Selasa, Januari 22, 2013

Perkiraan dan Antisipasi Terhadap Masyarakat Masa Depan


Perkiraan dan Antisipasi Terhadap Masyarakat Masa Depan
Dalam era globalisasi ini membuat dunia seakan-akan menjadi sempit dan membuat batas-batas negara menjadi transparan. Perkembangan iptek yang semakin pesat ini membuat masyarakat di suatu negara bisa dengan cepat dan mudah untuk berkomunikasi dan mengetahui peristiwa, gaya hidup, dan kebudayaan lain dari negara di seluruh dunia. Karena itulah, diperlukan suatu kepribadian bangsa yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila agar moral bangsa terlindungi dari dampak-dampak negatif globalisasi. Dampak negatif ini banyak menyerang anak-anak muda bangsa, sehingga di perlukan pendidikan untuk memberikan tuntunan agar mereka selalu menyaring budaya-budaya luar terutama dari Barat yang sebagian bertentangan dengan kehidupan kepribadian bangsa.
Tuntutan pendidikan sekarang dan masa depan harus diarahkan pada peningkatan kualitas kemampuan intelektual dan profesional, serta sikap kepribadian dan moral manusia Indonesia yang menjiwai nilai-nilai Pancasila. Dengan kemampuan dan sikap manusia Indonesia yang demikian diharapkan dapat mendudukkan diri secara bermartabat di masyarakat dunia di era globalisasi ini. Seorang pendidik harus mengarahkan anak didiknya agar memiliki visi yang jelas mengenai masa depan mereka dan memiliki keunggulan kompetitif untuk mampu bersaing di era global ini.
Pendidikan harus mampu mempersiapkan warga negara agar dapat berperan aktif dalam seluruh lapangan kehidupan, cerdas, aktif, kreatif, terampil, jujur, berdisiplin dan bermoral tinggi, demokratis, dan toleran dengan mengutamakan persatuan bangsa dan bukannya perpecahan. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan partisipasi dan kerja sama antara pelajar, pendidik, orang tua, lingkungan masyarakat dan pemerintah. Empat pilar pendidikan sekarang dan masa depan yang dicanangkan oleh UNESCO yang perlu dikembangkan oleh lembaga pendidikan formal, yaitu: (1) learning to Know (belajar untuk mengetahui), (2) learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) dalam hal ini kita dituntut untuk terampil dalam melakukan sesuatu, (3) learning to be (belajar untuk menjadi seseorang), dan (4) learning to live together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama).
Menurut saya, untuk menciptakan “Learning to know”, pelajar harus berperan aktif, maksudnya dalam melakukan proses belajar mengajar, pendidik hanya memberikan suatu gambaran umum, lalu pelajar mengembangkan sendiri melalui diskusi atau praktek, sehigga pelajar akan lebih mengerti dan memahami pelajaran yang diajarkan tersebut. “Learning to do”, di sini sekolah harus memfasilitasi siswa untuk mengembangkan keterampilan, bakat dan minatnya. Keterampilan ini nanti dapat digunakan sebagai keunggulan kompetitif untuk bersaing demi keberhasilan masa depannya.
“Learning to be”, bagi anak yang agresif proses pengembangan diri akan berjalan sendiri bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi, sebaliknya bagi anak yang pasif pendidik harus mampu mengarahkan dan menjadi fasilitator untuk pengembangan diri pelajar secara maksimal. “Learning to live together”, kebiasaan untuk hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima perlu ditumbuhkembangkan. Ini akan menciptakan suatu hubungan yang harmonis antar individu. Hal ini juga memungkinkan untuk melakukan kerja sama, jadi individu tidak perlu melakukan kompetitif, malah mereka bekerja sama untuk mencapai tujuan yang ingin di capai.
“Dunia Pendidikan” pada akhirnya akan bermuara pada “dunia kerja”. Untuk itu diperlukan suatu sistem untuk mengarahkan pelajar kepada dunia kerja. Tapi dalam kenyataan sekarang ini, dunia pendidikan belum sepenuhnya mampu untuk menyediakan individu yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Masih banyak para sarjana yang menganggur. Padahal di era globalisasi ini pesaing kita tidak hanya dalam lingkup negara, tetapi sudah dunia.
Menurut saya, hal itu di sebabkan oleh kesalahan individu yang kurang memanfaatkan peluang dengan baik. Secara nyata mereka adalah sarjana, itu saja merupakan keunggulan di bandingkan mereka yang tidak bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Tentunya mereka lebih berwawasan, mereka bisa saling bekerja sama untuk membuat usaha baru, sehingga mereka tidak usah melamar kerja, malahan mereka yang membuka lapangan kerja. Sehingga dapat menurunkan angka pengangguran. Dunia pendidikan seharusnya mampu untuk menciptakan lulusan yang mampu membuat dunia kerja yang mengembangkan inisiatif, kreatifitas dan entrepreneurship demi menghadapi era globalisasi ini.
            Di desa, seharusnya lebih di kembangkan dalam sektor agraris. Hal ini bisa dikembangkan dengan sistem intenifikasi pertanian dengan iptek yang modern agar hasil pertanian bisa meningkat. Dan di kota bisa mengembangkan sektor swasta dan industri.  Sehingga kota dan desa bisa saling melengkapi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komen o yo rek,, *suwun