Senin, Februari 27, 2017

Ringkasan Artikel 2 - CG



THE MODERN INDUSTRIAL REVOLUTION, EXIT, AND THE FAILURE OF INTERNAL CONTROL SYSTEMS
By Michael C. Jensen (Harvard Business School)

PENDAHULUAN
Persamaan Revolusi Industri Modern dengan Revolusi Industri yang Terdahulu
            Teknologi, politik, peraturan dan ekonomi telah mengubah lingkungan bisnis di seluruh dunia. Revolusi industri modern pada abad 19 ini memiliki kesamaan yang mencolok dengan revolusi industri 100 tahun yang lalu saat awal terjadi revolusi industri. Kesamaanyan yaitu, perubahan teknologi dan organisasi yang cepat telah mendorog penurunan biaya produksi dan peningkatan produtivitas kerja rata-rata (tapi secara marjinal menurun). Perkembangan ini mengakibatkan kelebihan kapasitas, mengurangi tingkat pertumbuhan pendapatan tenaga kerja dan pada akhirnya terjadi perampingan dan keluar.
            Merger besar-besaran yang dilakukan dari tahun 1890-an telah mendorong terjadinya konsolidasi perusahaan-perusahaan independen dan menutup fasilitas marginal. Pada tahun 1980-an pasar modal membantu mengurangi kelebihan kapasitas melalui leveraged acquisitions, stock buybacks, pengembilalihan paksa, leveraged buyouts (LBO) dan penjualan divisi.
            Pada awal abad 19 juga muncul istilah “robber barons”, yaitu para pengusaha yang menggunakan segala cara dan melakukan praktik eksploitasi untuk mengumpulkan kekayaan mereka. Mereka sering melakukan takeover perusahaan sehingga memperkaya diri mereka. Akhirnya munculah reaksi masyarakat untuk membatasi kekuasaan pemodal, yaitu dengan dibentuknya undang-undang antitrust, mengatur kembali pasar kredit, perundang-undangan antitakeover dan kebijakan pengadilan untuk melakukan control corporate.
            Walaupun peningkatan produktivitas secara cepat pada revolusi industri abad 19 ini dikaitkan dengan peningkatan kemakmuran agregat, namun hal ini memunculkan masalah baru yaitu kesenjangan ekonomi antara golongan penguasa ekonomi dengan golongan buruh. Joseph Schumpeter mendeskripsikan kapitalisme sebagai proses “creative destruction”, yang dikaitkan dengan kompetisi di pasar sebagai esensi dari kapitalisme. Hanya perusahaan yang efisien baik dari segi keuangan, manajemen, maupun penguasaan teknologi yang bisa bertahan dan unggul, sementara yang tidak efisien pasti tersingkir (destruksi). Di atas reruntuhan itu, muncul (kreasi) kompetitor lain untuk menantang perusahaan yang sebelumnya menang. Begitu seterusnya proses ini berlangsung, sehingga menurut Schumpeter, proses “penghancuran kreatif” ini merupakan fakta esensial kapitalisme.

REVOLUSI INDUSTRI KE DUA
            Revolusi industri ditandai dengan pergeseran ke produksi padat modal, produktivitas dan standar hidup yang tumbuh dengan cepat, formasi perusahaan-perusahaan besar, overkapasitas dan juga penutupan fasilitas. Revolusi indutri pertama yang terjadi pada  akhir abad ke-18 terlihat dengan penggunaan energi baru dalam proses produksi. Pada pertengahan abad ke-19 terlihat perubahan besar dengan lahirnya transporatsi modern dan fasilitas komunikasi, termasuk rel kereta, telegraph, mesin uap dan sistem kabel. Inovasi ini telah melahirkan produksi dalam jumlah besar dan sistem distribusi yang cepat untuk kustomer pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, inilah awal masuk revolusi industri ke dua.
            Perubahan dramatis dengan adanya penemuan mesin untuk industri kertas, industri kabel, industri tekstil, industri rokok, industri elektronik, industri kimia dan lain-lain menandakan adanya “revolusi”. Produktivitas terus meningkat, biaya produksi menurun dan harga barang-barang juga menurun secara drastis. Hal ini kemudian menyebabkan kelebihan kapasitas, dan diperburuk lagi dengan adanya penurunan permintaan dan resesi pada tahun 1893. Walaupun sudah ada usaha untuk mengurangi kelebihan kapasitas melalui pengelompokan (pool), assosiasi dan kartel, namun masalah belum teratasi juga. Akhirnya kapasiras dapat dikurangi melalui merger dan akuisisi. Pada tahun 1895 sampai 1904 terdapat 1.800 perusahaan, kemudian dikombinasi melalui merger menjadi 157 perusahaan.

REVOLUSI INDUSTRI MODERN
            Restrukturisasi  utama di komunitas bisnis Amerika berawal pada tahun 1970an dan berlanjut sampai 1990-an didorong oleh banyak faktor, termasuk perubahan teknologi fisik dan managemen, persaingan global, peraturan dan tarif pajak baru, dan konversi yang sebelumnya ditutup, perubahan ekonomi sosialis dan komunis ke capitalism, juga adanya perdagangan internasional. Hal ini membawa pada tahap revolusi industri ke tiga, tepatnya saat terjadi peningkatan harga minyak diawal tahun 1973.



Dekade 80-an: Pasar Modal Merupakan Respon awal atas Revolusi Industri Modern
            Peningkatan produktivitas pada industry di US tercermin atas nilai nyata dari modal perusahaan publik yang meningkat dua kali lipat selama tahun 1980-an dari $1,4 triliun ke $3 triliun. Pada tahun 1980 sampai 1985 juga telah terjadi peningkatan biaya Research and Development (R&D) yang menunjang kesuksesan besar industry. Tahun 1980 juga dikatakan sebagai “decade of greed and exess”, telah terjadi banyak transaksi merger dan akuisisi (M&A). tujuannya adalah untuk mengurangi biaya R&D dan mempercepat perkembangan perusahaan.
            Karena adanya merger dan akuisisi ini telah mendorong timbulnya Leveraged Buyout (LBO) adalah suatu proses membeli atau mengakuisisi sebuah perusahaan yang mana uang yang akan digunakan untuk mengakusisi didapat melalui utang dari bank atau pihak ketiga lainnya. Aset dari perusahaan yang akan diakuisisi dijadikan jaminan bagi utang tersebut. Utang tersebut kebanyakan bersal dari high-yield (junk) bond. Selain membantu menyediakan modal perusahaan baru untuk berkompetisi dengan perusahaan yang sudah ada dalam pasar, obligasi sampah juga mengeliminasi ukuran sebagai pencegahan pengambilalihan yang efektif.  Leverage yang tinggi pada struktur modal pada tahun 1980-an menjadikan kebangkrutan bagi perusahaan-perusahaan besar di awal tahun 1990-an. Hal ini terjadi karena mereka mengaami kesulitan keuangan karena harus membayar bunga dan pokok pada setiap periode tertentu.

Penyebab Kelebihan Kapasitas
kelebihan kapasitas dapat muncul setidaknya melalui empat cara, yang paling jelas adalah penurunan permintaan pasar, yang sering dikaitkan dengan episode resesi dalam siklus bisnis. Kelebihan kapasitas juga dapat timbul dari dua jenis perubahan teknologi. Tipe pertama, perubahan teknologi capacity expanding, meningkatkan output dari modal saham yang diberikan dan organisasi. Tipe kedua adalah perubahan absolescence-creating - perubahan yang membuat usang modal saham dan organisasi saat ini.
            Akhirnya, kelebihan kapasitas juga terjadi ketika banyak pesaing berlomba-lomba untuk menerapkan teknologi baru yang sangat produktif tanpa mempertimbangkan apakah efek agregat dari seluruh investasi akan meningkatkan kapasitas daripada mempertimbangkan dukungan permintaan di pasar produk akhir.



Dorongan Saat ini atas Kelebihan Kapasitas dan Keluar
Peningkatan sepuluh kali lipat harga minyak mentah antara 1973 dan 1979 memiliki efek yang besar, perusahaan termotivasi untuk menghemat energi dan melakukan efisiensi. Masalah kelebihan kapasitas yang sistematis muncul di banyak industri. Penyebab umumnya adalah:
1.      Kebijakan makro. Kebijakan makro contohnya adalah pengurangan tarif pajak untuk pengembangan real estate, konstruksi dan aktivitas lain. Hal ini membuat manager ingin meningkatkan kesuksesan melalui kapasitas yang optimal.
2.      Teknologi. Perubahan besar-besaran dalam teknologi jelas merupakan penyebab revolusi industri saat ini dan kelebihan kapasitas. Teknologi komputer, telekomunikasi, mesin dan lain-lain dapat meningkatkan produktivitas perusahaan.
3.       Inovasi organisasi. Kelebihan kapasitas dapat disebabkan tidak hanya oleh perubahan teknologi fisik, tetapi juga oleh perubahan dalam praktek organisasi dan manajemen teknologi. Perkembangan di bidang telekomunikasi, termasuk jaringan komputer, surat elektronik, telekonferensi, dan transmisi faksimile yang mempengaruhi cara orang bekerja dan berinteraksi. Hal ini meningkatkan efisiensi, misalnya penggunaan teknik manajemen just-in-time.
4.      Globalisasi perdagangan (pasar bebas). Perusahaan semakin terpancing untuk berkompetisi dengan adanya pasar bebas. Kelebihan kapasitas cenderung terjadi di seluruh dunia.
5.      Revolusi dalam ekonomi politik. Perkembangan kapitalisme, perubahan ekonomi tertutup menjadi ekonomi terbuka, penghilangan kontrol pusat di negara-negara komunis dan sosialis.

KESULITAN UNTUK EXIT
Asimetri antara Pertumbuhan dan Penurunan
Masalah exit muncul sebagai bagian dari perusahaan yang untuk waktu yang lama menikmati pertumbuhan yang cepat, memimpin di pasar, dan arus kas dan keuntungan yang tinggi. Dalam situasi ini, budaya organisasi dan pola pikir manajer terlihat sulit dalam menyelesaikan masalah ini, bahkan beberapa kasus tak terpecahkan. Dalam arti yang mendasar, ada asimetri antara tahap pertumbuhan dan tahap kontraksi selama umur perusahaan. Para ekonom berpikir tentang bagaimana mengelola tahap kontrak efisien, atau yang lebih penting bagaimana mengelola tahap pertumbuhan untuk menghindari terjadinya penurunan. Setelah industri mengalami kelebihan kapasitas, manajer gagal untuk mengenali bahwa mereka seharusnya melakukan downsizing, dari pada mereka memilih untuk exit sementara mereka terus berinvestasi. Ketika semua manajer berperilaku dengan cara ini, exit secara signifikan tertunda dengan biaya besar dari sumber daya nyata untuk masyarakat.

Masalah Informsi
Masalah informasi menghambat untuk exit karena kapasitas biaya tinggi dalam industri harus dihilangkan jika sumber daya digunakan secara efisien. Perusahaan sering tidak memiliki informasi yang baik pada biaya mereka sendiri, apalagi biaya pesaing mereka. Sehingga ini menyebabkan ketidakjelasan bagi manajer bahwa mereka adalah perusahaan biaya tinggi yang harus exit dari industri.
            Tetapi bahkan ketika manajer mengakui kebutuhan untuk keluar, seringkali sulit bagi mereka untuk menerima dan melakukan keputusan shutdown. Untuk manajer yang harus melaksanakan keputusan tersebut, menutup perusahaan atau melikuidasi perusahaan menyebabkan luka secara pribadi, menciptakan ketidakpastian, dan menghambat karirnya. Daripada menghadapi rasa sakit ini, manajer umumnya menolak tindakan ini, selama mereka memiliki arus kas untuk menutup rugi operasi. Memang, perusahaan dengan arus kas yang positif akan sering berinvestasi di lebih banyak uang-kehilangan kapasitas-situasi yang menggambarkan dengan jelas apa yang saya sebut "biaya agensi dari arus kas bebas"

Masalah Kontrak
Kontrak eksplisit dan implisit dalam organisasi dapat menjadi kendala utama untuk exit efisien. Serikat pekerja, peraturan kerja terbatas, dan kompensasi karyawan menguntungkan dan manfaat lain di mana biaya agensi dari arus kas bebas dapat meningkat dalam sebuah organisasi yang sedang tumbuh. Ketika dihadapkan dengan inovasi teknis dan kompetisi di seluruh dunia, perusahaan-perusahaan tidak dapat menyesuaikan dengan cepat agar mampu mempertahankan dominasi pasar mereka. Kontrak implisit dengan serikat pekerja, karyawan lain, pemasok, dan masyarakat menambah hambatan untuk mengubah organisasi agar lebih efisien. Sementara pelanggaran kasual kontrak implisit akan menghancurkan kepercayaan dalam suatu organisasi.



PERANAN PASAR UNTUK MENGENDALIKAN PERUSAHAAN
Terdapat empat bentuk kontrol korporasi yang membawa konvergensi keputusan manager dengan sudut pandang masyarakat. Yaitu: (1) pasar modal, (2) hukum / politik / sistem regulasi (3) produk dan faktor pasar, dan (4) sistem pengendalian internal yang dipimpin oleh dewan direksi.
Pasar modal yang relatif dibatasi oleh hukum dan peraturan dari sekitar tahun 1940 sampai pada tahun 1970-an. Sebelum 1970 pasar modal berlangsung melalui proses proxy.
Hukum/politik/sitem regulasi merupakan instrumen yang tidak terlalu berpengaruh untuk menangani masalah perilaku manajerial. Sementara produk dan faktor pasar yang lambat untuk bertindak sebagai kekuatan kontrol, disiplin mereka tidak bisa dihindari-perusahaan yang tidak menyediakan produk yang diinginkan pelanggan dengan harga yang kompetitif tidak akan bertahan. Yang membawa kita ke peran sistem pengendalian internal perusahaan dan kebutuhan untuk menyusun ulang pengendalian ini.
Mungkin lebih meyakinkan daripada bukti statistik formal, bagaimanapun, adalah kelangkaan besar, perusahaan publik yang secara sukarela direstrukturisasi atau terikat dalam arahan strategi utama tanpa ada tantangan dari pasar modal atau krisis di pasar produk. Sebaliknya, kemitraan dan perusahaan swasta atau perusahaan seperti perbankan investasi, hukum, dan konsultan umumnya merespon lebih cepat terhadap perubahan kondisi pasar.

KEGAGALAN SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL PERUSAHAAN
            Kegagalan sistem pengendalian internal dibeberapa perusahaan merupakan bukti ketidakcukupan pengendalian dari internal perusahaan saja, sehingga perlu juga kontrol oleh pasar modal atau krisis di pasar produk. Contoh perusahaan yang mengalami kegagalam sistem pengendalian internal:
1.      GM (General Motors) terjadi "pemberontakan", yang mengakibatkan penembakan CEO Robert Stempel. Ini merupakan contoh kegagalan sistem pemerintahan GM. GM mengalami kelebihan kapasitas yang cukup besar, GM menghindari membuat perubahan besar dalam strategi untuk lebih dari satu dekade. Pemberontakan pun datang; Board bertindak untuk menghapus CEO pada tahun 1992, setelah perusahaan melaporkan kerugian sebesar $ 6,5 miliar pada tahun 1990 dan 1991.
2.      IBM (International Business Machines) adalah kesaksian lain untuk kegagalan sistem pengendalian internal. perusahaan gagal untuk menyesuaikan diri dengan substitusi bisnis mainframe menyusul revolusi di cukup revolusi workstation dan komputer pribadi. Seperti GM, IBM memiliki kelebihan kapasitas yang cukup besar. Juga mulai mengubah strategi secara signifikan dan dihapus CEO-nya hanya setelah melaporkan kerugian $ 2,8 miliar pada 1991 dan kerugian lebih lanjut pada tahun 1992 sementara kehilangan hampir 65% dari nilai ekuitasnya.
3.      General Dynamics (GD) memberikan kasus luar biasa lain. Penunjukan William Anders sebagai CEO pada September 1991 mengakibatkan penyesuaian cepat untuk kelebihan kapasitas dalam industri pertahanan - tanpa ancaman jelas dari setiap kekuatan luar. Perusahaan ini menghasilkan $ 3,4 juta dari peningkatan nilai pada sebuah perusahaan $ 1 miliar dalam lebih dari dua tahun. Salah satu elemen kunci dalam cerita sukses ini, bagaimanapun, adalah perubahan besar dalam sistem kompensasi manajemen perusahaan yang terikat bonus langsung ke kenaikan nilai saham.

MENGHIDUPKAN KEMBALI SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL PERUSAHAAN
            Masalah sistem pengendalian internal perusahaan dimulai dari board of diretors. Direktur merupakan punvak dari sistem pengendalian internal, yang memiliki tanggung jawab atas fungsi perusahaan. Sistem atau aturan yang buruk, bukan orang yang buruk adalah akar masalah dari kegagalan umum board of director.
1.      Budaya dewan, merupakan komponen penting dari kegagalan dewan direksi. Penekanan besar pada kesopanan dan rasa hormat sehingga mengorbankan kebenaran dan kejujuran di ruang rapat adalah gejala yang menjadi penyebab kegagalan dalam sistem kontrol.
2.      Masalah informasi, anggota dewan harus memiliki keahlian keuangan yang diperlukan untuk memberikan masukan yang bermanfaat ke dalam proses perencanaan perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan dan menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan. Namun keahlian keuangan seperti umumnya kurang pada direktur. Ini mengakibatkan ketidakmampuan sebagian besar anggota dewan untuk mengevaluasi bisnis saat ini dan strategi keuangan yang diambil. Dalam banyak kasus, dewan (dan manajemen) gagal untuk memahami bahwa misi dasar mereka adalah untuk memaksimalkan (jangka panjang) nilai pasar perusahaan.
3.      Kewajiban hukum, Insentif yang dihadapi dewan mumumnya tidak sejalan dengan kepentingan pemegang saham. Dewan termotivasi untuk melayani pemegang saham terutama oleh kewajiban hukum yang substansial melalui gugatan class action yang diprakarsai oleh pemegang saham, penggugat, dan lain-lain - tuntutan hukum yang sering dipicu oleh penurunan tak terduga dalam harga saham.
4.      Kurangnya Manajemen dan Anggota Dewan Equity Holdings, Banyak masalah tata kelola perusahaan Amerika muncul dari fakta bahwa baik manajer maupun anggota dewan biasanya memiliki proporsi besar ekuitas saham perusahaan mereka.  Untuk mencapai kepemilikan saham langsung yang signifikan di perusahaan-perusahaan besar akan membutuhkan pengeluaran dolar besar oleh manajer atau anggota dewan. Untuk menyiasati masalah ini, Bennett Stewart telah mengusulkan sebuah pendekatan yang menarik disebut "leveraged equity purchase plan" (LEPP) at-the-price opsi saham.
5.      Dewan oversized, menjaga jumlah dewan tetap kecil dapat membantu meningkatkan kinerja mereka. Ketika papan melampaui tujuh atau delapan orang mereka cenderung untuk berfungsi secara efektif dan lebih mudah untuk CEO untuk mengontrol.
6.      CEO sebagai Ketua Dewan , hal ini umum di perusahaan-perusahaan AS untuk CEO juga memegang posisi ketua dewan. Fungsi ketua adalah untuk menjalankan rapat dewan dan mengawasi proses perekrutan, pemecatan, mengevaluasi, dan kompensasi CEO. Jelas, CEO tidak bisa melakukan fungsi ini selain kepentingan pribadi nya. Sehingga penting sekali untuk memisahkan CEO dengan posisi Chairman.
7.      Mencoba Model Proses dalam Demokrasi Politik, harus ada komunikasi antara manajemen dan pemegang saham, juga antar pemegang saham itu sendiri. Sehingga tercapai koordinasi yang baik antar pemegang kepentingan.

Membangkitkan Investor Aktif
            Masalah sistem pengendalian internal berkaitan dengan apa yang saya sebut "investor aktif". Investor aktif adalah individu atau lembaga yang memegang utang besar dan / atau posisi ekuitas di sebuah perusahaan dan berpartisipasi aktif dalam arah strategis. Mereka memiliki kepentingan finansial untuk melihat manajemen dan kebijakan perusahaan. Mereka memiliki insentif untuk memperbaiki masalah awal bukan akhir ketika masalah yang jelas tetapi sulit untuk memperbaiki. CEO dan dewan dapat mengambil tindakan untuk mendorong investor agar berperan aktif dalam arah strategis perusahaan dan dalam memantau CEO.




KESIMPULAN
Dimulai dengan guncangan harga minyak tahun 1970-an, teknologi, politik, peraturan, dan kekuatan ekonomi telah mengubah ekonomi dunia dalam mode sebanding dengan perubahan yang dialami selama Revolusi Industriabad ke-19. Seperti pada abad ke-19, kemajuan teknologi di banyak negara telah menyebabkan penurunan biaya, meningkatkan rata-rata (tapi menurun marginal) produktivitas tenaga kerja, tingkat pertumbuhan pendapatan tenaga kerja yang menurun, kelebihan kapasitas dan kebutuhan untuk perampingan dan keluar.
Peristiwa dari dua dekade terakhir menunjukkan bahwa sistem pengendalian internal perusahaan telah gagal menangani efisiensi dengan perubahan ini, terutama kelebihan kapasitas dan kebutuhan untuk keluar. Transaksi kendali perusahaan dari tahun 1980 - merger dan akuisisi, LBO, dan rekapitalisasi leveraged lainnya - diwakili solusi pasar modal untuk masalah kelebihan kapasitas ini. Tetapi karena peraturan shutdown dari pasarpengendalianl perusahaan dimulai pada tahun 1989, menemukan solusi untuk masalah ini sekarang terletak pada sistem pengendalian internal, dengan dewan perusahaan, dan untuk tingkat yang lebih rendah, dengan pemegang saham institusi besar yang menanggung konsekuensi dari nilai kerugian perusahaan. Membuat sistem pengendalian internal perusahaan menjadi tantangan utama yang kita hadapi di tahun 1990-an.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komen o yo rek,, *suwun