Kamis, September 15, 2016

Persediaan



PERSEDIAAN
A.     PENGERTIAN (DEFENITION)
Menurut PSAK 14 persediaan adalah aset :
·         yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha biasa
·         dalam proses produksi untuk penjualan tersebut
·         atau dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa. (PSAK 14,Paragraf 05)
Persediaan meliputi barang yang dibeli dan dimiliki untuk dijual kembali, misalnya, barang dagangan yang dibeli oleh pengecer untuk dijual kembali, atau pengadaan tanah dan properti lainnya untuk dijual kembali. Persediaan juga mencakup barang jadi yang diproduksi, atau barang dalam penyelesaian yang sedang diproduksi, oleh entitas serta termasuk bahan serta perlengkapan yang akan digunakan dalam proses produksi. Bagi perusahaan jasa, persediaan meliputi biaya jasa, di mana entitas belum mengakui pendapatan yang terkait (lihat PSAK 23: Pendapatan paragraf 04). (Paragraf 07)

B.      PENGAKUAN (RECOGNITION)
Jika persediaan dijual, maka nilai tercatat persediaan tersebut harus diakui sebagai beban pada periode diakuinya pendapatan atas penjualan tersebut.Setiap penurunan nilai persediaan di bawah biaya menjadi nilai realisasi neto dan seluruh kerugian persediaan harus diakui sebagai beban pada periode terjadinya penurunan atau kerugian tersebut. Setiap pemulihan kembali penurunan nilai persediaan karena peningkatan kembali nilai realisasi neto, harus diakui sebagai pengurangan terhadap jumlah beban persediaan pada periode terjadinya pemulihan tersebut. ((PSAK 14,Paragraf 32)
Beberapa persediaan dialokasikan ke pos aset lainnya,misalnya, persediaan yang digunakan sebagai komponen aset tetap yang dibangun sendiri. Persediaan yang dialokasikan ke aset lain dengan cara ini diakui sebagai beban selama masa manfaat aset tersebut. (PSAK 14,Paragraf 33)

Kepemilikan Persediaan dalam Perjalanan
1.    FOB (Free on Board), shipping point. Kepemilikan barang menjadi milik pembeli pada saat diserahkan penjual kepada penyelenggara transportasi atau pihak perusahaan pengirim barang yang independen.
2.    FOB (Free on Board) destination point. Kepemilikan barang masih berada dipenjual sampai barang tersebut diterima oleh pembeli.

Biaya konsinyasi
Tidak semua barang yang ada di gudang atau di toko bisa diakui menjadi milik perusahaan. Misalnya barang titipan dari pihak lain dengan tujuan akan dijual untuk dan atas nama pihak lain.

Metode Pencatatan Persediaan Barang Dagang

1. Metode Fisik (Periodik)

Metode pencatatan persediaan secara fisik biasa disebut juga dengan sistem periodik (periodic inventory system), karena untuk menentukan nilai atau harga pokok persediaan barang dagangan di akhir periode akuntansi harus dilakukan penghitungan secara fisik (stock opname) di gudang tempat menyimpan barang yang bersangkutan untuk mengetahui besarnya persediaan barang dagangan pada akhir periode. Karena nilai persediaan barang dagangan tidak dapat diketahui melalui pencatatan, maka harga pokok barang yang terjual juga tidak dapat ditentukan dengan benar. Oleh karena itu pada akhir periode akuntansi, setelah dihitung jumlah persediaan akhir barang tersebut secara akuntansi dibuatkan jurnal penyesuaian atas persediaan barang dagangan tersebut.
Penghitungan persediaan akhir barang dagangan ini antara lain dengan metode; FIFO (First In First Out), LIFO (Last In First Out), dan rata-rata. Dalam melakukan pencatatan persediaan barang dagangan dengan metode fisik ini setiap terjadi pembelian barang dagangan akan dicatat dalam rekening Pembelian, dan pada saat terjadi penjualan barang dagangan akan dicatat dalam rekening Penjualan tanpa mencatat harga pokok barang yang terjual tersebut.
Contoh:
Tanggal 1 Oktober 2006 Toko “Rejeki” membeli dengan kredit barang dagangan dari Toko “Makmur” 5.000 kg beras @ Rp5.000,00 senilai Rp25.000.000,00. Tanggal 5 Oktober 2006 Toko “Rejeki” menjual dengan kredit barang dagangan tersebut 4.000 kg beras @ Rp5.500,00 kepada Toko “Aman” senilai Rp22.000.000,00 dengan syarat (termin) pembayaran 2/10; n/30.
Berdasarkan transaksi tersebut dapat dicatat dalam jurnal berikut ini.
Description: Metode Pencatatan Persediaan Barang Dagang

2. Metode Perpetual

Metode ini disebut perpetual atau terus-menerus (continue) karena aliran barang dagangan dapat diikuti secara terusmenerus setiap saat. Di dalam sistem ini, setiap saat dapat diketahui besarnya nilai atau harga pokok barang yang terjual serta jumlah persediaan barang dagangan di akhir periode akuntansi. Metode pencatatan atas persediaan barang dagangan dilakukan secara berkelanjutan, menyangkut perubahan persediaan yang tercermin dalam rekening persediaan. Pembelian dan penjualan (pengeluaran) barang dicatat secara langsung di rekening persediaan pada saat terjadinya transaksi. Konsep pencatatan dengan sistem perpetual:
a.       Pembelian barang dagangan untuk dijual akan dicatat dalam rekening persediaan barang dagangan bukan rekening pembelian
b.      Biaya angkut pembelian, retur, dan pengurangan harga pembelian, serta potongan tunai pembelian dicatat dalam rekening persediaan, bukan dalam rekening terpisah (rekening tersendiri retur dan pengurangan harga pembelian).
c.       Harga pokok penjualan diakui pada saat penjualan dengan mendebit rekening harga pokok penjualan dan mengkredit rekening persediaan barang dagangan.
d.      Persediaan merupakan rekening pengendali yang didukung oleh buku besar pembantu. Buku pembantu berisi catatan persediaan secara individual (tiap-tiap jenis barang dibuatkan suatu buku pembantu). Dalam buku pembantu ini memperlihatkan tentang kualitas dan harga tiap-tiap persediaan.
Dalam melakukan pencatatan persediaan barang dengan metode perpetual, setiap transaksi pembelian barang dicatat dalam persediaan barang. Apabila barang tersebut dijual, dicatat dalam penjualan, serta mencatat pula harga pokok barang yang dijual.

Penghitungan persediaan barang dagangan ini antara lain dengan metode; FIFO (First In First Out), LIFO (Last In First Out) dan rata-rata.
Contoh:
Tanggal 1 Oktober 2006 Toko “Rejeki” membeli dengan kredit barang dagangan dari Toko “Makmur” 5.000 kg beras @ Rp5.000,00 senilai Rp25.000.000,00 dengan syarat (termin) pembayaran 3/10; n/30. Tanggal 5 Oktober 2006 Toko “Rejeki” menjual dengan kredit barang dagangan tersebut 4.000 kg beras @ Rp5.500,00 kepada Toko “Aman” senilai Rp22.000.000,00 dengan syarat (termin) pembayaran 3/10; n/30. Berdasarkan transaksi tersebut dapat dicatat dalam jurnal berikut ini.
Description: Metode Pencatatan Persediaan Barang Dagang
Pada metode perpetual ini setiap jenis barang harus dibuatkan buku pembantu persediaan yang akan digunakan untuk mencatat transaksi yang berkaitan dengan keluar masuknya barang dagangan yang bersangkutan.

C.      PENGUKURAN (MEASUREMENT)
      Persediaan diukur berdasarkan biaya perolehan atau nilai realisasi neto, mana yang lebih rendah. (PSAK 14,Paragraf 08)
      Biaya persediaan harus meliputi semua biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini. (PSAK 14,Paragraf 09)
      Biaya pembelian persediaan meliputi harga beli,bea impor,pajak lainnya(Kecuali yang kemudian dapat ditagih kembali oleh entitas kepada otoritas pajak),biaya pengangkutan,biaya penanganan dan biaya lainnya yang secara langsung dapat diatribusikan pada perolehan barang jadi,bahan dan jasa.Diskon dagang,rabat dan hal lain yang serupa dikurangkan dalam menentukan biaya pembelian. (PSAK 14,Paragraf 10)
Biaya konversi persediaan meliputi biaya yang secara langsung terkait dengan unit yang diproduksi, misalnya biaya tenaga kerja langsung. Termasuk juga alokasi sistematis overhead produksi tetap dan variabel yang timbul dalam mengonversi bahan menjadi barang jadi. Overhead produksi tetap adalah biaya produksi tidak langsung yang relatif konstan,tanpa memerhatikan volume produksi yang dihasilkan, seperti penyusutan dan pemeliharaan bangunan dan peralatan pabrik,dan biaya manajemen dan administrasi pabrik. Overhead produksi variabel adalah biaya produksi tidak langsung yang berubah secara langsung, atau hampir secara langsung,mengikuti perubahan volume produksi, seperti bahan tidak langsung dan biaya tenaga kerja tidak langsung. (PSAK 14,Paragraf 11)
Pengalokasian overhead produksi tetap ke biaya konversi didasarkan pada kapasitas fasilitas produksi normal.Kapasitas normal adalah produksi rata-rata yang diharapkan akan tercapai selama suatu periode atau musim dalam keadaan normal, dengan memerhitungkan hilangnya kapasitas selama pemeliharaan terencana. Tingkat produksi aktual dapat digunakan jika mendekati kapasitas normal. Pengalokasian jumlah overhead produksi tetap pada setiap unit produksi tidak bertambah sebagai akibat dari rendahnya produksi atau tidak terpakainya pabrik. Overhead yang tidak teralokasi diakui sebagai beban pada periode terjadinya. Overhead produksi variabel dialokasikan pada unit produksi atas dasar penggunaan actual fasilitas produksi. (PSAK 14,Paragraf 12)
Biaya-biaya lain hanya dibebankan sebagai biaya persediaan sepanjang biaya tersebut timbul agar persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini. Misalnya, dalam keadaan tertentu diperkenankan untuk memasukkan overhead nonproduksi atau biaya perancangan produk untuk pelanggan tertentu sebagai biaya persediaan. (PSAK 14,Paragraf 14)
Contoh biaya-biaya yang dikeluarkan dari biaya persediaan dan diakui sebagai beban dalam periode terjadinya adalah:
1.       jumlah pemborosan bahan, tenaga kerja, atau biaya produksi lainnya yang tidak normal.
2.       biaya penyimpanan, kecuali biaya tersebut diperlukan dalam proses produksi sebelum dilanjutkan pada tahap produksi berikutnya.
3.       biaya administrasi dan umum yang tidak memberikan kontribusi untuk membuat persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini.
4.       biaya penjualan. (PSAK 14,Paragraf 15)

Biaya Persediaan Pemberi Jasa

Sepanjang pemberi jasa memiliki persediaan, mereka mengukur persediaan tersebut pada biaya produksinya. Biaya persediaan tersebut terutama meliputi biaya tenaga kerja dan biaya personalia lainnya yang secara langsung menangani pemberian jasa, termasuk personalia penyelia, dan overhead yang dapat diatribusikan. Biaya tenaga kerja dan biaya lainnya yang terkait dengan personalia penjualan dan administrasi umum tidak termasuk sebagai biaya persediaan tetapi diakui sebagai beban pada periode terjadinya. (PSAK 14,Paragraf 18)

 

Teknik Pengukuran Biaya

Teknik pengukuran biaya persediaan, seperti metode biaya standar atau metode eceran, demi kemudahan dapat digunakan jika hasilnya mendekati biaya. Biaya standar memperhitungkan tingkat normal penggunaan bahan dan perlengkapan, tenaga kerja, efisiensi dan utilisasi kapasitas. Biaya standar di-review secara reguler dan, jika diperlukan,direvisi sesuai dengan kondisi terakhir. (PSAK 14,Paragraf 19)
Metode eceran seringkali digunakan dalam industri eceran untuk menilai persediaan dalam jumlah besar item yang berubah dengan cepat, dan memiliki marjin yang sama di mana tidak praktis untuk menggunakan metode penetapan biaya lainnya. Biaya persediaan ditentukan dengan mengurangi nilai jual persediaan dengan persentase marjin bruto yang sesuai. Persentase tersebut digunakan dengan memerhatikan persediaan yang telah diturunkan nilainya di bawah harga jual normal. (PSAK 14,Paragraf 20)

 

Rumus Menghitung Nilai Persediaan Berdasarkan Harga Pokok

a.       FIFO (First in First Out), masuk pertama keluar pertama
Metode ini menyatakan bahwa persediaan dengan nilai perolehan awal (pertama) masuk akan dijual (digunakan) terlebih dahulu, sehingga persediaan akhir dinilai dengan nilai perolehan persediaan yang terakhir masuk (dibeli). Metode ini cenderung menghasilkan persediaan yang nilainya tinggi dan berdampak pada nilai aktiva perusahaan yang dibeli.
b.      LIFO (Last In First Out), masuk terakhirkeluar pertama
Metode ini menyatakan bahwa persediaan dengan nilai perolehan terakhir masuk akan dijual (digunakan) terlebih dahulu, sehingga persediaan akhir dinilai dan dilaporkan berdasarkan nilai perolehan persediaan yang awal (pertama) masuk atau dibeli. Metode ini cenderung menghasilkan nilai persediaan akhir yang rendah dan berdampak pada nilai aktiva perusahaan yang rendah.
c.       Metode Rata-rata (average method)
Dengan menggunakan metode ini nilai persediaan akhir akan menghasilkan nilai antara nilai persediaan metode FIFO dan nilai persediaan LIFO. Metode ini juga akan berdampak pada nilai harga pokok penjualan dan laba kotor.
d.      Identifikasi Khusus
Biaya persediaan untuk item yang biasanya tidak dapat diganti dengan persediaan lain (not ordinary interchangeable) dan barang atau jasa yang dihasilkan dan dipisahkan untuk proyek tertentu harus diperhitungkan berdasarkan identifikasi spesifik terhadap biayanya masing masing. (PSAK 14,Paragraf 21)

CONTOH
Penilaian persediaan akhir dengan metode FIFO, LIFO, dan Average
Tanggal
Keterangan
Kuantitas
harga
2 Jan
10Maret
5 April
7 Mei
21 Sept
18 Nov
20 Nov
10 Des
Persediaan awal
Pembelian
Penjualan
Penjualan
Pembelian
Pembelian
Penjualan
Penjualan
200 unit
300 unit
200 unit
100 unit
400 unit
100 unit
200 unit
200 unit
Rp9.000
Rp10.000
Rp15.000
Rp15.000
Rp11.000
Rp12.000
Rp17.000
Rp18.000
Hitunglah nilai persediaan akhir (per 31 Desember 2010) dengan metode FIFO, LIFO dan rata-rata (average), hpp dan laba !

Sistem periodik
Persediaan awal (2 Jan 2010)                             200 unit
Pembelian                                                                 800 unit
Barang tersedia untuk dijual                         1.000 unit
Penjualan                                                                  700 unit
Persediaan akhir (31 Des 2010)                          300 unit

Barang tersedia untuk dijual:
Tanggal
Keterangan
Unit
Harga/unit
Total harga
02/01
Persediaan awal
  200
  9.000
  1.800.000
10/03
Pembelian
300
10.000
  3.000.000
21/09
Pembelian
400
11.000
  4.400.000
18/11
Pembelian
100
12.000
  1.200.000


1.000

10.400.000

Total penjualan
Tanggal
Keterangan
Kuantitas
harga

5 April
7 Mei
20 Nov
10 Des
Penjualan
Penjualan
Penjualan
Penjualan
200 unit
100 unit
200 unit
200 unit
Rp15.000
Rp15.000
Rp17.000
Rp18.000
3.000.000
1.500.000
3.400.000
3.600.000


700

11.500.000

a) FIFO (masuk pertama keluar pertama)

Pembelian
Penjualan
Saldo akhir
Tgl
unit
harga
Total
unit
Harga
total
unit
harga
total
02/01
Persediaan awal



200
9000
1.800.000
10/03
300
10.000
3.000.000



200
300
9000
10.000
4.800.000
5/4



200
9.000
1.800.000
300
10.000
3.000.000
7/5



100
10.000
1.000.000
200
10.000
2.000.000
21/9
400
11.000
4.400.000



200
400
10.000
11.000
6.400.000
18/11
100
12.000
1.200.000



200
400
100
10.000
11.000
12.000
7.600.000
20/11



200
10.000
2.000.000
400
100
11.000
12.000
5.600.000
10/12



200
11.000
2.200.000
200
100
11.000
12.000
3.400.000

Penjualan                                                                                                                  11.500.000
Persediaan awal                                                                      1.800.000
Pembelian                                                                                 8.600.000
Tersedia untuk dijual                                                            10.400.000
Persediaan akhir                                                                     3.400.000
Hpp                                                                                                                              7.000.000
Laba Kotor                                                                                                                 4.500.000

b) LIFO (masuk terakhir keluar pertama)

Pembelian
Penjualan
Saldo akhir
Tgl
unit
harga
Total
unit
Harga
Total
unit
harga
total
02/01
Persediaan awal



200
9000
1.800.000
10/03
300
10.000
3.000.000



200
300
9000
10.000
4.800.000
5/4



200
10.000
2.000.000
200
100
9.000
10.000
2.800.000
7/5



100
10.000
1.000.000
200
9.000
1.800.000
21/9
400
11.000
4.400.000



200
400
9.000
11.000
6.200.000
18/11
100
12.000
1.200.000



200
400
100
9.000
11.000
12.000
7.400.000
20/11



100
100
12.000
11.000
2.300.000
200
300
9.000
11.000
5.100.000
10/12



200
11.000
2.200.000
200
100
9.000
11.000
2.900.000

Penjualan                                                                                                                  11.500.000
Persediaan awal                                                                      1.800.000
Pembelian                                                                                 8.600.000
Tersedia untuk dijual                                                            10.400.000
Persediaan akhir                                                                     2.900.000
Hpp                                                                                                                              7.500.000
Laba kotor                                                                                                                 4.000.000

c) Rata-rata (average)

Pembelian
Penjualan
Saldo akhir
Tgl
unit
Harga
Total
unit
Harga
Total
unit
harga
total
02/01
Persediaan awal



200
9.000
1.800.000
10/03
300
10.000
3.000.000



500
9.600
4.800.000
5/4



200
9600
1.920.000
300
9.600
2.880.000
7/5



100
9.600
960.000
200
9.600
1.920.000
21/9
400
11.000
4.400.000



600
10.533
6.320.000
18/11
100
12.000
1.200.000



700
10.742
7.520.000
20/11



200
10.742
2.148.400
500
10.742
5.371.600
10/12



200
10.742
2.148.400
300
10.742
3.223.200

Penjualan                                                                                                                  11.500.000
Persediaan awal                                                                      1.800.000
Pembelian                                                                                 8.600.000
Tersedia untuk dijual                                                            10.400.000
Persediaan akhir                                                                     3.223.200
Hpp                                                                                                                              7.176.800
Laba kotor                                                                                                                 4.323.200

Rumus Menghitung Nilai Persediaan Selain Harga Pokok
Diperlukan apabila nilai persediaan menjadi berkurang manfaatnya karena beberapa faktor seperti kadaluwarsa (rusak, cacat, susut), ketinggalan zaman (out of date) atau terjadi penurunan tingkat harga pada umumnya. Keadaan tersebut berakibat harga pokok persediaan tidak lagi mencerminkan manfaat potensial persediaan. Dengan demikian maka sudah tentu perusahaan akan rugi apabila persediaan itu kelak dijual kembali. Sehingga disarankan untuk menilai persediaan menyimpang dari harga pokoknya. Salah satu prosedur penilaian persediaan selain berdasar harga pokok yaitu
a.       Penilaian berdasar harga terendah antara harga pokok dan harga pasar (Lower of Cost or Market / LOCOM).
Penyajian nilai persediaan dilaporkan kurang dari harga pokok persediaan atau kemungkinan sebaliknya, harga pasar lebih besar dibandingkan dengan harga pokok persediaan, sehingga persediaan dilaporkan sebesar harga pokok. Jika harga pasar yang lebih rendah dari harga pokoknya berarti mengakui adanya suatu kerugian yaitu sebesar selisih antara harga pokok dengan harga pasar dari barang yang bersangkutan.

Prosedur Penilaian Persediaan LOCOM

1.       Tahap pengumpulan data
·          Harga pokok
·          Harga/nilai pengganti
·          Taksiran harga jual
·          Taksiran biaya penjualan
·          Laba normal yang diharapkan
2.       Tahap penentuan batas atas / tertinggi (ceiling) dan batas bawah / terendah (floor)
·          Batas Atas à Harga Jual – Biaya Penjualan
·          Batas Bawah à Batas Atas – Laba Normal yang Diharapkan
3.       Tahap pemilihan berdasar LOCOM

Contoh :
UD SYIFA memperjual belikan 6 macam barang, dengan memperhitungkan rata-rata biaya penjualan sebesar Rp 400,- per unit dan Laba normal yang diharapkan sebesar Rp 300,- per unit.
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan pada akhir tahun buku, maka nilai persediaan dapat ditentukan dengan cara sbb :
Jenis
Persediaan
Harga Pokok
Harga  Jual
Harga Pasar
Harga Pasar yg digunakan
LOCOM
Batas Atas
Batas Bawah
N. Penggt
A
1.050,-
1.500,-
1.100,-
800,-
1.200,-
1.100,-
1.050,-
B
1.050,-
1.500,-
1.100,-
800,-
  950,-
  950,-
  950,-
C
1.050,-
1.500,-
1.100,-
800,-
  750,-
  800,-
  800,-
D
1.050,-
1.350,-
  950,-
650,-
1.000,-
  950,-
  950,-
E
1.050,-
1.350,-
  950,-
650,-
  850,-
  850,-
  850,-
F
1.050,-
1.350,-
  950,-
650,-
  600,-
  650,-
  650,-

b.      Metode Persediaan taksiran Laba kotor

Merupakan suatu prosedur yang digunakan untuk menentukan taksiran nilai persediaan tanpa dilakukannya perhitungan fisik persediaan (stock opname) dan untuk menguji ketelitian data akuntansi apabila sistem permanen digunakan. Metode ini didasarkan pada suatu anggapan bahwa dalam jangka pendek tingkat laba kotor dari penjualan akan relatif sama. Metode Laba Kotor Digunakan untuk menaksir besarnya jumlah atau nilai persediaan akhir periode dalam hal-hal sbb :



·          Sebagai Salah satu cara menguji ketelitian catatan akuntansi
Contoh :
Dari catatan pembukuan yang diperiksa, diperoleh informasi yang berhubungan dengan persediaan sbb : Persediaan awal (1 Januari) Rp 75.000,- ; Pembelian 705.000,- ; Penjualan 930.000,-. Atas dasar tingkat laba kotor sebesar 25 % dari hasil penjualan, seperti kebijaksanaan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir ini, maka besarnya nilai persediaan akhir (31 Desember) dapat ditentukan sbb :
Persediaan Awal                                              Rp             75.000,-
Pembelian                                                                          705.000,-  
Barang Tersedia Untuk Dijual                                                                      Rp           780.000,-
Hasil Penjualan                                                                 Rp           930.000,-
Laba Kotor                                                                          232.500,-
Taksiran Harga Pokok Penjualan                                                                Rp           697.500,- 
Persediaan Akhir (Taksiran)                                                                         Rp             82.500,-

·          Menaksir besarnya kerugian atas persediaan sebagai akibat terjadinya musibah (kebakaran, bencana alam, pencurian)
Contoh :
Pada tanggal 10/11/2000 Gudang sebuah perusahaan terbakar. Berikut ini adalah informasi yang berhubungan dengan persediaan yang berhasil dikumpulkan dari awal bulan s.d kebakaran terjadi:
Persediaan 1 November 2000 Rp 1.000.000,-; Pembelian Bersih 7.500.000,-; Penjualan Bersih 8.000.000,-; Perusahaan menetapkan Laba Kotor sebesar 25 % dari Penjualan .
Barang yang masih ada setelah kebakaran diperkirakan dapat dijual dengan harga Rp 500.000,-
Berdasarkan informasi di atas maka dapat dihitung (ditaksir) nilai persediaan yang terbakar sbb :
Persediaan 1 November 2000                     Rp           1.000.000,-
Pembelian Bersih                                                             7.500.000,-
Barang Tersedia Untuk Dijual                      Rp           8.500.000,-
Harga Pokok Penjualan                                                                 6.000.000,-
Persediaan Akhir                                              Rp           2.500.000,-
Persediaan yang masih ada                                            375.000,-
Persediaan yang terbakar                            Rp           2.125.000,-
Apabila perusahaan menetapkan laba kotor sebesar 25 % dari Harga Pokok Penjualan, maka nilai persediaan yang terbakar dihitung sbb :
Persediaan 1 November 2000                     Rp           1.000.000,-
Pembelian Bersih                                                             7.500.000,-
Barang Tersedia Untuk Dijual                      Rp           8.500.000,-
Harga Pokok Penjualan                                                                 6.400.000,-
Persediaan Akhir                                              Rp           2.100.000,-
Persediaan yang masih ada                                            400.000,-
Persediaan yang terbakar                            Rp           1.700.000,-

D.      PENGELOMPOKKAN (CLASIFICATION)
Bagi perusahaan manufaktur yang di dalam usahanya mengubah bentuk atau menambah nilai kegunaan barang, pada umumnya mengklasifikasikan jenis-jenis persediaan ke dalam berbagai kelompok sebagi berikut:
1.      persediaan bahanbaku, untuk menyatakan barang-barang yang dibeli atau diperoleh dari sumber-sumber alam yang dimiliki dengan tujuan untuk diolah menjadi produk jadi. Dalam hal bahanbakuyang digunakan di dalam proses produksi berupa suku cadang dan harus dibeli dari pihak lain, maka barang-barang demikian sering disebut sebagaipersediaan suku cadang.
2.      persediaan produk dalam proses, meliputi barang-barang yang masih dalam pengerjaan yang memerlukan pengerjaan lebih lanjut sebelum barang itu dijual. Produk dalam proses, pada umumnya dinilai berdasarkan jumlah harga pokok bahanbaku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang telah dikeluarkan atau terjadi sampai dengan tanggal tertentu.
3.      persediaan produk jadi, meliputi semua barang yang diselesaikan dari proses produksi dan siap untuk dijual. Seperti halnya produk dalam proses, produk jadi pada umumnya dinilai sebesar jumlah harga pokok bahanbaku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang diperlukan untuk menghasilkan produk tersebut.
4.      persediaan bahan penolong, meliputi semua barang-barang yang dimiliki untuk keperluan produksi, akan tetapi tidak merupakan bahanbakuyang membentuk produk jadi, yang termasuk dalam kelompok persediaan ini antara lain minyak pelumas untuk mesin-mesin pabrik, lem, benang untuk menjilid dan buku-buku pada perusahaan percetakan.

E.       PENGUNGKAPAN (DISCLOSURE)
Laporan keuangan harus mengungkapkan:
1.       kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan, termasuk rumus biaya yang digunakan.
2.       total jumlah tercatat persediaan dan jumlah nilai tercatat menurut klasifikasi yang sesuai bagi entitas.
3.       jumlah tercatat persediaan yang dicatat dengan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual.
4.       jumlah persediaan yang diakui sebagai beban selama periode berjalan.
5.       jumlah setiap penurunan nilai yang diakui sebagai pengurang jumlah persediaan yang diakui sebagai beban dalam periode berjalan.
6.       jumlah dari setiap pemulihan dari setiap penurunan nilai yang diakui sebagai pengurang jumlah persediaan yang diakui sebagai beban dalam periode berjalan.
7.        kondisi atau peristiwa penyebab terjadinya pemulihan nilai persediaan yang diturunkan. nilai tercatat persediaan yang diperuntukkan sebagai jaminan kewajiban. (PSAK 14,Paragraf 34)
 Informasi tentang jumlah tercatat yang disajikan dalam berbagai klasifikasi persediaan dan tingkat perubahannya masing-masing berguna bagi pemakai laporan keuangan.Klasifikasi persediaan yang biasa digunakan adalah barang dagangan, perlengkapan produksi, bahan, barang dalam penyelesaian, dan barang jadi. Persediaan dalam pemberi jasa biasanya disebut pekerjaan dalam penyelesaian. (PSAK 14,Paragraf 35)
Biaya persediaan yang diakui sebagai beban selama periode, seringkali disebut sebagai beban pokok penjualan, meliputi biaya-biaya yang sebelumnya diperhitungkan dalam pengukuran persediaan yang saat ini telah dijual, overhead produksi yang tidak teralokasi, dan jumlah biaya produksi persediaan yang tidak normal. Kondisi tertentu dari entitas juga memungkinkan untuk memasukkan biaya lainnya, seperti biaya  distribusi. (PSAK 14,Paragraf 36)
Beberapa entitas mengadopsi suatu format laporan laba rugi yang mengakibatkan jumlah yang diungkapkan adalah selain biaya persediaan yang diakui sebagai beban selama periode yang bersangkutan. Dalam format ini, entitas menyajikan analisa beban menggunakan klasifikasi berdasarkan sifat dari beban. (PSAK 14,Paragraf 37)
KESIMPULAN

·         Persediaan harus diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi bersih yang lebih rendah.
·         Biaya persediaan harus meliputi semua biaya pembelian,biaya konversi dan biaya lain-lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dijual atau dipakai.
·         Biaya persediaan harus dihitung dengan menggunakan rumus biaya masuk pertama keluar pertama (FIFO) atau rumus rata-rata tertimbang.
·         Estimasi nilai realisasi neto didasarkan pada bukti paling andal yang tersedia pada saat estimasi dilakukan terhadap jumlah persediaan yang diharapkan dapat direalisasi. Estimasi ini memertimbangkan fluktuasi harga atau biaya yang langsung terkait dengan peristiwa yang terjadi setelah akhir periode sepanjang peristiwa tersebut menegaskan kondisi yang ada pada akhir periode.
Jika persediaan dijual, maka nilai tercatat persediaan tersebut harus diakui sebagai beban pada periode diakuinya pendapatan atas penjualan tersebut. Setiap penurunan nilai persediaan di bawah biaya menjadi nilai realisasi neto dan seluruh kerugian persediaan harus diakui sebagai beban pada periode terjadinya penurunan atau kerugian tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komen o yo rek,, *suwun