Kamis, Januari 24, 2013

makalah kajian pustaka dan kerangka teoritis


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kegiatan penelitian selalu bertitik tolak dari pengetahuan yang sudah ada. Pada semua ilmu pengetahuan, ilmuwan selalu memulai penelitiannya dengan cara menggali apa-apa yang sudah ditemukan oleh ahli-ahli lain dan memanfaatkan penemuan-penemuan tersebut untuk kepentingan penelitiannya. Pemecahan dari sebuah masalah yang telah diteliti tersebut menjadi teori yang dapat digunakan sebagai dasar untuk memperkuat penelitian kita agar dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Dasar teori tersebut dapat dijadikan sebagai kajian pustaka dalam hasil penelitian yang kita lakukan.
Tinjauan Pustaka mempunyai arti peninjauan kembali pustaka-pustaka yang terkait (review of related literature). Sesuai dengan arti tersebut, suatu tinjauan pustaka berfungsi sebagai peninjauan kembali (review) pustaka (laporan penelitian, dan sebagainya) tentang masalah yang berkaitan, tidak selalu harus tepat identik dengan bidang permasalahan yang dihadapi tetapi termasuk pula yang seiring dan berkaitan (collateral).  Fungsi peninjauan kembali pustaka yang berkaitan merupakan hal yang mendasar dalam penelitian, seperti dinyatakan oleh Leedy (1997) bahwa semakin banyak seorang peneliti mengetahui, mengenal dan memahami tentang penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya
(yang berkaitan erat dengan topik penelitiannya), semakin dapat dipertanggung jawabkan caranya meneliti permasalahan yang dihadapi.
Walaupun demikian, sebagian penulis (usulan penelitian atau karya tulis)
menganggap tinjauan pustaka merupakan bagian yang tidak penting sehingga ditulis “asal ada” saja atau hanya untuk sekedar membuktikan bahwa penelitian (yang diusulkan) belum pernah dilakukan sebelumnya. Pembuktian keaslian penelitian tersebut sebenarnya hanyalah salah satu dari beberapa kegunaan tinjauan pustaka. Kelemahan lain yang sering pula dijumpai adalah dalam penyusunan, penstrukturan atau pengorganisasian tinjauan pustaka.
Banyak penulisan tinjauan pustaka yang mirip resensi buku (dibahas buku per buku, tanpa ada kaitan yang bersistem) atau mirip daftar pustaka (hanya menyebutkan siapa penulisnya dan di pustaka mana ditulis, tanpa membahas apa yang ditulis). Berdasar kelemahan-kelemahan yang sering dijumpai di atas, tulisan ini berusaha untuk memberikan kesegaran pengetahuan tentang cara-cara penulisan tinjauan pustaka yang lazim dilakukan. Mengingat betapa pentingnya dan tingkat kesulitan yang cukup tinggi dalam penulisan tinjauan pustaka, untuk itu kelompok kami akan membahas mengenai Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teoritis dalam makalah ini.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah definisi kajian pustaka dan kerangka teoritis?
2.      Apakah fungsi kajian pustaka bagi sebuah penelitian?
3.      Darimana sumber-sumber bahan pustaka dapat diperoleh?
4.      Bagaimana cara menyusun kajian pustaka?
5.      Bagaimana keterkaitan antara tinjauan pustaka dengan daftar pustaka?

C.    Tujuan
1.      Mengetahui definisi kajian pustaka dan kerangka teoritis.
2.      Mengetahui fungsi kajian pustaka bagi sebuah penelitian.
3.      Mengetahui sumber-sumber bahan pustaka dapat diperoleh.
4.      Memahami cara-cara menyusun kajian pustaka.
5.      Untuk mengetahui keterkaitan antara tinjauan pustaka dengan daftar pustaka.











BAB II
PEMBAHASAN

A.      Definisi Kajian Pustaka dan Kerangka Teoritis
1.      Definisi dan Pentingnya Kajian Pustaka
Penelitian merupakan proses mencari pemecahan masalah melalui prosedur ilmiah. Tahap-tahap yang harus dilalui menurut prosedur ilmiah bukan hanya dilakukan di laboratorium saja tetapi juga di kancah termasuk untuk bidang pendidikan. Dalam melakukan penelitian langkah-langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut.
1.      Menghadapi masalah yang perlu dipecahkan.
2.      Membatasi dan merumuskan masalah dalam bentuk yang spesifik dan dapat dikenali dengan jelas.
3.      Mengembangkan hipotesis (dugaan) pemecahan masalah.
4.      Mengembangkan teknik dan instrumen untuk mengumpulkan data yang mengarah pada pembuktian hipotesis.
5.      Mengumpulkan data.
6.      Menganalisis data.
7.      Menarik kesimpulan dari data yang tersedia menuju pada informasi tentang terbukti ada tidaknya hipotesis.
Kebanyakan para peneliti yang cukup bertindak hati-hati selalu berusaha mengikuti langkah-langkah ini. Ketaatan mengikuti langkah-langkah ini bukan karena sekedar ingin taat pada ketentuan tetapi disebabkan karena rasa tanggung jawab yang besar agar apa yang diperoleh merupakan sesuatu yang pantas diperhitungkan sebagai sesuatu yang bermakna bagi orang banyak atas dasar tanggung jawab yang tinggi.
Kegiatan penelitian selalu bertitik tolak dari pengetahuan yang sudah ada. Pada semua ilmu pengetahuan, ilmuwan selalu memulai penelitiannya dengan cara menggali apa-apa yang sudak diketemukan oleh ahli-ahli lain dan memanfaatkan penemuan-penemuan tersebut untuk kepentingan penelitiannya. Hasil penelitian yang sudah berhasil memperkaya khasanah pengetahuan yang ada biasanya dilaporkan dalam bentuk jurnal-jurnal penelitian. Ketika peneliti mulai membuat rencana penelitian ia tidak bisa menghindar dan harus mempelajari penemuan-penemuan tersebut dengan mendalami, mencermati, menelaah, dan mengidentifikasi hal-hal yang telah ada untuk mengetahui apa yang ada dan yang belum ada. Kegiatan itu biasa dikenal dengan istilah: mengkaji bahan pustaka atau hanya disingkat dengan kajian pustaka atau telaah pustaka (literature review).
Kajian pustaka adalah kajian hasil penelitian yang relevan dengan pemasalahan. Fungsi kajian pustaka adalah mengemukakan secara sistematis tentang hasil penelitian yang diperoleh terdahulu dan ada hubungannya denga penelitian yang dilakukan.
Berdasarkan judul penelitian di atas, maka penulis menemukan beberapa hasil penelitian yang relevan untuk mendukung penelitian tersebut. Dengan mengetahui manfaat yang sangat signifikan peneliti akan dapat dengan lancar dalam menyelesaikan pekerjaannya. Keharusan peneliti mengacu pada pengetahuan, dalil, konsep atau ketentuan yang sudah ada maka kedudukan peneliti sebagai ilmuwan menjadi mantap, kokoh, tegar, karena dalam kegiatannya tersebut ia telah bekerja dengan baik, menggunakan aturan-aturan akademik yang berlaku.

2.      Definisi Kerangka Teori
Perbedaan paradigma penelitian dapat dilihat paling tidak pada dua aspek, yaitu: (1) posisi dan peran teori dan (2) cara pandang terhadap fenomena. Mengingat pentingnya posisi dan peran teori dalam penelitian kuantitatif, peneliti perlu memahami definisi yang menjelaskan mengenai elemen-elemen dan fungsi teori.
Menurut Kelinger teori merupakan suatu kumpulan construct atau konsep (consepts), definisi (definitions), dan proposisi (propositions) yang menggambarkan fenomena secara sistematis melalui penentuan hubungan antar variabel dengan tujuan untuk menjelaskan (memprediksi) fenomena alam.
Ada tiga hal pokok yang diungkap dalam definisi teori:
1.      Elemen teori terdiri atas: construct, konsep, definisi, dan preposisi
2.      Elemen-elemen teori memberikan gambaran sistematis mengenai fenomena melalui penentuan hubungan antar variabel.
3.      Tujuan teori adalah untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena alam.
a.      Teori dan Penelitian
Karakteristik penelitian adalah adanya hubungan antara penelitian dengan ilmu. Hubungan antara penelitian dengan ilmu juga dijelaskan melalui peran penelitian dalam pemgembangan ilmu. Teori merupakan bagian dari ilmu yang memberikan penjelasan (memprediksi) fenomena alam. Teori sebagai bagian dari ilmu, dengan demikian juga mempanyai jalinan erat dengan penelitian. Penelitian merupakan proses yang sistematis untuk mengembangkan teori.
b.      Posisi dan Peran Teori
Adanya perbedaan paradigma antara penelitian kuantitatif dan kualitatif mempengaruhi posisi dan peran teori dalam penelitian. Ditinjau dari segi tujuan penelitian kedua paradigma tersebut mempunyai perbedaan prinsip, sehingga masing-masing meletakkan posisi dan peran teori dengan perlakuan yang berbeda.
Penelitian kuantitatif yang mempunyai tujuan untuk menguji atau verifikasi teori, meletakkan teori secara deduktif menjadi landasan dalam penemuan dan pemecahan masalah penelitian. Teori merupakan kerangka dalam penelitian kuantitatif yang melandasi perumusan masalah atau pertanyaan, pengembangan hipotesis, pengujian data, dan pembuatan kesimpulan. Posisi dan peran strategis teori dalam penelitian kuantitatif direfleksikan dalam hasil penelitian yang berupa dukungan atau penolakan terhadap teori.
Penelitian kualitatif yang mempunyai tujuan untuk menyusun teori memandang teori sebagai hasil induksi dari pengamatan terhadap fakta (pengumpulan informasi). Teori pada dasarnya merupakan kulminasi dari penelitian kualitatif yang disusun melalui proses pengumpulan data, kategorisasi data dan pengembangan pola atau susunan (patterns). Dari penjelasan mengenai teori di atas, yang dimaksud dengan kerangka teori adalah sekumpulan susunan
konsep, definisi, dan preposisi mengenai prediksi fenomena alam yang terjadi dengan cara menentukan hubungan antar variabel.

B.       Fungsi Kajian Pustaka
Dalam penyusunan sebuah penelitian, sangat diperlukan suatu dasar teori yang kuat agar sebuah penelitian tidak diragukan kebenarannya. Dasar teori yang dicantumkan dalam sebuah penelitian biasa disebut sebagai kajian pustaka dan kerangka teori. Kajian pustaka dan kerangka teori dipaparkan dengan maksud untuk memberikan gambaran tentang kaitan upaya pengembangan dengan upaya-upaya lain yang mungkin sudah pernah dilakukan para ahli untuk mendekati permasalahan yang sama atau relatif sama. Dengan demikian pengembangan yang dilakukan memiliki landasan empiris yang kuat. (UM, 2005). Berikut ini akan dipaparkan mengenai fungsi-fungsi dari kajian pustaka.
Amirin (2000) memaparkan bahwa kajian pustaka juga digunakan untuk menyeleksi masalah-masalah yang akan diangkat menjadi topik penelitian serta untuk menjelaskan kedudukan masalah dalam tempatnya yang lebih luas. Konstruksi teoritik yang ada dalam kajian pustaka akan memberikan landasan bagi penelitian. Sehingga sumbangan kajian pustaka pada penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut;
1.      Konstruksi Teoritik sebagai Dasar
Penelitian apa pun tidak akan terlepas dari kerangka teori. Penelitian tidaklah berarti tanpa teori sama sekali. Paling tidak sebagai pegangan atau pedoman untuk memberikan asumsi atau postulat, prinsip, teori, konsep, preposisi dan definisi operasional.
2.      Konstruksi Teoritik sebagai Tolok Ukur
Penelitian tindakan berupaya untuk meningkatkan kinerja pembelajaran atau proses kegiatan pembelajaran sehingga perlu sarana untuk mengontrol baik tidaknya prosedur yang digunakan. Kerangka teori dapat membantu sebagai ukuran patokan (standart atau tolok ukur) yang dimaksud.
3.      Konstruksi Teoritik sebagai Sumber Hipotesa
Hipotesa pada umumnya dimunculkan dari kajian teori. Teori-teori yang diragukan akan dicoba dan diuji kembali sehingga terbentuklah hipotesa. Dasar rasional mengapa harus diuji kembali karena pembuktian secara teoritis harus diimbangi dengan pembuktian secara empiris.
Sedangkan menurut Leedy (1997:71) menerangkan bahwa suatu tinjauan pustaka mempunyai kegunaan untuk:
1.      Mengungkapkan penelitian-penelitian yang serupa dengan penelitian yang (akan) kita lakukan; dalam hal ini, diperlihatkan pula cara penelitian-penelitian tersebut menjawab permasalahan dan merancang metode penelitiannya.
2.      Membantu memberi gambaran tentang metoda dan teknik yang dipakai dalam penelitian yang mempunyai permasalahan serupa atau mirip penelitian yang kita hadapi.
3.      Mengungkapkan sumber-sumber data (atau judul-judul pustaka yang berkaitan) yang mungkin belum kita ketahui sebelumnya.
4.      Mengenal peneliti-peneliti yang karyanya penting dalam permasalahan yang kita hadapi (yang mungkin dapat dijadikan nara sumber atau dapat ditelusuri karya -karya tulisnya yang lain yang mungkin terkait).
5.      Memperlihatkan kedudukan penelitian yang (akan) kita lakukan dalam sejarah perkembangan dan konteks ilmu pengetahuan atau teori tempat penelitian ini berada.
6.      Mengungkapkan ide-ide dan pendekatan-pendekatan yang mungkin belum kita kenal sebelumya.
7.      Membuktikan keaslian penelitian (bahwa penelitian yang kita lakukan berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya).
8.      Mampu menambah percaya diri kita pada topik yang kita pilih karena telah ada pihak-pihak lain yang sebelumnya juga tertarik pada topik tersebut dan mereka telah mencurahkan tenaga, waktu dan biaya untuk meneliti topik tersebut.
Dalam penjelasan yang hampir serupa, Castetter dan Heisler (1984:38-43) menerangkan bahwa tinjauan pustaka mempunyai enam kegunaan, yaitu:
1.      mengkaji sejarah permasalahan;
2.      membantu pemilihan prosedur penelitian;
3.      mendalami landasan teori yang berkaitan dengan permasalahan;
4.      mengkaji kelebihan dan kekurangan hasil penelitian terdahulu;
5.      menghindari duplikasi penelitian; dan
6.      menunjang perumusan permasalahan.
Satu persatu kegunaan (yang saling kait mengkait) tersebut dibahas dalam bagian berikut ini.

Kegunaan 1: Mengkaji sejarah permasalahan
Sejarah permasalahan meliputi perkembangan permasalahan dan perkembangan penelitian atas permasalahan tersebut. Pengkajian terhadap perkembangan permasalahan secara kronologis sejak permasalahan tersebut timbul sampai pada keadaan yang dilihat kini akan member gambaran yang lebih jelas tentang perkembangan materi permasalahan (tinjauan dari waktu ke waktu: berkurang atau bertambah parah; apa penyebabnya). Mungkin saja, tinjauan seperti ini mirip dengan bagian “Latar belakang permasalahan” yang biasanya ditulis di bagian depan suatu usulan penelitian. Bedanya: dalam tinjauan pustaka, kajian selalu mengacu pada pustaka yang ada. Pengkajian kronologis atas penelitian-penelitian yang pernah dilakukan atas permasalahan akan membantu memberi gambaran tentang apa yang telah dilakukan oleh peneliti-peneliti lain dalam permasalahan tersebut. Gambaran bermanfaat terutama tentang pendekatan yang dipakai dan hasil yang didapat.
Kegunaan 2: Membantu pemilihan prosedur penelitian
Dalam merancang prosedur penelitian (research design), banyak untungnya untuk mengkaji prosedur-prosedur (atau pendekatan) yang pernah dipakai oleh peneliti-peneliti terdahulu dalam meneliti permasalahan yang hampir serupa. Pengkajian meliputi kelebihan dan kelemahan prosedur-prosedur yang dipakai dalam menjawab permasalahan. Dengan mengetahui kelebihan dan kelemahan prosedur-prosedur tersebut, kemudian dapat dipilih, diadakan penyesuaian, dan dirancang suatu prosedur yang cocok untuk penelitian yang dihadapi.
Kegunaan 3: Mendalami landasan teori yang berkaitan dengan permasalahan
Salah satu karakteristik penelitian adalah kegiatan yang dilakukan haruslah berada pada konteks ilmu pengetahuan atau teori yang ada. Pengkajian pustaka, dalam hal ini, akan berguna bagi pendalaman pengetahuan seutuhnya (unified explanation) tentang teori atau bidang ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan permasalahan. Pengenalan teori-teori yang tercakup dalam bidang atau area permasalahan diperlukan untuk merumuskan landasan teori sebagai basis perumusan hipotesa atau keterangan empiris yang diharapkan.

Kegunaan 4: Mengkaji kelebihan dan kekurangan hasil penelitian terdahulu
Di bagian awal tulisan ini disebutkan bahwa kegunaan tinjauan pustaka yang dikenal umum adalah untuk membuktikan bahwa penelitian (yang diusulkan) belum pernah dilakukan sebelumnya. Pembuktian keaslian penelitian ini bersumber pada pengkajian terhadap penelitian-penelitian yang pernah dilakukan. Bukti yang dicari bisa saja berupa kenyataan bahwa belum pernah ada penelitian yang dilakukan dalam permasalahan itu, atau hasil penelitian yang pernah ada belum mantap atau masih mengandung kesalahan atau kekurangan dalam beberapa hal dan perlu diulangi atau dilengkapi.
Dalam penelitian yang akan dihadapi sering diperlukan pengacuan terhadap prosedur dan hasil penelitian yang pernah ada (lihat kegunaan 2). Kehati-hatian perlu ada dalam pengacuan tersebut. Suatu penelitian mempunyai lingkup keterbatasan serta kelebihan dan kekurangan. Evaluasi yang tajam terhadap kelebihan dan kelemahan tersebut akan berguna terutama dalam memahami tingkat kepercayaan (level of significance) hal-hal yang diacu. Perlu dikaji dalam penelitian yang dievaluasi apakah temuan dan kesimpulan berada di luar lingkup penelitian atau temuan tersebut mempunyai dasar yang sangat lemah. Evaluasi ini menghasilkan penggolongan pustaka ke dalam dua kelompok:
a.       Kelompok Pustaka Utama (Significant literature);
b.      Kelompok Pustaka Penunjang (Collateral Literature).
Kegunaan 5: Menghindari duplikasi penelitian
Kegunaan yang kelima ini, agar tidak terjadi duplikasi penelitian, sangat jelas maksudnya. Masalahanya, tidak semua hasil penelitian dilaporkan secara luas. Dengan demikian, publikasi atau seminar atau jaringan informasi tentang hasil-hasil penelitian sangat penting. Dalam hal ini, peneliti perlu mengetahui sumber-sumber informasi pustaka dan mempunyai hubungan (access) dengan sumber-sumber tersebut. Tinjauan pustaka, berkaitan dengan hal ini, berguna untuk membeberkan seluruh pengetahuan yang ada sampai saat ini berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi (sehingga dapat menyakinkan bahwa tidak terjadi duplikasi).


Kegunaan 6: Menunjang perumusan permasalahan
Kegunaan yang keenam dan taktis ini berkaitan dengan perumusan permasalahan. Pengkajian pustaka yang meluas (tapi tajam), komprehe nsif dan bersistem, pada akhirnya harus diakhiri dengan suatu kesimpulan yang memuat permasalahan apa yang tersisa, yang memerlukan penelitian; yang membedakan penelitian yang diusulkan dengan penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya. Dalam kesimpulan tersebut, rumusan permasalahan ditunjang kemantapannya (justified). Pada beberapa formulir usulan penelitian (seperti misalnya pada formulir Usulan Penelitian DPP FT UGM), bagian kesimpulan ini sengaja dipisahkan tersendiri (agar lebih jelas menonjol) dan ditempatkan sesudah tinjauan pustaka serta diberi judul “Keaslian Penelitian”.
Dari berbagai pendapat yang mencoba untuk memaparkan mengenai fungsi dan kegunaan dari sebuah kajian pustaka, dapat diketahui bersama bahwa kajian pustaka dan kerangka teori sangat diperlukan dalam sebuah penelitian. Tanpa adanya kajian pustaka, sebuah penelitian dapat diragukan keaslian dan kebenarannya. Hal ini disebabkan kajian pustaka merupakan alat pembuktian bahwa sebuah penelitian belum pernah dilakukan sebelumnya.

C.      Jenis-Jenis Sumber Bahan Pustaka
Seiring dengan perkembangan zaman, dewasa ini bahan-bahan pustaka tidak hanya terbatas pada buku saja. Perkembangan media juga sangat pesat mengikuti perkembangan intelektual manusia yang selalu haus akan informasi-informasi yang terjadi baik di lingkungan hidup mereka maupun lingkungan dengan cakupan yang lebih luas. Keluasan informasi ini mengakibatkan penulis dapat menggunakan bahan pustaka yang berasal dari berbagai media. Hal ini tentu saja akan memudahkan penulis, sehingga kajian pustaka akan semakin luas dan tentu saja menarik. Untuk itu, penulis perlu mengenal beberapa jenis bahan pustaka berikut:
1.      Fiksi
Bahan pustaka fiksi adalah bahan pustaka yang dapat berupa khayalan yang bertujuan untuk menarik minat, daya imajinasi dan kreativitas pembacanya. Bahan pustaka fiksi terdiri dari beberapa macam, yaitu:
a.       Buku Bergambar
b.      Buku Cerita Bergambar
c.       Buku Cerita Rakyat
d.      Buku Fabel
e.       Buku Fiksi Pengetahuan
f.       Novel dan Cerpen

2.      Buku Teks
Buku teks adalah adalah buku yang berisi materi sebuah disiplin bidang ilmu tertentu yang disusun secara sistematis. Contohnya buku pelajaran geografi, biologi, maupun sejarah.

3.      Bukan Buku
Yang termasuk bahan pustaka bukan buku adalah
a.       CD-ROM, adalah media elektronik yang dapat digunakan untuk menyimpan informasi tertentu.
b.      Kaset Suara, dapat digunakan untuk merekam hasil wawancara dengan narasumber.
c.       Video, video-video mengenai sebuah informasi imiah dapat digunakan sebagai bahan pustaka.
d.      Mikrofilm, film yg memuat rekaman foto bahan tertulis, tercetak, dan lain sebagainya dalam ukuran yg sangat kecil.

4.      Terbitan Berkala
Terdapat beberapa macam bahan pustaka yang terbit secara berkala, diantaranya adalah:
a.       Artikel adalah gagasan yang disertai dengan penguatan yang bersifat ilmiah maupun teoritis dari beberapa ahli.
a.       Jurnal, adalah hasil pemikiran dan penelitian dari aktivitas akademik sebuah lembaga.
b.      Majalah dan Koran adalah sebuah kumpulan berita terkini yang terbitnya dapat secara harian, mingguan, maupun bulanan.
c.       Buku Tahunan adalah buku yang diterbitkan oleh sebuah lembaga tertentu yang terbitnya hanya setahun sekali.

5.      Bahan Vertikal File
Bahan vertikal file adalah bahan pustaka yang memuat informasi penting tentang suatu subjek atau bidang informasi dan berkaitan dengan kepentingan sebuah lembaga atau organisasi tertentu. Misalnya brosur, pamflet, dan laeflet.

6.      Bahan Bibliografi
Bibliografi digunakan untuk mengetahui adanya suatu buku/pustaka atau sejumlah buku/pustaka yang pernah diterbitkan. Bahan bibliografi yang bisa dipakai adalah abstrak dan indeks.

7.      Bahan Referensi Lainnya
a.       Dokumen Pemerintah
Dokumen pemerintah adalah semua dokumen yang diterbitkan oleh pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah. Contohnya undang-undang, peraturan pemerintah, dan lain-lain.
b.      Ensiklopedi
Ensiklopedi adalah buku yang berisi penjelasan yang menyimpan informasi secara komprehensif dan cepat dipahami serta dimengerti mengenai keseluruhan cabang ilmu pengetahuan atau khusus dalam sebuah bidang ilmu tertentu dan biasanya disusun berdasarkan abjad atau volume.
c.       Kamus
Kamus adalah buku yang berisi daftar kumpulan kata yang memuat arti, persamaan, dan ejaan yang disempurnakan.
d.      Direktori atau Buku Pentunjuk
Direktori adalah buku yang memuat informasi beberapa pentunjuk
e.       Skripsi, Tesis, dan Disertasi
Skripsi, tesis dan disertasi adalah karya tulis ilmiah yang dibuat oleh mahasiswa jenjang S1, S2, dan S3 untuk tujuan pemenuhan tugas akhir.

D.      Menyusun Kajian Pustaka
            Dalam menyusun kajian pustaka perlu usaha untuk mengumpulkan sumber sebanyak-banyaknya. Sumber tersebut harus relevan dengan masalah yang diangkat dalam penelitian. Kajian pustaka dapat digunakan dengan dua pola; yaitu deduktif dan induktif. Dengan deduktif  kita mulai dari proposisi yang berlaku umum dan memberlakukannya pada keadaan khusus, serta berlaku sebaliknya untuk induktif.
            Dalam pembuatan kajian pustaka sebaiknya mengikuti langkah awal, sebagai berikut :
1.      Menyiapkan butir-butir yang perlu dalam mencatat informasi dari pustaka, meliputi kelengkapan sumber informasi, kriteria informasi, cara mencatat sumber informsi dari internet, dan sebagainya.
2.      Menyiapkan kartu atau buku untuk mengumpulkan informasi yang relevan.
3.      Menyiapkan sistematika pengumpulan informasi.
4.      Mencari informasi dari bahan kepustakaan atau internet.
            Penulisan kajian pustaka sebaiknya mengikuti saran sebagai berikut:
1.      Pertahankan fokus perhatian pada masalah penelitian yang akan dilaksanakan, agar penulisan kajian pustaka tetap relevan dengan masalah yang akan diteliti.
2.      Buatlah rencana struktur penulisan kajian pustaka dengan baik (jangan menulis menurut urutan ditemukannya pustaka itu).
3.      Tekankan keterkaitan antara pustaka dengan masalah penelitian yang (akan, sedang, atau baru saja) dipecahkan oleh peneliti.
            Beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam mengorganisasi kajian pustaka sebagai berikut:
1.      Mulai dari materi hasil penelitian harus diperhatikan dari yang paling relevan, relevan dan cukup relevan.
2.      Membaca abstrak lebih dahulu dari setiap penelitian untuk memberikan penelitian apakah permasalahan yang dibahas itu sesuai dengan yang akan dipecahkan dalam penelitian.
3.      Mencatat bagian-bagian penting dan relevan dengan permasalahan penelitian. Hal ini untuk menjaga agar tidak terjebak dalam unsur plagiat, para peneliti hendaknya juga mencatat sumber-sumber informasi dan mencantumkannya dalam daftar pustaka, jika memang informasi banyak dari ide atau hasil penelitian orang lain.
4.      Buatlah catatan, salinan atau kutipan informasi dan susun secara rapi dan mudah didapatkan jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

E.     Keterkaitan Tinjauan Pustaka dengan Daftar Pustaka
Di bagian awal tulisan in telah disebutkan bahwa sering terdapat penulisan tinjauan pustaka yang mirip daftar pustaka. Misal: “Tentang hal A dibahas oleh si H dalam buku . . .si B dalam buku . . . . ; sedangkan tentang hal J diterangkan oleh si P dalam buku . . . “. Peninjauan seperti ini biasanya tidak menyebutkan apa yang dijelaskan oleh masing-masing pustaka secara rinci (hanya menyebutkan siapa dan dimana ditulis). Penyebutan judul buku, yang seringkali tidak hanya sekali, tidak efisien dan menyaingi tugas daftar pustaka. Sehingga cara peninjauan seperti itu tidak disarankan.
Pengacuan pustaka dalam tinjauan pustaka dapat dilakukan dengan cara yang bermacam-macam, antara lain: penulisan catatan kaki, dan penulisan nama pengarang dan tahun saja. Setiap cara mempunyai kelebihan dan kekurangan, tapi peninjauan tentang kelebihan dan kekurangan tersebut di luar lingkup tulisan ini. Dalam tulisan ini hanya akan dibahas pemakaian cara penulisan nama akhir pengarang dan tahun penerbitan (dan sering ditambah dengan nomor halaman). Misal: Dalam hal organisasi tinjauan pustaka, Castetter dah Heisler (1984, hal. 43-45) menyarankan tentang bagian-bagian tinjauan pustaka, yang meliputi: (1)
pendahuluan, (2) pembahasan, dan (3) kesimpulan.
Pengacuan cara di atas mempunyai kaitan erat dengan cara penulisan daftar pustaka. Penulisan daftar pustaka umumnya tersusun menurut abjad nama akhir penulis, dengan format: nama penulis, tahun penerbitan dan seterusnya. Susunan dan format daftar pustaka tersebut memudahkan untuk membaca informasi yang lengkap tentang yang diacu dalam tinjauan pustaka. Misal, dalam tinjauan pustaka: “. . . . . . Mittra (1986) . . . . . .”
Dalam daftar pustaka, tertulis:
Mittra, S. S., 1996, Decision Support System: Tools and Techniques, John Wiley & Sons, New York, N. Y.
Sering terjadi, seorang penulis (usulan penelitian atau karya tulis) ingin menunjukan bahwa bahan bacaannya banyak; meskipun tidak dibahas dan tidak diacu dalam tulisannya, semuanya ditulis dalam daftar pustaka. Maksud yang baik ini sebaiknya ditunjukan dengan membahas dan mengemukakan secara jelas (menurut aturan pengacuan) apa yang diacu dari pustaka-pustaka tersebut dalam tulisannya. Tentunya hal yang sebaliknya, yaitu menyebut nama pengarang yang diacu dalam tinjauan pustaka tanpa menuliskannya dalam daftar pustaka (karena lupa) tidak perlu terjadi.
























BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Kajian pustaka adalah kajian hasil penelitian yang relevan dengan pemasalahan. Fungsi kajian pustaka adalah mengemukakan secara sistematis tentang hasil penelitian yang diperoleh terdahulu dan ada hubungannya dengan penelitian yang dilakukan.
2.      Fungsi-fungsi dari kajian penelitian bagi sebuah penelitian anatar lain, mengkaji sejarah permasalahan, membantu memilih prosedur penelitian, mendalami landasan teori yang berkaitan dengan permasalahan, mengkaji kelebihan dan kelemahan hasil penelitian terdahulu, menghindari duplikasi penelitian, menunjang perumusan masalah.
3.      Beberapa jenis bahan pustaka adalah fiksi, buku teks, bukan buku, terbitan berkala, bahan vertical file, bahan bibliografi, dokumen pemerintah, ensiklopedi, dan lain sebagainya.
4.      Cara menyusun kajian pustaka yang baik adalah, mempertahankan fokus pada maslah penelitian yang akan dilaksanakan, membuat rencana struktur penulisan kajian pustaka dengan baik, dan menekankan keterkaitan antara pustaka dengan masalah yang akan dipecahkan oleh peneliti.
5.      Pengacuan cara pustaka mempunyai kaitan erat dengan cara penulisan daftar pustaka. Penulisan nama pengarang dan tahun, pada akhirnya akan dicantumkan juga pada daftar pustaka.

B.     Saran
1.      Dalam membuat karya tulis hasil penelitian seperti skripsi, thesis, atau disertasi harus disertakan kajian pustaka agar tulisan tersebut dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
2.      Penulisan Kajian pustaka harus dilakukan dengan baik dan benar sesuai dengan pedoman penulisan karya ilmiah yang berlaku.
3.      Sebaiknya daftar pustaka harus sesuai dengan acuan yang dicantumkan dalam kajian pustaka.
DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Nazir, Moh. 2009. Metode Penelitian. Bogor: PT. Ghalia Indonesia.
________. 2009. Mengenal Jenis-jenis Bahan Pustaka, (Online), http://perpustakaanilmu.blogspot.com/2009/10/mengenal-jenis-jenis-bahan-pustaka.html, diakses tanggal 22 Februari 2012.
Ardhana. 2008. Kajian Pustaka dan Kerangka Teori, (Online), http://ardhana12.wordpress.com/2008/02/08/kajian-pustaka-dan-kerangka-teori-syarat-mutlak-dalam-sebuah-penelitian/, diakses tanggal 22 Februari 2012.
Handoyo, Eko. 2010. Penulisan Kajian Pustaka, (Online), http://ekohandoyo.blog.undip.ac.id/2010/10/06/penulisan-kajian-pustaka/, diakses tanggal 22 Februari 2012.






                                             






                                                                                               

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komen o yo rek,, *suwun