Kamis, Januari 24, 2013

Prosedur Penilaian dan Jenis-jenis Tes atau Teknik Evaluasi


2.1  Prosedur Penilaian
Terdapat beberapa langkah yang dapat dijadikan pegangan dalam melaksanakan proses penilaian hasil belajar, yakni:
a.       Merumuskan atau mempertegas tujuan-tujuan pengajaran.
Mengingat fungsi penilaian hasil belajar adalah mengukur tercapai tidaknya tujuan pengajaran, maka perlu dilakukan upaya mempertegas tujuan pengajaran sehingga dapat memberikan arah terhadap penyusunan alat-alat penilaian.
b.      Mengkaji kembali materi pengajaran berdasarkan kurikulum dan silabus mata pelajaran. Hal ini penting mengingat isi tes atau pertanyaan penilaian berkenaan dengan bahan pengajaran yang diberikan. Penguasaan materi pengajaran sesuai dengan tujuan-tujuan pengajaran merupakan isi dan sasaran penilaian hasil belajar.
c.       Menyusun alat-alat penilaian, baik tes maupun nontes, yang cocok digunakan dalam menilai jenis-jenis tingkah laku yang tergambar dalam tujuan pengajaran. Dalam penyusunan alat penilaian hendaknya diperhatikan kaidah-kaidah penulisan soal sebagai berikut:
§  Menelaah kurikulum dan buku pelajaran agar dapat ditentukan lingkup pertanyaan, terutama materi pelajaran, baik luasnya maupun kedalamannya.
§  Merumuskan tujuan instruksional khusus sehingga jelas betul apa yang harus dinilainya. Tujuan instruksional khusus harus dirumuskan secara operasional, artinya bisa diukur dengan alat penilaian yang biasa digunakan.
§  Membuat kisi-kisi alat penilaian. Dalam kisi-kisi harus tampak hal-hal yang diukur serta proporsinya, lingkup materi yang diujikan serta proporsinya, tingkat kesulitan soal dan proporsinya, jenis alat penilaian yang digunakan, jumlah soal atau pertanyaan, dan perkiraan waktu yang diperlukan untuk mengerjakan soal tersebut.
§  Menyusun atau menulis soal-soal berdasarkan kisi-kisi yang telah dibuat. Dalam menulis soal, perhatikan aturan-aturan yang berlaku.
§  Membuat dan menentukan kunci jawaban soal.
d.      Menggunakan hasil-hasil penilaian sesuai sesuai dengan tujuan penilaian tersebut, yakni untuk kepentingan pendeskrispsian kemampuan siswa, kepentingan perbaikan pengajaran, kepentingan bimbingan belajar, maupun kepentingan laporan pertanggungjawaban pendidikan.

2.2  Jenis-Jenis Tes atau Teknik Evaluasi
  i.            Pengertian Tes
      Secara harfiah kata “test” berasal dari kata bahasa prancis kuno: testum yang berarti piring untuk menyisihkan logam-logam mulia, dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan tes yang berarti ujian atau percobaan.
            Dari segi istilah, menurut Anne Anastasi, test adalah alat pengukur yang mempunyai standar obyektif sehingga dapat digunakan secara meluas, serta dapat betul-betul digunakan dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu. Sedangkan menurut F.L. Geodenough, test adalah suatu rangkaian tugas yang diberikan kepada individu atau sekelompok individu dengan maksud untuk membandingkan kecapan antara satu dengan yang lain. Dari pengertian diatas, dapat dipahami bahwa tes adalah cara yang dapat digunakan atau prosedur yang dapat ditempuh dalam rangka pengukuran dan penilaian yang dapat berbentuk pemberian tugas, atau serangkaian tugas sehingga dapat dihasilkan nilai yang dapat melambangkan prestasi.
ii.            Fungsi Tes
   Fungsi tes ialah a) sebagai alat pengukur terhadap peserta didik. Dalam hal ini test berfungsi mengukur tingkat perkembangan atau kemajuan yang telah dicapai oleh peserta didik setelah mereka menempuh proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu; b) sebagai alat pengukur keberhasilan program pengajaran, karena melalui test tersebut dapatdiketahui seberapa jauh tujuan pembelajaran telah dicapai.
iii.            Kriteria Tes yang Baik
·         Validitas (Ketepatan); Suatu alat pengukur dapat dikatakan alat pengukur yang valid apabila alat pengukur tersebut dapat mengukur apa yang hendak diukur secara tepat.
·         Reliabilitas merujuk pada konsistensi skor yang dicapai oleh orang yang sama ketika diuji ulang dengan tes yang sama pada kesempatan yang berbeda, atau dengan seperangkat butir-butir ekuivalen yang berbeda, atau pada kondisi pengujian yang berbeda
·         Objektivitas; Suatu tes dikatakan obyektif jika tes tersebut diajukan kepada beberapa penilai, tetapi memberikan skor yang sama, untuk disiapkan kunci jawaban (scorring key).
·         Memiliki discrimination power (daya pembeda); Tes yang dikatakan baik apabila mampu membedakan anak yang pandai dan anak yang bodoh.
·         Mencakup ruang lingkup (scope) yang sangat luas dan menyeluruh; Tes yang baik harus memiliki komphrehensi veenes, ini akan menyisihkan siswa yang berspekulasi dalam menempuh tes.
·         Praktis; mencakup:
-  Mudah dipakai/diperiksa
-  Hemat biaya
-  Mudah diadministrasikan
-  Tidak menyulitkan guru dan sekolah.

iv.            Jenis-Jenis Tes atau Teknik Evaluasi
Teknik evaluasi ialah cara yang digunakan oleh evaluator (pihak yang mengadakan evaluasi) untuk melakukan evaluasi dengan menggunakan alat evaluasi atau instrumen evaluasi. Menurut Dr. Nana Sudjana dalam bukunya yang berjudul “Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar”, dari segi alatnya, penilaian hasil belajar dapat dibedakan menjadi tes dan bukan tes (nontes). Berikut jenis-jenis tes sebagai alat penilaian, termasuk bukan tes (nontes):


1)      Tes
a)      Tes tulisan (written tes), yaitu test yang mengajukan butir-butir pertanyaan dengan mengharapkan jawaban tertulis. Biasanya test ini digunakan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik. Tes tulisan terbagi:
·         Tes Uraian
a.       Uraian bebas (free essay). Dalam uraian bebas jawaban siswa tidak dibatasi, bergantung pada pandangan siswa itu sendiri. Contoh: Jelaskan penyebab pertumbuhan penduduk!
b.      Uraian terbatas. Dalam bentuk ini, pertanyaan telah diarahkan kepada hal-hal tertentu atau ada pembatasan tertentu. Pembatasan bisa dari segi ruang lingkupnya, sudut pandang menjawabnya, indicator-indikatornya. Contoh: Jelaskan tiga faktor penyebab pertumbuhan penduduk!
c.       Uraian berstruktur merupakan serangkaian soal jawaban singkat sekalipun bersifat terbuka dan bebas menjawabnya.
Kelebihan atau keuntungan tes uraian ialah:
Ø  Dapat mengukur proses mental yang tinggi atau aspek kognitif tingkat tinggi
Ø  Dapat mengembangkan kemampuan berbahasa
Ø  Dapat melatih kemampuan berpikir teratur atau penalaran, yakni berpikir logis, analitis, dan sistematis.
Ø  Mengembangkan ketrampilan pemecahan masalah
Ø  Adanya keuntungan teknis seperti mudah membuat soalnya sehingga tanpa memakan waktu lama.
Kelemahan atau kekurangan tes uraian ialah:
Ø  Sampel tes sangat terbatas sebab dengan tes ini tidak mungkin dapat menguji semua bahan yang telah diberikan.
Ø  Sifatnya sangat subjektif, baik dalam menanyakan, dalam membuat pertanyaan maupun dengan cara memeriksanya.
Ø  Tes ini biasanya kurang reliable, mengungkap aspek yang terbatas, pemeriksaannya memerlukan waktu lama.

·         Tes Objektif
a.       Bentuk soal jawaban singkat
Merupakan soal yang menghendaki jawaban dalam bentuk kata, bilangan, kalimat atau simbol dan jawabannya hanya dapat dinilai benar atau salah. Contoh: Sikap untuk memperoleh keuntungan semaksimal mungkin dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya disebut prinsip……………………………..
Kebaikan bentuk soal jawaban singkat:
Ø  Menyusun soalnya relative mudah.
Ø  Kecil kemungkinan siswa memberi jawaban dengan cara menebak.
Ø  Menuntut siswa untuk dapat menjawab dengan singkat dan tepat.
Ø  Hasil penilaiannya cukup objektif.
Kelemahan bentuk soal jawaban singkat:
Ø  Kurang dapat mengukur aspek pengetahuan yang lebih tinggi.
Ø  Memerlukan waktu yang agak lama untuk menilainya meskipun tidak selama bentuk uraian.
Ø  Menyulitkan pemeriksaan apabila jawaban siswa membingungkan pemeriksa.
b.      Bentuk soal benar salah
adalah bentuk tes yang soal-soalnya berupa pernyataan benar dan pernyataan salah. Siswa disuruh memilih apakah pernyataan tersebut benar atau salah sesuai pengetahuan yang dimilikinya.
Kebaikan bentuk soal benar salah:
Ø  Pemeriksaan dapat dilakukan dengan cepat dan objektif.
Ø  Soal dapat disusun dengan mudah.
Kelemahan bentuk soal benar salah:
Ø  Kemungkinan menebak dengan benar jawaban setiap soal adalah 50%.
Ø  Kurang dapat mengukur aspek pengetahuan yang lebih tinggi karena hanya menuntut daya ingat dan pengenalan kembali.
Ø  Banyak masalah yang tidak dapat dinyatakan hanya dengan dua kemungkinan benar dan salah.
c.       Bentuk soal menjodohkan
Bentuk soal yang terdiri atas dua kelompok pernyataan. Biasanya kelompok sebelah kiri merupakan bagian yang berisi soal-soal yang harus dicari jawabannya. Dan kelompok sebelah kanan adalah jawaban dari soal-soal di sebelah kiri sehingga siswa harus mencocokkan soal dengan jawaban yang tersedia.
Kebaikan bentuk soal menjodohkan:
Ø  Penilaiannya dapat dilakukan dengan cepat dan objektif.
Ø  Tepat digunakan untuk mengukur kemampuan bagaimana mengidentifikasi antara dua hal yang berhubungan.
Ø  Dapat mengukur ruang lingkup pokok bahasan atau subpokok bahasan yang lebih luas.
Kelemahan bentuk soal menjodohkan:
Ø  Hanya dapat mengukur hal-hal yang didasarkan atas fakta dan hafalan.
Ø  Sukar untuk menentukan materi atau pokok bahasan yang mengukur hal-hal yang berhubungan.
d.      Bentuk soal pilihan ganda
Adalah bentuk tes yang mempunyai satu jawaban yang benar atau paling tepat di antara empat atau lima jawaban yang biasanya tersedia. Dan siswa bisa langsung memberi tanda silang (X) pada jawaban a, b, c, atau d yang paling benar.
Kebaikan bentuk soal pilihan ganda:
Ø  Materi yang diujikan dapat mencakup sebagian besar dari bahan pengajaran yang telah diberikan.
Ø  Jawaban siswa dapat dikoreksi dengan mudah dan cepat dengan menggunakan kunci jawaban.
Ø  Jawaban untuk setiap pertanyaan sudah pasti benar atau salah sehingga penilaiannya bersifat objektif.

Kelemahan bentuk soal pilihan ganda:
Ø  Kemungkinan untuk melakukan tebakan jawaban masih cukup besar.
Ø  Proses berpikir siswa tidak dapat dilihat dengan nyata.
b)      Tes lisan (oral test), yaitu tes yang mengajukan pertanyan-pertanyaan dengan menghendaki jawaban secara lisan. Test ini juga dilakukan untuk aspek kognitif peserta didik. Tes lisan terbagi dapat dilakukan secara:
a.       Tes individual
b.      Tes kelompok
c)      Tes perbuatan (performance test), yaitu tes yang mengajukan pertanyan-pertanyaan dengan menghendaki jawaban dalam bentuk perbuatan. Test ini digunakan untuk menilai aspek psikomotor/keterampilan peserta didik. Tes perbuatan juga dapat bersifat:
a.       Tes individual
b.      Tes kelompok
Berikut jenis-jenis tes sebagai alat penilaian dalam bentuk bagan:
 
















2)      Non Tes
Sedangkan bukan tes sebagai alat penilaian mencakup observasi, kuesioner, skala, sosiometri, studi kasus, dan lain-lain.
a.       Pengamatan atau observasi, adalah suatu teknik yang dilakuakn dengan mengamati dan mencatat secara sistematik apa yang tampak dan terlihat sebenarnya. Pengamatan atau observasi terdiri dari 3 macam yaitu : (1) observasi langsung, di mana pengamat mengamti langsung gejala atau proses yang terjadi sebenarnya. (2) observasi tidak langsung, dilaksanakan dengan menggunakan alat. (3) observasi partisipasi, di mana pengamat harus melibatkan diri atau ikut serta dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh individu atau kelompok yang diamati.
b.      Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang terbagi dalam beberapa kategori. Dari segi yang memberikan jawaban, kuesioner dibagi menjadi kuesioner langsung dan kuesioner tidak langsung. Kuesioner langsung adalah kuesioner yang dijawab langsung oleh orang yang diminta jawabannya. Sedangkan kuesioner tidak langsung dijawab oleh secara tidak langsung oleh orang yang dekat dan mengetahui si penjawab seperti contoh, apabila yang hendak dimintai jawaban adalah seseorang yang buta huruf maka dapat dibantu oleh anak, tetangga atau anggota keluarganya. Dan bila ditinjau dari segi cara menjawab maka kuesioner terbagi menjadi kuesioner tertutup dan kuesioner terbuka. Kuesioner tertutup adalah daftar pertanyaan yang memiliki dua atau lebih jawaban dan si penjawab hanya memberikan tanda silang (X) atau cek (√) pada awaban yang ia anggap sesuai. Sedangkan kuesioner terbuka adalah daftar pertanyaan dimana si penjawab diperkenankan memberikan jawaban dan pendapatnya secara terperinci sesuai dengan apa yang ia ketahui.
c.       Rating scale atau skala bertingkat menggambarkan suatu nilai dalam bentuk angka. Angka-angak diberikan secara bertingkat dari anggak terendah hingga angkat paling tinggi. Angka-angka tersebut kemudian dapat dipergunakan untuk melakukan perbandingan terhadap angka yang lain. Ada dua bentuk skala bertingkat yaitu:
·         Skala penilaian ialah skala yang mengukur penampilan atau perilaku orang lain oleh seseorang melalui pernyataan perilaku individu pada suatu titik kontinum atau suatu kategori yang bermakna nilai.
·         Skala sikap ialah skala yang digunakan untuk mengukur sikap seseorang terhadap objek tertentu.
d.      Daftar cocok (checklist) adalah sebuah daftar yang berisikan pernyataan beserta dengan kolom pilihan jawaban. Si penjawab diminta untuk memberikan tanda silang (X) atau cek (√) pada awaban yang ia anggap sesuai.
e.       Studi kasus pada dasarnya mempelajari secara intensif seorang individu yang dipandang mengalami suatu kasus tertentu.
f.       Sosiometri merupakan suatu teknik yang dapat mnegetahui posisi seorang siswa dalam hubungan sosilanya dengan siswa lain. Alat yang digunakan ialah sosiogram.
Macam-macam tes menurut klasifikasinya masing-masing berdasarkan sumber yang lain yang juga masih relevan dengan jenis-jenis tes sebagai alat penilaian atau teknik evaluasi:
a)      Menurut fungsinya test terbagi atas:
·         Tes formatif (formative test), yaitu test yang dilaksanakan setelah selesainya satu pokok bahasan. Test ini berfungsi untuk menetukan tuntas tidaknya satu pokok bahasan. Tindak lanjut yang dapat dilakukan setelah diketahui hasil test formatif peserta didik adalah:
a.       Jika materi yang ditestkan itu telah dikuasai, maka pembelajaran dilanjutkan dengan pokok bahasan yang baru.
b.      Jika ada bagian-bagian yang belum dikuasai oleh peserta didik, maka sebelum melanjutkan pokok bahasan yang baru, terlebih dahulu diulangi atau dijelaskan kembali bagian-bagian yang belum di kuasai. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki tingkat penguasaan peserta didik
·         Tes sumatif (summative test), yaitu test yang diberikan setelah sekumpulan satuan program pembelajaran selesai diberikan. Disekolah test ini dikenal sebagai ulangan umum.
·         Test diagnostik (Diagnostic test), yaitu test yang dilakukan untuk menentukan secara tepat, jenis kesulitan yang dihadapi oleh peserta didik dalam suatu mata pelajaran tertentu.
b)      Menurut jenisnya tes terbagi menjadi:
·         Test standar, yaitu test yang sudah dibakukan setelah mengalami beberapa kali uji coba (try out) dan memenuhi syarat test yang baik.
·         Test buatan guru, yaitu test yang dibuat oleh guru.
c)      Menurut jenis waktu yang disediakan test terdiri atas:
·         Power test, yakni test dimana waktu yang disediakan untuk menyelesaikan test tidak dibatasi.
·         Speed test, yaitu test dimana waktu yang disediakan untuk menyelesaikan test dibatasi.
d)     Menurut waktu diberikannya test tergagi atas:
·         Pra test (pre test), yaitu test yang diberikan sebelum proses pembelajaran. Test ini bertujuan untuk mengetahui sejauh manakah materi yang akan diajarkan telah dapat dikuasai oleh peserta didik. Jenis-jenis pra test antara lain:
a.       Test persyaratan (Test of entering behavior), yaitu tes yang dilaksanakan untuk mengetahui kemampuan dasar yang menjadi syarat guna memasuki suatu kegiatan tertentu.
b.      Input test (test of input competence), yaitu test yang digunakan menentukan kegiatan belajar yang relevan, berhubungan dengan kemampuan dasar yang telah dimiliki oleh peserta didik.
·         Test akhir (Post test), yaitu test yang diberikan setelah dilaksanakan proses pembelajaran. Tes tersebut bertujuan untuk mengetahui tingkat kemajuan intelektual (tingkat penguasaan materi) peserta didik. Biasanya test ini berisi pertanyaan yang sama dengan pra test.
e)      Menurut kebutuhannya, macam test antara lain:
·         Psycho test, yaitu test tentang sifat-sifat atau kecenderungan atau hidup kejiwaan seseorang (peserta didik).
·         IQ test, yaitu test kecerdasan. Test ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kecerdasan seseorang (peserta didik).
·         Test kemampuan (aptitude test), yaitu test bakat. Test ini bertujuan untuk mengungkap kemampuan atau bakat khusus yang dimiliki oleh seseorang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komen o yo rek,, *suwun