Selasa, Januari 22, 2013

contoh resensi buku "jurus jitu pengajar handal"


JURUS JITU PENGAJAR HANDAL

Judul Buku      : Kiat Nyaman Mengajar di Dalam Kelas
Penulis             : Ronald L. Partin
Penerbit           : PT Macanan Jaya Cemerlang
Tebal               : 235 halaman
           
            Bagi kami buku ini sangat menarik, karena buku ini menunjang profesi kami di masa yang akan datang sebagai seorang guru. Setelah membaca buku ini banyak sekali manfaat yang dapat kita peroleh. Banyak metode baru untuk diterapkan pada proses belajar mengajar, agar tercipta suasana kelas yang menarik dan menyenangkan. Hal  tersebut diharapkan agar siswa dapat berinteraksi dengan baik di dalam kelas dan tidak merasa terbebani untuk mengikuti pelajaran yang kita berikan. Semua ini bertujuan agar para siswa  dapat menyerap pelajaran dengan baik, sehingga tercipta iklim pendidikan yang kondusif.
            Dalam bab I dijelaskan tentang bagaimana cara menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung kelancaran proses belajar mengajar. Dijelaskan bahwa keberhasilan mengajar ditentukan pada hari pertama di sekolah. Semua yang dilakukan pada hari pertama akan menentukan sisa tahun itu. Nasihat terbaik di hari pertama adalah “Bersiaplah”. Bersiap disini maksudnya adalah kita harus menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam kegiatan tersebut serta bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi pada saat itu.   
Dalam pembahasan ini banyak sekali hal-hal yang tidak pernah terpikirkan dalam benak kita ternyata sangat penting untuk diperhatikan, antara lain mulai diri menyiapkan peralatan yang diperlukan dalam proses belajar mengajar, pengaturan letak bangku para siswa, pengaturan meja guru yang ditujukan agar dapat menjangkau seluruh siswa, berkenalan dengan para siswa dan berusaha menghafal nama-nama mereka, menjelaskan harapan-harapan yang kita inginkan dengan jelas, sampai menyapa para siswa dengan senyum termanis. Dan dalam pembahasan ini ada sebuah kalimat yang sangat berkesan dalam benak kami, yaitu “saya tidak mengharap agar kamu sempurna. Saya memang berharap agar kalian mau berjuang untuk mencapai keunggulan dan berupaya untuk meningatkan diri. Kita semua akan mencetak kesalahan, namun yang terpenting adalah belajar dari kesalahan-kesalahan itu.”   
            Dalam pembahasan bab I ini juga sangat disarankan sentuhan humor yang berukuran sedang sehingga mampu menghangatkan suasana di dalam kelas. Sentuhan humor merupakan tikar selamta datang antara pembicara dan hadirin. Cara tersebut sangat ampuh untuk memecahkan kekakuan dan dapat mengambil perhatian dari hadirin. Banyak sekali manfaat yang dapat diambil dari humor-humor yang kita lontarkan, antara lain menangkap kembali perhatian siswa dan memantapkan daya ingat mereka, serta meningkatkan prestasi. Selain itu, humor juga menjadikan siswa lebih kreatif, dapat meredakan situasi yang tegang, dan dapat meredakan stress di dalam kelas. Kita dapat sepenuhnya spontan atau direncanakan dalam menyampaikan humor. Beberapa orang memang mempunyai bakat secara alami namun, beberapa orang tidak dapat menyampaikan humor secara langsung, sehingga perlu merencanakan humor. Jika kita adalah salah satu orang yang tidak mempunyai bakat alami untuk berhumor dalam buku ini juga dicantumkan beberapa sumber humor di internet yang bisa kita akses, diantaranya Humor in the Classroom (www.abbottcom.com/Humor_in_the_classroo.htm), Humor Matters (www.humormatters.com), HumorSource (www.humorsource.com).
            Sebelum memulai proses belajar mengajar guru disarankan menetapkan sejumlah norma atau aturan agar kelas selalu dalam keadaan yang terkendali dan kondusif. Guru hendaknya melibatkan siswa dalam menetapkan peraturan, sehingga tidak ada pihak merasa dirugikan dan tidak terjadi kesalahpahaman.
            Beberapa orang berpikir bahwa memberi imbalan kepada siswa hanyalah bentuk penyuapan, namun pemikiran tersebut salah karena memberi imbalan bertujuan meningkatkan motivasi belajar dan meningkatkan prestasi siswa. Misalnya hadiah untuk para siswa yang berperilaku baik dan berprestasi akan mempengaruhi siswa yang lain untuk juga mendapatkan hadiah. Selain itu, pujian umum dari guru dianggap kebanyakan siswa sebagai konsekuensi yang menyenangkan dan secara positif akan memotivasi perilaku meraka. Namun, bagi sebagian siswa misalnya beberapa remaja pria, pujian umum itu merupakan boomerang atau menjadikan bahan ejekan dari teman-temannya. Sehingga kita perlu mengetahui kondisi pada saat menyampaikan pujian tersebut.
            Sudah lazim bagi siswa untuk berpaling kepada guru dan mendapat bantuan dikala mengalami stress, kekecewaan, frustasi dan kehilangan. Nyaris setiap hari guru memiliki peluang untuk menanggapi minimal satu kekacauan emosional siswa. Jadilah pendengar yang baik, dan dunia akan berbondong-bondong mendatangi anda. Para pendengar yang efektif telah menguasai seni untuk mengundang orang agar menceritakan tentang dirinya sendiri. Mendengarkan adalah salah satu dari hadiah yang paling berharga yang bisa kita berikan kepada para siswa. Sebagai pendidik janganlah hanya menggurui para siswa karena ada saatnya kita harus menjadi pendengar yang baik bahkan bila perlu kita harus bisa bertindak sebagai teman yang siap menolong kapan saja. Apabila kita tidak bersifat menggurui maka para siswa akan merasa lebih diperhatikan sehingga akan tercipata suasana yang lebih harmonis. Namun kita juga harus tetap bisa menempatkan diri kita sesuai porsi kita sebagai pendidik agar para siswa tetap menghargai dan memiliki rasa hormat kepada kita.
            Pembahasan menarik yang selanjutnya adalah cara memberikan hukuman bagi siswa. Hukuman badaniah sudah lazim dilakukan di Negara maju, seperti Amerika. Namun akhir-akhir ini sejumlah Negara membatasi hukuman badaniah karena tidak akan menyelesaikan masalah justru akan menimbulkan masalah baru. Hukuman badaniah akan merubah perilaku buruk siswa hanya dalam jangka pendek saja, namun dampak buruk yang ditimbulkan dari perlakuan ini sangat fatal dan menimbulan rasa dendam yang akan mengakar dalam jangka waktu yang cukup lama. Selain itu, kita dianjurkan untuk tidak berdebat dengan siswa. Karena perdebatan yang tak terelakkan hanya akan menyebabkan salah satu dari anda kehilangan muka di depan kelas. Omelan yang dilakukan tanpa ribut-ribut lebih efektif daripada teriakan. Bahkan sejumlah riset menyatakan hardikan yang nyaring merupakan suatu hal yang harus dihindari, karena para siswa akan lebih banyak mengingat hardikan itu daripada pesan yang ingin kita sampaikan. Sehingga cara yang efektif untuk mengingatkan perilaku siswa yang kurang baik adalah kita harus menyampaikannya dengan menggunakan bahasa tubuh dan kata-kata yang semestinya.    
            Dari buku ini dapat disimpulkan bahwa menjadi seorang pendidik yang baik bukanlah hal yang mudah. Seorang guru tidak hanya dituntut untuk memberikan ilmu pengetahuan saja kepada peserta didik, tetapi juga harus mendidik mereka menjadi manusia seutuhnya serta menjadi manusia yang siap menghadapi tantangan di era globalisasi yang penuh dengan persaingan ini. Pendidik diharapkan dapat menciptakan suasana yang menyenangkan dalam proses belajar mengajar agar para siswa mampu menyerap ilmu yang diberikan dan sebisa mungkin benar-benar menjadi guru yang dapat diteladani oleh para siswa, sehingga terwujudlah fungsi pendidikan yang sesungguhnya. Buku-buku seperti inilah yang dapat menuntun kita untuk menjadi tenaga pendidik yang handal.       

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komen o yo rek,, *suwun