat bantu belajar dapat menghidupkan gagasan abstrak dan memberikan pengalaman-pengalaman langsung. Meja belajar atau bagku dan kursi harus dapat diubah-ubah agar dapat berfokus pada tugas yang dihadapi. Musik membuka kunci keadaan belajar yang optimal dan membantu menciptakan asosiasi. Pengorkestrasian unsur-unsur dalam lingkungan sangat berpengaruh pada kemampuan guru untuk belajar lebih baik.
d.      Perancangan pengajaran yang dinamis
           Guru dapat memasuki dunia siswa dalam proses pembelajaran melalui perancangan pembelajaran. Disini diperlukan kemampuan guru memasuki dunia siswa baik sebelum maupun saat berlangsungnya pembelajaran dapat membawa sukses pembelajaran, karena membantu guru menyelesaikan proses pembelajaran lebih cepat, lebih melekat dan lebih bemakna dengan hasil belajar yang memuaskan. Pembelajaran kuantum memberikan beberapa kiat tentang cara menyesuaikan pembelajaran dengan masing-masing modalitas belajar siswa, memberikan strategi dan kiat tentang cara menyelesaikan pembelajaran dengan masing-masing modalitas belajar siswa, memberikan strategi dan kiat tentang menjalin mitra dengan siswa, sehingga guru merancang pembelajaran bermula kelompok besar, dilanjutkan dengan belajar dalam kelompok kecil, diakhiri dengan belajar secara perorangan.  Berdasarkan strategi di atas, maka kiat kerangka perancangan pembelajaran kuantum dilaksanakan sebagai perpaduan yang disingkat dengan TANDUR yakni Tumbuhkan, Alami, Namai, Ulangi, dan Rayakan.
4.      Mengorkestrasikan Kesuksesan Belajar Melalui Konten/Isi
           Dimensi konten/isi dalam pembelajaran kuantum dikelompokkan menjadi empat bagian, dimana dua bagian mengkaji kemampuan guru dalam melakukan presentasi dan fasilitasi, dua bagian lainnya memberikan tip tentang kiat-kiat keterampilan belajar siswa dan keterampilan hidup. Pada bagian akhir dibahas kiat-kiat keterampilan praktik pembelajaran dengan model pembelajaran kuantum. Keempat bagian ini harus merupakan satu interaksi kekuatan yang terkait dengan dimensi konteks yang meningkatkan cahaya percepatan belajar. Hal ini merupakan upaya dan kondisi yang diperlukan untuk mencapai kesuksesan belajar yang optimal.
a.      Mengorkestrasi presentasi prima
           Kemampuan guru mengorkestrasi presentasi prima merupakan kemampuan berkomunikasi dengan menekankan interaksi sesuai dengan rancangan pembelajaran yang telah ditetapkan. Guru mengajarkan keterampilan hidup di tengah-tengah keterampilan akademis, mengembangkan aspek fisik, mental dan spiritual para siswa dengan memperhatikan kualitas interaksi antar siswa, antar siswa dengan guru, dan antar siswa dengan kurikulum. Dalam berkomunikasi dengan siswa, guru menyesuaikan pesan atau materi pelajaran dengan modalitas utama para siswanya, karena itu guru harus menguasai prinsip-prinsip komunikasi secara visual, auditorial, dan kinestetik yang diyakini sebagai jalan menuju kesuksesan belajar. Ketika guru mengajar, memberikan pengarahan, menata konteks, memberikan umpan balik, hendaknya dilakukan empat prinsip komunikasi, yaitu: memunculkan kesan yang diinginkan, mengarahkan perhatian, bersifat mengajak dan tepat sasaran. Memunculkan kesan merupakan hal penting dalam belajar karena membantu otak membuat citra tentang apa yang dipelajari melalui asosiasi. Mengarahkan foskus perhatian juga penting karena dalam komunikasi otak memiliki kemampuan menyerap banyak informasi dalam setiap waktu dari pesan-pesan yang diberikan guru. Jika guru salah mengarahkan perhatian, maka informasi penting menjadi tak tersadari. Bersifat mengajak pada prinsipnya berbeda dengan prinsip perintah yang menunjukkan dominasi guru. Ajakan itu lebih menimbulkan asosiasi positif tentang kebersamaan dan kerjasam secara kolaborasi untuk menghindari asosiasi negatif terhadap dinamika guru. Namun ajakan tersebut harus bersifat spesifik ditujukan langsung pada inti tujuan pembelajaran. Dalam berkomunikasi dengan siswa, hendaknya guru berkeyakinan bahwa komunikasi non verbal sama ampuhnya dengan komunikasi verbal. Komunikasi non verbal yang harus diperhatikan guru adalah kontak mata, ekspresi wajah, nada suara, gerak tubuh, dan sosok (postur).
b.      Mengorkestrasi fasilitas yang elegan
           Mengorkestrasi fasilitas berarti memudahkan interaksi siswa dengan kurikulum. Ini berarti juga memudahkan partisipasi siswa dalam aktivitas belajar sesuai dengan yang diinginkan dengan tingkat ketertarikan, minat, fokus, dan partisipasi yang optimal. Pembelajaran kuntum menawarkan beberapa strategi untuk melakukan fasilitasi, antara lain: menerapkan prinsip KEG (Know it, Explain it, Get it and give feedback), model kesuksesan dari sudut pandang fasilitator, membaca pendengar, mempengaruhi melalui tindakan, manciptakan strategi berpikir, dan tanya jawab belajar. Fasilitas KEG sebagai strategi fasilitasi bertujuan untuk mempertahankan siswa belajar tetap pada jalur dengan minat yang tinggi. Strategi ini dilakukan dengan: Perrtama, mengetahui visi pembelajaran dan bentuk perilaku yang diharapkan delam belajar dengan jelas. Kedua, jelaskan hasilnya melalui komunikasi. Ketiga, dapatkan hasilnya pada setiap segmen belajar dan berikan feedback yang memuaskan.
           Fasilitas harus mampu mengantarkan siswa bergerak dari zona nyaman ke zona kurang nyaman dengan siswa tetap nyaman, pembelajaran kuantum di sini menghendaki: Pertama, guru harus memberikan gambaran keseluruhan pembelajaran yang memungkinkan siswa mengkaitkan dengan pengalaman masa lalu dan prediksi masa depan, tumbuhkan kegairahan siswa melalui rasa ingin tahunya. Kedua, berilah pengenalan pertama pelajaran melalui penggunaan multi sensori untuk merangsang multi kecerdasan siswa. Ketiga, potonglah informasi ke dalam segmen-segmen yang mudah dipelajari untuk tiap segmen. Keempat, lakukan pengulangan dalam beberapa variasi untuk proses penguatan dan generalisasi serta berikan perayaan untuk setiap kesuksesan dalam setiap segmen. Jangan lupa untuk menerapkan strategi belajar dari kelompok besar ke kelompok kecil dan diakhiri dengan belajar perorangan. Fasilitas dengan membaca pendengar, berarti guru membaca keadaan siswa belajar untuk tetap mempertahankan konsentrasi belajar dengan minat  optimal. Fasilitas mempengaruhi perilaku melalui tindakan dimaksudkan untuk menangkap perhatian siswa dalam belajar dan mengubah arahnya ke tugas atau tujuan belajar selanjutnya. Untuk ini beberapa tindakan verbal maupun nonverbal dapat dilakukan. Fasilitas menciptakan strategi berpikir bertujuan membantu siswa memudahkan belajar dilakukan dengan cara memberikan ragam pertanyaan kepada siswa dengan maksud memperoleh respon, memberikan dorongan dan menghargai serta mengakui partisipasi siswa dalam melatih keterampilan berpikir siswa.
c.       Mengorkestrasi keterampilan belajar dan keterampilan hidup
           Dalam pembelajaran kuntum, keterampilan belajar dapat membantu siswa untuk mencapai tujuan belajar denga efisien dan cepat, denga tetap mempertahankan  minat belajar, karena belajar dapat berlangsung secara terfokus tetapi santai. Dalam membantu siswa mengorkestrasi ketrampilan belajar, pembelajaran kuantum menekankan empat strategi berikut. Memanfaatkan gaya belajar, keadaan prima untuk belajar, mengorganisasikan informasi, dan memunculkan potensi siswa. Belajar dikelas perlu memanfaatkan gaya belajar masing-masing siswa, yakni gaya belajar visual, auditorial, kinestetik. Untuk mengetahui gaya belajar masing-masing siswa, guru dapat memberikan tes gaya belajar. Setelah mengetahui gaya belajar masing-masing, guru dapat menyesuaikan rancangan pembelajaran dengan gaya belajar tersebut. Gaya belajar visual akan berhasil belajar jika siswa banyak membuat simbol dan gambar dalam catatannya. Siswa dengan gaya belajar visual dapat menangkap isi pelajaran dengan baik melalui membaca cepat secara keseluruhan yang membantunya mendapatkan gambaran umum. Siswa dengan gaya belajar auditorial dapat belajar melalui mendengarkan kuliah, contoh-contoh model, ceramah, ceritera dan mengulang informasi. Biasanya siswa belajar auditorial menyenangi belajar dengan mendengarkan musik. karena itu, mereka harus dibantu untuk menterjemahkan informasi bentuk belajar ke dalam bentuk lagu yang sudah mereka kenal. Siswa kinestetik menyukai proyek terapan, praktek laboratorium, demonstrasi, simulasi dan bermain peran.
           Belajar yang optimal adalah belajar dalam keadaan prima. Kondisi prima ini dapat terjadi ketika ada kesesuaian antar gerak, tubuh, pikiran dan perasaan dalam kondisi terfokus dan menyenangkan. Karena itu pembelajaran kuantum menyarankan strategi SLANT dan keadaan alpha kepada siswa dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas. Strategi SLANT merupakan singkatan dari Sit Up In The Chair (duduk tegak di kursi), Lean Forward (condong kedepan), Ask Question (bertanya), Node Their Hads (menganggupan perilaku), Talk to Their Teacher (berbicara denga guru) tubuh tegak agak condong ke depan mengindikasikan tubuh dalam keadaan semangat belajar, sedangkan unsure ANT mengindikasikan partisipasi aktif siswa dalam belajar yang dapat memberi simulasi kepada guru untuk lebih bergairah mengajar. Adanya upaya take and give antar guru dan siswa akan meningkatkan interaksi belajar yang dapat mengubah energi belajar lebih berbahaya. Belajar di sekolah bukan semata-mata sebagai kegiatan belajar secara akademik. Siswa perlu mempelajari keterampilan hidup (life skill), dan keterampilan sosial (social skills).
Penulis: Udin Syaefudin Sa’ud, Ph. D.

1 komentar:

  1. thankzz ya atas infonyaa,
    oyaa, singgah ke blog saya duunkz
    :D

    rikymetalist.blogspot.com

    follow ya..
    hihi
    thankzz bgt

    BalasHapus

komen o yo rek,, *suwun