Selasa, Juni 05, 2012

Contoh Analisis Artikel 5

1.    Identitas Artikel
    Judul : Analisis Pengaruh Hari Perdagangan Terhadap Return Saham: Pengujian Week-Four Effect dan Rogalski Effect di Bursa Efek Jakarta.
    Penyusun : Dwi Cahyaningdyah (STIE Widya Manggala Semarang)
    Sumber: Jurnal Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia Vol. 20, No. 2, 2005, 175 – 186
2.    Latar Belakang Masalah
Pasar yang efisien adalah pasar dimana harga semua sekuritas yang diperdagangkan telah mencerminkan semua informasi yang tersedia. Perdebatan tentang pasar yang efisien masih terjadi sampai saat ini, disatu sisi banyak penelitian yang mengemukakan bukti empiris yang mendukung konsep pasar yang efisien, tapi disisi lain muncul sejumlah penelitian yang mengemukakan adanya anomali pasar yang merupakan penyimpangan terhadap hipotesis pasar yang efisien. Anomali pasar tersebut antara lain  Januari effect, size effect, low P/E ratio, winner loser anomaly dan day of the week patern.
3.    Rumusan Masalah
1)    Bagaimanakah pengaruh hari perdagangan terhadap return saham?
2)    Apakah return Senin yang negatif hanya terjadi pada Senin minggu keempat dan kelima (week-four effect)?
3)    Apakah return Senin yang negatif didahului oleh adanya return Jumat yang negatif (bad Friday)?
4)    Apakah Monday effect menghilang pada bulan April berkaitan dengan  earning management yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan publik (Rogalski effect)?
4.    Penelitian Terdahulu
    Lakonishok dan Maberly (1990): investor institusional melakukan aktivitas perdagangan lebih sedikit pada hari Senin, sementara investor individual melakukan aktivitas perdagangan lebih banyak tetapi dengan order penjualan lebih mendominasi aktivitas perdagangan mereka.
    Wang, Li dan Erickson (1997): Monday effect secara aktual muncul hanya pada Senin minggu keempat dan kelima, sedangkan return Senin minggu pertama sampai minggu ketiga secara statistik tidak signifikan (tidak berbeda dengan nol).
    Sun dan Tong (2002) mengkonfirmasi penelitian Wang, Li dan Erickson (1997): return Senin
yang negatif secara aktual terkonsentrasi terutama pada minggu keempat setiap bulan, mereka
menyebut fenomena ini sebagai  week-four effect.
    Menurut Abraham dan Ikenberry (1994): Monday effect digerakkan oleh return negatif yang terjadi pada Jumat sebelumnya (Bad Friday).
    Rogalski (1984): Rata-rata return Senin dalam bulan Januari adalah positif sementara return Senin dibulan lainnya adalah negatif.
    Ratnadi (2003): 74,64% perusahaan-perusahaan  publik menyampaikan laporan keuangan pada bulan April.
    Amanah (2002) dan Syam (2004): rata-rata perusahaan di Indonesia (baik yang bermasalah maupun yang tidak bermasalah melakukan praktik mana-jeman laba untuk meningkatkan kinerja perusahaan.
    Primawurti (2003) dan Suwarni (2002): pada return pasar IHSG tidak ditemukan adanya day of the week effect tetapi pada return saham secara individual ditemukan adanya fenomena tersebut.
    Algifari (1998) dan Listyaningsih (2004): mengidentifikasi adanya  day of the week effect.
    Wong dan Yuanto (1999): mengidentifikasi adanya  Tuesday effect dan weekend effect.
5.    Hipotesis
    H1: Hari perdagangan berpengaruh terhadap return harian saham di Bursa Efek Jakarta.
H2: Return pada hari Senin minggu keempat dan kelima adalah negatif dan signifikan sementara
     return Senin minggu pertama sampai ketiga tidak signifikan (tidak berbeda dengan nol).
    H3: Return negatif yang terjadi pada hari Senin didahului oleh adanya return negatif pada hari    
         Jumat minggu sebelumnya.
    H4: Return Senin pada bulan April adalah positif atau cenderung lebih tinggi dari pada return Senin
         pada bulan-bulan lainnya.
6.    Sample atau populasi
Penelitian ini mengambil sampel 73 saham yang aktif diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta selama periode 1 Januari 2001 sampai 31 Desember 2003.
7.    Uji Statistik yang Dipakai
Uji statistik yang digunakan adalah analisis regresi, namun juga diberikan perhitungan dengan t satistik.
8.    Hasil
    Monday effect berhasil teridentifikasi dimana return Senin adalah signifikan negatif, dan fenomena  weekend effect juga teridentifikasi pada keseluruhan observasi dimana return Jumat
 merupakan return tertinggi dibandingkan return hari perdagangan lainnya.
    Efek minggu keempat dan kelima tidak terjadi di Bursa Efek Jakarta, karena ketika return Senin minggu keempat dan kelima dikeluarkan, return Senin minggu pertama sampai ketiga tetap signifikan negatif.
    Tidak ada perbedaan antara return Jumat yang negatif dan return Jumat yang positif dalam menggerakkan terjadinya  Monday effect (return Senin yang negatif).
    Pada semua hari yaitu hari Senin sampai Jumat, return di bulan April lebih tinggi daripada return di bulan non April. Pada bulan April  Monday effect juga menghilang, return Senin pada bulan April menjadi signifikan positif sementara return Senin dibulan non April adalah negatif.
9.    Kesimpulan
H1 diterima, H2 ditolak, H3 ditolak dan H4 diterima.
Terjadi fenomena day of the week effect di Bursa efek Jakarta, dimana return terendah terjadi pada
hari Senin (Monday Effect) dan return tertinggi pada hari Jumat (weekend effect). Pada periode
penelitian yaitu tahun 2001-2003, fenomena week-four effect tidak berhasil diidentifikasi. Sehingga  Monday effect tidak hanya digerakkan oleh return Senin yang negatif di minggu keempat dan kelima. Hal ini mengindikasikan tuntutan likuiditas tidak mempengaruhi aktivitas perdagangan di BEJ. Secara keseluruhan juga tidak ada perbedaan antara return Jumat yang negatif dan return Jumat yang positif dalam menggerakkan terjadinya Monday effect. Rogalski effect ditemukan terjadi pada bulan April berkaitan dengan sistem pelaporan Laporan Keuangan di Bursa Efek Jakarta.
10.    Keterbatasan dan Peluang Penelitian Berikutnya
Keterbatasan penelitian:
    Penelitian ini belum memberi argumentasi yang mencukupi untuk fenomena-fenomena yang terjadi maupun tidak terjadi di Bursa Efek Jakarta, karena peneliti tidak banyak mendapat informasi dari penelitian-penelitian yang berkaitan.
Peluang penelitian berikutnya:
    Penelitian mendatang perlu dilakukan untuk memberi argumantasi tentang munculnya Monday effect di pasar modal Indonesia tidak hanya sebatas pada mengungkap keberadaan (eksistensi) fenomena tersebut.
Jadi, penelitian berikutnya diharapkan dapat lebih memberikan argumentasi mengapa fenomena-fenomena itu terjadi di Bursa Efek Indonesia dan mengapa fenomena-fenomena yang lain hanya terjadi di bursa efek luar Indonesia sehingga akan lebih jelas apa yng membedakannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komen o yo rek,, *suwun