Jumat, Mei 17, 2013

Rangkuman Akuntansi Part 2


KERANGKA KONSEPTUAL AKUNTANSI KEUANGAN

           

      A.    Pengertian dan Manfaat Kerangka Dasar
1.      Kerangka dasar akuntansi keuangan atau kerangka konseptual akuntansi keuangan: kumpulan dari konsep-konsep dasar yang melandasi penyusunan dan penyejian laporan keuangan.
2.      Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI),  Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan: konsep-konsep pemikiran yang mendasari penyusunan dan penyajian laporan keuangan bagi pemakai eksternal.
3.      Manfaat Kerangka Dasar:
a.       Memberikan definisi yang luas mengenai tujuan, istilah serta konsep-konsep yang terdapat dalam praktik penyusunan dan penyajian laporan keuangan saat ini.
b.      Pengembangan standar baru dan peninjauan atas standar yang pernah ada karena lingkungan usaha yang selalu berkembang seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi.
c.       Untuk memilih metode yang paling tepat untuk pelaporan aktivitas perusahaan karena standar penyusunan menyediakan lebih dari satu pilihan pelaporan untuk transaksi tertentu.
4.      Pihak yang menggunakan kerangka dasar penyusunan dan penyajian:
a.       Komite penyusun standar akuntansi keuangan dan pelaksanaan tugasnya.
b.      Penyusun laporan keuangan untuk menanggulangi masalah akuntansi yang belum diatur dalam standar akuntansi keuangan
c.       Auditor dalam memberikan pendapat mengenai apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
d.      Para pemakai laporan keuangan dalam menafsirkan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan yang disusun sesuai dengan standar akuntansi keuangan.

     B.     Tujuan Laporan Keuangan
Penetapan tujuan laporan keuangan meliputi siapa pemakai laporan keuangan dan kebutuhan informasi yang diperlukan baik jenis maupun banyaknya. Laporan keuangan bertujuan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan pemakainya.
1.      Tujuan laporan keuangan menurut FASB adalah untuk menyediakan informasi bagi:
a.       Mereka yang memiliki pemahaman memadai tentang aktivitas bisnis dan ekonomi untuk membuat keputusan investasi, serta kredit
b.      Investor yang ada dan yang potensial, kreditur yang ada dan yang potensial serta pemakai lainnya dalam menilai jumlah, waktu dan ketidakpastian arus kas masa depan
c.       Yang menunjukkan tentang sumber daya ekonomi, klaim terhadap sumber daya tersebut dan perubahan didalamnya.
2.      Tujuan pelaporan keuangan menurut IAI yang tercantum dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajuan Laporan Keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.

     C.    Kualitas Informasi Keuangan
1.      Kualitas Primer
a.      Relevansi: Informsai yang disajikan harus relevan dengan kebutuhan pemakai dalam pengambilan keputusan. Agar relevan informasi harus memiliki nilai prediktif atau nilai umpan balik dan harus disajikan tepat waktu.
b.      Reliabilitas: informasi dianggap handal jika dapat diverifikasi (daya uji), ketepatan penyajian dan netral.
2.      Kualitas Sekunder
a.         Dapat diperbandingkan/ komparabilitas: Informasi yang disajikan harus dapat diperbandingkan oleh pemakai dari waktu ke waktu sehingga dapat diketahui kecenderungan posisi dan kinerja keuangan. Pemakai dapat membandingkan dengan informasi tsb dengan perusahaan lain yang sejenis.
b.         Konsisten: Informasi akuntansi yang disajikan harus menggunakan perlakuan akuntansi yang sama untuk transaksi yang sejenis.

    D.    Konsep Pengakuan dan Pengukuran
1.      Asumsi-asumsi:
a.      Asumsi Entitas Ekonomi(economic entity): perusahaan dipandang sebagai sebuah unit yang berdiri sendiri terpisah dari pemiliknya dan dari kesatuan usaha lainnya dimana akuntansi itu berada.
b.      Asumsi Kelangsungan Hidup (going concern): perusahaan akan memiliki umur yang panjang atau tidak akan dilikuidasi di masa yang akan datang untuk memenuhi tujuan dan komitmen meskipun pada kenyataannya umur perusahaan tidaklah pasti.
c.       Asumsi Unit Moneter (monetery unit/ unit of measure): setiap transaksi yang etrjadi akan dicatat dengan menggunakan satuan uang (unit moneter) meskipun dapat dicatat dengan satuan ukuran yang lain.
d.      Asumsi Periodisitas (periodicity): laporan keuangan harus disusun dan disajikan secara periodik.
2.      Prinsip-prinsip:
a.      Prinsip Biaya Historis/ harga akuisisi
b.      Prinsip Pengakuan Pendapatan: pendapatan harus diakui ketika pendapatan itu direalisasi/ dapat direalisasi dan dihasilkan. Tetapi keadaan mengharuskan metode persentasi-penyelesaian, metode akhir-produksi, atau pendekatan penerimaan kas.
c.       Prinsip Penandingan: beban diakui ketika pekerjaan (jasa) atau produk secara aktual memberikan kontribuasi terhadap pendapatan. Setiap pendapatan yang diperoleh maka terdapat pula beban yang harus dikeluarkan oleh perusahaan demi memperoleh pendapatan tersebut.Biaya produk (bahan baku, tenaga kerja dan overhead) diakui saat periode diterimanya pendapatan sedangkan biaya periode (gaji dan by.adm) dibebankan pada saat terjadinya.
d.      Pengungkapan penuh: informasi akuntansi yang disajikan harus cukup memadai bagi pembaca laporan keuangan untuk melakukan pengambilan keputusan.
3.      Kendala-kendala kualitas informasi akuntansi:
a.       Keefktifan biaya: biaya-manfaat tidak selalu mudah dan jelas untuk diukur, hubungan manfaat dan biaya harus selalu dipertimbangkan setiap kali memilih berbagai alternatif pelaporan.
b.      Materialitas: standar yang rasional dan dapat diterima harus dipakai jika jumlah yang terlibat adalah signifikan bila dibandingkan dengan pendapatan dan beban lain, aktiva serta kewajiban lain atau laba bersih perusahaan.
c.       Praktek Industri: mengikuti praktek industri yang terkadang memerlukan penyimpangan dari teori dasar.
d.      Konservatisme: jika ragu, maka pilihlah solusi yang kecil kemungkinannya akan menghasilkan angka laba bersih dan aktiva bersih yang terlalu tinggi

     E.     Pengakuan dan Pengukuran Unsur Laporan Keuangan
Pengakuan (recognition): proses pembentukan suatu pos yang memenuhi definisi unsur serta kriteria pengakuan yang dikemukakan dalam definisi unsur laporan keuangan baik dalam nerca atau laporan laba rugi.
Pengukuran (measurement): proses penetapan jumlah uang untuk mengakui dan memasukkan setiap unsur laporan keuangan dalam neraca dan laporan laba rugi.
1.      Pengukuran Unsur Laporan Keuangan
a.      Biaya Historis/ biaya perolehan: aset dicatat sebesar pengeluaran kas atau setara kas yang dibayar atau niali wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh aset tersebut pada saat perolehan. Sedangkan kewajiban dicatat sebesar jumlah yang diterima sebagai penukar dari kewajiban (obligation) atau dalam keadaan tertentu dalam jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan untuk memenuhi kewajiban dalam pelaksanaa usaha normal. Contoh: misalnya PT. Cendekia Jaya membeli mesin seharga Rp 25.000.000,00 dengan biaya pemasangan Rp 2.000.000,00. Maka mesin tersbut akan dicatat sebesar biaya perolehan yang dikeluarkan pada saat dibayar yaitu Rp 27.000.000,00.
b.      Biaya Kini (Current Cost):aset dinilai dalam jumlah kas atau setara kas apabila aset atau setara aset diperoleh sekarang. Sedangkan kewajiban dinyatakan dalam jumlah kas atau setara kas yang tidak didiskontokan yang mungkin akan diperlukan untuk mnyelesaikan kewajiban sekarang. Contoh: perusahaan jaya memiliki kendaraan yang diperoleh tahun 2005 dengan harga Rp 150 jt. Berapa nilai mobil tersebut jika perusahaan akan mencantumkan ke dalam laporan keuangan pada tahun 2012? Jika menggunakan dasar biaya historis akan dilaporkan sebesar Rp 150 jt, tetapi jika menggunakan biaya kini, nilai mobil yang dicantumkan dalam laporan keuangan adalah sebesar kas yang seharusnya dikeluarkan saat ini untuk mendapatkan mobil yang sama kondisinya misalnya 105 jt maka nilai mobilnya dicatat 105 jt yang mencerminkan biaya kini.
c.       Nilai Realisasi/ penyelesaian (relizable/settlement value): aset dinyatakan dalam jumlah kas yang dapat diperoleh sekarang dengan menjual aset dalam pelepasan normal. Sedangkan kewajiban dinyatakan sebesar nilai penyelesaian yaitu jumlah kas yang tidak didikontokan yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal. Contoh: perusahaan Citra mempunyai utang kepada pemasoknya yang akan jatuh tempo 3 bulan lagi sebesar Rp 250.000,00 maka utang tersebut akan dicatat sebesar jumlah kas yang tidak didiskontokan yang diharapkan akan dibayarkan oleh perusahaan 3 bulan yang akan datang untuk menyelesaiakan utangnya yaitu Rp 250.000,00.
d.      Nilai Sekarang (Present Value):aset dinyatakan sebesar arus kas bersih di masa depan yang didikontokan ke nilai sekarang dari pos yang diharapkan dapat memberikan hasil dalam pelaksanaan usaha normal. Sedangkan kewajiban dinyatakan sebesar arus kas keluaar bersih masa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang yang diharapkan akan diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal. Contoh: perusahaan Indah Sari menerbitkan obligasi dengan nilai nominal Rp 1.000.000,00 yang jatuh tempo 5 tahun lagi utang obligasi ini akan dicatat sebesar nilai sekarang dari pembayaran bunga dan pokok, misalnya setelah dilakukan perhitungan nilainya menjadi Rp 1.100.000,00. Maka utang obligasi ini dicatat sebesar Rp 1.100.000,00.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komen o yo rek,, *suwun