Selasa, Januari 22, 2013

Akuntansi Syariah dan Perkembangan Bank Syariah di Indonesia


Akuntansi Syariah dan Perkembangan Bank Syariah di Indonesia

                                                                                                    
Abstrak: Menurut literatur Islam akuntansi (muhasabah) didefinisikan “suatu aktifitas yang teratur berkaitan dengan pencatatan transaksi-transaksi, tindakan-tindakan, keputusan-keputusan yang sesuai dengan syariat, dan jumlah-jumlahnya, di dalam catatan-catatan yang representatif, serta berkaitan dengan pengukuran hasil-hasil keuangan yang berimplikasi pada transaksi-transaksi, tindakan-tindakan, dan keputusan-keputusan tersebut membantu pengambilan keputusan yang tepat” (Zaid, 2004:57). Prinsip-prinsip akuntansi yaitu sekumpulan petunjuk-petunjuk pelaksanaan yang bersifat umum, yang wajib diambil dan dipergunakan sabagai petunjuk dalam mengetahui dasar-dasar umum bagi akuntansi. Pertumbuhan usaha perbankan syariah di Indonesia terbilang cepat dan menjanjikan, dalam arti bahwa bisnis ini  sangat jelas memiliki prospek  yang  cerah.


Kata kunci: pengertian dan sejarah akuntansi, prinsip-prinsip akuntansi syariah, kaidah akuntansi islam, perkembangan bank syariah di Indonesia.


Sering kita bertanya-tanya bagaimana bentuk akuntansi di Indonesia. Seperti kita ketahui hampir seluruh akuntansi Indonesia merupakan produk Barat. Akuntansi konvensional (Barat) di Indonesia bahkan telah diadaptasi tanpa perubahan berarti. Hal ini dapat dilihat dari sistem pendidikan, standar, dan praktik akuntansi di lingkungan bisnis. Kurikulum, materi dan teori yang diajarkan di Indonesia adalah akuntansi pro Barat. Semua standar akuntansi berinduk pada landasan teoritis dan teknologi akuntansi IASC (International Accounting Standards Committee). Indonesia bahkan terang-terangan menyadur Framework for the Preparation and Presentation of Financial Statements IASC, dengan judul Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang dikeluarkan Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI).
Perkembangan terbaru, saat ini telah disosialisasikan sistem pendidikan akuntansi “baru” yang merujuk internasionalisasi dan harmonisasi standar akuntansi. Pertemuan-pertemuan, workshop, lokakarya, seminar mengenai perubahan kurikulum akuntansi sampai standar kelulusan akuntan juga mengikuti kebijakan IAI berkenaan Internasionalisasi Akuntansi Indonesia tahun 2010.
Dunia bisnis tak kalah, semua aktivitas dan sistem akuntansi juga diarahkan untuk memakai acuan akuntansi Barat. Hasilnya akuntansi sekarang menjadi menara gading dan sulit sekali menyelesaikan masalah lokalitas. Akuntansi hanya mengakomodasi kepentingan market  (pasar modal) dan tidak dapat menyelesaikan masalah akuntansi untuk UKM (Usaha Kecil Menengah) yang mendominasi perekonomian Indonesia lebih dari 90%. Hal ini sebenarnya telah menegasikan sifat dasar lokalitas masyarakat Indonesia.
Padahal bila kita lihat lebih jauh, akuntansi secara sosiologis saat ini telah mengalami perubahan besar. Akuntansi tidak hanya dipandang sebagai bagian dari pencatatan dan pelaporan keuangan perusahaan. Akuntansi telah dipahami sebagai sesuatu yang tidak bebas nilai (value laden), tetapi dipengaruhi nilai-nilai yang melingkupinya. Bahkan akuntansi tidak hanya dipengaruhi, tetapi juga mempengaruhi lingkungannya.
Ketika akuntansi tidak bebas nilai, tetapi sarat nilai, otomatis akuntansi konvensional yang saat ini masih didominasi oleh sudut pandang Barat, maka karakter akuntansi pasti kapitalistik, sekuler, egois, anti-altruistik. Ketika akuntansi memiliki kepentingan ekonomi-politik MNC’s (Multi National Company’s) untuk program neoliberalisme ekonomi, maka akuntansi yang diajarkan dan dipraktikkan tanpa proses penyaringan, jelas berorientasi pada kepentingan neoliberalisme ekonomi pula.
Apabila suatu negara menganut sistem ekonomi kapitalisme, maka sistem akuntansi yang berkembang adalah sistem akuntansi kapitalis. Demikian pula, apabila suatu negara mengikuti sistem ekonomi Islam maka upaya yang harus dikembangkan adalah sistem Akuntansi Syari'ah.
            Mempelajari dan menerapkan Akuntansi Syariah, pada hakekatnya adalah belajar dan menerapkan prinsip keseimbangan (balance) atas transaksi atau perkiraan atau rekening yang telah dicatat untuk dilaporkan kepada yang berhak mendapatkan isi laporan. Islam adalah cara hidup yang berimbang dan koheren, dirancang untuk kebahagiaan manusia dengan cara menciptakan keharmonisan antara kebutuhan moral dan material manusia dan aktualisasi sosio-ekonomi, serta persaudaraan dalam masyarakat manusia. Akuntansi Syariah merupakan salah satu upaya mendekonstruksi akuntansi modern ke dalam bentuk humanis dan syarat nilai.
            Akuntansi syariah di perlukan sekali di Indonesia agar sistem akuntansi dapat berjalan sesuai dengan budaya Indonesia. Sehingga masyarakat Indonesia dapat mengakomodasi akuntansi dengan tetap melakukan penyesuaian sesuai realitas masyarakat Indonesia. Lebih jauh lagi sesuai realitas masyarakat Indonesia yang religius, yang didominasi 85% masyarakat Muslim.

Pengertian dan Sejarah Akuntansi
            Ada banyak definisi akuntansi yang dikemukakan oleh beberapa tokoh akuntansi. Diantaranya adalah:
1.      “Akuntansi adalah suatu sistem informasi yang mengidentifikasikan, mencatat dan mengkomunikasikan peristiwa-peristiwa ekonomi dari suatu organisasi kepada para pengguna yang berkepentingan” (Kieso, 2007:4).
2.      “Akuntansi adalah sistem informasi yang memberikan laporan kepada pihak-pihak berkepentingan mengenai kegiatan ekonomi dan kondisi perusahaan” (Werren, 2008:10).
3.      Sedang menurut literatur Islam akuntansi (muhasabah) didefinisikan “suatu aktifitas yang teratur berkaitan dengan pencatatan transaksi-transaksi, tindakan-tindakan, keputusan-keputusan yang sesuai dengan syariat, dan jumlah-jumlahnya, di dalam catatan-catatan yang representatif, serta berkaitan dengan pengukuran hasil-hasil keuangan yang berimplikasi pada transaksi-transaksi, tindakan-tindakan, dan keputusan-keputusan tersebut membantu pengambilan keputusan yang tepat” (Zaid, 2004:57).
Melalui definisi ini maka dapat dibatasi bahwa karakteristik muhasabah adalah :
1.      Aktivitas yang teratur.
2.      Pencatatan :
a.    Transaksi-transaksi, tindakan-tindakan, dan keputusan-keputusan yang sesuai dengan hukum.
b.    Jumlah-jumlahnya.
c.     Di dalam catatan-catatan yang representatif.
3.      Pengukuran hasil-hasil keuangan.
4.      Membantu dalam pengambilan keputusan.
Mayoritas ahli sejarah akuntansi mengira bahwa akuntansi tumbuh  karena tumbuhnya serikat dagang. Pada hakekatnya tumbuhnya serikat dagang itu sebagai salah satu fenomena luasnya perdagangan tidaklah menjadi asas dalam perkembangan akuntansi. Sebab tumbuhnya serikat itu termasuk yang paling baru apabila dibandingkan dengan tumbuhnya negara itu sendiri. Sepanjang sejarah, barbagai negara seperti negeri Babil, Fir’aun dan Cina telah menciptakan, menggunakan dan mengembangkan salah satu bentuk pencatatan transaksi keuangan. Penggunaan tersebut menyerupai apa yang sekarang disebut “Maskud Dafatir” (Bookkeeping), dan bertujuan mencatat pendapatan dan pengeluaran negara.
Sejarah Islam menunjukkan bahwa negara Islam telah mendahului Republik Itali sekitar 800 tahun dalam menggunakan sistem pembukuan. Selanjutnya salah satu sistem pembukuan modern yang dikenal dengan nama al Qaidul Muzdawaj yang sesuai dengan kebutuhan negara dari satu sisi, dan sesuai dengan kebutuhan para pedagang muslim disisi lain.
Di antara karya-karya tulis yang menegaskan penggunaan akuntansi dan pengembangannya di negara Islam, sebelum munculnya buku Lucas Pacioli, adalah adanya manuskrip yang ditulis pada tahun 765 H/ 1363 M. Manuskrip ini adalah karya seorang penulis muslim, yaitu Abdullah bin Muhammad bin Kayah al Mazindarani dan berjudul Risalah Falakiyah Kitab as Siyaqat. Tulisan ini disimpan di perpustakaan Sultan Sulaiman al Qanuni di Istambul Tuki. Tercatat di bagian manuskrip dengan nomor 2756, dan memuat tentang akuntansi dan sistem akuntansi di negara Islam. Huruf yang digunakan dalam tulisan ini adalah huruf arab. Tetapi bahasa yang digunakan campuran antara bahasa arab, Persia, dan Turki yang populer di Daulah Utsmaniah. Jadi buku ini ditulis lebih awal dari buku Pacioli Summa de Arithmetica, Geometria, Proportioni et Proportionalita, selama 131 tahun. Meskipun buku Pacioli yang pertama kali dicetak. Dalam buku yang masih berbentuk manuskrip itu, al Mazindarani menjelaskan hal-hal berikut:
1.      Sistem akuntasi yang populer saat itu, dan pelaksanaan pembukuan yang khusus bagi setiap sistem akuntansi.
2.      Macam-macam buku akuntansi yang wajib digunakan untuk mencatat transaksi keuangan.
3.      Cara menangani kekurangan dan kelebihan, yakni penyetaraan.
Menurutnya, sistem-sistem akuntansi yang populer saat itu (765 H/ 1363 M ) antara lain  :
1.      Akuntansi Bangunan
2.      Akuntansi Pertanian
3.      Akuntansi Pergudangan
4.      Akuntansi Pembuatan Uang
5.      Akuntansi Pemeliharaan Binatang
Sesungguhnya pengertian akuntansi di negara Islam hingga pengklasifikasiannya pada tahun 1924 berbeda dengan dengan apa yang ada di masyarakat lain di luar Islam. Karena pengertian akuntansi Islam atau muhasabah tidak sekedar pencatatan data-data keuangan, tetapi lebih sempurna.
Salah seorang penulis muslim menemukan bahwa pelaksanaan pembukuan yang pernah digunakan negara Islam diantaranya adalah sebagai berikut:
1.      Dimulai dengan ungkapan “ Bismillah”
2.      Apabila di dalam buku masih ada yang kosong, karena sebab apapun, maka harus diberi garis pembatas. Sehingga tempat yang kosong itu tidak dapat digunakan. Penggarisan ini dikenal dengan nama Tarqin.
3.      Harus mengeluarkan saldo secara teratur. Saldo dikenal dengan nama Hashil.
4.      Harus mencatat transaksi secara berurutan sesuai dengan terjadinya.
5.      Pencatatan transaksi harus menggunakan ungkapan yang benar dan hati-hati dalam menggunakan kata-kata.
6.      Tidak boleh mengoreksi transaksi yang telah tercatat dengan coretan atau menghapusnya. Apabila seorang akuntan kelebihan mencatat jumlah suatu transaksi, maka dia harus membayar selisih tersebut dari kantongnya pribadi kepada kantor. Demikian pula jika seorang akuntan lupa mencatat transaksi pengeluaran, maka dia harus membayar jumlah kekurangan di kas, sampai dia dapat melacak terjadinya transaksi tersebut. Pada negara Islam, pernah terjadi seorang akuntan lupa mencatat transaksi sebesar 1300 dinar. Sehingga dia terpaksa harus membayar jumlah tersebut. Pada akhir tahun buku, kekurangan tersebut dapat diketahui, yaitu ketika membandingkan antara saldo buku dengan saldo buku bandingan yang lain, dan saldo bandingannya yang ada di kantor.
7.      Pada akhir periode tahun buku, seorang akuntan harus mengirimkan laporan secara rinci tentang jumlah (uang) yang berada di dalam tanggung jawabnya, dan cara pengaturannya terhadap jumlah uang tersebut.
8.      Harus mengoreksi laporan tahunan yang dikirim oleh akuntan, dan membandingkannya dengan laporan tahun sebelumnya dari satu sisi, dan dari sisi lain dengan jumlah yang tercatat di kantor.
9.      Harus mengelompokkan transaksi keuangan dan mencatatnya sesuai dengan karakternya dalam kelompok sejenis. Seperti mengelompokkan dan mencatat pajak yang memiliki satu karakter sejenis dalam satu kelompok.
10.  Harus mencatat pemasukan di halaman sebelah kanan dengan mencatat sumber pemasukan tersebut.
11.  Harus mencatat pengeluaran di halaman sebelah kiri dan menjelaskan pengeluaran tersebut.
12.  Ketika menutup saldo harus meletakkan suatu tanda khusus padanya.
13.  Setelah mencatat seluruh transaksi keuangan, maka harus memindahkan transaksi sejenis ke dalam buku khusus yang disediakan untuk transaksi yang sejenis itu saja (posting ke buku besar).
14.  Harus memindahkan transaksi yang sejenis itu oleh orang lain yang independen, tidak terikat dengan orang yang melakukan pencatatan di buku harian dan buku yang lain.
15.  Setelah mencatat dan memindahkan transaksi keuangan di dalam buku-buku, maka harus menyiapkan laporan berkala, bulanan atau tahunan sesuai dengan kebutuhan.  Pembuatan laporan keuangan itu harus rinci, menjelaskan pemasukan dan sumber-sumbernya serta pengalokasiannya.

Prinsip-Prinsip Akuntansi Islam
Prinsip-prinsip akuntansi yaitu sekumpulan petunjuk-petunjuk pelaksanaan yang bersifat umum, yamg wajib diambil dan dipergunakan sabagai petunjuk dalam mengetahui dasar-dasar umum bagi akuntansi. Adapun prinsip-prinsip tersebut adalah:
1.      Prinsip Legitimasi Muamalat yaitu sasaran–sasaran, transaksi-transaksi, tindakan-tindakan dan keputusan-keputusan  itu sah menurut syariat.
2.      Prinsip Entitas Spiritual adalah adanya pemisahan kegiatan investasi dari pribadi yang melakukan pendanaan terhadap kegiatan investasi tersebut.
3.      Prinsip Kontinuitas yaitu prinsip yang keberadaanya dapat memberikan pandangan bahwa perusahaan itu akan terus menjalankan kegiatannya sampai waktu yang tidak diketahui, dan dilikuidasinya merupakan masalah pengecualian, kecuali jika terdapat indikasi yang mengarah kepada kebalikannya. Dari prinsip ini dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
a.       Umur perusahaan tidak tergantung pada umur pemiliknya.
b.      Mendorong manusia agar salalu beramal dan bekerja keras, padahal ia mengetahui bahwa dia akan tiada suatu saat nanti.
c.       Prinsip kontinuitas (going concern) merupakan kaidah umum dalam investasi.
d.      Prinsip ini menjadi dasar dalam pengambilan keputusan agar perusahan terus beroperasi.
4.      Prinsip Matching yaitu suatu cermin yang memantulkan hubungan sebab akibat antara dua sisi, dari satu segi, dan mencerminkan juga hasil atau dari hubungan tersebut dari segi lainnya.

Kaidah-Kaidah Akuntansi Islam
Kaidah adalah sejumlah hukum-hukum pelaksanaan yang bersifat rinci dan saling terkait, yang berkaitan dengan cara penerapan petunjuk-petunjuk pelaksanaan yang bersifat umum. Kaidah itu adalah:
1.      Kaidah obyektivitas.
2.      Kaidah accrual yaitu suatu kaidah yang menangani tentang penjadwalan perimbangan pemasukan dan pengeluaran, baik yang diterima atau dibayarkan maupun yang belum diterima atau dibayarkan.
3.      Kaidah pengukuran.
4.      Kaidah konsistensi adalah kaidah yang harus dipegang untuk menetapkan bahwa data akuntansi dapat dibandingkan. Kaidah ini terkait komitmen untuk mengikuti prosedurnya sendiri.
5.      Kaidah periodisitas yaitu prinsip yang keberadaannya dapat memberikan pandangan bahwa perusahaan itu melakukan pelaporan dalam tenggat waktu tertentu secara berkesinambungan dan terus – menerus.
6.      Kaidah pencatatan sistematis ialah pencatatan dalam buku dengan angka atau kalimat untuk transaksi – transaksi, tindakan-tindakan, dan keputusan-keputusan yang telah berlangsung pada saat kejadiannya, secara sistematis dan sesuai dengan karakter perusahaan serta kebutuhan manajemennya.
7.      Kaidah transparansi yaitu penggambaran data-data akuntansi secara amanah, tanpa menyembunyikan satu bagian pun darinya serta tidak menampakkannya dalam bentuk yang tidak sesungguhnya, atau yang menimbulkan kesan yang melebihi makna data-data akuntansi tersebut.
Menurut Muhammad Akram Khan sifat akuntansi Islam adalah :
1.      Penentuan laba rugi yang tepat
Walaupun penentuan laba rugi bersifat subyektif dan bergantung nilai, kehati-hatian harus dilaksanakan agar tercapai hasil yang bijaksana (sesuai syariah) dan konsisten, sehingga dapat menjamin bahwa kepentingan semua pihak pemakai laporan dilindungi
2.      Mempromosikan dan menilai efisiensi kepemimpinan
Sistem akuntansi harus mampu memberikan standar berdasarkan hukum sejarah untuk menjamin bahwa manajemen mengikuti kebijaksanaan-kebijaksanaan yang baik yang mempromosikan amal baik, serta dapat menilai efisiensi manajemen.
3.      Ketaatan pada hukum syariah
Setiap aktifitas yang dilakukan oleh unit ekonomi harus dikenali halal haramnya. Faktor ekonomi tidak harus menjadi alasan tunggal untuk menentukan berlanjut tidaknya suatu organisasi, tetapi harus tetap tunduk terhadap syariat Islam.
4.      Keterikatan pada keadilan
Karena tujuan utama dalam syariah adalah penerapan keadilan dalam masyarakat seluruhnya, informasi akuntan harus mampu melaporkan setiap kegiatan atau keputusan yang dibuat untuk menambah ketidakadilan di masyarakat.
5.      Melaporkan dengan baik
Informasi akuntansi harus berada dalam posisi yang terbaik untuk melaporkan.
Perkembangan Bank Syariah di Indonesia  
Pertumbuhan usaha perbankan syariah di Indonesia terbilang cepat dan menjanjikan, dalam arti bahwa bisnis ini  sangat jelas memiliki prospek  yang  cerah. Dibanding  Malaysia  yang  telah  sepuluh tahun  lebih dahulu mengembangkan dan mengimplementasikan perbankan  syariah,  perkembangan  di  Indonesia  boleh  dibilang lebih menjanjikan. Paling tidak secara nominal. Itulah yang diungkapkan Ramzi A. Zuhdi, Direktur Syariah, Bank Indonesia, kepada Akuntan Indonesia.
            Hingga tahun 2004, tingkat pertumbuhan perbankan syariah mencapai angka fantastis 60%, sementara untuk tahun 2005 hingga tahun 2006 sedikit melambat dan hanya mencapai 30%. Meskipun, jika dilihat dari pangsa pasar yang ada perbankan syariah baru memiliki pangsa 2%, sementara di Malaysia mencapai 15%, namun jika  dilihat secara nominal, pertumbuhannya telah mencapai angka yang sama. Hingga kini, jumlah Bank Umum Syariah tercatat sebanyak tiga buah, Bank Perkreditan Syariah sebanyak 108 buah, dan Unit Usaha Syariah sebanyak 22. Unit usaha syariah merupakan unit usaha yang berada dan tergabung dalam Bank Umum.
            Secara menyeluruh tidak  ada  perbedaan signifkan dalam masalah regulasi antara perbankan syariah dan perbankan konvensional. Perbedaan mendasar yang diatur adalah dalam hal menyangkut fatwa konsep jual beli, bagi hasil dan sewa menyewa, sementara menyangkut permodalan dan  tingkat  kesehatan  yang disyaratkan sama dengan bank konvensional. Beberapa  istilah yang lazim digunakan  di perbankan syariah adalah murabahah, salam, istishna’, mudharabah, dan musyarakah.
            Aturan mengenai perbankan syariah sendiri saat ini didasarkan pada Peraturan  Bank Indonesia Nomor 9/7/PBI/2007 dan berlaku tanggal  4  Mei  2007  tentang Perubahan atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/3/PBI/2006 tentang Perubahan Kegiatan Usaha Bank Umum Konvensional menjadi Bank Umum yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah dan Pembukaan Kantor Bank yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah oleh Bank Umum Konvensional. Kalaupun boleh dibilang kelebihan perbankan syariah dibanding perbankan konvensional adalah pada nilai-nilai yang dianut. Perbankan syariah karena didasarkan pada nilai-nilai Islam, maka jelas lebih islami. Selain  itu, perbankan syariah juga mematok nilai-nilai governance dan transparansi sebagai ruh dalam kegiatan usaha yang dijalankan.
            Sayangnya, meski terbilang pesat, perbankan syariah masih memiliki segepok kendala yang perlu dipikirkan secara matang jalan keluarnya. Kendala paling terasa adalah terbatasnya jumlah sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan memahami usaha syariah. Kendala lain yang masih harus dikembangkan adalah terbatasnya jumlah kantor dan atau jaringan usaha hingga ke berbagai pelosok nusantara. Hal ini yang ini sedang dinegosiasikan terus menerus dengan  Pemerintah, dukungan  yang kurang optimal dari pemerintah, terutama terkait dengan kewajiban perpajakan bagi usaha perbankan syariah. Karena pendekatan yang digunakan dalam perbankan syariah adalah jual beli, maka menurut ketentuan perpajakan kegiatan jual beli adalah obyek Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Padahal, sesungguhnya usaha perbankan syariah lebih kepada kegiatan intermediary, sehingga semestinya bukanlah obyek PPN. Maka, kalangan usaha perbankan syariah sangat mengharapkan bahwa usaha ini dipersamakan dengan usaha perbankan konvensional yang core businessnya tidak termasuk sebagai obyek PPN. Jika tercapai kesepakatan demikian, maka prospek usaha perbankan syariah akan lebih cerah dan menjanjikan.           Perkembangan yang ada saat ini pun telah menunjukkan tingkat kesadaran publik yang meningkat, di mana publik kian mengenal dan memanfaatkan perbankan syariah. Sosialisasi usaha perbankan syariah sebenarnya sudah cukup digalakan, namun demikian proses edukasi publik tetap layak dilakukan agar usaha ini bisa menjadi primadona bagi transaksi perbankan oleh masyarakat.

PENUTUP
            Menurut literatur Islam akuntansi (muhasabah) didefinisikan “suatu aktifitas yang teratur berkaitan dengan pencatatan transaksi-transaksi, tindakan-tindakan, keputusan-keputusan yang sesuai dengan syariat, dan jumlah-jumlahnya, di dalam catatan-catatan yang representatif, serta berkaitan dengan pengukuran hasil-hasil keuangan yang berimplikasi pada transaksi-transaksi, tindakan-tindakan, dan keputusan-keputusan tersebut membantu pengambilan keputusan yang tepat” (Zaid, 2004:57). Prinsip-prinsip akuntansi yaitu sekumpulan petunjuk-petunjuk pelaksanaan yang bersifat umum, yamg wajib diambil dan dipergunakan sabagai petunjuk dalam mengetahui dasar-dasar umum bagi akuntansi. prinsip-prinsip akuntansi tersebut adalah: prinsip legitimasi muamalat, prinsip entitas spiritual, prinsip kontinuitas,dan  prinsip matching. Kaidah adalah sejumlah hukum-hukum pelaksanaan yang bersifat rinci dan saling terkait, yang berkaitan dengan cara penerapan petunjuk-petunjuk pelaksanaan yang bersifat umum. Kaidah tersebut adalah: kaidah obyektivitas, kaidah accrual , kaidah pengukuran, kaidah transparansi, kaidah periodisitas, kaidah pencatatan, dan kaidah konsistensi. Pertumbuhan usaha perbankan syariah di Indonesia terbilang cepat dan menjanjikan, dalam arti bahwa bisnis ini  sangat jelas memiliki prospek  yang  cerah. Dibanding  Malaysia  yang  telah  sepuluh tahun  lebih dahulu mengembangkan dan mengimplementasikan perbankan  syariah,  perkembangan  di  Indonesia  boleh  dibilang lebih menjanjikan.

DAFTAR RUJUKAN
Gamal, Merza. 2007. Mengenal Prinsip Ekonomi Syariah.(Online), (http://finance.groups.yahoo.com/group/ekonomi-syariah/, diakses          tanggal 10       November 2009).
Hasyim, Hadi Muttaqin. 2009. Akuntansi Islam (Syariah), (Online),             (http://muttaqinhasyim.wordpress.com/2009/05/27/akuntansi-islam- syariah/, diakses 9 November 2009).
Kieso, Donald. 2009. Pengantar Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat.
Warren, Carl. 2008. Pengantar Ekonomi dan Bisnis. Jakarta: Balai Pustaka.
Zuhdi, Ramzi. Oktober,2007. Usaha Syariah Lebih Islami dan Governance. Akuntan         Indonesia, hlm. 21.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komen o yo rek,, *suwun