Rabu, Februari 03, 2016

UANG

A.      SEJARAH UANG

1.      Tahap Pra Barter
      Pada tahap ini masyarakat belum mengenal pertukaran. Mereka berusaha memenuhi kebutuhan dengan usaha sendiri, yakni mengambil langsung dari alam sekitar dan tempat tinggalnya yang nomaden.

2.       Tahap Barter
        Peradaban manusia yang semakin maju mengakibatkan kebutuhan manusia semakinbertambah dan manusia mulai merasakan kebutuhannya tidak dapat dipenuhi sendiri. Sejak itulah terjadi pertukaran barang antara satu rumah dengan rumah lain. Misalnya satu ekor kambing ditukar dengan 10 ekor ayam, lima butir telur ditukar dengan satu kantong beras. Pertukaran barang ini disebut sistem barter (innatura). Kesulitan dalam sisitem barter:
a.   Sulit menemukan kedua belah pihak yang mempunyai keinginan dan kebutuhan yang sama (coincidence of wants).
b.    Membutuhkan waktu. Mencari orang yang memiliki kebutuhan yang bisa saling dipertukarkan tidak mudah.
c.   Tidak ada standar tukar untuk menentukan perbandingan harga. Sulit menentukan standar pertukaran yang tepat.
d.      Tidak semua pemilik barang mau menukarkan barang dengan kebutuhan.
e.      Pembeli tidak bebas dalam menentukan pilihannya karena dibatasi oleh ketersediaan barang dan keinginan untuk melakukan pertukaran.
f.       Sulit untuk melakukan pembayaran tertunda. Jika seseorang ingin menunda pembayaran ia akan kesulitan karena orang lain ingin saat itu juga barangnya dipertukarkan.

3.       Tahap Uang Barang
        Kesulitan yang timbul dari sistem barter mendorong manusia untuk menciptakan cara pertukaran yang lebih praktis, yaitu menggunakan uang barang. Uang barang adalah barang yang disukai oleh setiap orang dan dapat diterima semua pihak sebagai alat pertukaran, antara lain kulit kerang, tulang binatang, garam, the, tembakau, senjata tajam dan batu intan.
        Cara pertukarannya, barang yang dimiliki mula-mula ditukarkan dengan uang barang, kemudian uang barang ditukarkan dengan barang yang dibutuhkan. Walaupun sudah lebih maju, uang barang masih memiliki kelemahan:
a.       Nilai yang ditukarkan belum memiliki pecahan
b.      Banyak jenis uang yang beredar dan hanya berlaku di masing-masing daerah tertentu
c.       Uang barang sulit untuk disimpan dan diangkut/dibawa.

4.       Tahap Uang Logam
        Penggunaan uang barang mengalami beberapa kesulitan karena tidak mempunyai ukuran, berat, bentuk, dan identitas yang pasti. Uang barang sulit dipecah menjadi satuan yang lebih kecil dan sulit dibawa (tidak praktis). Untuk itu, dibuatlah uang logamyang terbuat dari emas dan perak. Proses pembuatannya, berat dan kadar logam diukur lebih dahulu, lalu diberi cap dan angka untuk menentukan nilainya.
        Alasan dipilihnya emas dan perak sebagai bahan untuk membuat uang logam yaitu tidak mudah rusak, memiliki nilai tinggi, mudah dipindah-pindah, mudah dipecah-pecah menjadi satuan yang lebih kecil, tetapi nilainya tetap tinggi, jumlahnya terbatas tetapi nilainya tetap tinggi, jumlahnya terbatas tapi nilainya tetap, dan digemari orang, serta tidak mudah dipalsukan.
        Uang emas dan perak mulai dibuat pada abad 7 SM. Nilai intrinsik dan nilai nominalnya sama sehingga disebut juga uang penuh (full bodied money).

5.       Tahap Uang kertas
        Transaksi dalam jumlah besar dengan menggunakan uang logam kurang praktis dan tidak aman. Karena kesulitan itulah mulai muncul uang kertas. Uang kertas diterima umum oleh masyarakat bukan karena nilainya, tetapi karena kepercayaan. Itulah sebabnya uang kertas disebut sebagai uang kepercayaan (fiduciary money).

6.       Tahap Uang Giral
        Perkembangan ekonomi yang semakin meningkat menuntut adanya alat pertukaran yang lebih mudah dan aman. Karena itulah diciptakan uang giral (uang bank). Contohnya adalah kartu kredit, cek, dan bilyet giro.

B.      PENGERTIAN UANG
           Edward Shapiro mengatakan bahwa “money is the dollar amount of all those things are generally acceptable by the public in payment of goods, services, and other valuable assets and for discharge of debt.” Artinya, uang adalah suatu benda yang umum diterima oleh masyarakat untuk pembayaran pembelian barang, jasa, dan barang berharga lainnya, serta untuk pembayaran utang.
              Sir Dennis Holme Robertson mengatakan bahwa “ money is something accepted in payment for goods.” Artinya, uang adalah sesuatu yang bias diterima dalam pembayaran untuk mendapatkan baran.

C.      FUNGSI UANG
             a.       Fungsi Asli
1)      Sebagai satuan nilai (Unit of Value), artinya uang dapat digunakan untuk megukur nilai suatu barang kemudian membandingkannya dengan barang lain.
2)      Sebagai alat tukar (Medium of Change), artinya uang dapat digunakan untuk pertukaran dan tidak perlu menunggu kesamaan kehendak.
             b.      Fungsi Turunan
1)      Alat pembayaran, artinya uang dapat digunakan untuk melakukan berbagai pembayaran, seperti membayar utang, membeli makanan, membayar gaji dll.
2)      Alat penyimpan kekayaan, artinya uang dapat digunakan untuk menyimpan kekayaan misalnya dengan menabung di bank.
3)      Alat pembentuk modal, artinya uang dapat digunakan sebagai modal mendirikan perusahaan baru atau menanamkannya dalam bentuk saham.
4)      Alat pemindah kekayaan, artinya uang dapat digunakan untuk memindahkan kekayaan dari satu tempat ke tempat yang lain atau pemindahan kepemilikan.

D.      JENIS UANG
             a.       Menurut bank yang mengeluarkan
1)      Uang kartal, adalah uang kertas dan uang logam yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Uang kartal ini berupa uang kertas dan uang logam.
2)      Uang giral, adalah uang yang digunakan sebagai alat pembayaran yang berupa cek, bilyet giro, kartu kredit dan lain-lain.

            b.      Menurut bahan pembuatnya
1)      Uang logam, adalah uang yang bahannya terbuat dari logam berupa emas, perak, atau logam lainnya yang beredar sebagai alat pembayaran.
2)      Uang kertas, adalah uang yang bahannya terbuat dari kertas.

            c.       Menurut asal negara
1)      Mata uang dalam negeri, adalah mata uang yang dikeluarkan olej negara itu sendiri.
2)      Mata uang asing, adalah mata uang yang beredar dalam suatu negara, tetapi yang mengeliarkan adalah negara lain.

            d.      Menurut nilai uang
1)      Uang bernilai penuh (full bodied money), adalah uang yang nilai intrinsiknya (nilai bahannya) sama dengan nilai nominal atau nilai penuh yang terdapat pada standar emas.
2)      Uang tidak bernilai penuh, adalah uang yang nilai intrinsiknya (bahannya) lebih kecil dari pada nilai nominalnya.

E.       SYARAT UANG
a.       Mudah dibawa (portability) sehingga dapat digunakan kapan saja dan dimana saja.
b.      Tahan lama (durability) sehingga tidak perlu diganti setiap saat.
c.       Dapat dipecah menjadi unit-unit yang lebih kecil (divisibility) untuk memudahkan transaksi
d.      Nilainya stabil (stability) agar diterima secara umum.
e.      Dieterima secara umum (acceptability) oleh pemerintah maupun anggota-anggota masyarakat lainnya.
f.        Jumlahnya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat serta tidak mudah dipalsukan
g.       Secara psikologis memuaskan keinginan orang yang memilikinya.

F.       PENGELOLAAN UANG RUPIAH OLEH BANK INDONESIA
        Rupiah merupakan salah satu uang yang beredar di dunia dan merupakan mata uang negara Indonesia. Menurut Undang-undang No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, rupiah adalah alat pembayaran yang sah di wilayah Indonesia dan wajib dipergunakan dalam setiap transaksi pembayaran tunai di seluruh Indonesia.
        Rupiah ditetapkan sebagai salah satu simbol kedaulatan negara yang harus dihormati dan dibanggakan oleh seluruh warga negara Indonesia. Oleh karenanya harus dilakukan pengelolaan rupiah sedemikian rupa agar simbol kedaulatan dan alat pembayaran yang sah tetap terjaga. Bagaimana pengelolaan rupiah dilakukan dan siapa yang bertugas mengelolanya?
        Pengelolaan rupiah adalah suatu kegiatan yang mencakup perencanaan, pencetakan, pengeluaran, pengedaran, pencabutan dan penarikan serta pemusnahan uang rupiah yang dilakukan secara efektf, efisien, transparan dan akuntabel. Berdasarkan pengertian tersebut terdapat enam tahap pengelolaan rupiah yaitu perencanaan, pencetakan, pengeluaran, pengedaran, pencabutan dan penarikan, serta pemusnahan.
        Lembaga yang berkewajiban melakukan pengelolaan rupiah adalah Bank Indonesia. Namun demikian, Bank Indonesia tidak bisa bekerja sendiri dalam pengelolaan rupiah. Pada tanggal 27 Juni 2012 telah ditandatangani nota kesepahaman pengelolaan rupiah antara menteri Keuangan dengan Bank Indonesia dalam rangka koordinasi pengelolaan rupiah sebagai bagian dari upaya peningkatan akuntabilitasdan transparansi pengelolaan rupiah.
        Dalam nota kesepahaman tersebut disepakati koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia dalam bentuk pemberitahuan dan tukar menukar informasi dalam rangka meningkatkan akuntabilitas dan transparansi pengelolaan rupiah pada tahap perencanaan, pencetakan dan pemusnahan rupiah. Adapun tahapan-tahapan lainnya tetap sepenuhnya tanggung jawab Bank Indonesia.
a.       Perencanaan rupiah
Perencanaan adalah suatu rangkaian kegiatan menetapkan besarnya dan jenis pecahan yang akan dicetak berdasarkan perkiraan kebutuhan uang rupiah dalam periode tertentu. Perencanaan rupiah ini dilaksanakan pemerintah dan Bank Indonesia. Dalam perencanaan dan penentuan jumlah uang yang akan dicetak perlu memerhatikan tingkat inflasi, pertumbuhan ekonomi, macam dan pecahan uang rupiah, serta perkiraan jumlah rupiah yang dimusnahkan. Dalam penetapan pecahan rupiah dilakukan dengan memerhatikan kondisi moneter, kepraktisan sebagai alat pembayaran, dan kebutuhan masyarakat.
b.      Pencetakan rupiah
Pencetakan adalah seluruh rangkaian pencetakan uang rupiah. Bank Indonesia mengundang pemerintah, dalam hal ini Menteri Keuangan untuk menentukan jumlah rupiah yang akan dicetak. Setelah disepakati jumlah dan pecahan uang yang akan dicetak, BI menunjuk badan usaha milik negara (BUMN) sebagai pelaksana pencetakan uang rupiah.
c.       Pengeluaran rupiah
Pengeluaran rupiah adalah rangkaian kegiatan penerbitan uang rupiah sebagai alat pembayaran yang sah di wilayah Indonesia. Bank Indonesia menetapkan tanggal, bulan dan tahun mulai berlakunya uang rupiah yang dikeluarkan sebagai alat pembayaran yang sah di wilayah NKRI.
d.      Pengedaran Rupiah
Pengedaran rupiah adalah suatu rangkaian kegiatan mengedarkan atau mendistribusikan uang rupiah di wilayah NKRI. Bank Indonesiamerupakan satu-satunya lembaga yang berwenang mengedarkan uang rupiah kepada masyarakat sesuai dengan kebutuhan. Berkaitan dengan peredaran uang rupiah tersebut Bank Indonesia menentukan nomor seri uang kertas.
e.      Pencabutan dan Penarikan Rupiah
Pencabutan dan penarikan rupiah adalah rangkaian kegiatan yang menetapkan uang rupiah tidak berlaku lagi sebagai alat pembayaran yang sah di NKRI. Masa tidak berlakunya yaitu setelah sepuluh tahun sejak tanggal  pencabutan. Berkenaan dengan uang yabng dicabut dan ditarik peredarannya, BI memberikan penggantian atas uang rupiah tersebut sebesar nominal yang sama, yaitu sebagai berikut.
1)      Lima tahun sejak tanggak pencabutan penukaran dilakukan di bank Indonesia, bank yang beroperasi di seluruh NKRI, dan pihak lain yang ditunjuk oleb Bank Indonesia.
2)      Lima tahun sejak berakhirnya jangka waktu penukaran.
f.        Pemusnahan Uang Rupiah
Pemusnahan adalah suatu rangkaian kegiatan meracik, melebur atau cara lain memusnahkan uang rupiah sehingga tidak menyerupai uang rupiah. Pemusnahan rupiah dilakukan terhadap rupiahyang tidak layak edar, rupiah yang masih layak edar namun berdasarkan pertimbangan tertentu tidak lagi mempunyai manfaat ekonomis dan/atau kurang diminati oleh masyarakat, serta rupiah yang sudah tidak berlaku.


G.     UNSUR PENGAMAN UANG RUPIAH
          Bank Indonesia sebagai satu-satunya lembaga yang memiliki tugas pokok mengedarkan uang rupiah, berkewajiban melakukan pengamanan terhadap rupiah. Dengan menciptakan fitur keamanan rupiah (security fitures), baik dalam bentuk kasat mata maupun tidak kasat mata. Fungsi lainnya yaitu fungsi estetika, agar uang tampak menarik dan membedakan antara satu pecahan dengan pecahan lainnya, atau antara satu negara dengan mata uang lainnya.
          Bank Indonesia selalu berupaya agar uang yang dikeluarkan dan diedarkan memiliki ciri-ciri dan unsur pengaman yang cukup mudah dikenal oleh masyarakat, namun dipihak lain dapat melindungi uang dari unsur pemalsuan. Ciri-ciri tersebut bisa berupa bahan yang digunakan untuk membuat uang (kertas, plastik atau logam), desain dan warna masing-masing pecahan uang, maupun pada teknik pencetakan uang tersebut. Prinsip penetapan ciri-ciri tersebut yaitu semakin besar nilai nominal uang maka semakin banyak unsur pengaman dari uang tersebut sehingga aman dari usaha pemalsuan.
        Ada tiga jenis pengamanan rupiah, yaitu pengamanan terbuka, semi tertutup dan tertutup. Pengamanan terbuka adalah unsur pengamanan yang dapat dideteksi tanpa bantuan alat, pengamanan semi tertutup adalah unsur pengamanan yang dapat dideteksi dengan menggunakan alat sederhana seperti kaca pembesar dan lampu ultra violet (UV), sedangkan pengamanan tertutup adalah unsur pengaman yang hanya dideteksi dengan menggunakan peralatan laboratorium/forensik.

a. Unsur pengaman pada uang kertas
       Unsur pengaman pada uang kertas meliputi bahan uang dan teknik cetak. Pemilihan unsur pengaman merupakan suatu aspek yang penting agar uang sulit dipalsukan. Perlu disadari bahwa sulitnya uang untuk dipalsukan tidak semata-mata tergantung pada unsur pengaman, tetapi juga dipengaruhi oleh gambar, desain, warna, dan teknik cetak.
         Unsur pengaman pada uang kertas rupiah dapat dibedakan berdasarkan unsur pengaman yang terbuka dan tidak terbuka. Kebanyakan unsur pengaman adalah yang terbuka dan dapat dilihat dengan mudah oleh masyarakat. Pendeteksi unsur pengaman tersebut dapat dilakukan dengan kasat mata, perabaan tangan (kasat raba), dan dengan menggunakan peralatan sederhana seperti kaca pembesar dan sinar ultra violet. Pendeteksi unsur pengaman yang tidak terbuka hanya dapat dilakukan dengan suatu mesin yang memiliki sensor tertentu yang memiliki tingkat kepastian dan kecepatan yang cukup tinggi untuk mengetahui unsur pengaman tersebut.
          Dalam melakukan pemilihan unsur pengaman unsur pengaman uang kertas, pada umumnya mempertimbangkan 2 hal utama, yaitu sebagai berikut. 
1)    Semakin besar nominal pecahan diperlukan unsur pengaman yang lebih baik, kompleks, dan canggih.   
2) Unsur pengaman yang dipilihidasarkan pada hasil penelitian dan mempertimbangkan perkembangan teknologi.
 
b.      Karakteristik Uang Logam Rupiah
       Beberapa karakteristik yang perlu diperhatikan pada uang logam rupiah adalah sebagai berikut:
1)     Setiap pecahan uang logam mudah dikenali
2) Uang logam menggunakan bahan yang tahan  lama dan tidak mengandung zat yang membahayakan.
3)   Uang logam yang dikeluarkan dalam ukuran yang sesuai, tidak terlalu besar dan tidak terlalu berat.
4)     Uang logam rupiah berbentuk bulat, dengan bagian samping bergerigi atau tidak bergerigi.

          Kesulitan dalam penggunaan uang kartal dalam transaksi besar menyebabkan orang beralih pada transaksi nontunai. Dengan transaksi non tunai kesulitan-kesulitan dalam transaksi tunai menggunakan uang kartal bisa diatasi. Misalnya masyarakat cukup membawa kartu kredit atau kartu debit saja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komen o yo rek,, *suwun