Kamis, September 15, 2016

Persediaan Rangkuman



INVENTORIES / PERSEDIAAN

Ø  Persediaan adalah aset:
·         Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal
·         Dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan
·         Atau dalam bentuk bahan atau perlengkapan / supplies untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa
Ø  Persediaan diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi bersih mana yang lebih rendah (the lower of the cost and net realizable value)
Ø  Biaya persediaan meliputi :
·         Biaya pembelian
·         Biaya konversi
·         Biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan tempat yagn siap untuk dijual atau dipakai (present location and condition)
Ø  Untuk barang yang tidak dapat diganti dengan barang lain (not interchangeable) serta jasa yang dihasilkan dan dipisahkan untuk proyek khusus à identifikasi khusus terhadap biaya masing-masing.
Ø  Untuk barang lain dihitung dengan menggunakan rumus biaya :Masuk pertama keluar pertama / FIFO dan Rata-rata / Weighted Average
Ø  Entitas harus menggunakan rumus biaya yang sama terhadap semua persediaan yang memiliki sifat dan kegunaan yang sama. Untuk persediaan yang memiliki sifat dan kegunaan yang berbeda, rumusan biaya yang berbeda diperkenankan.
Ø  Nilai realisasi neto adalah estimasi harga jual dalam kegiatan usaha biasa dikurangi estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya yang diperlukan untuk membuat penjualan.
Ø  Estimasi nilai realisasi bersih:
·         Berdasarkan bukti yang paling andal yang tersedia
·         Mempertimbangkan fluktuasi harga atau biaya yang langsung terkait
·         Mempertimbangkan tujuan persediaan
Ø  Sistem untuk menyelenggarakan catatan persediaan: (1) Sitem Perpetual; (2) Sistem Periodik (fisik)

Penilaian Persediaan LCOM (Lower of Cost or Market)

Ø  Penyajian nilai persediaan berdasar harga pasar yang lebih rendah dari harga pokoknya berarti mengakui adanya suatu kerugian yaitu sebesar selisih antara harga pokok dengan harga pasar dari barang yang bersangkutan. Tergantung dari keadaannya, pengertian harga pasar (market) untuk tujuan penilaian persediaan dapat berupa salah satu dari ketiga pngertian berikut ini:
1.      Harga beli atau harga pokok pengganti
Semua biaya/pengorbanan yang terjadi untuk mendapatkan barang-barang tersebut pada tanggal neraca.
2.      Harga/nilai reproduksi
Semua biaya (bahan baku, tenaga kerja, overhead pabrik) yang digunakan untuk mengolah atau memproduksi suatu barang.
3.      Harga/nilai realisasi yaitu taksiran harga jual dikurangi dengan taksiran biaya (b.reparasi,b.penjualan) dan taksiran laba (kotor) yang diharapkan. Biasanya nilai realisasi ini digunakan untuk jenis persediaan tertentu, misalnya barang-barang yang berasal dari pemilikan kembali dari transaksi penjualan angsuran, barang-barang rusak/cacat yang tidak dapat ditentukan harga beli / nilai pengganti / nilai reproduksinya.

Ø  Prosedur Penilaian Persediaan LCOM

1.      Tahap pengumpulan data
q  harga pokok
q  harga/nilai pengganti
q  taksiran harga jual
q  taksiran biaya penjualan
q  laba normal yang diharapkan
2.      Tahap penentuan batas atas / tertinggi (ceiling) dan batas bawah / terendah (floor)
q  Batas Atas     à Harga Jual – Biaya Penjualan
q  Batas Bawah à Batas Atas – Laba Normal yang Diharapkan
Ketentuan:
a.       Batas Atas     >                                                  Nilai Pengganti    >   Batas Bawah         à        Nilai Pengganti
b.      Batas Atas     <                                                  Nilai Pengganti               à        Batas Atas
c.       Batas Bawah >Nilai Pengganti                              à       Batas Bawah
3.      Tahap pemilihan berdasar LOCOM


First In First Out (FIFO)
Ø  Metode FIFO menganggap bahwa harga pokok dari barang-barang yang pertama kali dibeli akan merupakan barang yang dijual pertama kali. Dalam metode ini persediaan akhir dinilai dengan harga pokok pembelian yang paling akhir.
Ø  Metode ini juga mengasumsikan bahwa barang yang terjual karena pesanan adalah barang yang mereka beli. Oleh karenanya, barang-barang yang dibeli pertama kali adalah barang-barang pertama yang dijual dan barang-barang sisa di tangan (persediaan akhir) diasumsikan untuk biaya akhir. Karenanya, untuk penentuan pendapatan, biaya-biaya sebelumnya dicocokkan dengan pendapatan dan biaya-biaya yang baru digunakan untuk penilaian laporan neraca.
Ø  Metode ini konsisten dengan arus biaya aktual, sejak pemilik barang dagang mencoba untuk menjual persediaan lama pertama kali. FIFO merupakan metode yang paling luas digunakan dalam penilaian persediaan.
Last In First Out (LIFO)
Ø  Metode FIFO adalah membebankan biaya dari pembelian terakhir dan memberikan biaya yang paling dtua di akun persediaan. Ada beberapa cara untuk menerapkan Metode LIFO. Karena setiap variasi menghasilkan, angka yang berbeda untuk biaya bahan baku yang dikeluarkan, biaya persediaan akhir, dan laba, maka penting untuk mengikuti prosedur yang dipilih secara konsisten.
Ø  Kelebihan: (1) Mudah menandingakan kos sekarang dengan pendapatan sekarang; (2) Jika harga naik, harga barang konservatif; (3) laba operasi tidak tercemar oleh untung/rugi fluktuasi harga; (4) Jika harga berfluktuasi , dapat meratakan laba tahunan.
Ø  Kelemahan: (1) bertentangan dengan aliran fisik sesungguhnya; (2) Tidak menunjukkan potensi jasa yang sesungguhnya cost yang sudah using.
Estimasi Persediaan
Ø  Metode Laba Kotor
Metode laba kotor menggunakan estimasi laba kotor untuk mengestimasi besarnya persediaan pada akhir periode. Metode laba kotor ini berdasarkan observasi bahwa hubungan antara penjualan bersih dengan harga pokok penjualan biasanya relative cukup stabil dasi satu period eke periode berikutnya. Jadi, besarnya persentase laba kotor untuk periode berjalan di asumsikan sama dengan besarnya persentase laba kotor yang dihasilkan dalam periode-periode sebelumnya.
Ø  Persentase laba kotor periode lalu sebesar 40 % akan digunakan untuk menentukan besarnya estimasi laba kotor bulan januari, vang kemudian selanjutnya memungkinkan untuk melakukan penghitungan atas besarnya estimasi harga pokok penjualan dan persediaan akhir.
Penjualan bersih (aktual)                           Rp.  500.000.000    100 %
Harga pokok penjualan (estimasi)             (Rp. 300.000.000)   ( 60 %)
Laba kotor (estimasi)                                Rp.  200.000.000      40%
Setelah besarnya estimasi harga pokok penjualan diperoleh, estimasi persediaan akhir dapat dihitung dengan cara:
Persediaan awal (aktual)                                                   Rp.250.000.000
Harga pokok barang yang dibeli (aktual)                          Rp.400.000.000
Harga pokok barang yang tersedia untuk dijual (aktual) Rp. 650.000.000
Harga pokok penjualan (estimasi)                                     (Rp300.000.000)
Persediaan akhir (estimasi)                                                Rp.350.000.000
Besarnya estimasi persediaan akhir ini sekarang dapat digunakan dalam laporan keuangan 31 Januari atau dapat dibandingkan dengan catatan persediaan perpetual (jika ada), atau juga dapat digunakan sebagai dasar dalam perhitungan klaim asuransi jika seandainya saja musibah terjadi atas persediaan.

Ø  Metode Harga Ecer (Harga Jual)
Metode harga jual banyak dipakai oleh perusahaan pengecer untuk menghitung nilai persedian akhir menurut estimasi harga pokoknya (harga perolehan). Sama seperti metode laba kotor, metode harga ecer ini dapat digunakan untuk menentukan besarnya estimasi. persediaan kapanpun diinginkan, dan memungkinkan untuk mengestimasi nilai persediaan tanpa memerlukan waktu dan biaya untuk melakukan penghitungan fisik atas persediaan atau untuk menyelenggarakan catatan persediaan perpetual.
Metode harga ecer akan tetapi lebih fleksibel dibanding dengan metode laba kotor, karena dengan metode harga ecer memungkinkan perusahaan untuk mengestimasi nilai persediaan berdasarkan metode penilaian FIFO, LIFO, rata-rata, dan bahkan metode harga yang terendah antara harga perolehan dengan harga pasar. Ketika teknik estimasi dengan metode harga ecer digunakan, catatan atas barang yang dibeli haruslah diselenggarakan dalam dua jumlah, yaitu sebesar harga perolehan dan harga ecer (harga jual). Untuk menghitung besarnya nilai persediaan akhir menurut estimasi harga pokok (harga perolehan), persentase harga pokok (harga perolehan) tersebut akan dikalikan dengan nilai persediaan akhir menurut harga ecer. Nilai persediaan akhir menurut harga ecer ini dihitung dengan cara mengurangkan besarnya harga pokok dari barang yang tersedia untuk dijual menurut harga ecer dengan jumlah penjualan bersih sepanjang periode.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komen o yo rek,, *suwun