Kamis, Januari 24, 2013

Tes Kognitif


2.1     PUNYUSUNAN INSTRUMEN TES KOGNITIF
Tes kognitif terdiri dari tes objektif dan tes esai. Baik tes objektif maupun tes esai yang berbentuk tertulis dan bermanfaat untuk mengukur semua tujuan pembelajaran. Kedua bentuk tes tersebut dapat mendorong siswa untuk mempelajari konsep dasar dan untuk mencari solusi permasalahan. Di samping itu, bentuk tes tersebut dapat menghasilkan skor yang nilainya tergantung pada objektivitas dan keterhandalan (reliability) tes tersebut (Gronlund, 1996).
Dalam hubungan dengan satuan pelajaran, ranah kognitif memegang peranan paling utama. Tujuan pengajaran di SD, SMP, dan SMA pada umumnya adalah peningkatan kemampuan siswa dalam aspek kognitif.
Aspek kognitif dibedakan atas enam jenjang menurut taksonomi Bloom (1995) yang diurutkan secara hierarki piramida. Berikut klasifikasi menurut Bloom:
1.    Pengetahuan (Knowledge)
Pengetahuan adalah aspek yang paling dasar dalam taksonomi Bloom, seringkali  disebut aspek ingatan (recall). Dalam jenjang kemampuan ini seseorang dituntut untuk dapat mengenali atau mengetahui adanya konsep, fakta atau istilah-istilah, tanpa harus mengerti atau menggunakannya.
Contoh soal yang mengukur pengetahuan (kemampuan ingatan) adalah sebagai berikut:
1.    Orang pertama yang menemukan telepon adalah.
a.    Bell
b.    Morse
c.    Edison
d.   Marconi
Kunci : a
2.    B-S Prinsip kapilarisasi menjelaskan tentang cairan yang permukaannya lebih tingi dalam pipa saluran yang lebih halus.
Kunci : B
Pengetahuan atau kemampuan mengingat ini dapat dirinci sebagai berikut:
a.    Terminologi
Kemampuan paling besar adalah mengetahui arti tiap kata. Anak selalu bertanya kepada orang tuanya arti kata-kata yang ditemuinya dalam buku atau dalam percakapan dengan teman-temannya.
b.    Fakta-fakta Lepas (Isolated Facts)
Setelah memahami prinsip-prinsip atau konsep-konsep bahasa, anak menanjak pada pengetahuan akan fakta-fakta lepas. Fakta yang dimaksud adalah fakta yang diketahuinya tetap berdiri sendiri tanpa dihubungkan dengan fakta atau gejala lainnya. Misalnya, pengetahuan tentang tanggal dan tempat peristiwa-peristiwa bersejarah, dan nama-nama tokoh.
c.    Cara-cara Mempelajari Fakta
Cara mempelajarinya antara lain dengan jalan mempertimbangkan, mengkritik atau mengorganisasikan fakta-fakta lepas tersebut.
Konvensi
Mempelajari berbagai peraturan, baik peraturan pemerintah, agama, peraturan khusus dalam mansyarakat, maupun peraturan yang dikenal sebagai etik pergaulan
Trend dan urut-urutan perkembangan
Anak dituntut mengetahui proses, arah, serta gerakan fenomena (kejadian) dalam hubungan dengan waktu.
Kriteria
Siswa dapat menyebut standar untuk mengevaluasi atau mengukur sesuatu tanpa sampai pada hasil evaluasi atau pengukuran dengan berpedoman standar tersebut.
Metodologi
Siswa diminta mengetahui macam-macam pendekatan yang dipakai untuk
mempelajari dirinya dan lingkungan hidup.
d.    Universal dan Abstraksi
Pengetahuan akan bagan-bagan dan pola-pola utama yang dipakai untuk mengorganisasikan fenomena-fenomena. Kelompok ini adalah sebagai berikut:
Prinsip-prinsip dan generalisasi
Siswa diharuskan menguasai prinsip-prinsip atau generalisasi tertentu yang berhubungan dengan bahan pengetahuan lain.
Teori
Teori merupakan perumusan-perumusan yang paling abstrak, dan dapat menunjukkan saling berhubungan dan organisasi dari hal-hal yang khusus.
2.    Pemahaman (Comprehension)
Kemampuan pemahaman umumnya mendapat penekanan dalam proses belajar-mengajar. Siswa dituntut memahami atau mengerti apa yang diajarkan, mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan dan dapat memanfaatkan isinya tanpa keharusan menghubungkannya dengan hal-hal lain.
Contoh soal untuk mengukur pemahaman (comprehension) adalah sebagai berikut:
Harga akan naik apabila…
a.    Penawaran tetap, permintaan meningkat
b.    Penawaran meningkat, permintaan tetap
c.    Penawaran dan permintaan tetap
d.   Penawaran dan permintaan meningkat
Kunci : a

3.    Penerapan (Application)
Dalam jenjang kemampuan ini, dituntut kesanggupan ide-ide umum, tata cara, ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, serta teori-teori dalam situasi baru dan konkret. Misalnya mengenai penerapan suatu rumus, suatu contoh soal yang diapakai untuk penerapan rumus, jangan disajikan lagi pada saat tes atau ulangan. Jika hal ini terjadi, maka siswa dapat menjawab hanya berdasarkan ingatan, bukan melalui penerapan kaidah atau rumus tertentu.
Pengkuran kemampuan ini umumnya menggunakan pendekatan pemecahan masalah (problem solving). Melalui pendekatan ini, siswa dihadapkan dengan suatu masalah, baik riil maupun hipotesis. Bentuk soal yang sesuai untuk mengukur aspek penerapan antara lain pilihan ganda dan uraian. 

4.    Analisis (Analysis)
Dalam jenjang kemampuan ini sesorang dituntut untuk dapat menguraikan suatu situasi atau keadaaan tertentu ke dalam unsur-unsur atau komponen komponen pembentukannya.
Kemampuan analisis diklasifikasikan atas 3 kelompok, adalah sebagai berikut:
a.    Analisis unsur
b.    Analisis hubungan
c.    Analisis prinsip-prinsip yang terorganisasi
Contoh soal analisis:
1.    Percobaan manakah berikut ini, yang mendukung pernyataan bahwa sifat cahaya adalah mempunyai panjang gelombang tertentu..
a.    Cahaya dapat dipantulkan oleh suatu cermin
b.    Berkas cahaya akan tersebar bila melalui lubang kecil
c.    Berkas cahaya dapat diuraikan menjadi sejumlah warna cahaya tertentu melalui pembiasan oleh kaca prisma
d.   Cahaya akan difokuskan oleh suatu lensa
Kunci : c
Jawaban atas soal tersebut hanya dapat diperoleh melalui analisis sifat-sifat cahaya yang didukung oleh suatu percobaan.
2.    Hubungan telur dengan hewan sama dengan hubugan biji dengan…
a.    Pohon
b.    Tumbuhan
c.    Buah
d.   Bunga
Kunci : b
Pemecahan soal seperti ini membutuhkan kemampuan analisis relevansi hubungan antara telur dengan hewan untuk menyimpulkan hubungan antara biji dengan tumbuhan.

5.    Sintesis (Synthesis)
Pada jenjang ini, seseorang dituntut untuk dapat menghasilkan sesuatu yang baru dengan jalan menggabungkan berbagai faktor yang ada. Hasil yang diperoleh dari penggabungan ini dapat diperoleh:
a.    Tulisan
Contoh : kekalahan Frank Bruno dari Mike Tyson tanggal 25/26 Februari 1989.
Dari hal-hal yang sifatnya sporadic, tidak sistematis ataupun sistematis, kita coba membuat kesimpulan melalui suatu analisis.
b.    Rencana atau mekanisme
Dengan sintesis dapat pula dibuat suatu rencana atau mekanisme kerja. Semakin baik sintesis itu dibuat, maka akan semakin baik pula rencana atau mekanisme kerja itu.

6.    Penilaian (Evaluation)
Dalam kemampuan ini seseorang dituntut untuk dapat mengevaluasi situasi, keadaan, pernyataan, atau konsep berdasarkan suatu kriteria tertentu.
Kriteria untuk mengevaluasi dapat bersifat intern dan ekstern. Kriteria intern adalah yang berasal dari situasi atau keadaan yang dievaluasi itu sendiri, sedangkan criteria ekstern adalah yang berasal dari luar situasi atau keadaan yang dinilai.
Contoh dalam kemampuan penilaian ini adalah sebagai berikut:
Berikut ini terdapat beberapa tujuan yang harus dicapai aleh mahasiswa D3 Matematika dan Biologi suatu universitas di Indonesia. Tentukan peringkatnya berdasarkan prioritas kepentingannya.
1.    Mahasiswa D3 Biologi dan Matematika dapat mengembangkan keterampilannya dalam hal konstruksi tes.
2.    Mahasiswa D3 Biologi dan Matematika dapat menguasai konsep-konsep statistik.
3.    Mahasiswa D3Biologi dan Matematika dapat memilih bentuk soal yang sesuai untuk mengukur pencapaian TIK.
Urutan ideal : 3,1,2.  
Adapun kata kerja yang digunakan dalam domain kognitif dideskripsikan :
No
Jenis Hasil Belajar
Indikator-indikator
Cara Pengungkapan
1.
Pengetahuan
Dapat menyebutkan/ menunjukkan lagi.
Pertanyaan/tugas/tes
2.
Pemahaman
Dapat menjelaskan/ mendefinisikan.
Pertanyaan/soal/tugas
3.
Penerapan
Dapat memberi contoh/ memecahkan masalah.
Tugas/persoalan/tes
4.
Analisis
Dapat menguraikan/ mengklasifikasikan
Tugas/menganalisis masalah
5.
Sintesis
Dapat menyimpulkan kembali, menggeneralisasikan
Tugas/persoalan
Keenam jenis perilaku ini bersifat runtut. Sebagai contoh, pengetahuan termasuk perilaku yang paling rendah, sedangkan evaluasi tergolong perilaku tertinggi. Perlu Anda ketahui bahwa perilaku yang gradasinya paling tinggi . menurut Bloom selalu diawali dari yang terendah lebih dahulu baru ke yang lebih tinggi.
Langkah-langkah Penyusunan Tes Kognitif
1.             Menentukan Standar Kompetensi
Standar kompetensi (SK) merupakan kemampuan dasar yang merujuk kepada klasifikasi kemampuan minimal peserta didik pada aspek-aspek kemampuan dalam pengetahuan, afektif dan keterampilan dari suatu program pendidikan tertentu, sebagaimana terdapat dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Bentuk rumusan SK dengan ketentuan sebagai berikut:
-          Komprehensif dengan cakupan yang luas
-          Menggunakan kata kerja dan objek/materi
-          Mencakup aspek-aspek kognitif, afektif atau psikomotor,
-          Menunjang tercapainya kompetensi yang harus dimiliki siswa.
2.             Menentukan Kompetensi Dasar
Kompetensi dasar (KD) adalah kualifikasi atau kemampuan dasar yang dimiliki oleh seorang siswa sesuai dengan ketentuan yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan setelah mengikuti kesatuan materi ajar. Kompetensi dasar merupakan penjabaran dari standar kompetensi, berisikan deskripsi dari isi tujuan yang terkandung di dalamnya dan sebagai acuan pencapaian tujuan kegiatan pembelajaran dari program tertentu.
3.             Menentukan Indikator-indikator sesuai SK dan KD
Indikator merupakan penjabaran dari kompetensi dasar (tujuan pembelajaran secara operasional dan spesifik) berkaitan dengan topik pembahasan (materi) dari suatu program pembelajaran tertentu. Indikator pencapaian KD adalah ciri-ciri khusus atau hal-hal yang spesifik dari kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran yang terjadi di sekolah.
4.             Membuat Tabel Spesifikasi Tes (Kisi-kisi) Pada Domaian Kognitif
Sebelum pembuat tes menuliskan butir soal, terlebih dahulu disusun tabel spesifikasi atau kisi-kisi. Kisi-kisi adalah rancangan yang berisikan tujuan-tujuan khusus atau indikaor-indikator dan perilaku-perilaku khusus yang dijadikan dasar penyususnan butir tes dalam suatu perangkat alat ukur. Tujan penyusunan kisi-kisi ini adalah sebagai petunjuk atau panduan yang efektif dalam merumuskanbutir tes stepat mungkin dengan ruang lingkup setiap aspek dan masing-masing bagian.
5.             Membuat Butir Tes  sesuai Dimensi dan Indikator
6.             Melakukan Uji Coba Butir Tes
7.             Menguji Persyaratan Tes dan Analisis Butir
Untuk keperluan tindak lanjut pembelajaran, hasil pengukuran harus dianalisis (sistem pengujian berkelanjutan). Analisis dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan dasar  (artinya juga: indikator) mana saja yang sudah dikuasai siswa dan mana yang belum. Berdasarkan hasil telaah itu dapat ditentukan tindak lanjut yang perlu diambil: perlu program remidial, penguatan/pengayaan, atau yang lain (akselerasi). Sebuah indikator dan KD dinyatakan dikuasai oleh siswa jika tingkat penguasaannya minimal 75%.
8.             Menentukan Skor untuk Tiap Butir
9.             Mengolah Skor Tes dengan Menggunakan Interpretasi Norma atau Patokan dalam menentukan Nilai Peserta Didik.
Pengembangan Instrumen Kognitif Mencakup Tes Objektif, Tes Nonobjektif, Tes Unjuk Kerja, dan Portofolio.
Ø   Tes objektif
Ø Pilihan ganda
Pedoman utama dalam pembuatan soal bentuk pilihan ganda adalah:
-       pokok soal harus jelas
-       pilihan jawaban homogen dalam arti isi
-       panjang kalimat pilihan jawaban relatif sama
-       tidak ada petunjuk jawaban benar
-       menghindari penggunaan pilihan jawaban: semua benar atau semua salah
-       pilihan jawaban angka diurutkan
-       semua pilihan jawaban logis
-       tidak menggunakan bentuk negatif ganda
-       kalimat yang digunakan sesuai dengan tingkat perkembangan peserta tes
-       menggunakan bahasa Indonesia yang baku
-       letak pilihan jawaban benar ditentukan secara acak
Ø Uraian objektif
Bentuk soal uraian objektif sangat tepat digunakan untuk bidang Matematika dan IPA, karena kunci jawabannya hanya satu. Pengerjaan soal ini melalui suatu prosedur atau langkah-langkah tertentu. Setiap langkah ada skornya. Objektif di sini dalam arti apabila pekerjaan tes diperikasa oleh beberapa guru dalam bidang studi tersebut hasil penyekorannya akan sama. Pertanyaan pada bentuk soal ini di antaranya adalah: hitunglah, tafsirkan, buat simpulan dan sebagainya.
Ø Menjodohkan
Soal bentuk menjodohkan terdiri atas suatu premis, suatu daftar kemungkinan jawaban dan suatu petunjuk untuk menjodohkan. Masing-masing premis itu dengan satu kemungkinan jawaban. Biasanya nama, tanggal/tahun, istilah, frase, pernyataan, bagian dari diagram, dan yang sejenis digunakan sebagai premis. Hal-hal yang sama dapat pula digunakan sebagai alternatif jawaban. Kaidah pokok penulisan soal jenis ini adalah sebagai berikut:
-       soal harus sesuai dengan indicator
-       jumlah alternatif jawaban lebih banyak daripada premis
-       alternatif jawaban harus “nyambung” atau berhubungan secara logis dengan  premisnya
-       rumusan kalimat soal harus komunikatif
-       menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
Ø Jawab singkat
Bentuk jawab singkat ditandai dengan adanya tempat kosong yang disediakan bagi peserta tes untuk menuliskan jawabannya sesuai dengan petunjuk. Ada 3 jenis soal bentuk ini yaitu: jenis pertanyaan, melengkapi, dan jenis identifikasi atau asosiasi. Kaidah utama penyusunan soal bentuk jawab singkat ini sebagai berikut:
-       soal harus sesuai dengan indicator
-       jawaban yang benar hanya satu
-       rumusan kalimat harus komunikatif
-       menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar

Ø   Tes non objektif: uraian non objektif
Tes ini dikatakan nonobjektif karena penilaian dipengaruhi oleh subjektivitas penilai. Peserta tes dituntut untuk menyampaikan, memilih, menyusun, dan memadukan gagasan yang telah dimiliki dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Keunggulan tes ini mudah dibuat, dan  dapat mengukur tingkat berpikir dari tingkat rendah sampai tinggi, dari pengetahuan hafalan sampai evaluasi. Meskipun perlu dihindari pertanyaan yang mengungkap hafalan yang menggunakan pertanyaan: apa, siapa, di mana.
Kelemahan bentuk tes uraian nonobjektif adalah:
·      Penyekoran dipengaruhi oleh subjektivitas penilai
·      Pemeriksaan lembar jawaban memerlukan waktu yang lama
·      Cakupan materi yang diujikan sangat terbatas
·      Ada efek bluffing (gertakan!?)
Untuk mengatasi kelemahan ini maka perlu diusahakan:
-       Jawaban tiap soal tidak panjang, sehingga dapat mencakup materi yang lebih  banyak.
-       Waktu pemeriksaan tidak melihat nama peserta didik
-       Memeriksa tiap butir secara keseluruhan tanpa istirahat.
-       Menyiapkan pedoman penyekoran.
Adapun langkah-langkah menyusun tes nonobjektif adalah:
a)             Menulis soal berdasarkan kisi-kisi pada indicator
b)             Mengedit pertanyaan:
§  Apakah pertanyaan  mudah dimengerti?
§  Data yang digunakan benar?
§  Tata letak secara keseluruhan baik?
§  Pemberian bobot skor sudah baik/tepat?
§  Kunci jawaban sudah benar?
§  Waktu untuk mengerjakan tes cukup?
Kaidah penulisan tes nonobjektif adalah sebagai berikut:
a)             Menggunakan kata-kata: mengapa, uraikan, jelaskan, bandingkan, tafsirkan, hitunglah, buktikan.
b)             Menghindari kata: apa, siapa, bila.
c)             Menggunakan bahasa Indonesia yang baku
d)            Menghindari penggunaan kata-kata yang dapat ditafsirkan ganda
e)             Membuat petunjuk pengerjaan soal yang jelas
f)              Membuat kunci jawaban
g)             Membuat pedoman penyekoran.
Penyekoran bentuk tes ini dapat dilakukan secara analitik dan global. Analitik  berarti penyekoran dilakukan secara bertahap sesuai kunci jawaban. Global  artinya dibaca secara keseluruhan untuk mengetahui ide pokok dari jawaban soal,  baru diberi skor.
Ø   Tes unjuk kerja
Penilaian unjuk kerja sering disebut dengan penilaian autentik atau penilaian alternatif. Tes unjuk kerja bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan  masalah-masalah kehidupan nyata. Penilaian unjuk kerja berdasarkan analisis pekerjaan. Hasilnya dapat digunakan untuk perbaikan proses pembelajaran sehingga peserta didik mencapai tingkat kemampuan yang diinginkan.  Tes unjuk kerja banyak digunakan pada mata pelajaran yang ada prakteknya.
Bentuk tes ini digunakan untuk mengukur status  peserta didik berdasarkan hasil kerja  dari suatu tugas. Pertanyaan pada tes unjuk kerja berdasarkan pada tuntutan masyarakat atau lembaga lain yang terkait dengan pengetahuan yang harus dimiliki peserta didik. Jadi pertanyaannya  cenderung pada tingkat aplikasi suatu prinsip atau konsep pada situasi yang baru. Walaupun uraian namun batasnya harus jelas, dan ditentukan berdasarkan tuntutan kebutuhan masyarakat.
Permasalahan yang diujikan sedapat-dapatnya sama dengan masalah yang ada dalam masyarakat atau dalam kehidupan nyata. Dan inilah yang menjadi ciri utama perbedaan antara tes unjuk kerja dengan bentuk yang tradisional.
Ø   Portofolio
Portofolio adalah kumpulan tugas-tugas peserta dididk. Portofolio merupakan salah satu bentuk penilaian autentik, yaitu menilai keadaan yang sesungguhnya dari peserta didik. Portofolio cocok digunakan untuk penilaian di kelas  tetapi tidak cocok untuk penilaian dalam skala yang luas. Hal yang penting pada penilaian portofolio adalah: mampu mengukur kemampuan membaca dan menulis yang lebih luas, peserta didik mampu menilai kemajuannya sendiri, mewakili sejumlah karya  seseorang.
Penilaian portofolio pada dasarnya adalah menilai karya-karya individu untuk suatu mata pelajaran tertentu. Semua tugas yang dikerjakan peserta didik dikumpulkan pada akhir suatu program pembelajaran misalnya satu semester, kemudian diadakan diskusi antara peserta didik dan guru untuk menentukan skornya. Prinsip penilaian portofolio adalah peserta didik dapat melakukan penilaian sendiri kemudian hasilnya dibahas. Bentuk ujian cenderung uraian dan tugas-tugas  rumah. Karya yang dinilai meliputi  hasil ujian, tugas mengarang atau mengerjakan soal.
Penilaian dengan portofolio mempunyai karakteristik tertentu sehingga penggunaannya harus sesuai dengan tujuan dan substansi yang diukur. Mata pelajaran yang memiliki banyak tugas dan jumlah peserta didik sedikit, penilaian dengan cara portofolio lebih cocok.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan penilaian portofolio adalah:
  1. Memastikan karya yang dikumpulkan benar-benar karya yang bersangkutan
  2. Menentukan contoh pekerjaan yang harus dikumpulkan
  3. Mengumpulkan dan menyimpan hasil karya
  4. Menentukan kriteria untuk menilai portofolio
  5. Meminta peserta didik untuk menilai terus-menerus hasil portofolionya
  6. Merencanakan pertemuan dengan peserta didik yang dinilai
  7. Mengusahakan dapat melibatkan orangtua dalam menilai portofolio.

1 komentar:

komen o yo rek,, *suwun