Kamis, September 15, 2016

Non Current Liabilities



KEWAJIBAN JANGKA PANJANG

            Hutang jangka panjang adalah pengorbanan manfaat ekonomi yang sangat mungkin di masa depan akibat kewajiban sekarang yang tidak dibayarkan dalam satu tahun atau siklus operasi perusahaan. Hutang jangka panjang terdiri dari Hutang Obligasi, Wesel Bayar Jangka Panjang, Hutang Hipotik, Kewajiban Pensiun dan Kewajiban Leasing.

A.    OBLIGASI
1.      Penerbitan Obligasi
            Obligasi merupakan surat hutang jangka menengah-panjang yang dapat dipindahtangankan yang berisi janji dari pihak yang menerbitkan untuk membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada waktu yang telah ditentukan kepada pihak pembeli obligasi tersebut. Obligasi yang timbul dari suatu kontrak disebut sebagai indenture obligasi dan merupakan janji untuk membayar (1) sejumlah uang yang harus dibayar pada tanggal jatuh tempo ditambah (2) bunga periodik pada tingkat tertentu atas jumlah yang jatuh tempo (nilai nominal). Tujuan utama dari obligasi adalah untuk meminjam dana jangka panjang apabila jumlah modal yang dibutuhkan terlalu besar untuk disediakan oleh satu pemberi pinjaman.

2.      Jenis Obligasi
a.       Dilihat dari sisi penerbit:
1)      Corporate Bonds: obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan, baik yang berbentuk badan usaha milik negara (BUMN), atau badan usaha swasta.
2)      Government Bonds: obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah pusat.
3)      Municipal Bond: obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah daerah untut membiayai proyek-proyek yang berkaitan dengan kepentingan publik (public utility).
b.      Dilihat dari sistem pembayaran bunga:
1)      Zero Coupon Bonds: obligasi yang tidak melakukan pembayaran bunga secara periodik. Namun, bunga dan pokok dibayarkan sekaligus pada saat jatuh tempo.
2)      Coupon Bonds: obligasi dengan kupon yang dapat diuangkan secara periodik sesuai dengan ketentuan penerbitnya.
3)      Fixed Coupon Bonds: obligasi dengan tingkat kupon bunga yang telah ditetapkan sebelum masa penawaran di pasar perdana dan akan dibayarkan secara periodik.
4)      Floating Coupon Bonds: obligasi dengan tingkat kupon bunga yang ditentukan sebelum jangka waktu tersebut, berdasarkan suatu acuan (benchmark) tertentu seperti average time deposit (ATD) yaitu rata-rata tertimbang tingkat suku bunga deposito dari bank pemerintah dan swasta.
c.       Dilihat dari hak penukaran/opsi:
1)      Convertible Bonds: obligasi yang memberikan hak kepada pemegang obligasi untuk mengkonversikan obligasi tersebut ke dalam sejumlah saham milik penerbitnya.
2)      Exchangeable Bonds: obligasi yang memberikan hak kepada pemegang obligasi untuk menukar saham perusahaan ke dalam sejumlah saham perusahaan afiliasi milik penerbitnya.
3)      Callable Bonds: obligasi yang memberikan hak kepada emiten untuk membeli kembali obligasi pada harga tertentu sepanjang umur obligasi tersebut.
4)      Putable Bonds: obligasi yang memberikan hak kepada investor yang mengharuskan emiten untuk membeli kembali obligasi pada harga tertentu sepanjang umur obligasi tersebut.
d.      Dilihat dari segi jaminan atau kolateralnya:
1)      Secured Bonds: obligasi yang dijamin dengan kekayaan tertentu dari penerbitnya atau dengan jaminan lain dari pihak ketiga. Dalam kelompok ini, termasuk didalamnya adalah: Guaranteed Bonds, Mortgage Bonds, Collateral Trust Bonds.
2)   Unsecured Bonds: obligasi yang tidak dijaminkan dengan kekayaan tertentu tetapi dijamin dengan kekayaan penerbitnya secara umum.
a.         Dilihat dari segi nilai nominal:
1)      Konvensional Bonds: obligasi yang lazim diperjualbelikan dalam satu nominal, Rp 1 miliar per satu lot.
2)      Retail Bonds: obligasi yang diperjual belikan dalam satuan nilai nominal yang kecil, baik corporate bonds maupun government bonds.
b.        Dilihat dari segi perhitungan imbal hasil:
1)      Konvensional Bonds: obligasi yang diperhitungan dengan menggunakan sistem kupon bunga.
2)      Syariah Bonds: obligasi yang perhitungan imbal hasil dengan menggunakan perhitungan bagi hasil. Dalam perhitungan ini dikenal dua macam obligasi syariah, yaitu: Obligasi Syariah Mudharabah dan Obligasi Syariah Ijarah.

3.      Penilaian Hutang Obligasi – Diskonto dan Premi
            Harga jual obligasi ditentukan oleh permintaan dan penawaran dari pembeli dan penjual, risiko relatif, kondisi pasar dan keadaan perekonomian. Investor menilai obligasi pada nilai sekarang dari arus kas ke masa depan yang diharapkan, yang terdiri dari bunga dan pokok/nilai nominal. Suku bunga yang digunakan untuk menghitung nilai sekarang dari arus kas masa depan adalah suku bunga yang memberikan pengembalian atas investasi yang dapat diterima, yang sebanding dengan risiko penerbitannya.
            Suku bunga yang ditulis dalam persyaratan obligasi disebut suku bunga ditetapkan/kupon/nominal. Suku bunga ini yang ditetapkan oleh penerbit obligasi dinyatakan dalam persetase dari nilai nominal yang disebut nilai pari (par value), jumlah pokok (principal amount) atau nilai jatuh tempo (maturity value). Selisih antara nilai nominal dengan nilai sekarang menentukan harga aktual yang dibayar pembeli obligasi. Selisih antara nilai nominal dengan nilai sekarang bisa berupa premi atau diskonto. Jika obligasi dijual lebih tinggi dari nominalnya maka dijual dengan premi, sebaliknya jika obligasi dijual lebih rendah dari nilai nominalnya maka dijual dengan diskonto.
            Suku bunga aktual yang dihasilkan oleh pemegang obligasi disebut hasil efektif (effective yield), atau suku bunga pasar (market rate). Jika obligasi dijual dengan diskonto, maka hasil efektifnya lebih tinggi dari suku bunga ditetapkan. Sebaliknya, jika obligasi dijual pada premi, maka hasil efektifnya lebih rendah dari suku bunga ditetapkan. Pada saat obligasi beredar, harganya dipengaruhi oleh beberapa variabel, di mana yang sangat berpengaruh adalah suku bunga pasar. Hal ini merupakan hubungan terbalik antara suku bunga pasar dengan harga obligasi.
            Apabila obligasi dijual di bawah nilai nominal maka investor menuntut suku bunga yang lebih tinggi dari yang ditetapkan. Biasanya ini terjadi karena investor dapat menghasilkan tingkat yang lebih tinggi pada investasi alternatif dengan risiko yang sama. Mereka tidak dapat mengubah suku bunga yang ditetapkan sehingga menolak untuk membayar sebesar nilai nominal obligasi. Jadi, dengan mengubah jumlah investasi mereka dapat mengubah suku bunga efektif. Karena investor menerima suku bunga ditetapkan yang dihitung pada nilai nominal, maka hal ini menghasilkan suku bunga efektif yang lebih tinggi dari pada suku buna ditetapkan karena mereka membayar lebih kecil dari nilai nominal obligasi.

4.      Metode Bunga Efektif/Amortisasi Nilai Sekarang
            Obligasi diterbitkan dengan diskon: jumlah yang dibayar saat jatuh tempo lebih besar daripada harga penerbitan obligasi. Obligasi diterbitkan dengan premium: perusahaan menjual obligasi dengan harga lebih tinggi daripada nilai nominal yang dibayarkan saat jatuh tempo. Penyesuaian terhadap beban bunga obligasi dicatat melalui proses yang disebut amortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif.
Metode bunga efektif:
1.      Beban bunga obligasi dihitung pertama kali dengan mengalikan nilai buku obligasi pada awal periode dengan suku bunga efektif.
2.      Amortisasi diskonto atau premi obligasi kemudian ditentukan dengan membandingkan bunga obligasi terhadap bunga yang dibayarkan.
Beban Bunga Obligasi
Nilai Tercatat Obligasi Pada Awal Periode x Suku Bunga Efektif

(-)
 
Pembayaran Bunga Obligasi
Jumlah Nominal Obligasi x Suku Bunga Ditetapkan

 =
Jumlah Amortisasi
 

 
            Dengan menggunakan metode suku bunga efektif, beban bunga periodik dicatat pada persentase konstan atas nilai buku obligasi. Karena persentasinya adalah suku bunga efektif yang dikeluarkan peminjam pada waktu penerbitan, maka metode bunga efektif menghasilkan penandingan beban yang lebih baik terhadap pendapatan dibandinkan metode garis lurus. Namun, metode bunga efektif dan metode garis lurus menghasilkan jumlah total beban bunga yang sama selama jangka waktu obligasi.

Pelunasan Hutang Lebih Awal
            Jika obligasi dipegang hingga jatuh tempo, maka tidak ada keuntungan atau kerugian yang dihitung. Setiap premi atau diskonto dan setiap biaya penerbitan akan diamortisasi sepenuhnya pada tanggal obligasi jatuh tempo. Akibatnya, jumlah tercatat akan sama dengan nilai jatuh tempo (nominal) obligasi tersebut. Karena nilai nominal sama dengan nilai pasar obligasi maka tidak ada keuntungan atau kerugian.
            Dalam beberapa kasus, hutang dilunasi lebih awal sebelum tanggal jatuh tempo. Jumlah yang dibayarkan atas pelunasan lebih awal sebelum jatuh tempo mencakup premi penarikan dan beban reakuisisi yang disebut harga reakusisi. Pada tanggal tertentu, jumlah tercatat bersih dari obligasi adalah jumlah yang akan dibayarkan pada jatuh tempo yang disesuaikan dengan premi atau diskonto yang belum diamortisasi dan biaya penerbitan. Setiap kelebihan dari jumlah bersih yang tercatat di atas harga reakusisi merupakan keuntungan dari pelunasan lebih awal dan sebaliknya.

E14-14 (Ayat Jurnal untuk Penarikan Obligasi, Biaya Penerbitan Obligasi)
Pada tanggal 2 Januari 2012, Prebish Corporation menerbitkan $1.500.000 dari obligasi 10% untuk menghasilkan 11%  yang jatuh tempo tanggal 31 Desember 2021. Bunga obligasi dibayarkan setiap tahun tanggal 31 Desember. Obligasi ini dapat ditebus pada 101(yaitu pada 101% dari nilai nominal), dan pada tanggal 2 Januari 2015 Prebish menebus $1.000.000 dari obligasi tersebut dan menariknya.
a.       Tentukan harga obligasi Prebish ketika diterbitkan tanggal 2 Januari 2012.
Nilai sekarang dari pokok:
      $1.500.000 x 0,35218                                                 $  528.270
Nilai sekarang dari pembayaran bunga:
            ($1.500.000 x 10%) x 5,88923                                         883,385
       Nilai sekarang (harga jual) obligasi                                  $1.411.655

b.      Buatlah skedul amortisasi obligasi tahun 2012-2016.
Skedul Amortisasi (Obligasi 10 tahun, 10%, dijual untuk hasil 11%)
Tanggal
Kas Dibayarkan
Beban
Bunga
Amortisasi Diskonto
Jumlah Tercatat Obligasi
2 Jan 2012



$1.411.655
31 Des 2012
$150.000
$155.282
$5.282
1.416.937
31 Des 2013
150.000
155.863
5.863
1.422.800
31 Des 2014
150.000
156.508
6.508
1.429.308
31 Des 2015
150.000
157.224
7.224
1.436.532
31 Des 2016
150.000
158.019
8.019
1.444.551

c.       Dengan mengabaikan pajak, hitunglah jumlah kerugian, jika ada, yang harus diakui oleh Prebish sebagai akibat penarikan obligasi senilai $1.000.000 pada 2015 dan buatlah ayat jurnal untuk mencatat penarikan tersebut.
Jurnal untuk mencatat penarikan obligasi tanggal 2 Januari 2015:

      Hutang Obligasi ($1.429.308 x $1.000.000 / $1.500.000)     952.872
      Kerugian atas penarikan obligasi                                              57.128
                  Kas ($1.000.000 x 101%)                                                       1.010.000


B.     WESEL BAYAR JANGKA PANJANG
            Akuntansi untuk wesel dan obligasi sangat mirip. Seperti obligasi, wesel juga dinilai pada nilai sekarang dari arus kas bunga masa depan, dimana setiap premi dan diskonto diamortisasi dengan cara yang sama selama umur wesel tersebut.
1.      Wesel yang Diterbitkan Pada Nilai Nominal
Karena nilai sekarang wesel sama dengan nominalnya, maka tidak ada premi atau diskonto yang diakui.
2.      Wesel yang Tidak Diterbitkan Pada Nilai Nominal
a.       Wesel Dengan Bunga Nol
Perusahaan penerbit mencatat perbedaan antara nilai nominal dengan present value (harga jual) sebagai diskon yang diamortisasi sebagai beban bunga selama umur wesel.
b.       Wesel Berbunga
Akuntansi pada wesel bayar dengan kupon/bunga serupa dengan akuntansi pada obligasi. Jika terdapat diskon atau premi, maka jumlah tersebut diamortisasi selama umur wesel bayar dengan menggunakan metode suku bunga efektif.
3.      Wesel Bayar dalam Situasi Khusus
Wesel Diterbitkan untuk Properti, Barang dan Jasa. Ketika melakukan penukaran instrumen liabilitas dengan properti, barang, atau jasa di dalam transaksi tawar-menawar, maka suku bunga tercantum dianggap wajar, kecuali:
1)      Tidak dicantumkan suku bunga, atau
2)      Suku bunga tercantum tidak masuk akal, atau
3)      Nilai nominal berbeda secara material dengan harga kas saat transaksi untuk item serupa atau dari nilai wajar instrumen liabilitas saat transaksi.
4.      Wesel Bayar Hipotik
Wesel bayar Hipotik merupakan wesel dengan jaminan dokumen yang yang menjanjikan hak untuk properti sebagai pengaman pinjaman. Wesel bayar hipotik sering digunakan oleh perusahaan dan persekutuan daripada korporasi. Peminjam biasanya menerima kas dalam jumlah nominal wesel hipotik, dimana jumlah nominal wesel itu merupakan kewajiban yang sebenarnya dan tidak ada diskonto atau premi yang terlibat. Namun, apabila dikenakan penilaian “poin” oleh pemberi pinjaman, maka jumlah total yang diterima oleh peminjam kurang dari jumlah nilai nominal wesel. Poin menaikkan suku bunga efektif diatas yang ditetapkan suku bunga dalam wesel. Satu poin adalah 1% dari nilai nominal wesel.

Pilihan Suku Bunga
            Dalam transaksi wesel, suku bunga pasar atau suku bunga efektif itu nyata atau dapat ditentukan oleh faktor lain yang terlibat dalam pertukaran, seperti nilai pasae wajar dari apa yang diberikan atau diterima. Namun, jika sebuah perusahaan tidak dapat menentukan nilai wajar property, barang dan jasa dan jika wesel tersebut tidak mempunyai pasar yang siap menampungnya, masalah penentuan nilai sekarang wesel tersebut lebih sulit. Untuk memperkirakan nilai sekarang dari wesel dalam kondisi seperti itu, perusahaan  harus memperkirakan suku bunga penerapan yang mungkin berbeda dengan suku bunga yang ditetapkan. Proses penaksiran ini disebut Pengaitan, dan suku bunga yang dihasilkan disebut Suku Bunga Terkait.
            Suku bunga yang berlaku untuk instrumen yang serupa dari dari para lembaga penerbit wesel yang mempunyai peringkat kredit yang serupa akan mempengaruhi pilihan suku bunganya. Faktor lain yang berpengruh lainnya adalah perjanjian pembatasan, jaminan, jadwal pembayaran, dan suku bunga utama yang berlaku. Perusahaan menentukan suku bunga terkait letika mereka menerbitkan wesel, perubahan yang terjadi sesudahnya pada suku bunga yang ada akan diabaikan.


C.    SPESIAL ISU TERKAIT KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
1.      Pelunasan Kewajiban Jangka Panjang
a.       Pelunasan dengan kas belum jatuh tempo
·         Harga reakuisisi > Nilai buku bersih = Rugi
·         Harga reakuisisi < Nilai buku bersih = Untung
·         Pada saat reakuisisi, premium atau diskon harus diamortisasi sampai tanggal rekuisisi.
b.      Pelunasan dengan aset atau sekuritas
·         Kreditur harus mencatat aset non-kas atau bunga ekuitas yang diterima pada nilai wajar.
·         Debitur mengakui keuntungan sebesar kelebihan nilai buku terutang terhadap nilai wajar aset atau ekuitas yang ditransfer.
c.       Pelunasan dengan persyaratan modifikasi
Kreditur dapat menawarkan satu atau kombinasi dari modifikasi berikut:
·         Pengurangan suku bunga nominal.
·         Perpanjangan jatuh tempo pembayaran nilai nominal utang.
·         Pengurangan nilai nominal utang.
·         Pengurangan atau penangguhan accrued interest.

2.      Opsi Nilai Wajar
            Umumnya kewajiban jangka panjang seperti obligasi dan wesel diukur berdasarkan biaya amortisasi (nilai nominal hutang disesuaikan untuk pembayaran dan amortisasi dari premi atau diskonto). Namun, perusahaan memiliki opsi untuk menilai aset dan kewajiban berdasarkan nilai wajar (fair value). IASB yakin bahwa pengukuran instrumen keuangan pada nilai wajar, termasuk kewajiban keuangan, memberikan informasi yang lebih relevan dan dapat dipahami dari pada biaya amortisasi. Penggunaan nilai wajar lebih relevan karena merefleksikan nilai ekuivalen kas saat ini dari instrumen keuangan.
            Jika perusahaan memilih menggunakan opsi nilai wajar, maka kewajiban jangka panjang seperti obligasi dan wesel dicatat pada nilai wajarnya, dengan laba atau rugi yang belum direalisasi dilaporkan menjadi bagian dari laba/rugi bersih. Laba atau rugi yang belum direalisasi adalah perubahan bersih dari nilai wajar kewajiban dari satu periode ke periode lain, beban bunga terdeteksi tapi tidak dicatat. Perusahaan melaporkan kewajiban pada nilai wajar pada setiap tanggal pelaporan. Perusahaan melaporkan perubahan nilai wajarnya sebagai bagian dari laba/rugi bersih.
            Contoh: PT. ABC menerbitkan obligasi dengan nilai nominal Rp 500.000.000 dan kupon 6% pada tanggal 1 Mei 2015. PT. ABC menggunakan opsi nilai wajar di dalam pencatatan obligasi. Pada tanggal 31 Desember 2015, nilai obligasi menjadi Rp 480.000.000 akibat peningkatan suku bunga pasar menjadi 8%. Nilai dari obliasi ini menurun karena suku bunga obligasi lebih kecil  dibandingkan dengan suku bunga pasar untuk sekuritas sejenis. Maka, PT. ABC akan membuat jurnal berikut:

     Hutang Obligasi (Rp500.000.000-Rp480.000.000)                       Rp20.000.000
            Laba/Rugi yang Belum Direalisasi – Pendapatan                               Rp20.000.000

Jurnal tersebut mengindikasikan bahwa nilai dari obligasi menurun. Penurunan ini menyebabkan pengurangan dari hutang obligasi dan menghasilkan laba yang belum direalisasi, yang akan dilaporkan pada bagian laba/rugi bersih. Penurunan nilai obligasi ini disebabkan karena tingkat suku bunga naik. Hal ini menyebabkan PT. ABC harus melanjutkan penilaian hutang obligasi dengan menggunakan nilai wajar pada periode berikutnya.

Kontroversi Nilai Wajar
            Pada obligasi PT. ABC di atas, diasumsikan bahwa penurunan nilai obligasi karena suku bunga yang meningkat. Di situasi lain, penurunan mungkin saja terjadi karena obligasi mengalami kegagalan. Jika kelayakan kredit (creditworthiness) menurun, maka nilai dari obligasi juga menurun. Jika kelayakan kredit menurun, investor obligasi menerima tingkat suku bunga relatif yang lebih rendah dibandingkan investor yang memiliki investasi dengan risiko yang sama. Jika PT. ABC menggunakan opsi nilai wajar, perubahan nilai wajar dari hutang obligasi untuk penurunan kelayakan kredit dimasukkan dalam bagian laba/rugi. Pertanyaanya adalah bagaimana PT. ABC mencatat gain/laba ketika kelayakan kreditnya menurun. IASB menyatakan bahwa kerugian pemegang hutang adalah keuntungan pemegang saham. Pemegang saham mengklaim aset perusahaan bertambah ketika nilai pemegang hutang menurun. Sebagai tambahan, penurunan posisi kredit mungkin mengindikasikan bahwa aset perusahaan juga ikut menurun. Jadi, perusahaan dapat melaporkan kerugian pada sisi aset, yang akan saling hapus dengan keuntungan pada sisi kewajiban.
            IASB tampaknya setuju dengan pernyataan tersebut, akibat dari perubahan risiko kredit perusahaan, tidak harus mempengaruhi laba/rugi kecuali kalau liability tersebut diadakan untuk trading. Karena itu, perubahan nilai dari kewajiban yang disebabkan oleh perubahan risiko kredit maka  harus dilaporkan dalam laba/rugi komprehensif lainnya (OCI: Other Comprehensive Income).
Contoh: asumsikan perubahan suku bunga pada obligasi PT. ABC yang dijelaskan sebelumnya, berubah dari 6% ke 8% disebabkan oleh penurunan kualitas kredit obligasi. Dengan menggunakan opsi nilai wajar, PT. ABC membuat jurnal:

     Hutang Obligasi (Rp500.000.000-Rp480.000.000)                       Rp20.000.000
            Laba/Rugi yang Belum Direalisasi – Pendapatan                               Rp20.000.000

Jurnal ini menjelaskan bahwa penurunan dari nilai wajar kewajiban dan menghasilkan laba yang belum direalisasi, ini kan dilaporkan dalam laba/rugi komprehensif lainnya. Nilai obligasi PT. ABC menurun karena perubahan risiko kredit, tidak karena kondisi pasar secara umum. PT. ABC melanjutkan untuk mengukur hutang obligasi dengan menggunakan nilai wajar pada periode selanjutnya

E14-21 (Opsi Nilai Wajar)
Fallen Company menerbikan wesel jangka panjang untuk para pemberi pinjaman. Fallen memiliki tingkat kredit yang cukup baik sehingga tingkat suku bunga pinjaman relatif rendah (kurang dari 8% per tahun). Fallen memilih untuk menggunakan opsi nilai wajar untuk wesel jangka panjang yang diterbitkan untuk Barclay’s Bank dan berikut ini data tentang nilai tercatat dan nilai wajar dari wesel. (Asumsikan perubahan nilai wajar adalah karena perubahan suku bunga  pasar secara umum)


Nilai Tercatat
Nilai Wajar
31 Desember 2015
€54.000
€54.000
31 Desember 2016
44.000
42.500
31 Desember 2017
36.000
38.000

a.       Buatlah ayat jurnal pada tanggal 31 Desember (akhir tahun) untuk tahun 2015, 2016 dan 2017 untuk mencatat nilai wajar opsi dari wesel.
31 Desember 2015
      Tidak dibuat jurnal, karena nilai tercatat sama dengan nilai wajar dari wesel.

31 Desember 2016
Hutang Wesel                                                                   1.500
      Laba/Rugi yang Belum Direalisasi - Pendapatan                    1.500

31 Desember 2017
Laba/Rugi yang Belum Direalisasi - Pendapatan              3.500
      Hutang Wesel [(38.000 - 36.000) + 1.500]                             3.500
     
b.      Berapakah jumlah wesel yang harus dilaporkan pada laporan posisi keuangan Fallen pada tahun 2016?
Jumlah wesel yang akan dilaporkan pada laporan posisi keuangan tahun 2016 sebesar €42.500

c.       Apa akibatnya jika melakukan pencatatan opsi nilai wajar dari wesel pada pendapatan Fallen tahun 2017?
Pendapatan Fallen tahun 2017 lebih rendah €3.500 karena perubahan nilai wajar dilaporkan pada bagian laba/rugi komprehensif lainnya (OCI)

d.      Dengan asumsi bahwa tingkat suku bunga pasar secara umum stabil selama periode, apakah data nilai wajar dari wesel mengindikasikan bahwa kelayakan kredit Fallen meningkat atau menurun di tahun 2017? Jelaskan.
Kelayakan kredit Fallen tahun 2017 meningkat karena nilai wajar dari wesel juga meningkat dibandingkan nilai pasarnya. Jika kelayakan kredit menurun maka nilai dari wesel akan menurun.”

e.       Dengan asumsi kondisi yang ada pada poin (d), apa akibat dari mencatat wesel pada nilai wajar di laporan laba rugi Fallen tahun 2015, 2016 dan 2017?
·         Tahun 2015: nilai tercatat sama dengan nilai wajar jadi tidak berpenaruh terhadap pendapatan Fallen
·         Tahun 2016: nilai wajar lebih rendah dari pada nilai tercatat, sehingga akan menimbulkan laba yang belum direalisasi pada sisi kredit, yang akan dilaporkan pada laba/rugi  komprehensif lainnya (OCI)
·         Tahun 2017: nilai wajar lebih tinggi dari pada nilai tercatat, sehingga akan menimbulkan rugi yang belum direalisasi pada sisi debit, yang akan dilaporkan pada laba/rugi komprehensif lainnya (OCI).


3.      Pembiayaan Di Luar Neraca
            Pembiayaan di luar neraca merepresentasikan pinjaman yang tidak dicatat. Tujuannya untuk meningkatkan rasio keuangan tertentu seperti rasio hutang terhadap ekuitas. Jenis-jenisnnya antara lain:
a.       Anak perusahaan yang tidak terkonsolidasi
Perusahaan induk tidak perlu melaporkan aktiva dan kewajiban anak perusahaannya, yang dilaporkan perusahaan dalam neraca hanyalah investasi dalam anak perushaan.
b.      Entitas dengan Tujuan Khusus atau Special Purpose Entity
Perusahaan dengan tujuan khusus ini biasanya merupakan perusahaan yang menjalankan sebuah proyek.
c.       Lease Operasi
Cara lain agar perusahaan tidak perlu mencantumkan hutang di neraca adalah dengan leasing. Daripada memiliki sebuah aktiva, perusahaan lebih memilih untuk menyewanya.

Dasar Pemikiran
            Mengapa perusahaan berusaha mengadakan perjanjian pembiayaan di luar neraca?. Alasan utamanya adalah banyak yang berpendapat bahwa peniadaan hutang akan mempertinggi mutu neraca dan memungkinkan kredit diperoleh dengan lebih cepat serta dengan biaya lebih ringan.
            Kedua, ketentuan pinjaman seringkali menetapkan pembatasan atas jumlah hutang yang dapat dimiliki. Akibatnya, pemmbiayaan di luar neraca digunakan karena komitmen jenis ini mungkin tidak diikutkan dalam menghitung pembatasan kredit atau hutang. Ketiga, dikemukakan oleh beberapa pihak bahwa sisi aktiva dari neraca dinyatakan terlalu rendah.



4.      Penyajian dan Analisis Hutang Jangka Panjang
            Perusahaan yang mempunyai banyak terbitan hutang jangka panjang dalam jumlah besar sering kali hanya melaporkan satu akun dalam neraca dan mendukungnya dengan penjelasan dalam catatan yang menyertainya. Hutag jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun harus dilaporkan sebagai hutang lancar, kecuali kalau penarikan itu dipenuhi dengan aktiva selain aktiva lancar. Jika hutang itu didanai kembali, dikonversi menjadi saham, atau ditarik dari dana pelunasan obligasi, maka hal itu harus terus dilaporkan sebagai pos tidak lancar.
            Pengungkapan catatan umumnya berisi sifat dari kewajiban, tanggal jatuh tempo, suku bunga, provisi penarikan, konversi, pembatasan yang dikenakan oleh kreditor dan  aktiva yang disepakati sebagai jaminan.

Analisis Hutang Jangka Panjang
            Pemegang saham dan kreditor jangka panjang berkepentingan dengan solvensi jangka panjang perusahaan terutama kemampuannya membayar bunga yang akan jatuh tempo dan melunasi nilai nominal hutangnya saat jatuh tempo.
1)      Rasio Hutang Terhadap Total Aset (Debt to Total Assets Ratio):  Total Hutang/Total Aset
     Mengukur persentase total aktiva yang disediakan oleh kreditor. Semakin tinggi persentase hutang terhadap aktiva, maka semakin tinggi risiko perusahaan mungkin tidak dapat memenuhi kewajibannya yang jatuh tempo.

2)      Rasio Berapa Kali Bunga Dihasilkan (Times Interest Earned Ratio): Laba Sebelum Pajak & Beban Bunga / Beban Bunga
      Menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar bunga ketika jatuh tempo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komen o yo rek,, *suwun