Senin, Februari 27, 2017

Analisis Laporan Keuangan



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
            Analisis bisnis merupakan proses evaluasi prospek ekonomi dan risiko perusahaan yang meliputi analisis atas lingkungan bisnis perusahaan, strateginya, posisi keuangan serta kinerjanya. Sehingga, analisis laporan keuangan adalah bagian penting dalam proses analisis bisnis yang lebih luas guna menghasilkan estimasi dan kesimpulan yang menunjang keputusan bisnis. Pada akhirnya, analisis ini digunakan untuk menentukan nilai intrinsik sebuah perusahaan.
            Dari data yang terdapat di Bursa Efek Indonesia per 19 Desember 2016, terdapat 539 perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan-perusahaan go public tersebut meliputi perusahaan yang bergerak di sektor pertanian, sektor pertambagan, sektor industri dasar dan kimia, sektor aneka industri, sektor industri barang konsumsi, sektor properti, real estat dan konstruksi bangunan, sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi, sektor keuangan, dan terakhir sektor perdagangan, jasa dan investasi.
            Salah satu  perusahaan sektor barang konsumsi adalah PT Mayora Indah Tbk yang listing sejak 04 Juli 1990. Kantor pusatnya berada di Jl. Tomang Raya 21-23, Jakarta Barat. PT. Mayora Indah ini didirikan pada tahun 1977 dengan pabrik pertama berlokasi di Tangerang dengan target market wilayah Jakarta dan sekitarnya. Seiring dengan berkembangnya perusahaan, saat ini produk-produk yang dihasilkan telah tersebar luas di lima benua di dunia.
            PT Mayora Indah Tbk memproduksi  berbagai produk makanan, produk yang dihasilkannya dibagi dalam enam divisi yang masing masing menghasilkan produk berbeda namun terintegrasi, meliputi:
1.      Divisi Biskuit: merk dagangnya adalah Roma Marie Susu, Roma Sandwich, Roma kelapa, Roma Kelapa Sandwich, Roma Malkist, Roma Malkist Abon, Roma Malkist Seaweed, Roma Malkist Coklat, Roma Malkist Garlic Butter, Cream Creakers, Danisa, Royal Choice, Better, Muuch Better, Slai O Lai, Slai O Lai Twice, Sari Gandum, Sari Gandum Sandwich, Coffeejoy, Chees'kress, Roma Cookies Coklat, Roma Cookies Pineapple, dll.
2.      Divisi Kembang Gula: merek dagangnya adalah Kopiko, Kopiko Cappuccino, KIS, KIS Chewy, Tamarin, Juizy Milk, dll.
3.      Divisi Wafer: merek dagangnya adalah beng beng, beng beng Maxx, Astor, Astor Skinny Roll, Roma Wafer Coklat, Roma Zuperrr Keju,dll
4.      Divisi Coklat: merek dagangnya adalah Choki-choki
5.      Divisi Kopi: merek dagangnya adalah Torabika Duo, Torabika Duo Susu,  Torabika Jahe Susu, Torabika Moka, Torabika 3 in One, Torabika Cappuccino, Kopiko Brown Coffee, Kopiko White Coffee, Kopiko White Mocca
6.      Divisi Makanan Kesehatan: merek dagangnya adalah Energen Cereal, Energen Oatmilk, Energen Go Fruit
Visi dan Misi PT Mayora Indah Tbk adalah sebagai berikut:
1.      Menjadi produsen makanan dan minuman yang berkualitas dan terpercaya di mata konsumen domestik maupun internasional dan menguasai pangsa pasar terbesar dalam kategori produk sejenis.
  1. Dapat memperoleh Laba Bersih Operasi diatas rata rata industri dan memberikan value added yang baik bagi seluruh stakeholders Perseroan.
  2. Dapat memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan dan negara dimana Perseroan berada.
            Produk-produk yang dihasilkan PT Mayora Indah Tbk sering kita jumpai di swalayan sekitar kita dan tentu saja sering kita konsumsi. Perusahaan ini juga berkomitmen untuk meningkatkan value dari stakeholder. Karena itulah, penulis tertarik untuk melakukan analisis laporan keuangan PT Mayora Indah Tbk. Analisis ini dilakukan dengan melakukan analisis prospektif, melalui forecasting untuk tahun 2016 sampai 2020. Data historis yang digunakan adalah data laporan keuangan tahun 2014 dan 2015. Sehingga pada akhirnya, dari analisis ini diketahui nilai intrinsik saham PT Mayora Indah Tbk untuk kemudian dibandingkan dengan harga sahamnya di pasar.


B.     Rumusan Masalah
            Rumusan  masalah dalam makalah ini adalah:
1.      Bagaimanakah proses melakukan analisis prospektif pada PT Mayora Indah Tbk?
2.      Bagaimanakah hasil forecasting laporan keuangan PT Mayora Indah Tbk untuk tahun 2016 sampai 2020.
3.      Bagaimanakah nilai intrinsik saham PT Mayora Indah Tbk jika dibandingkan dengan harga saham yang ada di pasar?

C.    Tujuan
            Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui bagaimanakah proses melakukan analisis prospektif pada PT Mayora Indah Tbk.
2.      Untuk mengetahui bagaimanakah hasil forecasting laporan keuangan PT Mayora Indah Tbk untuk tahun 2016 sampai 2020.
3.      Untuk mengetahui bagaimanakah nilai intrinsik saham PT Mayora Indah Tbk jika dibandingkan dengan harga saham yang ada di pasar.







BAB II
PEMBAHASAN

            Analisis prospektif merupakan inti dari penilaian saham yang dimiliki perusahaan. Analisis prospektif berguna untuk menguji ketepatan rencana strategis perusahaan, analisis propektif juga berguna bagi kreditor untuk menilai kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya. Selain itu, analisis prospektif juga berguna bagi para investor dalam menentukan jual beli saham di bursa efek. Proses proyeksi untuk menentukan forecasting laporan keuangan PT Mayora Indah Tbk akan diuraikan dalam bab ini, sedangkan hasil perhitungan detailnya akan dilampirkan di bagaian akhir makalah ini.

A.    Proyeksi Laporan Laba-Rugi
     Proyeksi laporan laba rugi pada PT Mayora Indah Tbk dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1)      Proyeksi Penjualan
Proyeksi penjualan ditentukan dengan cara menentukan dahulu berapa pertumbuhan penjualannya dari tahun ke tahun. Dalam laporan keuangan, penjualan tahun 2014 adalah sebesar Rp14.169.088.278.238 dan tahun 2015 sebesar Rp14.818.730.635.849. Pertumbuhan penjualan dari tahun 2014 ke 2015 dihitung dengan cara: Rp14.818.730.635.849 dikurangi dengan Rp14.169.088.278.238, kemudian dibagi Rp14.169.088.278.238, hasilnya adalah 4,58%.  Tingkat pertumbuhan sebesar 4,58% ini digunakan sebagai dasar untuk melakukan proyeksi pertumbuhan selama 5 tahun ke depan. Untuk menghitung penjualan tahun 2016, maka caranya adalah: Penjualan 2015 x (1+4,58%) menghasilkan angka penjualan pada tahun 2016 sebesar Rp15.498.158621.473. Dan begitu juga cara melakukan perhitungan penjualan pada tahun-tahun berikutnya.
2)      Proyeksi Laba Bruto
Cara mencari margin laba bruto yaitu dengan membagi laba kotor dengan penjualan. Pada tahun 2015, margin laba bruto adalah sebesar 28%. Margin laba bruto ini menjadi acuan untuk menentukan jumlah laba bruto di tahun-tahun berikutnya. Caranya dengan mengalikan penjualan pada tahun tersebut dengan margin laba bruto yang telah ditentukan.Untuk menghitung laba bruto tahun 2016, caranya adalah penjualan tahun 2015 sebesar Rp15.498.158621.473 dikalikan dengan 28%, hasilnya adalah Rp4.390.826.767.357. Proyeksi untuk tahun-tahun beikutnya dilakukan dengan cara yang sama.
3)      Proyeksi Harga Pokok Penjualan
Harga pokok penjualan ditentukan dengan menghitung selisih penjualan dengan laba kotor.  Misalnya pada tahun 2016, penjualan sebesar Rp15.498.158621.473 dikurangi laba kotor sebesar Rp4.390.826.767.357, maka harga pokok penjualan sebesar Rp11.107.331.854.116. Perhitungan harga pokok penjualan untuk tahun-tahun berikutnya juga sama.    
4)      Proyeksi Jumlah Beban Usaha
Jumlah beban usaha dapat diproyeksikan dengan menghitung jumlah beban baik beban penjualan dan beban operasi kemudian dibagi dengan penjualan pada tahun tersebut. Misalnya beban usaha pada tahun 2015 adalah sebesar Rp2.335.715.287.020 dibagi dengan penjualan tahun 2015 sebesar Rp14.818.730.635.849, maka hasilnya adalah 0,16. Sehingga Beban usaha tahun 2016 adalah Penjualan tahun 2016 Rp15.498.158621.473 dikali dengan 0,16 hasilnya sebesar Rp2.442.806.128.432. Perhitungan beban usaha pada tahun-tahun berikutnya juga sama. Beban penjualan serta Beban umum dan administrasi dibagi proporsiya dari hasil perhitungan beban usaha.
5)      Proyeksi Beban Bunga
Beban bunga dapat diproyeksikan dengan menghitung jumlah beban bunga dibagi dengan liabilitas jangka panjang tahun sebelumnya. Misalnya beban bunga tahun 2015 adalah sebesar Rp378.651.540.837 dan liabilitas jangka panjang tahun 2014 adalah sebesar Rp3.106.623.134.352, maka hasilnya adalah 0,12. Sehingga proyeksi beban bunga pada tahun  2016 adalah 0,12 dikalikan dengan utang jangka panjang tahun 2015 yaitu sebesar Rp2.996.760.596.340, hasilnya adalah Rp365.260.917.804. Perhitungan pada tahun-tahun berikutnya caranya sama.
6)      Proyeksi Laba Sebelum Pajak
Proyeksi laba sebelum pajak dihitung dari laba bruto tahun tersebut dikurangi atau ditambah dengan penghasilan (beban) lain-lain seperti beban bunga, selisih kurs mata uang asing, pendapatan bunga, keuntungan penjualan aset tetap dan lain-lain.
7)      Proyeksi Beban Pajak
Beban pajak dapat diproyeksikan dengan menghitung beban pajak  dibagi dengan laba sebelum pajak. Pada tahun 2015 Beban pajak adalah sebesar Rp390.261.637.241 dibagi dengan Laba sebelum pajak 2015 sebesar Rp1.640.494.765.801, hasilnya adalah 0,24. Maka, proyeksi Beban pajak pada tahun 2016 adalah dengan mengalikan 0,24 dengan Laba sebelum pajak tahun 2016 yaitu Rp1.741.930.321.047, hasilnya adalah Rp414.392.409.670. Beban pajak untuk tahun-tahun berikutnya dapat dilakukan dengan cara yang sama.
8)      Proyeksi Laba Bersih
Proyeksi laba bersih ditentukan dengan menghitung laba sebelum pajak dikurangi dengan beban pajak pada tahun yang bersangkutan.
9)      Proyeksi Penghasilan (Rugi) Komprehensif lain
Komponen yang ada dalam penghasilan (rugi) komprehensif lain seperti pengukuran kembali liabilitas imbalan kerja jangka panjang, pajak yang terkait penghasilan komprehensif lain dan selisih kurs penjabaran diasumsikan tidak ada perubahan.
10)  Proyeksi Laba Komprehensif
Laba komprehensif dihitung dengan mengurangi/menambah Laba bersih dengan penghasilan (rugi) komprehensif lain pada tahun yang bersangkutan.

B.     Proyeksi Laporan Posisi Keuangan
       Proyeksi laporan posisi keuangan pada PT Mayora Indah Tbk dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:


1)      Proyeksi Piutang Usaha
Proyeksi Piutang usaha dilakukan dengan menentukan dahulu tingkat perputaran piutang usaha, dengan cara membagi penjualan dengan rata-rata piutang usaha. Penjualan tahun 2015 adalah sebesar Rp14.818.730.635.849 dan rata-rata piutang usaha tahun 2015 adalah Rp3.230.042.578.752, sehingga tingkat perputaran piutang adalah sebesar 4,59. Jadi proyeksi Piutang usaha tahun 2016 adalah penjualan 2016 sebesar Rp15.498.158621.473 dibagi 4,59, hasilnya adalah Rp3.378.137.673.851. Dan perhitungan untuk tahun-tahun berikutnya dapat dilakukan dengan cara yang sama.
2)      Proyeksi Persediaan
Untuk melakukan proyeksi Persediaan maka perlu menentukan tingkat perputaran persediaan, dengan cara membagi beban pokok penjualan dengan rata-rata persediaan. Beban pokok penjualan tahun 2015 adalah sebesar Rp10.620.394.515.840 dan rata-rata persediaan tahun 2015 adalah sebesar Rp186.501.684.6174, sehingga tingkat perputaran persediaan sebesar 5,69. Jadi proyeksi Persediaan tahun 2016 adalah Beban pokok penjualan tahun 2016 yaitu sebesar Rp11.107.331.854.116 dibagi 5,69 dan hasilnya adalah Rp1.950.526.507.567. Proyeksi persediaan pada tahun-tahun selanjutnya dapat dihitung dengan cara yang sama.
3)      Proyeksi Aset Lancar Lain
Proyeksi untuk aset lancer lain yaitu Uang muka pebelian, Pajak dibayar di muka dan Biaya dibayar dimuka diasumsikan tidak ada perubahan.
4)      Proyeksi Aset Tetap
Langkah awal untuk menentukan proyeksi aset tetap adalah dengan menghitung pengeluaran modal (capital expenditure/CAPEX) dibagi dengan penjualan. CAPEX merupakan pengeluaran perusahan untuk memperoleh aset berwujud khususnya aset tetap. CAPEX untuk tahun 2015 adalah sebesar Rp185.684.124.610 dibagi dengan penjualan tahun 2015 sebesar Rp14.818.730.635.849, hasilnya adalah 1,25%. Aset tetap tahun 2015 yaitu Rp3.770.695.841.693 ditambah dengan penjualan 2016 yaitu Rp15.498.158.621.473 dikali dengan 1,25%. Sehingga dari perhitungan tersebut, aset tetap tahun 2016 adalah sebesar  Rp3.964.893.447.913. Proyeksi aset tetap untuk tahun-tahun berikutnya dapat dilakukan dengan cara yang sama.
4)      Proyeksi Aset Tidak Lancar Lainnya
Proyeksi aset tidak lancer lainnya seperti aset pajak tangguhan, uang muka pembayaran aset teta, uang jaminan dan beban tangguhan diasumsikan tidak ada perubahan.
5)      Proyeksi Utang Usaha
Utang usaha dapat diproyeksikan dengan menentukan dahulu tingkat perputaran utang usaha, caranya adalah dengan membagi beban pokok penjualan dengan rata-rata utang usaha. Beban pokok penjualan tahun 2015 adalah sebesar Rp 10.620.394.515.840 dan rata-rata utang usaha tahun 2015 sebesar Rp922.649.227.353, sehingga tingkat perputaran persediaan sebesar 11,51. Jadi proyeksi Utang usaha pada tahun 2016 dapat ditentukan dengan mengalikan Beban pokok penjualan tahun 2016 sebesar Rp11.107.331.854.116 dibagi 11,51 dan hasilnya adalah Rp964.952.021.120. Perhitungan proyeksi utang usaha pada tahun-tahun berikutnya dapat dilakukan dengan cara yang sama.
6)      Proyeksi Utang Pajak
Proyeksi ini dilakukan dengan menghitung utang pajak dibagi dengan beban pajak pada tahun yang bersangkutan. Utang pajak tahun 2015 alah sebesar  Rp210.793.068.141 dan beban pajak tahun 2015 sebesar Rp390.261.637.24, hasilnya adalah 54,01%. Sehingga utang pajak tahun 2016 adalah beban pajak 2016 sebesar Rp414.392.409,670. Untuk proyeksi utang pajak tahun-tahun berikutnya dapat dihitung dengan cara yang sama.
7)      Proyeksi Beban Akrual
Proyeksi beban akrual dilakukan dengan menentukan dahulu tingkat perputaran beban akrual dengan cara membagi penjualan dengan rata-rata beban akrual. Penjualan tahun 2015 adalah sebesar Rp14.818.730.635.847 dan rata-rata beban akrual adalah sebesar Rp292.978.516.043, hasilnya adalah 50,58. Sehingga beban akrual tahun 2016 ditentukan dengan membagi penjualan tahun 2016 sebesar  Rp15.498.158.621.473, yaitu sebesar  Rp306.411.367.201. Proyeksi beban akrual untuk tahun-tahun berikutnya dapat dilakukan dengan cara yang sama.
8)      Proyeksi Liabilitas Lainnya
Proyeksi atas Liabilitas lainnya seperti Liabilitas pajak tangguhan, liabilitas imbal kerja jangka panjang, sukuk mudharabah dan lain-lain diasumsikan tidak ada perubahan.
9)      Proyeksi Laba Ditahan
Proyeksi ini membutuhkan data tentang laba ditahan tahun sebelumnya ditambah laba tahun sekarang dan dikurangi pembayaran dividen. PT Mayora Indah Tbk mengeluarkan dividen untuk tahun 2014, yang dibayarkan pada tanggal 10 Juli 2015 sebesar Rp160 per saham. Total uang yang dikeluarkan untuk pembayaran dividen adalah sebesar Rp143.095.678.240. Laba ditahan tahun 2015 adalah sebesar Rp4.633.113.857.393 ditambah dengan  laba tahun sekarang sebesar Rp1.343.824.103.417, kemudian dikurangi dengan pembayaran dividen sebesar Rp143.095.678.240. Sehingga hasilnya sebesar Rp5.833.842.282.570 merupakan proyeksi laba ditahan tahun 2016. Untuk menentukan proyeksi laba ditahan pada tahun-tahun berikutnya dapat dilakukan dengan cara yang sama.
10)  Proyeksi Ekuitas Lainnya
Proyeksi ekuitas lainnya seperti Modal saham dan Tambahan modal disetor diasumsikan tidak mengalami perubahan.
11)  Proyeksi Kas
Proyeksi kas dilakukan sesuai jumlah yang dibutuhkan untuk menyeimbangkan total kewajiban dan ekuitas.

C.    Analisis Prospektif dalam Model Penilaian Laba Sisa
Dalam model penilaian laba sisa, menentukan nilai ekuitas pada waktu t sebagai jumlah nilai buku kini dan nilai sekarang laba sisa yang diperkirakan di masa depan. Proses penilaian memerlukan estimasi laba bersih di masa depan dan nilai buku pemegang saham. Model penilaian ini memerlukan estimasi atas enam parameter: (1) Pertumbuhan penjualan, (2) Margin laba bersih (laba bersih/penjualan), (3) Perputaran modal kerja bersih (penjualan/modal kerja bersih), (4) Perputaran aset tetap (penjualan/aset tetap), (5) Total aset operasi/ekuitas, (6) Biaya modal ekuitas. Analisis prospektif pada PT Mayora Indah Tbk adalah sebagai berikut:
1)      Pertumbuhan penjualan
Penjualan PT Mayora Indah Tbk diproyeksikan tumbuh sebesar 4,58% tiap tahun yaitu dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2020. Angka ini diperoleh dari proyeksi laporan laba rugi yang telah dibuat. Periode lima tahun ini merupakan horizon peramalan (forecast horizon), periode waktu dimana kita memiliki keyakinan tertinggi atas estimasi kita. Penjualan diasumsikan terus tumbuh pada tingkat inflasi jangka panjang, sekitar 4,58%.
2)      Margin Laba
Margin laba bersih mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, tahun 2016 sebesar 8,57%, tahun 2017 sebesar 8,62%, tahun 2018 sebesar 8,68%, tahun 2019 sebesar 8,73% , tahun 2020 8,78% dan tahun berikutnya diasumsikan bertahan pada persentase tersebut.
3)      Perputaran Modal Kerja
Cara menentukan perputaran modal kerja adalah membagi penjualan dengan rata-rata modal kerja. Hasilnya ternyata mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Tahun 2016 adalah sebesar 2,92; tahun 2017 sebesar 2,54; tahun 2018 sebesar 2,26; tahun 2019 2,04; tahun 2020 sebesar 1,86 dan tahun berikutnya diasumsikan bertahan pada nominal tersebut.
4)      Perputaran Aset Tetap
Perputaran aset tetap ditentukan dengan cara membagi penjualan dengan rata-rata aset tetap. Hasilnya perputaran aset tetap PT Mayora Indah Tbk mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Tahun 2016 sebesar 3,22; tahun 2017 sebesar 2,77; tahun 2018 sebesar 2,44; tahun 2019 sebesar 2,19; tahun 2020 sebesar 1,98 dan tahun berikutnya diasumsikan bertahan pada nominal tersebut.

5)      Total Aset Operasi / Ekuitas
Total Aset Operasi / Ekuitas milik PT Mayora Indah Tbk mengalami penurunan, namun tidak signifikan dari tahun ke tahun. Tahun 2016 sebesar 1,45; tahun 2017 sebesar 1,38; tahun 2018 sebesar 1,32; tahun 2019 sebesar 1,29; tahun 2010 sebesar 1,24 dan tahun berikutnya diasumsikan tetap pada nominal tersebut.
6)      Biaya Modal Ekuitas
Suku bunga bank Indonesia sebesar 6.55% dan return pasar yang diharapkan jika dilihat dari data IHSG adalah sebesar 0,197474 (IHSG tutup tahun 2015 di level 4593 dan diperkirakan pada tahun ini berada di angka 5250). Sehingga biaya ekuitas (cost of equity) dihitung dengan model CAPM 0,065 + 0,655482055 (0,197474 – 0,065), hasilnya adalah 11.62%. Nilai beta saham sebesar 0,655482055, kurang dari satu berarti tingkat risiko saham rendah dan tingkat pengembalian investasi rendah.

Laba sisa dihitung melalui laba bersih dikurangi dengan ekspektasi laba, sedangkan ekspektasi laba didapat dari mengalikan biaya ekuitas dengan ekuitas awal pemegang saham. Faktor diskonto untuk tahun 2017 dihitung dengan cara: 1/(1+11,62%)^2 = 0,802694653. Begitupun dengan tahun-tahun selanjutnya. Nilai sekarang laba sisa diperoleh dengan mengalikan faktor diskonto dengan la sisa pada tahun yang bersangkutan.
Nilai Ekuitas diperoleh dari penjumlahan nilai sekarang laba sisa komulatif, nilai laba sisa akhir dan nilai buku ekuitas awal. PT Mayora Indah Tbk memiliki nilai sekarang laba sisa komulatif sebesar Rp2.205.396.286, nilai laba sisa akhir sebesar Rp18.179.859.532 dan nilai buku ekuitas awal sebesar Rp5.079.787.111.746. Dari perhitungan tersebut diperoleh nilai ekuitas PT. Mayora Indah Tbk adalah sebesar Rp25.462.043.193.546. Saham biasa yang beredar sebelum tanggal 04 Agustus 2016 adalah 894.347.989 lembar, namun setelah tanggal tersebut dilakukan stock split 1:25. Sehingga, total saham biasa yang beredar menjadi 22.358.699.725 lembar. Nilai ekuitas per lembar saham PT. Mayora Indah Tbk adalah sebesar Rp1.139 (Rp25.462.043.546/22.358.699.725 lembar).
D.    Perbandingan Nilai Intrinsik Saham dan Harga Saham di Pasar
Harga saham PT. Mayora Indah Tbk yang tercatat di bursa efek Indonesia adalah sebesar Rp1.610, yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Dari hasil analisis prospektif yang telah dilakukan, maka dapat diketahui nilai intrinsik saham PT Mayora Indah Tbk yaitu sebesar Rp1.139 dan harga sahamnya di pasar sebesar Rp1.610. Sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai intrinsik saham lebih rendah dari pada harga saham di pasar atau biasa disebut overvalued atau terlalu tinggi. Ini berarti saham PT Mayora Indah Tbk dapat dikatakan terlalu mahal.
Para investor lebih baik menghindari untuk membeli saham PT Mayora Indah Tbk karena seorang investor sebaiknya memilih saham yang nilai intrinsiknya lebih tinggi dari pada harga saham di pasar. Dan untuk investor yang terlanjur memiliki saham PT Mayora Indah Tbk (shareholder) maka inilah kondisi yang tepat untuk menjual saham tersebut, karena harga saham di pasar lebih tinggi dari pada nilai intrinsiknya


BAB III
KESIMPULAN

            Estimasi nilai ekuitas per lembar saham (nilai intrinsik) PT Mayora Indah Tbk pada tahun ke lima (2020) adalah sebesar Rp1.139. Nilai interinsik ini dihitung berdasarkan perhitungan analisis prospektif dalam model penilaian laba sisa (residual income model). Harga saham PT Mayora Indah Tbk yang diupdate terakhir pada Jumat, 16 Desember 2016 09:23 adalah sebesar Rp1.610.
            Jika dibandingkan nilai intrinsik saham PT Mayora Indah Tbk yaitu sebesar Rp1.139 dan harga sahamnya di pasar sebesar Rp1.610, maka dapat disimpulkan bahwa nilai intrinsik saham lebih rendah dari pada harga saham di pasar atau biasa disebut overvalued. Sehingga para investor lebih baik menghindari untuk membeli saham tersebut, namun jika terlanjur memilikinya maka inilah kondisi yang tepat untuk menjualnya.







REFERENSI

1.      Wild. John. K.R.. Subramanyam. 2013. Financial Statement Analysis: 11E Edition. New York: McGraw-Hill International Edition.
2.      Ihsg-idx. 2016. Harga Saham PT Mayora Indah Tbk. (http://ihsg-idx.com/saham/IDX:MYOR/).
3.      Idx. 2016. Profil Perusahaan Tercatat. (http://www.idx.co.id/id-id/beranda/perusahaantercatat/profilperusahaantercatat.aspx).
4.      Sahamidx. 2016. Jadwal Pelaksanaan Pemecahan Saham (Stock Split)
5.      Bank Indonesia. 2016. Bank Indonesia Rate. (http://www.bi.go.id/en/moneter/bi-rate/data/Default.aspx).
6.      Ihsg-idx. 2016. Index Harga Saham Gabungan. (http://ihsg-idx.com/).













LAMPIRAN


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komen o yo rek,, *suwun