Sabtu, November 01, 2014

SM-3T di Sorong Selatan



Asyiknya Mendidik di Tanah Papua

            Jika Anda seorang sarjana pendidikan, tentu sudah tidak asing lagi dengan program SM-3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal). Ini merupakan salah satu Program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia ditujukan kepada para Sarjana Pendidikan yang belum bertugas sebagai guru, baik sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun Guru Tetap Yayasan (GTY) untuk ditugaskan selama 1 tahun di daerah 3T. Seorang sarjana muda yang memiliki semangat mengabdi yang tinggi maka cocok sekali untuk mengikuti program SM-3T ini.
                Untuk bisa mengikuti program ini, maka perlu mengikuti serangkaian tes yang diadakan oleh LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) penyelenggara dari beberapa Universitas Pendidikan yang ditunjuk oleh Dikti (Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi). LPTK penyelenggara ditunjuk untuk menyeleksi peserta, memberikan pembekalan sebelum diterjunkan ke daerah sasaran dan melaksanakan PPG (Pendidikan Profesi Guru) setelah peserta SM-3T selesai mengabdi di berbagai daerah 3T yang ada di Indonesia.
                Saya sebagai seorang sarja pendidikan tentu saja juga tertarik untuk mengikuti program SM-3T ini. Saya pun mengikuti proses seleksi melalui LPTK Universitas Negeri Malang yang juga merupakan tempat saya kuliah sebelumnya. Setelah mengikuti serangkaian tes akhirnya nama “Eko Putri Setiani, S. Pd” berhasil lolos dan diminta untuk mengikuti pembekalan pada tanggal 04-15 September 2013 yang bertempat di Pangkalan Angkatan Laut (LANAL) Malang. Di LANAL Malang kami dibekali berbagai model pembelajaran yang menarik yang sesuai dengan daerah 3T dan juga dilatih fisik kita agar siap diterjunkan ke daerah 3T.
                Proses prakondisipun berhasil terlalui, saat yang ditunggu-tunggu pun telah tiba yaitu pengumuman penempatan di daerah mana kita ditugaskan. “Sorong Selatan” adalah tempat mengabdi saya, merupakan sebuah kabupaten yang ada di Papua Barat. “Papua”, pulau paling timur Indonesia yang tentu saja belum pernah saya kunjungi. Ada sebersit perasaan takut karena banyak diberitakan di telivisi bahwa di papua sering terjadi perang suku, OPM dan terkenal dengan masyarakat yang masih primitif.
                Dengan semangat mengabdi yang ada dalam diri dan dukungan dari berbagai pihak maka saya membulatkan tekad untuk melaksanakan pengabdian di tanah papua. Akhirnya 23 peserta SM-3T yang ditempatkan di Sorong Selatan pada tanggal 17 September 2013 pukul 06.00 WIT untuk pertama kali menginjakkan kaki di tanah papua, tepatnya di Bandara Kota Sorong. Untuk sampai di Kabupaten Sorong Selatan, kami harus melalui jalan darat dengan medan yang cukup berat karena jalan belum diaspal semuanya. Namun kami disuguhi pemandangan yang sangat menakjubkan, yaitu hutan yang masih belum terjamah, sungai-sungai yang masih sangat jernih dan beberapa burung atau binatang lain yang ada disekitar jalan.
                Setelah perjalanan selama kurang lebih 6 jam, akhirnya kami sampai di Sorong Selatan tepatnya di distrik Teminabuan. Distrik Teminabuan merupakan pusat kota dari Kabupaten Sorong Selatan dan satu-satunya distrik yang sudah ada listrik 24 jam juga sudah terdapat signal telkomsel dan indosat. Sorong Selatan memiliki 13 distrik, 3 distrik diantaranya tidak dapat dilalui dengan jalan darat sehingga untuk sampai ke distrik yang paling jauh memakan waktu 14 jam. Kami tinggal di Distrik Teminabuan selama dua minggu sebelum disalurkan ke sekolah-sekolah yang ada di pelosok Sorong Selatan. Waktu 2 minggu tersebut kami manfaatkan sebaik-baiknya untuk mengenal masyarakat, budaya dan bahasa masyarakat yang ada di Teminabuan.
                Masyarakat papua tidak seperti yang kami bayangkan sebelumnya, mereka sangat ramah dan bersahabat dengan para pendatang. Kesan yang keras, seram dan menakutkan hilang seketika. Walaupun tidak saling mengenal kita saling bersapa “selamat pagi”, “selamat siang”, “selamat sore” dan “selamat malam.” Istilah “mutiara hitam” memang benar, orang papua yang memiliki kulit hitam, keriting rambut tapi memiliki hati yang mulia. Mereka hidup saling menghormati antar suku setempat dan suku pendatang yaitu dari jawa, bugis, makasar, maluku, ambon dan suku-suku yang lain.
                Tanggal 30 September 2013 saya beserta 3 orang teman saya yang ditempatkan di SMK YAPIS Teminabuan mulai melakukan observasi ke sekolah tempat mengabdi kami. SMK YAPIS Teminabuan memiliki 3 jurusan, yaitu jurusan Komputer, Akuntansi dan Perkantoran. SMK ini merupakan satu-satunya SMK yang ada di Distrik Teminabuan. SMK ini terbilang baru karena masih memiliki 2 angkatan, yaitu kelas X dan kelas XI. Kami tinggal di laboratorium milik SMP YAPIS Teminabuan beserta 2 orang teman yang ditempatkan di SMP YAPIS Teminabuan. SMP dan SMK YAPIS Teminabuan bangunan sekolahnya berdampingan sehingga banyak kegiatan dilaksanakan bersamaan. Walaupun sekolah ini YAPIS dimana merupakan Yayasan Pendidikan Islam namun siswa-siswa yang bersekolah di sini 80% adalah umat nasrani, 20% nya saja yang muslim. Ini karena mayoritas penduduk Sorong Selatan beragama kristen protestan. Walaupun demikian, di sekolah ini juga diajarkan pelajaran agama kristen untuk siswa nasrani. Antar siswa dan antar guru juga saling menghormati walaupun berbeda agama.
                Momen yang saya tunggu akhirnya tiba, saya bertemu dengan siswa-siswa yang akan belajar bersama dengan saya selama setahun kedepan. Karena saya merupakan sarjana Pendidikan Akuntansi maka tentu saja saya akan belajar bersama siswa-siswa jurusan Akuntansi. Pertama saya berkenalan dengan siswa kelas X Akuntansi yang berjumlah 33 siswa, semuanya penduduk asli papua. “Hitam kulit, keriting rambut, Aku PAPUA”, akhirnya saya bisa berinteraksi langsung di dalam kelas dengan siswa-siswa Papua. Saya mulai memperkenalkan diri dengan susunan bahasa yang telah saya pelajari beberapa hari sebelumnya, “Sa pu nama eko putri setiani, dorang bisa panggil saya Ibu Puput .....” (saya punya nama eko putri setian, kalian bisa panggil saya Ibu Puput .....). Beberapa susunan kalimat di daerah Papua berbeda dengan bahasa Indonesia pada umumnya, agar membaur dengan mereka dan agar mereka mudah memahami penjelasan kita maka kami harus mampu berbahasa seperti mereka.
                Siswa-siswa terkesan pendiam, maka saya sebagai guru harus pandai-pandai memancing mereka agar lebih aktif di kelas. Rata-rata siswa papua memiliki kinestetik yang baik, mereka hobi bermain bola kaki (sepak bola) dan bola voli. Siswa tidak betah jika hanya duduk diam dan belajar, untuk itu perlu diselingi dengan pembelajaran berbasis games, sehingga mereka tidak akan bosan.
                Selanjutnya, saya berkenalan dengan siswa-siswa kelas XI Akuntansi yang berjumlah 24 siswa, 6 siswa merupakan pendatang sedangkan yang lain orang papua asli. Kelas yang ada pendatangnya terkesan lebih ramai dibanding siswa yang tidak ada pendatangnya. Kami pun saling memperkenalkan diri. Saya penasaran dengan kemampuan akuntansi siswa kelas XI, untuk itu saya menanyakan hal-hal dasar tentang akuntansi kepada mereka. Hasilnya ternyata mereka tidak menguasai, mereka beralasan sudah beberapa bulan tidak ada guru akuntansi yang mengajar mereka.
                Di SMK YAPIS Teminabuan memang tidak ada guru yang lulusan Akuntansi, sehingga sebelumnya yang mengajar Akuntansi adalah guru lulusan jurusan lain yang tentunya tidak begitu menguasai materi akuntansi. Dengan demikian dalam setahun kedepan saya ditugaskan untuk mengajar materi akuntansi kelas X dan kelas XI. Tentu saja perangkat dan buku paket tidak ada, sehingga perlu menyusun perangkat sendiri dan juga perlu mengirim buku paket dari Jawa untuk memenuhi kebutuhan dalam proses kegatan belajar mengajar.
                Dengan berlalunya waktu kami semakin dekat dengan siswa dan masyarakat sekitar, siswa maupun masyarakat sekitar sering bercerita berbagai hal yang menarik. Siswa SMK YAPIS Teminabuan bukan hanya dari distrik Teminabuan, tetapi dari berbagai distrik yang ada di Sorong Selatan. Mereka yang memiliki kampung halaman yang jauh maka mereka harus kos di dekat sekolah. Ada juga siswa dari kabupaten tetangga yaitu kabupaten Maybrat yang merupakan kabupaten pemekaran dari Sorong Selatan.
                Saya kagum dengan kegigihan siswa untuk bersekolah, mereka rela berjalan kaki cukup jauh untuk sampai di sekolah. Medan jalan yang ditempuh berbukit, sehingga tidak ada yang menggunakan kendaraan sepeda. Mereka juga sering membantu mencari uang orang tua mereka dengan ikut mencari hasil laut seperti ikan, kepiting dan udang, mencari hasil hutan seperti langsat, durian dan cempedak serta ada beberapa siswa yang menjaga toko di pasar, menjadi tukang bangunan dan menjadi tukang ojek. Kami para guru sering dibawakan hasil laut dan dan hasil hutan oleh para siswa.
                Hal yang menarik dari masyarakat papua adalah masih berlakunya hukum adat, berbagai hal banyak yang diputuskan secara adat. Salah satunya adalah aturan tentang menabrak anjing. Jika kita secara tidak sengaja menabrak anjing sampai mati maka kita akan mendapat denda yang cukup besar hingga Rp10.000.000,00 tergantung hasil keputusan kepala adat. Semakin banyak jumlah susu yang dimiliki anjing tersebut maka akan semakin banyak nominal dendanya.
                Misal jika ada pertikaian antar keluarga, dalam keluarga atau dengan masyarakat pendatang juga akan diselesaikan secara hukum adat. Dan pihak yang merasa dirugikan akan menerima sejumlah uang sebagai denda dari pihak yang merugikan. Di sekolah pun pernah terjadi pertikaian, dan tentu saja siswa yang memukul membayar denda ke siswa yang dipukul. Yaa, kita sebagai guru juga harus hati-hati dalam memperlakukan siswa, jangan sampai memukul siswa dan kemudian dipermasalahkan secara adat.
                 Tentang pendidikan, siswa-siswa papua kebanyakan memang tertinggal dibanding siswa-siswa dari daerah lain yang lebih maju. Butuh waktu lebih banyak untuk dapat memahamkan mereka tentang suatu materi. Dengan demikian tidak heran jika rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah dibuat tidak begitu sesuai dengan pelaksanaan di lapangan. Bahkan beberapa siswa usia sekolah menengah membacanya masih sangat terbata-bata dan belum lancar sehingga hal itu tentu saja akan berpengaruh terhadap pemahaman siswa mengenai suatu materi. Apalagi materi-materi akuntansi yang banyak hitungannya, mereka masih susah dalam berhitung. Untuk itu, saya perlu ekstra sabar dalam mengajari mereka. Daya ingat kebanyakan mereka juga lemah, sehingga kita perlu menemukan cara unik agar mereka tidak mudah melupakan materi tersebut.
                Sungai-sungai di Sorong Selatan begitu jernih dan masih alami, saya bersama siswa-siswa dan teman-teman sering mandi di sungai sambil menikmati suasana indah di sana. Ketika ada acara-acara adat atau acara kenegaraan sering mereka memakai pakaian adat dan melaksanakan tarian-tarian yang begitu mempesona. Kami terkadang juga ikut menari bersama mereka. Saya berdoa semoga budaya mereka tetap terjaga, dan tidak terpengaruh dengan budaya modern yang tentu kontra dengan budaya mereka.
                Saya sangat bersyukur bisa mendapatkan pengalaman yang sangat berharga dan mengesankan. Saya bangga sempat belajar bersama siswa siswi tanah papua dan menikmati berbagai kegiatan yang kami lakukan bersama. Pasti akan terasa berat saat berpisah dengan mereka, terlalu banyak kenangan indah dengan mereka. Saya berharap masih banyak dari kita yang peduli pendidikan di tanah papua. Mereka sangat membutuhkan kita semua untuk mengajarkan berbagai hal agar papua lebih maju, agar bisa mengolah sendiri alam papua yang sangat kaya. Sehingga pada akhirnya papua menjadi daerah yang lebih maju dan membanggakan. “Tanah Papua, Tanah Leluhur, Surga Kecil, Jatuh ke bumi...” merupakan sepenggal lirik lagu yang mengakhiri cerita saya ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komen o yo rek,, *suwun