Kamis, April 27, 2017

akk -10



TUGAS AKUNTANSI KEUANGAN KONTEMPORER
Chapter 10
SMALL AND MEDIUM-SIZED ENTITIES

Definisi SME
      Small and Medium-Sized Entities (SMEs) atau Usaha Kecil Menengah (UKM) merupakan entitas yang tidak memiliki akuntabilitas public dan tidak menerbitkan laporan keunangan bertujuan umum untuk pengguna eksternal. Definisi SME ini sangat beragam antara negara satu dengan negara lain. Meskipun adanya keragaman, peneliti umumnya mengakui bahwa definisi yang efektif dari usaha kecil harus memiliki tiga fitur dasar (Osteryoung, Constand & Nast 1992):
·         Dapat diukur dan tampak atau dapat dilihat.
·         Harus kongruen (sejalan) dengan persepsi pasar keuangan
·         Harus bermakna

Definisi Kualitatif
Karakteristik kualitatif ini terkait dengan: (1) Sebuah perusahaan kecil memiliki pangsa pasar relatif kecil, sehingga tidak memiliki kapasitas untuk mempengaruhi harga pasar atau kuantitas produk. (2) Sebuah SME dikelola oleh pemilik atau sebagian pemiliknya dengan cara pribadi, dan tidak melalui media struktur manajemen formal. (3) SME juga independen, tidak merupakan bagian dari perusahaan besar dan manajer pemilik harus bebas dari kontrol luar dalam mengambil keputusan.

Definisi Kuantitatif
Beberapa pengukuran yang umum digunakan adalah: (1) Jumlah tenaga kerja, (2) Total aset, (3) Perputaran Penjualan. Di Australia, bisnis kecil memiliki lima atau lebih tenaga kerja, sedangkan di UK dan di US, bisnis kecil memuliki 20 tenaga kerja atau lebih.

Karakteristik sektor SME
1.      Signifikansi Ekonomi
SME memberikan kontribusi penting bagi sebagian besar ekonomi nasional dengan memberikan kesempatan kerja, pertumbuhan bisnis regional, munculnya aktivitas kewirausahaan dan inovasidan mensuport perempuan dan orang-orang yang kurang mampu.
2.      Karakteristik Industri
SME secara umum dapat digolongkan dalam dua kategori yang luas, SME di industri tradisional dan SME di industri-industri baru. SME tradisional bisa dilihat sebagai small-enterprise: perusahaan keluarga, enitities substitusi pendapatan dan yang operasinya dikerjakan sendiri. Namun, pada dekade terakhir, telah terjadi pertumbuhan di industri-industri baru termasuk teknologi dan bidang keuangan. Indutri baru telah memulai generasi baru SME yang cenderung tumbuh lebih cepat ukurannya dibandingkan dengan SME yang tradisional, didorong oleh inovasi dan kewirausahaan.
SME umumnya memiliki 1-200 tenaga kerja, dan biasanya tidak terdaftar dalam pasar modal. Mayoritas SME merupakan pedagang tunggal dan partnership kecil, termasuk bisnis keluarga.
Pengguna Laporan Keuangan SME
            Sifat dari sektor SME berarti pemilik sebagai manajer yang bertanggung jawab secara pribadi untuk menyiapkan semua informasi keuangan untuk perusahaan. Pengguna laporan keuangan SME hanya terbatas pada pemilik atau manajer, untuk keperluan pelaporan pajak, atau tujuan pengarsipan untuk ketentuan perusahaan yang tidak memperdagangkan surat berharga. Hal ini membuat tujuan laporan keuangan untuk SME lebih ke special purpose daripada general purpose. Informasi yang dibutuhkan lebih spesifik, seperti : arus kas jangka pendek, likuiditas, ulasan kekuatan pada neraca dan interest, ulasan tren historis dari earnings dan interest.

Pengembangan Standar Akuntansi Internasional untuk SME
            Konteks SME sangat luas, sehingga membuat one-size-fits-all approach menjadi kurang sesuai untuk diterapkan di semua negara di dunia. Isu ini terkait dengan perbedaan kebutuhan untuk industri yang berbeda, termasuk manufaktur, jasa, agrikultur, dan yang lain seperti industri kerajinan tangan dan tradisional.

International Convergence
            Dilema dalam nondifferential reporting adalah tidak semestinya menimbulkan kesulitan dalam pembuatannya, tidak seimbangnya cost, serta kurangnya relevansi dari laporan keuangan untuk penggunanya. Differential reporting merupakan gagasan bahwa katagori perusahaan yang berbeda akan membutuhkan ketentuan akuntansi dan pelaporan yang berbeda, dengan tujuan untuk tercapainya keterbandingan, reliabilitas, termasuk tentang persepsi bahwa laporan keuangan akan memenuhi kebutuhan informasi, dan menyediakan perlindungan bagi pemegang saham. Tujuan pelaporan, strategi, dan akuntabilitas SME sangat berbeda dengan perusahaan berskala besar, sehingga IFRS mungkin tidak sesuai untuk pedoman pelaporan SME.
            Sebagai respon atas perhatian yang diungkapkan oleh sebagian besar kelompok lobby yang terkait, IASB membentuk diskusi dan proyek penelitian terkait pengembangan perangkat spesifik dari standar akuntansi internasional untuk SME, yang bertujuan untuk mengurangi cost burden dari pelaporan keuangan untuk perusahaan kecil. Masalah yang sedang didiskusikan adalah terkait dengan klasifikasi instrument keuangan, kriteria pengakuan, hedge accounting dan pajak penghasilan.

Perbedaan dalam Standar untuk SME
            Standar spesifik yang dibutuhkan SME berbeda dengan Full IFRS, meliputi:
1.      IAS 14 Segment Reporting: Perusahaan SME tidak perlu menyajikan segment information.
2.      IAS 27 Consolidated And Separate Financial Statements: Laporan keuangan dari kumpulan perusahaan, yang terdiri dari induk dan anak perusahaan.
3.      IAS 28 Investments In Associates: Asosiasi dikaitkan dengan perusahaan, termasuk perusahaan yang tidak terkait, yang memiliki pengaruh cukup besar pada anak perusahaan dan interest pada sebuat join venture, namun tidak memiliki hak untuk ikut mengendalikan.
4.      IAS 33 Earnings Per Share: mengatur tentang penyajian data earnings per share bagi perusahaan dengan saham biasa maupun saham biasa potensial yang diperdagangkan secara pubik.
5.      IAS 40 Investment Property: Asset akan diakui sebagai investment property jika: (1) Memiliki manfaat ekonomi dimasa datang yang terkait dengan investment property yang dijalankan perusahaan. (2) Cost untuk melakukannya dapat diukur reliabilitasnya.
6.      IAS 41 Specialized Industries, terkait agricultural, extractive, dan perusahaan asuransi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komen o yo rek,, *suwun