Selasa, Juni 05, 2012

Contoh Analisis Artikel 6

1.    Identitas Artikel
    Judul : Variabilitas Return Saham di Sekitar Pengumuman Pergantian Chief Executive Officer
    Penyusun : Doddy Setiawan (Universitas Sebelas Maret)
    Sumber: Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia Vol. 22, No. 2, 2007, 180 – 196
2.    Latar Belakang Masalah
Manajer puncak, terutama  Chief Executive Officer (CEO) banyak memberikan pengaruh terhadap jalannya perusahaan. Pergantian CEO merupakan suatu sinyal yang diberikan oleh perusahaan bahwa akan ada perubahan dalam pengelolaan perusahaan dengan cara menerapkan peraturan dan prosedur baru, serta perubahan kebijakan yang ditetapkan oleh CEO baru yang diharapkan meningkatkan kinerja perusahaan. Penelitian mengenai reaksi pasar terhadap pergantian CEO, yang ditunjukkan dengan abnormal return, menghasilkan kesimpulan yang tidak konsisten. Penelitian ini menguji reaksi pasar terhadap pergantian CEO di Indonesia dengan mengukur variabilitas return saham di sekitar hari pengumuman. Penelitian ini penting karena seorang CEO mempunyai peranan penting dalam menentukan arah dan strategi perusahaan.
3.    Rumusan Masalah
    Adakah perbedaan  variance return antara periode sebelum pergantian CEO dan setelah pergantian CEO? Bagaimana jika dilihat secara rutin dan nonrutin, dan asal pengganti (dari dalam dan luar perusahaan) CEO?
    Adakah perbedaan  variance return antara saat pengumuman pergantian CEO dan periode di luar pengumuman pergantian CEO? Bagaimana jika dilihat secara rutin dan nonrutin, dan asal pengganti (dari dalam dan luar perusahaan) CEO?
4.    Penelitian Terdahulu
    Reinganum (1985): penelitian terhadap pergantian CEO pada tahun 1978-1979 di USA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasar tidak bereaksi terhadap pengumuman pergantian CEO.
    Warner, Watts & Wruck (1988): penelitian terhadap pergantian CEO periode 1962-1978 di Amerika Serikat. Mereka menyimpulkan pasar tidak bereaksi terhadap pengumuman pergantian CEO, sehingga pengumuman pergantian CEO tidak mempunyai kandungan informasi.
    Dedmen & Lin (2001): di Inggris menghasilkan bukti yang menunjukkan pengumuman pergantian CEO merupakan  bad news (kabar buruk) bagi investor.
    Dahyaa & McConnell (2002): menunjukkan bukti investor di Inggris memandang pengumuman pergantian CEO sebagai good news.
    Kang & Shivdasani (1996): di Jepang. Pengumuman pergantian CEO di Jepang merupakan kabar baik (good news) bagi investor sehingga mereka bereaksi positif.
    Setiawan (2005): di Indonesia. Hasilnya menunjukkan pasar bereaksi positif terhadap pergantian CEO.
    Neumann & Voetmann (1999): di Denmark. Hasilnya pasar bereaksi positif terhadap pergantian melalui proses nonrutin dan bereaksi negatif terhadap pergantian yang rutin.
    Dherment-Ferere & Reneboog (2000) menguji pergantian CEO yang mengangkat kandidat dari luar atau mempromosikan kandidat dari dalam perusahaan. Mereka tidak menemukan reaksi pasar yang signifikan.
5.    Hipotesis
    H1a: Ada perbedaan  variance return antara periode sebelum pergantian CEO dan setelah
           pergantian CEO.
    H1b: Ada perbedaan  variance return antara saat pengumuman pergantian CEO dan periode di luar
           pengumuman pergantian CEO.
    H2a: Ada perbedaan  variance return antara periode sebelum pergantian CEO dan setelah
           pergantian CEO karena proses pergantian rutin (nonrutin).
    H2b: Ada perbedaan  variance return antara saat pengumuman pergantian CEO dan periode di luar
           pengumuman pergantian CEO karena proses pergantian rutin (nonrutin).
    H3a : Ada perbedaan  variance return antara periode sebelum pergantian CEO dan setelah
           pergantian CEO dengan CEO pengganti yang berasal dari dalam (luar) perusahaan.
    H3b : Ada perbedaan  variance return antara saat pengumuman pergantian CEO dan periode di luar
           pengumuman pergantian CEO dengan CEO pengganti yang berasal dari dalam (luar)
           perusahaan.
6.    Sample atau populasi
Sampel sebanyak 59 pergantian CEO dari periode 1 Januari 1992 sampai dengan 31 Desember 2003.
7.    Uji Statistik yang Dipakai
Penghitungan  abnormal  return menggunakan metode pasar. Model pasar dibentuk dengan melakukan regresi  return sekuritas perusahaan i terhadap return pasar dalam 120 hari periode estimasi (t-126 sampai dengan t-6). Cara menghitung Security Return Variance:
AR^2i,t         =  Abnormal Return perusahaan i pada hari t
Var (ARi,t)     =  Variance Abnormal Return pada periode estimasi
8.    Hasil
    Pengujian terhadap keseluruhan sampel menunjukkan pasar tidak bereaksi terhadap pengumuman
pergantian CEO. Hasil yang sama juga terjadi pada pengujian terhadap proses pergantian CEO:
secara rutin dan nonrutin, dan asal pengganti CEO: dari dalam perusahaan dan luar perusahaan.
    Pada saat peneliti mengkombinasikan faktor kontekstual, yaitu: proses pergantian secara rutin dengan pengganti berasal dari luar perusahaan, dan pergantian secara nonrutin dengan pengganti berasal dari dalam perusahaan ternyata pasar tidak bereaksi yang ditunjukkan dengan tidak ada perbedaan variance  return antara periode sebelum dan sesudah pengumuman.
    Pada saat adanya kesesuaian faktor kontekstual, yaitu proses pergantian terjadi secara rutin dengan pengganti berasal dari dalam perusahaan, maka investor akan bereaksi. Hal ini terjadi karena CEO yang baru cenderung akan meneruskan strategi dan gaya manajemen CEO lama sehingga mengurangi ketidakpastian karena terjadinya pergantian CEO. Investor bereaksi terhadap pengumuman pergantian CEO yang terjadi melalui proses nonrutin dengan pengganti yang berasal dari luar perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa investor beranggapan bahwa proses pergantian secara nonrutin membutuhkan CEO yang berasal dari luar perusahaan karena akan memberikan cara manajemen yang berbeda dari pendahulunya, sehingga akan memberikan terobosan baru bagi perusahaan.
9.    Kesimpulan
Pengujian terhadap keseluruhan sampel maka H pasar tidak bereaksi terhadap pengumuman pergantian CEO. Hasil yang sama juga terjadi pada pengujian terhadap proses pergantian CEO: secara rutin dan nonrutin, dan asal pengganti CEO: dari dalam perusahaan dan luar perusahaan.
H1a,H1b, H2a, H2b, H3a dan H3b ditolak.
Namun, pada saat peneliti mengkombinasikan faktor kontekstual hasilnya akan berbeda.
10.    Keterbatasan dan Peluang Penelitian Berikutnya
Keterbatasan penelitian:
    Penelitian ini menggunakan sampel hanya dari perusahaan yang ada di Indonesia, bagaimana jika lingkupnya lebih luas di Asia Tenggara atau di seluruh Asia.
    Dalam penelitian ini sampel dari pergantian CEO adalah dari perusahaan yang listing di BEJ pada periode secara menyeluruh, tidak dibagi lagi dalam jenis perusahaan menurut ukuran besar kecilnya perusahaan walaupun jika dibagi memang membutuhkan waktu penelitian yang lebih lama.
Peluang penelitian berikutnya:
    Penelitian berikutnya dapat menggunakan sampel yang lebih luas misal di Asia Tenggara.
    Penelitian berikutnya dapat membagi sampel menurut ukuran perusahaan, mungkin ada perbedaan antara perusahaan yang sudah besar dengan perusahaan yang masih menengah kebawah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komen o yo rek,, *suwun