Minggu, Agustus 07, 2011

Berpikir Positif


Berpikir Positif

Penulis : Azim@tul Qolby

Michael adalah sejenis makhluk yang sulit untuk dibenci. Ia selalu ceria, selalu memiliki ucapan yang positif. Apabila seseorang menanyakan kabarnya, ia akan menjawab, "Kalau keadaanku lebih baik dari sekarang, maka aku pasti saudara kembarnya."

Ia adalah seorang pemberi motivasi alami. Apabila ada karyawan mengalami kesusahan, Michael selalu ada di sana untuk memberi tahu cara melihat sisi positif dari situasi yang sedang dihadapinya.

Melihat sikapnya ini, aku jadi penasaran. Suatu hari aku mendatanginya dan bertanya, "Aku tidak mengerti, kau tidak mungkin dapat bersikap positif setiap saat! Bagaimana kau bisa selalu bersikap demikian?"

"Setiap bangun pagi, aku berkata kepada diriku sendiri; Kau punya dua pilihan hari ini; kau memilih untuk bersikap ceria atau bermuram hati, lalu aku memilih untuk bersikap ceria. Setiap kali sesuatu yang buruk terjadi, aku dihadapkan pada dua pilihan; menjadi korban atau menjadi orang yang belajar dari kejadian itu, lalu aku memilih untuk belajar dari kejadian itu. Setiap kali orang datang kepadaku mengadu, aku bisa memilih untuk menerima pengaduannya atau aku dapat menunjukkan sisi positif kehidupan, lalu aku memilih sisi positif kehidupan," jawab Michael.

"Oke, tapi itu tidak sedemikian mudah untuk dilakukan," protesku.

"Memang demikian," jawab Michael. "Hidup penuh dengan pilihan-pilihan. Kau punya pilihan untuk bereaksi terhadap situasi yang kau hadapi. Kau juga bisa memilih bagaimana orang akan mempengaruhi keadaan hatimu. Pendeknya, bagaimana kau akan menjalani hidupmu, itu bergantung pada pilihanmu."

Kurenungkan ucapan Michael ini. Tak lama setelah itu aku keluar dari The Tower Industry dan memulai usahaku sendiri. Kami tidak pernah berhubungan lagi, tapi aku sering mengingatnya ketika harus mengambil keputusan dalam hidup ini. Beberapa tahun kemudian, aku mendengar bahwa Michael mengalami kecelakaan parah. Ia jatuh dari menara komunikasi yang tingginya kurang lebih 60 kaki. Setelah dioperasi selama 18 jam, dan dirawat secara intensif selama berminggu-minggu, Michael akhirnya dibolehkan pulang ke rumah dengan beberapa pen di punggungnya.

Aku menemui Michael kurang kebih 6 bulan setelah kecelakaan itu.

"Bagaimana keadaanmu?" tanyaku.

"Kalau keadaanku lebih baik dari sekarang, maka aku pasti saudara kembarnya," jawabnya. "Mau lihat lukaku?"

Aku menolak untuk melihat lukanya, tapi kutanya dia tentang apa yang terlintas di pikirannya ketika kecelakaan itu terjadi.

"Pertama yang terlintas dalam pikiranku adalah keadaan calon cucu yang masih dalam kandungan anak perempuanku," kata Michael. "Lalu ketika masih terbujur di tanah, aku ingat bahwa aku punya dua pilihan, mati atau hidup. Lalu aku memilih untuk terus hidup."

"Tidakkah kau merasa takut? Apakah kau kehilangan kesadaranmu?" aku bertanya.

"Para dokter menanganiku dengan baik," kata Michael melanjutkan. "Mereka terus menerus meyakinkanku bahwa keadaanku akan membaik. Mereka menempatkanku dalam ruangan UGD. Setelah memperhatikan ekspresi di muka para dokter dan perawat, kau menjadi benar-benar takut. Dalam pandangan matanya kubaca kalimat : Dia akan mati. Lalu aku sadar bahwa aku harus berbuat sesuatu."

"Apa yang kau lakukan?" tanyaku.

"Ada seorang perawat yang besar dan tegap meneriakkan pertanyaan kepadaku apakah aku alergi pada sesuatu. Kujawab, 'Ya.' Para dokter dan perawat tertegun menunggu jawabku. Aku menarik nafas panjang lalu kukatakan, 'Gravitasi.' Sementara mereka semua tertawa, aku berkata kepada mereka, 'Aku memilih untuk hidup. Lakukan operasimu dengan keyakinan bahwa aku akan hidup.'."

Michael hidup berkat keahlian para dokter yang menanganinya dan juga berkat sikapnya yang mengagumkan. Aku belajar darinya bahwa setiap hari kita memiliki pilihan untuk hidup. Sikap hidup adalah segalanya. Karena itu jangan risaukan hari esok, karena esok akan merisaukan dirinya sendiri. Ketahuilah, hari ini adalah hari esok yang kau risaukan kemarin.

1 komentar:

komen o yo rek,, *suwun