Sabtu, Agustus 24, 2013

pengembangan bahan ajar akuntansi berbasis collaborative learning



BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
            Perkembangan kehidupan dan ilmu pengetahuan di abad 21 yang begitu cepat mengakibatkan perubahan-perubahan pada berbagai bidang kehidupan. Dalam bidang pendidikan, pemerintah berupaya menyikapi perubahan itu dengan mengembangkan kurikulum 2013. Diharapkan dengan adanya pengembangan kurikulum tersebut dapat mencetak generasi yang siap dalam menghadapi perubahan di masa depan.
 “Tema pengembangan kurikulum 2013 adalah dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi” (kemdiknas, 2012). Dalam website kemdiknas juga disebutkan bahwa pengembangan kurikulum tersebut perlu mengedepankan pengalaman personal melalui proses mengamati, menanya, menalar, dan mencoba untuk meningkatkan kreativitas peserta didik. Di samping itu, perlu juga dibiasakan bagi peserta didik untuk bekerja dalam jejaringan melalui collaborative learning (kemdiknas, 2012).
            Collaborative Learning merupakan pembelajaran dimana peserta didik dibiasakan bekerja sama untuk menyelesaikan masalah yang ada dalam pembelajaran. Lakey (2010:14) mengungkapkan hal yang menarik sebagai berikut.
I assume that to learn, people need to risk: to revise their conceptual framework, try a new skill, unlearn an old prejudice, admit there’s something they don’t know.  To risk, people need safety. To be safe, they need a group and/or a teacher that supports them.

Jadi dengan adanya belajar secara kolaboratif, individu dalam kelompok dapat saling membantu untuk merevisi konsep mereka yang salah, menciptakan kreativitas baru, melupakan nilai lama yang sudah diperbaharui, dan menambah wawasan tentang suatu hal yang belum diketahui.
Manifestasi collaborative learning ini dapat diwujudkan dalam suatu bahan ajar yang digunakan sebagai pegangan dalam proses pembelajaran. Sehingga dalam bahan ajar tersebut berisi tentang kegiatan-kegiatan pembelajaran yang bersifat kolaboratif. Buku teks, modul dan lembar kerja siswa adalah bahan ajar yang banyak digunakan sekarang ini. Namun bahan ajar yang digunakan tersebut hanya memuat materi bahasan dan latihan soal, sehingga siswa kurang dapat mengembangkan kreativitasnya. Sedangkan bahan ajar yang diharapkan sekarang ini adalah buku yang tidak hanya memuat materi dan latihan soal saja, tetapi juga memuat sistem penilaian dan kompetensi yang ingin dicapai serta berisi proses atau kegiatan-kegiatan dalam pembelajaran.
            Dalam minat IPS di Sekolah Menengah Atas (SMA) terdapat mata pelajaran ekonomi yang memuat materi akuntansi. Materi akuntansi ini masih dipandang materi yang sulit oleh peserta didik. Sehingga bagi siswa yang merasa kesulitan dan tidak mau belajar lebih giat ia akan memilih untuk melakukan hal curang misalnya mencontek (cheating) temannya yang sudah mengerjakan. Selain itu, pola pembelajaran yang banyak dilakukan lebih bersifat individual learning, ini tentunya berbeda dari pandangan kurikulum 2013 yang ingin membiasakan siswa untuk belajar secara kolaboratif. Maka dari itu perlu adanya pengembangan bahan ajar yang memuat proses pembelajaran yang dapat membiasakan peserta didik untuk melakukan collaborative learning.
            Dengan adanya bahan ajar berbasis collaborative learning ini, diharapkan dapat menjadi acuan dalam melakukan kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered learning). Belajar secara kolaboratif dapat membuat siswa saling bekerja sama dengan saling bantu membantu dalam menyelesaikan masalah pembelajaran. Selain itu dengan dibentuk kolaborasi, maka peserta didik yang kurang berminat belajar maka secara otomatis akan lebih termotivasi oleh teman satu kelompoknya yang rajin. Dan jika dibentuk kelompok maka ide akan lebih berkembang, dimana setiap peserta didik dalam kelompok pasti memiliki ide masing-masing, jika ide tersebut dipilah dan disatukan tentunya produktivitas dan kreativitas kelompok akan tinggi. Dengan dibentuk kelompok, mereka juga bisa berlatih untuk bekerjasama dan saling menghargai pendapat dalam kelompok. Dengan melakukan hal tersebut maka akan terwujud pembelajaran aktif yang terpusat pada siswa, sehingga guru hanya menjadi fasilitator dalam pembelajaran.
            IFRS (International Financial Reporting Standards) merupakan seperangkat standar yang disebarluaskan oleh Dewan Standar Akuntansi Internasional (IASB), yaitu suatu badan penentu standar internasional di London (Ankarath et al, 2012:2). IFRS ini digunkan untuk menyusun laporan keuangan yang dapat diterima secara global. Jika suatu negara menerapkan standar tersebut maka sudah barang tentu laporan yang disajikan dapat diterima, diakui dan dimengerti oleh negara diseluruh dunia. Indonesia menerapkan IFRS mulai tahun 2012, sehingga banyak perusahaan yang go public menggunakan standar tersebut. Untuk itu peserta didik yang belajar akuntansi seharusnya belajar materi akuntansi yang bermuatan IFRS. Buku pelajaran untuk tingkat SMA masih banyak materi yang tidak bermuatan IFRS, namun  masih berkiblat pada Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum (GAAP), hal ini tentunya harus diubah agar sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku sekarang.
            Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa ada beberapa hal yang melatarbelakangi pengembangan bahan ajar ini. Yang pertama adalah pembelajaran akuntansi sekarang masih banyak yang bersifat individual learning, hal ini tentunya tidak sesuai dengan perubahan paradigma belajar yang mengharapkan peserta didik melakukan collaborative learning sehingga dapat membentuk pembelajaran yang berpusat pada siswa. Kedua, bahan ajar yang banyak digunakan sekarang hanya berisi materi dan latihan soal, sedangkan seharusnya tidak hanya memuat materi dan latihan soal saja, tetapi juga memuat sistem penilaian dan kompetensi yang ingin dicapai serta berisi proses atau kegiatan-kegiatan dalam pembelajaran. Dan yang ketiga materi akuntansi yang dimuat dalam buku SMA masih berkiblat pada GAAP, seharusnya materi akuntansi yang disajikan harus disesuaikan dengan standar yang berlaku yaitu IFRS.
            Penelitian terdahulu tentang pengembangan bahan ajar ini pernah dilakukan oleh Handayani (2011) dengan judul Pengembangan Bahan Ajar Akuntansi untuk SMK Berbasis Pembelajaran Kontekstual dan Kooperatif. Hasil pengembangan tersebut secara keseluruhan mendapatkan skor 79,8 % dari ahli materi, ahli media dan uji pengguna terbatas. Sehingga disimpulkan bahwa modul akuntansi tersebut layak digunakan sebagai bahan ajar untuk SMK.
            Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh Handayani (2011) dengan penelitian ini adalah ia mengembangkan bahan ajar berupa modul sedangkan pada penelitian ini bahan ajar yang dikembangkan berupa buku ajar. Satuan sekolahnya juga berbeda, di penelitian ini bahan ajar dikembangkan untuk SMA. Selain itu penelitian ini mengacu pada kurikulum terbaru yang mengharapkan pembelajaran dilakukan secara kolaboratif serta materi akuntansi yang dimuat disesuaikan dengan IFRS (International Financial Reporting Standards).
            SMA Negeri 1 Balen adalah salah satu sekolah menengah atas yang ada di kota Bojonegoro, pembelajaran akuntansi di sana masih bersifat individual learning yang menyebabkan siswa kurang aktif dalam belajar. Bahan ajar yang digunakan adalah LKS dan buku pelajaran yang hanya berisi materi dan latihan soal. Untuk itu perlu sekali dikembangkan bahan ajar di sekolah tersebut agar dapat meningkatkan kualitas pembelajaran akuntansi yang dilakukan.
            Dari berbagai hal di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian pengembangan dengan judul “Pengembangan Bahan Ajar Akuntansi Berbasis Collaborative Learning dengan Muatan IFRS di SMA Negeri 1 Balen Bojonegoro.”

B.     Tujuan Penelitian dan Pengembangan
Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah:
1.      Mengembangkan bahan ajar akuntansi SMA berbasis collaborative learning dengan muatan IFRS.
2.      Untuk menguji apakah bahan ajar yang telah dikembangkan tersebut layak untuk digunakan dalam pembelajaran.
C.    Spesifikasi Produk yang Diharapkan
Spesifikasi produk yang diharapkan dari pengembangan ini adalah:
1.      Bahan ajar yang dikembangkan merupakan bahan ajar yang berbasis collaborative learning. Maksudnya dalam bahan ajar ini sebagian besar aktivitas atau kegiatan pembelajarannya dilakukan secara kolaboratif sehingga tercipta kerja sama yang baik antar siswa.
2.      Bahan ajar yang dikembangkan adalah bahan ajar cetak berbentuk buku ajar yang memuat materi dan proses pembelajaran, sistem penilaian serta kompetensi yang diharapkan.
3.      Bahan ajar tersebut berisi materi akuntansi untuk siswa SMA kelas XI IPS, dimana bahan ajar dibuat dengan tampilan lebih atraktif dan memuat kegiatan pembelajaran yang berbasis collaborative learning serta bermuatan IFRS.

D.    Pentingnya Penelitian dan Pengembangan
Pentingnya penelitian dan pengembangan ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagi Siswa
Siswa diharapkan lebih tertarik untuk mempelajari akuntansi, dapat lebih aktif dalam pembelajaran serta untuk melatih mereka bekerjasama dalam kelompok.
2.      Bagi Guru Akuntansi
Guru dapat menggunakan hasil pengembangan ini sebagai alternatif bahan ajar yang menarik untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
3.      Bagi Peneliti
Dapat menambah wawasan dan pengetahuan peneliti tentang bagaimana mengembangkan suatu bahan ajar.
4.      Bagi Peneliti Lain
Peneliti lain dapat menggunakannya sebagai rujukan dalam mengembangkan bahan ajar yang sejenis.

E.     Asumsi dan Keterbatasan Pengembangan
Asumsi yang digunakan peneliti dalam pengembangan ini adalah:
1.      Validator sebagai ahli materi dan pembelajaran akuntansi memiliki pengalaman dan kompeten dalam mengajarkan materi akuntansi.
2.      Validator sebagai ahli desain penyusunan buku ajar memiliki pengalaman dan kompeten dalam bidang media bahan ajar.
3.      Butir-butir penilaian dalam angket validasi menggambarkan penilaian yang menyeluruh (komprehensif).
4.      Validasi yang dilakukan mencerminkan keadaan sebenar-benarnya dan tanpa rekayasa, paksaan atau pengaruh dari siapapun.
Pada pengembangan ini, peneliti hanya membatasi pada:
1.      Materi akuntansi yang dimuat dalam produk pengembangan adalah untuk siswa SMA kelas XI IPS.
2.      Karena bahan ajar akuntansi ini ditujukan untuk siswa SMA, maka muatan IFRS pada bahan ajar yang dikembangkan terbatas pada pemutakhiran istilah akuntansi dan pemasukan beberapa materi IFRS yang sesuai dengan kompetensi akuntansi SMA. Selain itu, transaksi akuntansi yang dibahas adalah transaksi pada perusahaan perseorangan.
3.      Model pengembangan produk yang digunakan adalah model pengembangan
 Borg & Gall yang telah dimodifikasi untuk disesuaikan dengan
 pengembangan yang akan dilakukan.
4.      Mengingat keterbatasan waktu yang dimiliki peneliti, uji validasi yang dilakukan hanya validasi formatif atau validasi logis, yaitu menguji kesesuaian isi bahan ajar yang dikembangkan dengan materi yang tercakup dalam kurikulum dan kemenarikan bahan ajar secara umum. Validitas produk yang dihasilkan terbatas pada uji ahli materi dan pembelajaran akuntansi, uji ahli desain penyusunan buku ajar dan uji coba pengguna terbatas.

F.     Definisi Operasional
            Istilah-istilah yang perlu didefinisikan secara operasional dalam pengembangan ini dapat dijelaskan sebgai berikut:
1.      Pengembangan bahan ajar akuntansi adalah proses pengembangan bahan ajar yang dikhususkan pada mata pelajaran akuntansi dengan menggunakan model pengembangan Borg & Gall yang telah dimodifikasi untuk disesuaikan dengan pengembangan yang akan dilakukan.
2.      Bahan ajar adalah buku ajar yang digunakan oleh guru dan siswa sebagai sarana atau media pembelajaran yang memuat materi dan proses pembelajaran, sistem penilaian serta kompetensi yang diharapkan.
3.      Collaborative Learning adalah pembelajaran dimana peserta didik dibiasakan bekerja sama untuk menyelesaikan masalah yang ada dalam pembelajaran.
4.      Mata Pelajaran Akuntansi adalah mata pelajaran untuk siswa IPS SMA, di mana dalam pengembangan ini hanya dibatasi pada kelas XI.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA


A.    Kurikulum
            Kurikulum berasal dari bahasa latin yaitu curere yang berarti jalur pacu, sehingga sering diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh. Pandangan lama merumuskan bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh murid untuk memperoleh ijazah (Hamalik, 2008:3). Pandangan seperti itu akan membuat pembelajaran berpusat pada guru yang harus memberikan seluruh materi pelajaran agar peserta didik dapat memperoleh ijazah. Sedangkan dalam pandangan baru kurikulum mengarahkan agar pembelajaran lebih berpusat pada siswa, dimana kurikulum bukan hanya terdiri dari mata pelajaran saja tetapi juga kegiatan dan pengalaman pembelajaran yang dilaksanakan.
            Dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa: “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.”
            Untuk meningkatkan dan menyempurnakan penyelenggaraan pendidikan nasional perlu adanya pengembangan kurikulum untuk disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan masyarakat, serta untuk menghadapi tantangan global. Hamalik (2008:183) menyebutkan
pengembangan kurikulum adalah proses perencanaan kurikulum agar menghasilkan rencana kurikulum yang luas dan spesifik. Pemerintah selalu berupaya untuk mengembangkan kurikulum untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Kemdiknas (2012) mengungkapkan tahap perkembangan kurikulum di Indonesia sebagai berikut.


Gambar 2.1  Perkembangan Kurikulum di Indonesia

            Kurikulum yang terbaru adalah kurikulum 2013, pengembangan kurikulum 2013 ini memiliki tema “dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi.” Kurikulum 2013 ini dikembangkan untuk menyesuaikan pada pergesaran paradigma belajar abad 21. Pergeseran paradigma belajar yang berdasarkan ciri abad 21 dan model pembelajaran yang dilakukan dapat dilihat pada skema berikut ini (Kemdiknas, 2012).

Gambar 2.2 Skema Pergeseran paradigma belajar Abad 21
           
            Dengan adanya perubahan tersebut perlu adanya perubahan dalam beberapa elemen diantaranya adalah proses belajar, penilaian hasil belajar dan bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran. Proses pembelajaran lebih diarahkan pada pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered active learning), hal tersebut penting dalam mewujudkan cita-cita untuk menjadikan peserta didik lebih produktif, kreatif, inovatif, dan afektif.
                Proses pembelajaran yang diharapkan dalam kurikulum baru ini perlu mengedepankan pengalaman personal siswa melalui proses mengamati, menanya, menalar, dan mencoba untuk meningkatkan kreativitas mereka. Di samping itu, kurikulum baru ini mengharapkan agar siswa dapat bekerja dalam jejaringan melalui collaborative learning.


B.     Pembelajaran Kolaboratif (Collaborative Learning)
            Kata pembelajaran berasal dari kata instruction yang dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 diartikan sebagai “proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.” Istilah pembelajaran ini banyak dipengaruhi oleh aliran psikologi Kognitif-Wholistik, yang menempatkan siswa sebagai sumber dari kegiatan belajar (Sanjaya, 2008:78). Jadi guru tidak berperan sebagai sumber belajar, tetapi berperan sebagai orang yang membimbing dan memfasilitasi agar siswa mau dan mampu untuk belajar. Siswa tidak ditempatkan sebagai obyek belajar yang diatur oleh seorang guru, melainkan sebagai subyek yang belajar menurut minat, bakat dan kemampuan yang dimilikinya.
            Dalam suatu proses pembelajaran di kelas perlu adanya kegiatan atau interaksi antara guru dengan siswa, serta siswa dengan siswa. Namun saat ini sebagian besar interaksi dalam proses pembelajaran masih terpokok pada siswa dengan guru, interaksi antar siswa kurang dapat terjalin dengan baik saat kegiatan belajar. Padahal dengan adanya interaksi yang baik antar siswa maka mereka dapat saling bekerjasama dalam suatu kelompok untuk menyatukan kreativitas mereka sehingga produktivitas mereka akan lebih meningkat. Selain itu mereka akan lebih inovatif dengan adanya masukan-masukan dari teman kelompoknya. Dengan menjalin komunikasi antar siswa juga akan melatih keterampilan afektif atau sikap mereka dalam berhubungan baik dengan kelompok.
            Lakey (2010:39) mengungkapkan keuntungan dari pembentukan kelompok belajar, yaitu dapat meningkatkan semangat berkelompok sehingga siswa dapat belajar dari siswa lain, dapat meningkatkan rasa keingintahuan, menciptakan kekompakan kelompok, dan membantu menciptakan hubungan antara kelompok dengan konten yang ada dalam kurikulum.
            UTS (University Teaching Services) dari University of Manitoba menyusun sebuah artikel tentang Collaborative Learning Activities, di situ disebutkan bahwa karakteristik dari belajar secara kolaboratif adalah kegiatan belajar yang dapat membentuk ketergantungan positif antar anggota kelompok, pembelajaran kolaboratif memelihara tanggung jawab individu dalam keompok, dan aktivitas belajar didesain untuk meningkatkan kemampuan bekerjasama.
            Pembelajaran kolaboratif hampir sama dengan pembelajaran kooperatif (cooperative learning), sehingga banyak pihak yang menyamakan pengertian istilah tersebut. Namun ada juga yang membedakan antar keduanya. Panitz (1996) menyimpulkan pengertian dari keduanya, yaitu:
“Collaboration is a philosophy of interaction and personal lifestyle where individuals are responsible for their actions, including learning and respect the abilities and contributions of their peers. Cooperation is a structure of interaction designed to facilitate the accomplishment of a specific end product or goal through people working together in groups.”

            Rockwood  (1995) menggambarkan kedua konsep atau pendekatan ini secara lebih praktis. Kedua konsep sama yang menegaskan pada pendekatan pembelajaran melalui kerja sama kelompok. Keduanya menetapkan pekerjaan yang spesifik, dan keduanya menegaskan pentingnya curah pendapat dan membandingkan prosedur dan kesimpulan dalam akhir pertemauan. Yang membedakan keduanya dalan fakta bahwa istilah cooperative lebih mencerminkan ilmu pengetahuan yang populer dalam jaman kolonial sedangkan collaborative lebih menegaskan keterkaitannya dengan gerakan konstruktivisme sosial sebagai dampak dari perubahan ilmu pengetahuan yang dramatis dalam abad ini. Persamaan pembelajaran kooperatif dan kolaboratif adalah siswa sama-sama belajar dalam kelompok-kelompok kecil dengan struktur aktivitas yang spesifik dan setiap individu mencurahkan potensinya untuk berkontribusi pada prestasi kelompok.
            Untuk menjadikan pembelajaran menjadi collaborative, Johnson et al. (2012:60) mengungkapkan bahwa kelompok belajar harus memiliki interdependensi positif yang jelas, para anggotanya harus saling mendorong pembelajaran serta keberhasilan dari anggotanya pada saat kegiatan tatap muka, bertanggung jawab secara individual untuk melakukan porsi kerja yang wajar, dan memproses seberapa efektif mereka telah bekerja sama. Penerapan pembelajaran kolaboratif ini dapat menggunakan beberapa model pembelajaran yang sudah ada. UTS (University Teaching Services) menyampaikan beberapa contoh model pembelajaran kolaboratif yang dapat digunakan yaitu jigsaw, pair and share, dan debate. Sedangkan Johnson et al. (2012:76-78) memberikan contoh yaitu model investigasi kelompok, Teams Games Tournament (TGT), Student Team Achievement Divisions Learning (STAD), dan Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC).
            Penelitian tentang penerapan collaborative learning untuk meningkatkan pencapaian siswa pernah dilakukan oleh Terenzini et al. (2001), ia menyimpulkan bahwa belajar secara aktif dan kolaboratif lebih efektif dibandingkan belajar dengan pendekatan tradisional dalam meningkatkan keahlian dan pencapaian belajar siswa. Penelitian oleh Sudarman (2008) juga mendapatkan hasil yang serupa, yaitu collaborative learning memiliki kontribusi yang lebih tinggi dalam meningkatkan perolehan belajar dari pada pembelajaran konvensional.
            Karena itulah pembelajaran secara kolaboratif perlu dilakukan agar siswa dapat mencapai kompetensi yang diharapkan. Dapat disimpulkan bahwa collaborative learning merupakan pembelajaran yang menempatkan siswa bekerja berkelompok, berdiskusi, bereksplorasi, memecahkan masalah mengembangkan kreasi dalam menyelenggarakan proyek, mempresentasikan, berdebat serta kegiatan lain yang memungkinkan siswa bekerja sama sehingga setiap individu dapat berkembang optimal dalam kerja kelompok. Dengan adanya kolaboratif ini diharapkan individu dapat mengembangankan keterampilan yang mereka miliki, dapat memahami pentingnya kerja sama dalam mencapai tujuan dan juga dapat memahami bagaimana menyelesaikan masalah dalam suatu pembelajaran.
            Manifestasi collaborative learning dapat diwujudkan dalam suatu bahan ajar yang digunakan sebagai pegangan dalam proses pembelajaran. Dengan penyusunan bahan ajar yang berbasis collaborative learning diharapkan dapat tercipta pembelajaran yang berpusat pada siswa. Sehingga guru hanya berperan sebagai fasilitator yang bertugas membimbing siswa dalam proses pembelajaran.

C.    Bahan Ajar
            Interaksi yang terjadi antara guru dan siswa dalam kelas lebih efektif jika tersedia media pendukung. Keberadaan media ini akan dapat membantu guru dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan siswa saat proses pembelajaran berlangsung. Arsyad (2010:7) menjelaskan bahwa media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari guru kepada siswa sehingga dapat meningkatkan minat dan merangsang pikiran, perasaan, dan perhatian siswa sehingga proses pembelajaran dapat tercapai.
            Bahan ajar (learning materials) berbentuk buku merupakan salah satu media yang ada dalam proses belajar mengajar. Mbulu dan Suhartono (2004:87) mengartikan bahan ajar sebagai isi pembelajaran yang ditulis oleh pengajar atau penulis lain untuk kepentingan pembelajaran yang di dalamnya memuat materi yang bertujuan untuk mempermudah proses belajar siswa. Sedangkan Prastowo (2012:17) menyimpulkan “bahan ajar merupakan segala bahan (baik informasi, alat, maupun teks) yang disusun secara sistematis, yang menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai peserta didik dan digunakan dalam proses pembelajaran dengan tujuan perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran.”
            Berdasarkan pendapat dari ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar adalah seperangkat alat pembelajaran yang dibuat oleh pengajar ataupun penulis lain yang berisi materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, soal latihan dan cara mengevaluasi yang didesain secara sistematis sesuai standar kompetensi yang bertujuan mempermudah proses pembelajaran.
            Departemen Pendidikan Nasional (2006) mengelompokkan bahan ajar berdasarkan teknologi yang digunakan menjadi empat kategori, yaitu bahan cetak (printed), bahan ajar dengar (audio), bahan ajar pandang dengar (audio visual), dan bahan ajar multimedia interaktif (interactive teaching material). Bahan ajar cetak contohnya antara lain handout, buku, modul, dan lembar kerja siswa. Bahan ajar audio contohnya radio, kaset dan compack disk audio. Bahan ajar audio visual contohnya antara lain video compack disk dan film, sedangkan bahan ajar multimedia interaktif contohnya antara lain power point, CD multimedia pembelajaran interaktif, dan bahan ajar berbasis web.
            Kurniawan (2006:2) menjelaskan bahwa buku ajar adalah jenis dari buku yang diperuntukkan untuk siswa sebagai bekal pengetahuan dasar, dan digunakan sebagai sarana belajar serta dipakai untuk menyertai pembelajaran. Dia juga menyampaikan bahwa alih bahasa buku teks menjadi textbook tidak cocok untuk memenuhi jenis buku semacam ini, sebab seluruh buku untuk dibaca isinya adalah teks. Oleh karena itu, istilah buku ajar dipakai padanan atas istilah textbook.
            Buku ajar ini memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan buku umum. Menurut Muslich (2009:51) ciri-ciri buku yang digunakan dalam pembelajaran yaitu disusun berdasarkan pada mata pelajaran tertentu dan berisi bahan yang sudah diseleksi untuk digunkan dalam kegiatan pembelajaran, ditulis dengan suatu tujuan instruksional tertentu, disusun secara sistematis mengikuti strategi pembelajaran tertentu, serta digunakan dalam menunjang program pembelajaran.
            Lestari (2013:7) mengungkapkan bahwa ketika sebuah bahan ajar telah dibuat dengan kaidah yang tepat, guru akan dengan mudah mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, di dalamnya akan ada beberapa kompetensi yang harus diajarkan atau dilatihkan kepada siswa. Melalui bahan ajar juga siswa lebih tahu kompetensi dan skenario pembelajaran yang dilakukan, sehingga siswa dapat melakukan persiapan sebelum kegiatan pembelajaran.
            Untuk menyusun buku ajar terdapat langkah-langkah yang harus dilakukan (Prastowo, 2012:176) yaitu: (1) memperhatikan kurikulum dengan cara menganalisinya, (2) menentukan judul buku yang akan ditulis sesuai dengan standar kompetensi yang akan dikembangkan, (3) merancang outline buku agar isi buku lengkap mencakup seluruh aspek yang diperlukan untuk mencapai suatu kompetensi, (4) mengumpulkan referensi sebagai bahan penulisan, (5) menulis buku dilakukan dengan memperhatikan penyajian kalimat yang disesuaikan dengan usia dan pengalaman pembacanya, (6) mengevaluasi hasil tulisan dengan membaca ulang, (7) memperbaiki tulisan menjadi menonjol, serta (8) memberikan ilustrasi gambar, tabel, diagram dan sejenisnya secara proporsional.
            Pengembangan bahan ajar ini dirasakan penting guna menyesuaikan dengan kurikulum dan kondisi lingkungan peserta didik. Dari berbagai hal tersebut dapat disimpulkan bahwa buku ajar merupakan media yang digunakan oleh guru dan siswa sebagai sarana atau media dalam kegiatan pembelajaran. Bahan ajar yang diharapkan pada kurikulum yang baru adalah buku yang tidak hanya memuat materi dan latihan soal saja, tetapi memuat materi pembelajaran yang bersifat kontekstual, kegiatan atau proses pembelajaran, sistem penilaian serta kompetensi yang diharapkan.

D.    Mata Pelajaran Akuntansi
            Pada satuan pendidikan Sekolah Menengah Atas mata pelajaran Akuntansi diajarkan kepada siswa kelas XI dan XII IPS. Akuntansi merupakan bagian dari mata pelajaran Ekonomi. Yang dapat dilihat pada ruang lingkup mata pelajaran bahwa mata pelajaran Ekonomi mencakup perilaku ekonomi dan kesejahteraan yang berkaitan dengan masalah ekonomi yang terjadi di lingkungan kehidupan terdekat hingga lingkungan terjauh, meliputi aspek-aspek sebagai berikut: (1) Perekonomian, (2) Ketergantungan, (3) Spesialisasi dan pembagian kerja, (4) Perkoperasian, (5) Kewirausahaan (6) Akuntansi dan manajemen (Badan Standar Nasional Pendidikan, 2006). Dalam standar isi juga disebutkan bahwa akuntansi difokuskan pada perilaku akuntansi jasa dan dagang. Peserta didik dituntut memahami transaksi keuangan perusahaan jasa dan dagang serta mencatatnya dalam suatu sistem akuntansi untuk disusun dalam laporan keuangan. Pemahaman pencatatan ini berguna untuk memahami manajemen keuangan perusahaan jasa dan dagang.
Tujuan umum pembelajaran Akuntansi di SMA secara garis besar tercantum pada standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa, ditunjukkan pada tabel berikut.

Tabel 2.1 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Kelas XI IPS

Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Memahami penyusunan siklus akuntansi perusahaan jasa
§ Mendeskripsikan akuntansi sebagai sistem informasi
§ Menafsirkan persamaan akuntansi
§ Mencatat transaksi berdasarkan mekanisme debit dan kredit
§ Mencatat transaksi/dokumen ke dalam jurnal umum
§ Melakukan posting dari jurnal ke buku besar
§ Membuat ikhtisar siklus akuntansi perusahaan jasa
§ Menyusun laporan keuangan perusahaan jasa

Tabel 2.2 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Kelas XII IPS

Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Memahami penyusunan siklus akuntansi perusahaan dagang
§ Mencatat transaksi/dokumen ke dalam jurnal khusus
§ Melakukan posting dari jurnal khusus ke buku besar
§ Menghitung harga pokok penjualan
§ Membuat ikhtisar siklus akuntansi perusahaan dagang
§ Menyusun laporan keuangan perusahaan dagang
Mamahami penutupan siklus akuntansi perusahaan dagang
§ Membuat jurnal penutupan
§ Melakukan posting jurnal penutup ke buku besar
§ Membuat neraca saldo setelah penutupan
          Sumber: Badan Standar Nasional Pendidikan (2006)
           
            Materi yang dimuat dalam buku akuntansi pada jenjang SMA kebanyakan masih berdasarkan kepada standar yang lama yaitu Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum (GAAP), padahal Indonesia sejak tahun 2012 sudah menerapkan standar akuntansi yang baru yaitu IFRS (International Financial Principle Standards) yang tercermin dalam Standar Akuntansi Keuangan terkonvergensi IFRS. IFRS merupakan seperangkat standar yang disebarluaskan oleh Dewan Standar Akuntansi Internasional (IASB), yaitu suatu badan penentu standar internasional di London (Ankarath et al, 2012:2).
            Pemuatan IFRS dalam bahan ajar akuntansi SMA ini terkait pada pemutakhiran istilah akuntansi dan pemasukan beberapa materi IFRS yang sesuai dengan kompetensi akuntansi SMA. Dengan adanya bahan ajar akuntansi yang bermuatan IFRS ini, maka diharapkan akan memberikan  wawasan pada siswa tentang ilmu akuntansi yang sesuai standar saat ini.
            Indarto (2006:4) menjelaskan bahwa proses pengajaran akuntansi ditekankan pada pemahaman umum akuntansi, sedangkan pemahaman spesifik industri atau perusahaan dipelajari ketika seseorang mulai bekerja atau dalam bentuk training-training singkat atau dalam sekolah yang khusus diarahkan pada pekerjaan tertentu.
            Pengajaran akuntansi mulai dikenalkan pada siswa SMA dan siswa di sekolah kejuruan akuntansi, kemudian pengajaran lengkap akuntansi diperoleh di pendidikan tinggi dalam program studi akuntansi (Indarto, 2006:4). Karena siswa SMA merupakan awal dari pembelajaran akuntansi, maka pemahaman umum akuntansi yang diberikan adalah yang paling dasar dan paling sederhana yaitu akuntansi pada perusahaan perseorangan. Salah satu buktinya adalah pada Buku Sekolah Elektronik pelajaran Ekonomi (Akuntansi) SMA yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Dalam buku-buku tersebut siklus akuntansi yang dibahas adalah hanya untuk perusahaan perseorangan. Dengan demikian, bahan ajar akuntansi yang dikembangkan dalam penelitian ini juga hanya membahas akuntansi untuk perusahaan perseorangan.
 

BAB III
METODE PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


A.    Model Penelitian dan Pengembangan
Model penelitian dan pengembangan merupakan cara yang digunakan untuk menemukan, mengembangkan dan menguji suatu produk berdasarkan prosedur yang sistematis, sehingga produk yang dihasilkan memiliki nilai ilmiah yang tinggi dan dapat dipercaya. Sugiyono (2010:297) menyatakan bahwa metode penelitian dan pengembangan adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut. Sedangkan Borg & Gall (1983:772) menyatakan “Educational research and development (R&D) is a process used to develop and validate educational products.” Dalam model penelitian dan pengembangan Borg & Gall (1983:775) terdiri dari 10 langkah sebagai berikut.
1.      Research and information collecting, yaitu mengkaji literatur dan melakukan observasi guna mengetahui kebutuhan yang diperlukan dalam pendidikan.
2.      Planning, yaitu merumuskan kecakapan dan keahlian yang berkaitan dengan permasalahan, menentukan tujuan yang akan dicapai pada setiap tahapan, dan jika diperlukan melaksanakan studi kelayakan secara terbatas.
3.      Develop preliminary form of product, yaitu mengembangkan bentuk awal dari produk yang akan dihasilkan. Dalam langkah ini perlu melihat buku pedoman, serta melakukan evaluasi terhadap kelayakan alat-alat pendukung.
4.      Preliminary field testing, yaitu melakukan uji coba lapangan awal dalam skala terbatas dengan melibatkan subjek sebanyak 6-12 subjek. Pada langkah ini pengumpulan dan analisis data dapat dilakukan dengan cara wawancara, observasi atau angket.
5.      Main product revision, yaitu melakukan perbaikan terhadap produk awal yang dihasilkan berdasarkan hasil ujicoba awal.
6.      Main field testing, yaitu uji coba utama yang melibatkan subyek dengan jumlah yang lebih besar.
7.      Operational product revision, yaitu melakukan perbaikan terhadap hasil uji coba lebih besar, sehingga produk yang dikembangkan sudah merupakan desain model operasional yang siap divalidasi.
8.      Operational field testing, yaitu langkah uji validasi terhadap model operasional yang telah dihasilkan.
9.      Final product revision, yaitu melakukan perbaikan akhir terhadap model yang dikembangkan guna menghasilkan produk akhir (final).
10.  Dissemination and implementation, yaitu langkah menyebarluaskan produk atau model yang dikembangkan.
Model pengembangan yang digunakan dalam mengembangkan bahan ajar akuntansi ini diadaptasi dari model penelitian dan pengembangan Borg & Gall. Namun karena keterbatasan waktu dan biaya, maka model Borg & Gall tersebut dimodifikasi untuk disesuaikan dengan pengembangan yang akan dilakukan. Rancangan model pengembangan yang akan digunakan dalam penelitian ini ditunjukkan pada gambar berikut:


Ya
Tidak
Analisis Kebutuhan
1
Pengembangan produk
2
 Apakah perlu revisi?
Revisi Produk ke-1
4
Uji Pengguna Terbatas
5
 Apakah perlu revisi?
Ya
Tidak
Revisi Produk ke-2
6
 Produk Akhir
7
Uji Validitas Produk
3
 
















Gambar 3.1 Bagan Langkah Model Pengembangan Borg & Gall yang Dimodifikasi


B.     Prosedur Penelitian dan Pengembangan
Prosedur penelitian dan pengembangan bahan ajar akuntansi diadaptasi dari Borg & Gall, langkah-langkah yang dilaksanakan adalah sebagai berikut.
1.      Analisis Kebutuhan
                Langkah awal yang dilakukan oleh peneliti dalam proses pengembangan adalah dengan mengumpulkan berbagai informasi tentang kebutuhan bahan ajar yang diperlukan siswa dalam pembelajaran. Pengumpulan informasi awal dilakukan dengan melakukan wawancara kepada siswa dan guru akuntansi SMA untuk mengetahui kondisi pembelajaran akuntansi yang dilakukan dan bahan ajar seperti apa yang dibutuhkan agar dapat meningkatkan mutu pembelajaran. Selain itu, peneliti juga melakukan pengumpulan referensi dari media cetak maupun internet untuk menambah informasi tentang kebutuhan bahan ajar. Dengan melakukan analisis kebutuhan ini diharapkan bahan ajar yang dikembangkan dapat sesuai dengan kebutuhan pengguna saat ini.
2.        Pengembangan Produk
            Dalam mengembangkan produk ada dua langkah yang akan ditempuh, yaitu penyusunan produk dan penyelesaian produk. Yang dimaksud penyusunan produk pada tahap ini adalah pelaksanaan pembuatan buku ajar. Kerangka buku ajar yang semula berupa naskah kemudian dikembangkan hingga menjadi buku ajar yang diinginkan.
            Sebelum melakukan penyusunan produk ada beberapa tahap yang harus dilalui. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut.
a.       Analisis mata pelajaran yang meliputi: nama mata pelajaran, jenjang pendidikan dan kelas.
b.      Melakukan pengkajian terhadap mata pelajaran yang akan dikembangkan buku ajarnya,  hal ini untuk mengetahui kompetensi apa saja yang akan digunakan dasar dalam mengembangkan produk.
c.       Menentukan bagian-bagian yang harus dikembangkan dalam sebuah buku ajar sehingga tersusun buku ajar yang utuh.
            Setelah melakukan penyusunan produk sehingga produk tersusun, maka yang dilakukan selanjutnya adalah menyelesaikan produk berupa buku ajar akuntansi yang telah dicetak rapi agar siap untuk divalidasi.
3.        Uji Validitas Produk
            Uji validitas adalah salah satu proses pengembangan yang dilakukan untuk mengetahui tingkat kelayakan produk sebelum tahap uji coba oleh pengguna. Validasi dilakukan oleh ahli materi dan pembelajaran akuntansi serta ahli desain penyusunan buku ajar dengan menggunakan angket.
4.        Revisi Produk ke-1
            Tahapan ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan bahan ajar akuntansi yang valid. Revisi dilakukan bilamana bahan ajar belum mencapai tingakatan valid atau untuk memenuhi saran dari validator untuk menyempurnakan produk. Pihak yang berperan penting pada tahap ini adalah ahli materi dan pembelajaran akuntansi serta ahli desain penyusunan buku ajar yang menentukan apakah produk perlu direvisi ataukah sudah sesuai.
5.        Uji Pengguna Terbatas
           Setelah produk dinilai layak oleh validator maka selanjutnya dilakukan uji pengguna terbatas yaitu kepada siswa yang merupakan pengguna dari produk yang dikembangkan.
6.        Revisi Produk ke-2
            Setelah dilakukan uji coba pada pengguna terbatas maka dapat diketahui tanggapan dari siswa sebagai pengguna dan diketahui pula hasil observasi langsung peneliti terhadap pengguna. Hal ini dilakukan untuk membuat produk lebih baik lagi.
7.        Produk Akhir
            Setelah mendapatkan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan sekolah, maka bahan ajar tersebut telah siap dipakai. Bahan ajar akuntansi SMA berbasis collaborative learning dengan muatan IFRS ini layak digunakan sebagai media dalam kegiatan pembelajaran siswa kelas XI IPS.

C.  Uji Coba Produk
          Uji coba produk merupakan bagian penting dalam penelitian pengembangan yang dilakukan setelah rancangan produk selesai. Uji coba produk dimaksudkan untuk mengumpulkan data yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menetapkan tingkat efektifitas, efisiensi, dan atau daya tarik dari produk yang dihasilkan. Uji produk pengembangan biasanya dilakukan dalam dua tahap yaitu uji validasi oleh ahli dan uji coba lapangan. Oleh karena keterbatasan waktu dan biaya maka dalam penelitian ini hanya dilakukan sampai tahap validasi isi dengan menggunakan uji oleh ahli dan pengguna terbatas.
Dalam bagian ini secara berurutan dikemukakan tetang desain uji coba, subjek validasi, jenis data, instrumen pengumpulan data dan teknik analisis data.
1.    Desain Uji Coba
Uji coba produk pengembangan menggunakan desain validasi logis dengan tipe validasi isi (content validity). Validasi isi dilakukan oleh para ahli dengan cara mengisi instrumen berupa angket serta memberi komentar dan saran terhadap produk pengembangan. Hal ini bertujuan agar dapat diketahui apakah produk pengembangan layak atau tidak untuk dilakukan validasi selanjutnya yaitu validasi empiris. Menurut Sugiyono (2010:129) validasi empiris dilakukan dengan cara membandingkan kriteria yang ada pada instrumen dengan fakta-fakta empiris yang terjadi di lapangan. Arikunto (2009:66) menguatkan bahwa validitas empiris tidak dapat diperoleh hanya dengan menyusun instrumen berdasarkan ketentuan seperti halnya validitas logis, tetapi juga harus dibuktikan melalui pengalaman. Namun pada penelitian pengembangan ini tidak dilakukan validitas empiris karena terbatasnya waktu dan biaya. Sehingga penelitian hanya dilakukan sampai validasi isi oleh ahli (uji ahli) dan kelompok kecil (uji pengguna terbatas).
2.    Subjek Coba
Subjek coba atau validator pada penelitian pengembangan bahan ajar akuntansi merupakan kelompok ahli dan kelompok pengguna untuk uji pengguna terbatas. Kelompok ahli yaitu ahli materi dan pembelajaran akuntansi serta ahli desain penyusunan buku ajar. Sedangkan untuk uji pengguna terbatas dilakukan pada siswa kelas XI IPS SMA. Ketentuan subjek coba adalah sebagai berikut.
a.    Ahli
            Ahli materi dan pembelajaran akuntansi yang menjadi validator produk  pengembangan merupakan Pendidik bidang akuntansi. Dalam penelitian ini yang menjadi ahli materi dan pembelajaran akuntansi adalah guru akuntansi SMA yang telah menempuh pendidikan minimal S1 dan berpengalaman mengajar materi akuntansi di SMA.
            Ahli desain penyusunan buku ajar yang menjadi validator produk pengembangan merupakan dosen sastra indonesia yang menguasai bidang media bahan ajar, telah menempuh minimal S2 dan berpengalaman dalam menyusun buku pelajaran.
b.   Pengguna Terbatas
            Pengguna terbatas yang menilai merupakan pengguna bahan ajar akuntansi hasil pengembangan, yaitu siswa SMA Negeri 1 Balen Bojonegoro kelas XI IPS yang berjumlah 10 orang.
3.    Jenis Data
Pada dasarnya data yang diperoleh bersifat kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif berupa angka yang diperoleh dari angket penilaian produk pengembangan yang disusun dengan skala Likert (skala bertingkat). Data kualitatif berupa komentar dan saran yang dituangkan dalam angket. Data yang dihasilkan berkaitan dengan kelayakan atau kesesuaian atas produk pengambangan yang dibuat.
4.    Instrumen Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan untuk mengetahui validitas produk pengembangan yaitu metode kuesioner atau angket. Sehingga instrumen yang digunakan adalah kuesioner atau angket dengan bentuk check list (Arikunto, 2010:194). Angket validasi produk yaitu angket untuk penilaian produk pengembangan bahan ajar akuntansi yang menentukan layak tidaknya bahan ajar digunakan dalam pembelajaran. Angket disusun berdasarkan pada instrumen penilaian buku teks yang dibuat oleh BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan). Menurut BSNP dalam Muslich (2010:291-292), buku teks yang berkualitas wajib memenuhi empat unsur kelayakan, yaitu kelayakan isi, kelayakan penyajian, kelayakan kegrafikan dan kelayakan kebahasaan.
Angket yang digunakan terdiri dari dua bagian, yaitu kolom check list meliputi daftar penilaian dan skala penilaiannya serta lembar komentar dan saran dari validator. Skala pengukuran pada angket validasi produk pengembangan menggunakan skala Likert yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang. Variabel penelitian yang diukur dengan skala Likert dijabarkan menjadi indikator variabel yang kemudian dijadikan sebagai titik tolak penyusun item-item instrumen, bisa berbentuk pernyataan atau pertanyaan. Jawaban dari setiap item instrumen yang menggunakan skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif. Untuk keperluan analisis kuantitatif maka jawaban diberi skor (Sugiyono, 2010:134-135). Kriteria dari masing-masing skala penilaian sebagai berikut.
Tabel 3.1 Kriteria dari Skala Penilaian

Nilai
Keterangan
1
tidak baik/tidak sesuai/tidak layak/tidak menarik
2
kurang baik/kurang sesuai/kurang layak/kurang menarik
3
baik/sesuai/layak/menarik
4
sangat baik/sangat sesuai/sangat layak/sangat menarik

5.    Teknik Analisis Data
Untuk data kualitatif, yang dilakukan merupakan analisis isi dari komentar dan saran dari validator. Sedangkan data kuantitatif  dianalisa dengan menggunakan teknik analisis persentase . Teknik analisis persentase dihitung dengan rumus sebagai berikut:
 
Keterangan:
P     : Persentase
Sx   : Jumlah jawaban seluruh responden dalam 1 item
Sxi  : Jumlah jawaban ideal dalam 1 item
            Setelah melakukan analisis dan memperoleh data hasil analisis, maka diperlukan skala persentase penilaian untuk menentukan kesimpulan dari tiap item yang divalidasikan.  Skala tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tabel 3.2 Skala Persentase Penilaian

Persentase
Penilaian Interpretasi
80-100% 
Valid/Layak
60-79%
Cukup Valid/Cukup Layak
50-59%
Kurang Valid/Kurang Layak
<49 span="">
Tidak Valid/Tidak Layak
Sumber: Sudjana (1990:45)

 Hasil >
 Abstrak:
Pengembangan Bahan Ajar Akuntansi Berbasis Collaborative Learning dengan Muatan IFRS di SMA Negeri 1 Balen Bojonegoro. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang.  Pembimbing: (1) 

Kata Kunci: pengembangan, bahan ajar, akuntansi, collaborative learning

Collaborative Learning merupakan jenis pembelajaran masa kini yang dapat menjadikan siswa lebih produktif, kreatif, inovatif, dan afektif. Penerapan pembelajaran kolaboratif sangat penting dilakukan guna mengubah pola pembelajaran konvensional yang sekarang masih banyak dilakukan dalam pembelajaran akuntansi SMA. Manifestasi collaborative learning ini dapat diwujudkan dalam suatu bahan ajar, sehingga dalam bahan ajar tersebut berisi tentang kegiatan-kegiatan pembelajaran yang bersifat kolaboratif. Materi pada bahan ajar akuntansi yang dikembangkan juga perlu disesuaikan dengan standar akuntansi saat ini yaitu Standar Akuntansi Keuangan terkonvergensi IFRS.
Berkaitan dengan hal di atas, maka diperlukan pengembangan bahan ajar akuntansi SMA berbasis collaborative learning dengan muatan IFRS. Tujuan pengembangan ini adalah untuk menghasilkan bahan ajar akuntansi SMA berbasis collaborative lerning dengan muatan IFRS yang layak untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran akuntansi.
Jenis penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan prosedur pengembangan Borg & Gall yang telah dimodifikasi untuk disesuaikan dengan  pengembangan yang akan dilakukan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket. Data yang diperoleh adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif adalah data yang berupa angka yang akan dianalisis menggunakan teknik analisis persentase. Sedangkan data kualitatif adalah berupa komentar dan saran yang digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan revisi produk.
Dari hasil analisis data validasi oleh ahli materi dan pembelajaran akuntansi, ahli desain penyusunan buku ajar, serta dari hasil uji pengguna terbatas, secara keseluruhan memperoleh rata-rata persentase sebesar 91,58%. Dengan demikian,  dapat disimpulkan bahwa hasil pengembangan berupa bahan ajar akuntansi berbasis collaborative learning dengan muatan IFRS ini valid atau layak digunakan dalam kegiatan pembelajaran akuntansi siswa SMA.
 

2 komentar:

  1. Daftar Rujukannya kelupaan.
    This is it..

    DAFTAR RUJUKAN



    Ankarath et al. 2012. Memahami IFRS. Jakarta: PT. Indeks.

    Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

    Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

    Arsyad, A. 2010. Media Pembelajaran. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

    Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar SMA/MA. (Online), (http://bsnp-indonesia.org), diakses 23 April 2012.

    Borg, Walter R. & Gall, Meredith D. 1983. Educational Research. an
    Introduction. New York: Longman Inc.

    Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Pengembangan Bahan Ajar. (Online), (www.dikti.go.id/files/atur/KTSP-SMK/11.ppt), diakses tanggal 23 April 2012.

    Hamalik, Oemar. 2008. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung:
    PT. Remaja Rosdakarya.

    Handayani, Nurul. 2011. Pengembangan Bahan Ajar Akuntansi untuk SMK Berbasis Pembelajaran Kontekstual dan Kooperatif. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.

    Indarto, Dwi Martani. 2006. Rancangan Peta Konsep Akuntansi. (Online),
    (http://staff.ui.ac.id/internal/0600500045/material/RANCANGANPETA KONSEPAKUNTANSI28nop06.pdf), diakses tanggal 11 Juni 2013.
    Johnson ae al. 2012. Collaborative Learning. Bandung: Nusamedia.

    Kemdiknas (Kementerian Pendidikan Nasional). 2012. Draft Kurikulum 2013. (Online), (http://dikmen.kemdiknas.go.id), diakses tanggal 20 Januari 2013.

    Kurniawan, Khaerudin. 2006. Handout Mata Kuliah Menulis Bahan Ajar/Ilmiah. UPI: FPBS, (Online), (http://file.upi.edu/Direktori/FPBS), diakses 3 Februari 2013.

    Lakey, George. 2010. Facilitating Group Learning. San Francisco: Jossey Bass.

    Lestari, Ika. 2013. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Kompetensi. Padang: @kademia.

    Mbulu, J dan Suhartono. 2004. Pengembangan Bahan Ajar. Malang: Penerbit Elang Mas.

    Muslich, Mansur. 2010. Text Book Writing. Yogyakarta: Ar_Ruzz Media.

    Panitz, Teodore. 1996. A Definition of Collaborative Versus Cooperative Learning. (Online), (http://www.eric.ed.gov/PDFS/ED448443.pdf), diakses tanggal 7 Februari 2013.

    Prastowo, Andi. 2012. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogakarta: Diva Press.

    Rockwood, R. 1995. Cooperative and collaborative learning. National Teaching and Learning Forum Volume 4. (Online), (http://onlinelibrary.wiley.com /doi/10.1002/ntlf.1995.4.issue-6/issuetoc), diakses tanggal 7 Februari 2013.

    Sanjaya, Wina. 2008. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

    Sudarman. 2010. Penerapan Metode Collaborative Learning untuk Meningkatkan Pemahaman Materi Mata Kuliah Metodologi Penelitian. Jurnal pendidikan Inovatif Volume 3, Nomor 2, Maret 2008, (Online), (http;//jurnaljpi.files.wordpress.com), daikses tanggal 13 Januari 2013.

    Sudjana. 2002. Metoda Statistika. Bandung: PT. Trasito Bandung.

    Sudjana, N. 1990. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

    Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R &D. Bandung: Penerbit Alfabeta.

    Terenzini et al. 2001. Collaborative Learning vs Lecture: students’ reported learning gains. Journal of Enginering education, (Online), (http://barnard.edu), diakses 13 Januari 2013.

    Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jaringan Dokumentasi dan Informasi Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. (Online), (http://www.jdih.bpk.go.id), diakses 12 Januari 2012.

    University Teaching Services. Collaborative Learning Activities. (Online), (www.umanitoba.ca), diakses tanggal 13 Januari 2013.

    BalasHapus
  2. berantakan sekali ya kalo copy paste dari ms.word langsung ke blog, gambarnya pun gak mau muncul.
    Bagaimana ya biar posingannya bisa rapi, *gaptek

    BalasHapus

komen o yo rek,, *suwun